blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Senin, 30 Juli 2007
    Prison Break (1st Season/2005)
    Definitely a four-thumbs-up series!!

    Seperti judulnya yang sudah berteriak dengan jelas, Prison Break tentu saja menceritakan tentang usaha melarikan diri dari penjara. Serial ini mengisahkan tentang seorang pria bernama Michael Scofield (Wentworth Miller) yang dijebloskan ke Fox River State Penitentiary karena merampok bank. Masuknya Michael ke penjara ini diliputi oleh berbagai keanehan juga, karena dia bukan tipe penjahat, tapi seorang structural engineer yang kehidupannya mapan. Anehnya lagi, waktu disidang, dia juga tidak sedikit pun menunjukkan upaya pembelaan diri.

    Ternyata, Scofield memang sengaja masuk penjara untuk berusaha menyelamatkan abangnya, Lincoln Burrows (Dominic Purcell) yang dalam waktu sebulan akan menghadapi hukuman mati. Pasalnya, Scofield yakin berat kalau Linc tidak bersalah. Nah, dari sinilah lapisan-lapisan petualangan Scofield mulai terbuka. Hingga terbongkarlah kedok konspirasi yang—simply—menjadikan Linc sebagai korban. Nah, siapa saja yang terlibat dalam konspirasi ini dan APA sebenarnya yang meliputi seluruh kekacauan dalam film ini, you better watch it yourself. Nggak seru lah, kalau diceritain, heheheh…

    Enough with the story ‘cos, once again, you better watch it yourself. So, let’s move on to what make this movie THAT great:

    1. The Plot

    Surprise factor guaranteed. Baru kali ini aku nonton film bisa sampai melongo dan deg-degan sepanjang waktu. Biasanya nonton Lost efeknya sudah cukup berat. Eeh, ini ada yang lebih gila lagi. Rupanya, penyebab utamanya adalah perpaduan antara unsur suspense yang kental, drama yang mencekam, kecerdasan cerita (yang menjanjikan banyak kejutan), dan musik latar yang punya kecenderungan mengagetkan. Serial ini kaya akan plot-twist. Intinya, selalu ada hambatan. Di saat kita sudah yakin si jagoan akan berhasil, eeeh, tiba-tiba ada yang salah. Serunya lagi, cerita film ini nggak melulu berlangsung di dalam penjara. Jadi, ada juga upaya-upaya untuk membongkar konspirasi dari luar, yang dilakukan oleh Veronica Donovan (Robin Tunney), mantan kekasih sekaligus pengacara Linc.

    The cast of Prison Break

    1. The Characters

    Setelah menyaksikan Scofield menjebloskan diri sendiri ke penjara, kita akan disodori dengan rencana besar yang sudah dia susun. Hebatnya, dia sudah melibatkan banyak penghuni penjara—gembong-gembong kelas kakapnya—dalam rencananya. Tapi, ternyata Scofield luput memperhitungkan bahwa orang-orang itu punya kemauan sendiri-sendiri—secara mereka kan manusia, gitu—dan, dalam atmosfer sebuah penjara berkeamanan maksimum yang diisi penjahat-penjahat besar, hal ini hanya berarti MASALAH. Rencana kabur berdua menjadi bertiga, berlima, dst, pokoknya kacau balau!! Para penjahatnya pun nggak tanggung-tanggung, ada John Abruzzi si bos mafia; T-Bag, a very disgusting con; Fernando Sucre, teman satu sel Scofield; Charles Wastemoreland, yang kabarnya punya stashed money sejumlah lima juta dolar. Dan, mereka semua ada untuk alasan tertentu. Nggak ada karakter yang sia-sia.

    1. The Romance

    Hikhikhikk … I love it! Love it, love it …. Movie without romance? A big no-no for me ;) Tokoh yang menjadi pasangan Scofield adalah seorang dokter penjara bernama Sara Tancredi (Sarah Wayne-Callies). Sara sendiri adalah putri gubernurIllinois, seseorang yang memegang peranan besar dalam menentukan nasib Linc—dan, tentu saja, tujuan awal Scofield mendekatinya adalah untuk alasan itu. Tetapi, tidak ada yang bisa mengalahkan chemistry di antara mereka. Huhu, seperti itulah seharusnya seorang pria bersikap. Jangan memburu-buru wanita. Dekati saja pelan-pelan, dengan gaya cool, huaahh …. Pokoknya, romance dalam Prison Break ini adalah salah satu kisah cinta favoritku dalam film.

    1. That Cool Factor

    Apa lagi kalau bukan tato yang ada di sekujur tubuh Scofield—dari pinggang sampai ke dada, punggung, leher, lengan; cool, hah? And it’s not just an ordinary tattoo. Tato ini sebenarnya adalah blueprint penjara, dan sekaligus juga blueprint rencana besar Scofield. Karena tertutup oleh desain yang superkeren, nggak ada orang lain yang memahami apa makna tato itu sebenarnya.

    Yes, Scofield, I'll go with you ;)

    1. Michael Scofield

    Yah, kan aku ngefans berat dengan karakter satu ini. Nggak hanya jenius, ganteng pulak! Pokoknya keren bangeett …. But the bummer is, yang kalau dipikir-pikir, si Scofield ini tampak agak tolol juga, dia tuh menuangkan terlalu banyak informasi di tatonya. Kayak nama-nama—lihat episode Allen Schwitzer dan English Fitts Percy—ngapain coba? Apa nggak bisa dihafalin aja? Katanya jenius? Tapi, ya nggak papa lah, yang penting kan ganteng, hehehhe….

    Jadi, berhasilkah Scofield menyelamatkan kakaknya dari kursi listrik? Ayo, kalau sudah siap deg-degan sepanjang waktu, silakan ditonton filmnya!


    -Mizz Antie-

    Edited from previously posted entry in my Multiply page.

    Label: ,

    Selasa, 24 Juli 2007
    KANDAHAR

    Sutradara Mohsen Makhmalbaf
    Pemain Niloufar Pazira, Hassan Tantai dll
    Tahun 2001

    Film, seperti juga buku, adalah sebuah jendela. Dari situ, kita bisa menatap jauh melintasi ruang dan waktu, terkadang hingga ke tempat dan situasi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dari jendela itu kita mengembara menjelajahi negeri-negeri yang barangkali kita tak akan pernah sampai ke sana seumur hidup oleh sebab keterbatasan waktu dan biaya atau memang ternyata negeri itu hanyalah sebuah negeri khayalan. Tetapi Afganistan tentu bukanlah negeri khayal. Ia nyata dan ada di bumi ini, bertetangga dengan Iran dan Pakistan, merdeka berdaulat sepenuhnya seperti bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, bagi siapakah kemerdekaan itu memiliki arti yang sesungguhnya di Afganistan? Yang jelas bukan untuk rakyat di sana, terlebih lagi bagi para perempuannya.

    Kandahar, dibuat tahun 2001 (berselang 3 tahun sebelum film Osama), merekam sekeping sejarah Afganistan di bawah rejim Islam fundamentalis Taliban lewat kisah perjalanan Nafas (Niloufar Pazira), perempuan Afganistan berkewarganegaraan Kanada yang hendak menemui saudara perempuannya di Kandahar.

    Kisah Nafas dan saudarinya itu berangkat dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Pazira. Pazira mempunyai seorang sahabat karib sewaktu ia dan keluarganya tinggal di Afganistan. Ketika Pazira pindah ke Kanada, sahabatnya itu tetap tinggal di Afganistan. Pada suatu hari sahabatnya itu menulis sepucuk surat untuknya, bercerita tentang rasa putus asa dan kesedihan yang dalam karena kehilangan sebelah lengannya akibat ledakan ranjau darat. Gadis itu bukan hanya kehilangan sepotong lengan, tetapi juga semangat hidupnya. Ia ingin bunuh diri, mati, meninggalkan semua penderitaannya. Maka Pazira bertekat menemui sahabatnya itu walaupun ia tahu jalan menuju Kandahar, tempat sahabatnya berada, tidaklah mudah.

    Saat Pazira menyodorkan kisah ini ke hadapan Mohsen Makhmalbaf untuk diangkat ke dalam film, sutradara asal Iran ini langsung menunjuknya sebagai pemeran Nafas. Tidak ada aktor/aktris profesional di film ini, namun secara keseluruhan film ini menarik untuk dinikmati walaupun ada beberapa adegan yang terasa tampil berlebihan (salah satunya saat di kamp Palang Merah Internasional, para korban ledakan ranjau tampak mondar-mandir seperti demonstran, menuntut kaki dan tangan palsu, ganjil rasanya, tetapi jangan-jangan memang seperti itulah yang terjadi sesungguhnya).

    Endah Sulwesi
    Sabtu, 21 Juli 2007
    FRIDA

    Sutradara Julie Taymor
    Skenario Hayden Herrera
    Produksi Miramax
    Pemain Salma Hayek, Alfred Molina, Geoffrey Rush


    Seperti judulnya, film ini memang berkisah tentang kehidupan pelukis revolusioner, Frida Kahlo (Salma Hayek) yang lahir pada 7 Juli 1910 di Mexico City, tahun pecahnya Revolusi Mexico.
    Cerita dimulai pada saat Frida berusia 12 tahun saat ia pertama kali bertemu dengan Diego Rivera (Alfred Molina),seorang pelukis komunis Mexico yang kelak menjadi suaminya.

    Selanjutnya adalah sebuah kisah perjalanan hidup yang penuh warna, seperti lukisan-lukisannya, dari seorang perempuan cantik, revolusioner, biseksual, dan telah menginspirasi Goenawan Mohamad, seorang penyair dari negeri yang berjarak ribuan mil jauhnya dengan Mexico, untuk mencipta selarik puisi baginya. Ketika berusia 6 tahun, Frida yang malang divonis mengidap polio yang menyebabkan kaki kanannya lebih kecil dari yang sebelah kiri. Cacat ini dibawanya sampai ia dewasa. Derita terparah adalah kecelakaan bus yang menimpanya saat ia berumur 15 tahun (1925); membuat punggung, bahu, dan kakinya patah. Bahkan kaki kanannya sampai patah 11. Dia kudu menjalani operasi sebanyak 30 kali sepanjang hidupnya.

    Selama terbaring sakit di ranjang itulah, ia menemukan bakat melukisnya. Ayahnyalah, seorang fotografer, yang pertama kali memberinya seperangkat alat melukis. Mulailah ia melukis diri serta penderitaan-penderitaannya : Suami yang tidak setia ,kehidupan seksual, keuangan, kehilangan calon anaknya serta cacat fisik yang harus disandangnya.

    Pada 12 Agustus 1929, Frida menikah dengan Diego Rivera, duda cerai 2 kali, pelukis terkenal yang sekaligus adalah "guru" dan penemu bakatnya. Banyak teman dan kerabatnya yang pesimis dan mencibir pada perkawinan mereka. Mereka menyebutnya sebagai perkawinan antara gajah dan burung merpati.

    Setelah melalui jalan panjang berliku penuh kesakitan, akhirnya pada musim semi 1953, Frida berhasil menggelar pameran tunggalnya yang pertama di Mexico. Padahal pada tahun yang sama pula, sebelum pameran itu, kaki kanannya terserang infeksi gangrene yang parah sehingga terpaksa diamputasi sepanjang lutut ke bawah. Kesehatannya memang sudah amat memburuk saat itu. Dokter yang merawatnya melarangnya meninggalkan tempat tidur. Namun diam-diam dengan dibantu oleh kakak perempuannya, Christina Kahlo, Frida memaksa datang ke acara pembukaan pameran lukisannya itu dengan diangkut truk beserta tempat tidurnya.

    Sebelum akhirnya meninggal pada 13 Juli 1954, konon ,ia pernah beberapa kali mencoba bunuh diri. Di halaman terakhir buku hariannya, ia menulis : "I hope exit is joyful and I hope never to return".
    Sungguh seorang perempuan yang ajaib dan berani yang pernah dilahirkan.

    Sutradara Julie Taymor dengan dukungan perancang kostum Julie Wess dan tata rias oleh Judy Chin, berusaha menampilkan film yang teliti dalam detail. Suasana Mexico tahun 1920-1950-an tampil nyaris sempurna. Demikian juga dengan dekorasi rumah Frida (The Blue House), studio, lukisan-lukisan serta akting Salma Hayek sebagai Frida yang tidak mengecewakan, menjadikan film ini sebuah tontonan yang menarik. Sayang betul, film ini tidak diputar di bioskop-bioskop kita.

    Endah Sulwesi
    Jumat, 20 Juli 2007
    Film Romantis yang Bikin Ngakak
    kontributor: kotho ben punjabi (via Calo Tiket)

    CINTA PERTAMA
    Pemeran: Bunga citra lestari. Ben Joshua, Richard Kevin, Ratna ruchia
    Sutradara: Nayato fio naula
    Sekenario: Titin watimena
    Produksi: Maxiuma fictured 2006

    “Aku mau film Endonesia saja. Yang cinta-cinta gitu,” kata seorang teman sambil menjulurkan uang 2000 perak kepada saya. Uang itu keluar setengah terpaksa dan ancaman yang jelas. 2000 kok mintanya macam-macam.

    “Inneke Koesherawati mau?” kataku kesal.

    “Ada po?” tanyanya.

    “Pelem-pelem yang kayak betina gitu, atau Novel Tanpa Huruf R, Daun di Atas Bantal, Sumanto atau Mai heel(my hearth maksudnya) boleh juga, tuh.” Celoteh teman saya yang satu, sok cerdas. “Agak berat tuh. Tapi keren...”

    “Kau dah nonton pelem-pelem yang kau sebut tadi?” tanyaku.

    “Belum semua sih, paling juga Novel Tanpa Huruf er sama Daun di Atas Bantal. Keren abis. Saya sampai tidak mengerti jalan ceritanya,” katanya bangga. Oh, jadi pelem bagus itu pelem yang tak dimengerti ya? O, Tuhan, ampuni hamba dari dosa-dosa ini!

    “Ha.. Cinta Pertama aja, Bunga Citra Lestari pemainnya.. yang Lagunya Sani..sani gitu. Orangnya, aktingnya, wuihh,.. mantap. Dia itu dulu sebenarnya....” kebiasaan dia kalau sudah ngomong selalu begitu. Entah menyombongkan kebohongannya atau dia memang terlalu pintar ndobisinnya? Sok tahu segalanya.

    Jadilah malam itu satu pelem Indonesia, empat pelem luar, dan dua pelem porno teronggok di depan komputer.

    Saya mengalah, teman-teman saya berebut nonton Cinta Pertama dan saya pindah kamar, liat Finding Neverland. Sesekali saya terbahak mendengar dialog pelem di seblah kamar yang ada kata-kata, “lu-gue, lu-gue"nya itu.

    Pelem saya duluan selesai. Mereka belum. Sepertinya mereka nggak langsung tancep ke Cinta Pertama, tapi muter pelem porno lebih dulu. Aku mengintip. Duh mak, ini pelem apa sinetron? Begitu komentar saya pertama kali. “Gue tidak suka pelajaran sejarah waktu SMA. Lu gak tau kan? Berarti masih banyak yang lu belum tau tentang gue,” begitu kata si cewek yang bernama Alya itu. Dan aku tergelak besar. Tak suka sejarah? Kenapa? Tidak ada penjelasan bung. Sok-sokan aja kali, mengikuti selera penulis skenario yang sok paham situasi politik di tanah air ini.

    Kesalku memuncak ketika ada dialog, kira-kira berbunyi begini, “Gue menyukai dia, seperti gue menyukai gerimis,” Alamak... sekatrok-katroknya saya, saya itu penyair juga. Tapi denger itu, mau muntah saya dengan penggalan yang sok dramatis ini. Aku menungging di depan komputer (terbayang kan kalo sy udah nungging?).

    Saya dengar teman yang banyak omong tadi mulai sesegukan bawang bombay. “Yah udah kalau lu tak suka. Tapi jangan ganggu kesedihan gue dong.” Ha? Dia ngomong sudah pakai gue segala?

    Bayangkan, sepanjang pelem itu diputar, yang kita tangkap adalah suasana muram dan kelam. Sebentar saja kita akan diingatkan pada setting film-film romantis Jepang atau Korea. Kapas berterbangan, daun berguguran, sementara angin tak terlihat keras sama sekali. Lalu hujan. Hujan di bulan Mei, Sapardi. Bukankah Mei adalah bulan di mana kemarau baru saja mengetuk pintu? Tapi di pelem itu, selama ujian akhir berlangsung sampai pengumuman kelulusan, hujan tak lepas-lepas dari adegan.

    Pusat cerita adalah buku harian. Ini betul-betul mengutip adegan film Jepang, bergaya sama yang saya lupa judulnya. (Ira Komang Jageg, apa judulnya?) Belum lagi alur maju mundur, di mana buku tersebutlah yang bercerita. Tapi di pelem ini maju mundur alur ini makin mengacaukan imaji kita.

    Izinkanlah saya sok cerdas menulisnya begini: cerita ini berpusat pada Alya dan buku hariannya. Waktu SMA dia jatuh cinta pada seorang pemain basket sekolah tapi tak bisa main basket.(Garingkan? Garing Nugroho kali). Selesai SMA si cowok kuliah ke kota lain, gak tau tu kemana. Trus adegan terputus panjang sekali. Tiba-tiba si cewek sudah bertunangan. Entah berapa tahun peristiwanya sejak mereka lulus SMA. Entah cowok dari mana pula yang jadi tunangannya itu. Tak ada penjelasan.

    Setelah pertunanganan itu, suatu pagi si cowok datang ke rumahnya. “Alya lagi tidur tuh. Bangunin aja.”

    Duh mak... lagi tidur aja dandanannya menor begitu apalagi bangun ya? Tidurnya gak di ranjang lagi. Semalaman dia tidur di luar kali... tapi kok gak masuk angin. Oh, Tuhan bagaimana ini.

    Ketika dibangunkan, kepala si cewek miring ke kanan. Si cowok kaget. Adegan berpindah cepat ke rumah sakit. Ceweknya bunuh diri? No. katanya sih pendarahan otak gitu. Dan cerita mulai berputar-putar seperti itu. Mulai dari membaca diari, rasa cemburu, pencarian Sunny yang ternyata sudah menikah. Juga upaya Sunny membangunkan Alya.

    Jangan bertanya banyak dan berharap lebih dari sini deh. Adegan yang sengaja dibikin suram, bahkan rumah sakit tampak seperti ruang jagal. Untung sutradaranya bukan Rizal Mantovani (betul gak nih namanya?). Bisa-bisa muncul bayangan putih dari balik kaca. Hiii.....

    Keseluruhannya, ini pelem yang saya pikir konyol dan berlebihan. Anak muda Jakarta sekarang masa gak punya hp? Lalu nikmat cinta pertama seperti apa yang dipertahankan? Gak ada dialog dan gambar yang merujuk pada peristiwa istimewa sehingga patut dikenang dsb, dsb. Apa yang ingin disampaikan pada peristiwa ini? Dialognya yang sok romantis? Atau beberapa adegan tampak dibikin-bikin itu?

    Bayangkan, si Alya sakit, pendarahan otak yang konon sudah lama dialaminya. Tapi demi tuhan yang maha pemaaf, tak ada adegan yang memperlihatkan dia kepayahan dan sakit. Dia melonjak-lonjak terus, tertawa-tawa, menangis, sedih, murung dan gembira dengan mimik yang nyaris sama. Lalu tiba-tiba entah karena apa penyebabnya, jadilah sepanjang cerita dia terbaring di rumah sakit yang pengap dan suram itu. Sepanjang cerita. Wuihh.. gila.

    Atau simak adegan si cowok yang mengajarkan si cewek cara belajar yang efektif. Mulailah dia bercerita tentang sejarah di Eropa Timur... di kantin dan tengah malam pula. Jadilah sepanjang pelem ini diputar saya ngomong dan tertawa terus. Hampir setiap adegan selalu ada yang membuat saya tertawa.

    Besoknya saya mengajak pacar saya menontonnya.

    “Hus.. jangan cerewet. Jangan menonton dengan verbal, pakai rasa,” kata pacar saya sambil mengusap airmata. Sedih dia. Saya usap airmatanya itu. Hihihi, kok jadinya seperti pelem India.

    Dan rasa, katanya, saudara. Rasa? Apakah saya harus melakukannya? Sekarang, sayang?

    Label:

    Selasa, 17 Juli 2007
    Not One Less



    Sutradara: Zhang Yimou
    Skenario: Shi Xiangsheng
    Pemain: Wei Minzhi, Zha
    ng Huike, Thian Zhenda,Gao Enman.
    Durasi: 00 menit
    Produksi: A Guangxi Film Studios tahun 1998.








    Film karya Zhang Yimou yang pertama kali saya saksikan adalah Hero (2002), sebuah film drama persilatan yang menampilkan gambar-gambar indah puitis. Film itu sangat berkesan bagi saya, maka lalu selanjutnya saya mencari tahu lebih banyak lagi tentang sutradara "jenius" asal negeri Cina ini beserta film-filmnya yang lain. Zhang Yimou, lahir di Xian, Cina pada tahun 1950. Ia memulai kariernya dengan bekerja di Guangxi Film Studios pada 1982. Tak lama kemudian ia pindah ke Xian film Studios. Film pertama yang melibatkan dirinya sebagai cinematografer adalah One And The Eight dengan sutradara Zhang Junchao.Dan debutnya sebagai sutradara adalah di film Red Shorgum (1988) yang langsung memenangkan Golden Bear Award untuk film terbaik pada Festival Film Berlin tahun 1989. Selanjutnya lahirlah film-film apik dari tangan dinginnya, seperti : Ju Dou (1990), Raise The Red Lantern (1991), The Story of Qiu Ju (1992), To Live (1994) dll ( Road Home, Happy Times). Karya-karyanya tersebut telah memenangi berbagai penghargaan di festival-festival film dunia.

    Not One Less adalah filmnya yang dibuat tahun 1998 berdasarkan skenario yang ditulis oleh novelis Cina Shi Xiangsheng. Seperti film-filmnya yang lain, Not One Less pun sangat kental dengan kehidupan masyarakat Cina lapisan bawah. Kali ini, dalam Not One Less diceritakan tentang seorang gadis, Wei Minzhi (Wei Minzhi) berusia 13 tahun yang menjadi guru pengganti pada sebuah sekolah dasar di satu desa terpencil di Provinsi Heibei. Wei Minzhi menggantikan guru Gao yang harus merawat ibunya yang sakit di kota selama satu bulan.

    Dengan kondisi sekolah yang serba minim (gedung reyot, bangku-bangku yang rusak, kapur tulis yang sangat terbatas jumlahnya), kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan. Wei Minzhi yang berasal dari keluarga miskin berharap akan mendapat upah sebesar 50 yuan plus 10 yuan sebagai upah tambahan jika ia mengajar dengan baik selama guru Gao pergi dan "tidak kurang satu anakpun" sampai Gao kembali.

    Jumlah murid seluruhnya ada 28 dari yang semula 40 orang pada awal tahun pelajaran. Satu persatu para murid tersebut pergi meninggalkan bangku sekolah mereka untuk bekerja di kota. Pada saat Wei mengajar, kembali hal itu terjadi. Salah seorang murid ternakal, Zhang Huike (Zhang Huike), pada suatu hari tidak masuk sekolah. Huike pergi mencari kerja di kota agar bisa mendapat uang demi membayar utang ibunya yang sedang sakit. Wei bertekad mencari dan membawa kembali Huike ke sekolah mereka.

    Maka dimulailah perjalanan guru muda itu menemukan muridnya di kota. Dengan berjalan kaki karena tidak punya cukup uang untuk membeli tiket bus, ia pun sampai di kota. Berbekal sebuah alamat di amplop surat dari ibu Huike, Wei tanpa putus asa terus berusaha menemukan muridnya yang 'hilang' itu.

    Namun tidaklah mudah menemukan seorang anak lelaki berusia 11 tahun di tengah-tengah kota tanpa informasi yang memadai tentangnya. Berbagai cara dilakukan oleh Wei tanpa kenal lelah hingga sampailah ia pada sebuah stasiun televisi dan memberanikan diri bertemu dengan sang manajer. Dengan kebaikan hati si manajer tv, maka lalu upaya pencarian Huike disiarkan oleh stasiun tv tersebut. Melalui siaran tivi itulah akhirnya Huike berhasil ditemukan. Bukan itu saja, kisah Wei dan murid-muridnya yang miskin telah mengundang simpati para penonton. Dari situ terkumpullah dana dari para donatur untuk perbaikan gedung sekolah tempat Wei mengajar.

    Seluruh karakter di film ini diperankan oleh para "amatir". Mereka bukanlah para aktor dan aktris film sungguhan. Setiap pemain memerankan "dirinya sendiri". Misalnya, sang kepala sekolah Tian (Tian Zhenda) dalam kehidupan sebenarnya memang berprofesi sebagai kepala sekolah. Tentu ini adalah hasil sebuah kerja profesional dari seorang Yimou sehingga film ini menjelma dengan amat bersahaja dan apa adanya.

    Sebuah kisah yang mengharukan. Melihat kondisi sekolah itu, saya jadi teringat pada sekolah-sekolah dasar di negeri kita yang bernasib sama. Gedung yang nyaris roboh, atap sekolah yang runtuh, guru-guru di daerah terpencil yang bergaji sangat minim, adalah wajah pendidikan di Indonesia. Sungguh memilukan. Kepedulian pemerintah dan swasta akan hal ini amat kecil. Padahal, katanya pendidikan untuk semua.

    Endah Sulwesi

    Label: ,

    Senin, 16 Juli 2007
    CINTA + MAKANAN = FILM

    Makanan ternyata menjadi pasangan yang menarik dari cinta. Kedua elemen ini jika disenyawakan dalam sebuah film, menghasilkan sebuah film bernuansa ajaib yang delectable. Ada lima film memorable yang pernah saya tonton yang mengeksplorasi makanan dan cinta sebagai tema utama.

    Like Water for Chocolate (1993). Film garapan sutradara Alfonso Arau ini didasarkan pada novel Laura Esquivel –istrinya saat itu (aslinya berjudul Como Agua Para Chocolate). Film ini berkisah tentang cinta tak sampai antara Tita de la Garza (Lumi Cavazos) dan Pedro Muzquiz (Marco Leonardi). Karena sejak kecil banyak menghabiskan waktu di dapur, Tita menjadi juru masak yang hebat. Salah satu masakannya –Quail in Rose Petal Sauce- sempat bikin heboh karena semua yang menyantap masakan ini terbakar gairah bahkan ada yang sampai mengalami orgasme.



    Simply Irresistible (1999). Sarah Michelle Gellar berperan sebagai gadis jago masak bernama Amanda yang secara ajaib masakannya menjadi dahsyat gara-gara seekor kepiting (entah apa hubungannya). Dalam film garapan Mark Tarlov ini makanan menjadi sebuah materi dengan kekuatan supernatural yang membuat Tom Bartlett (Sean Patrick Flanery), seorang lelaki eksekutif department store yang tampan, tidak bisa menolak hadirnya cinta.


    Chocolat (2000). Film garapan Lasse Hallström ini meneguhkan cokelat sebagai makanan yang berpengaruh dalam menghangatkan gairah cinta. Berlatar Prancis masa lalu, kita akan bertemu dengan perempuan cantik bernama Vianne Rocher (Juliette Binoche) yang membuka toko cokelat di sebuah desa kecil selatan Prancis. Setiap pembeli cokelat buatannya akan merasakan efek magis yang ditimbulkan oleh makanan yang memang sulit ditolak ini.



    Woman on Top (2001). Sesuai judulnya, Woman on Top adalah posisi bercinta. Film ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang tukang masak asal Bahia Brazil bernama Isabella (Penélope Cruz) yang patah hati karena suaminya, Toninho (Murilo Benicio), berselingkuh. Isabella pindah ke San Francisco untuk kemudian menjadi selebriti kuliner. Toninho berselingkuh karena frustrasi; setiap kali bercinta Isabella selalu mengambil posisi di atas (Woman on Top, tau dong....). Bakat kulinernya bikin para lelaki blingsatan. Dalam film garapan Fina Torres dan Eva Ramboz ini, cabe ternyata tidak hanya berfungsi sebagai bumbu masak, tapi juga untuk menggairahkan acara bercinta. (Uh, pedessss....).



    Brownies (2005). Ini adalah film Indonesia karya Hanung Bramantyo yang mengisahkan tentang Mel (Marcella Zalianty), cewek penggemar brownies yang berusaha membuat brownies tapi brownies yang dihasilkannya selalu tidak seperti yang ia harapkan. Di tengah-tengah perjalanan cintanya yang kacau balau dengan Joe (Philip Jusuf), ia bertemu seorang lelaki muda bernama Are (Bucek Depp) yang pandai membuat brownies.



    So, jika Anda belum pernah menonton salah satu atau salah berapa dari film-film ini, luangkan sedikit waktu untuk menyaksikannya. Siapa tahu Anda mendapat strategi untuk menaklukkan hati target gairah Anda (ehem....) melalui makanan.


    Juga di sini.


    Label:

    Jumat, 13 Juli 2007
    In The Mood For Love



    Sutradara : Wong Kar Wai
    Skenario : Wong Kar Wai
    Pemain : Maggie Cheung, Tony Leung
    Tahun : 2002


    Berselingkuh itu mudah, demikian seorang teman saya pernah berkata. Benarkah begitu?





    Ini kali pertama saya menonton film besutan sutradara Wong Kar Wai. Film bertema cinta yang dibintangi oleh Tony Leung dan Maggie Cheung. Diproduksi tahun 2002, In The Mood for Love, bercerita tentang perselingkuhan.



    Adalah dua pasang suami istri yang tinggal bersebelahan di sebuah kos-kosan di Hongkong . Mereka adalah suami istri Chan dan Chow. Mr. Chow (Tony Leung) bekerja sebagai jurnalis di harian Singapore Daily sedangkan Mrs. Chan (Maggie Cheung) adalah seorang sekretaris. Cerita ini memang tentang mereka berdua, Mrs. Chan dan Mr. Chow. Sementara peran Mr. Chan dan Mrs. Chow hanya dihadirkan lewat suara mereka saja.

    Mrs. Chan dan Mr. Chow adalah dua orang yang kesepian dalam kehidupan perkawinan mereka. Pasangan mereka seringkali pergi untuk urusan bisnis ke luar kota bahkan ke luar negeri selama berhari-hari. Kesamaan nasib itu lalu mendekatkan keduanya. Kebutuhan akan teman mengobrol dan berbagi membuat mereka lalu sering bertemu untuk sekedar makan siang dan bertukar cerita. Perlahan-lahan rasa di antara mereka kemudian berkembang menjadi cinta yang mendalam (jadi, perselingkuhan itu awalnya adalah sharing hehehe).


    Wong Kar Wai menyampaikan gagasan-gagasannya mengenai cinta, perselingkuhan dan kehidupan perkawinan lewat hubungan percintaan Chan dan Chow yang unik(setting cerita adalah Hongkong tahun 1962-1965). Pengambilan adegan lebih banyak dilakukan di ruang-ruang tertutup (indoor), seperti di kantor, kamar dan restoran dengan fokus tetap pada kedua tokoh utama tersebut. Walaupun begitu, kisah percintaan itu tak lalu terjebak ke dalam bahasa gambar yang vulgar. Yang tampil adalah dialog-dialog sederhana namun sarat makna. Seperti misalnya yang dikatakan Chan bahwa haruskah perkawinan mengubah kehidupan menjadi lebih kompleks? Jika dulu semasa ia lajang, segalanya tampak lebih mudah. Ia hanya harus bertanggungjawab pada dirinya sendiri. Namun kini setelah menikah, segalanya jadi terasa masih kurang meskipun menurutnya ia telah melakukan segalanya dengan sebaik-baiknya.



    Tak beda dengan Chow yang harus melupakan hobi-hobinya semasa bujangan dulu, sebab kini ia hidup dengan 'orang lain' yang harus ia pikirkan pula perasaannya serta menyesuaikan diri dengan hobi 'orang lain' itu. Fiuuuh....rumitnya sebuah perkawinan :) (Tapi pasti enak ya, sebab jumlah orang yang kawin lebih banyak daripada yang tidak kawin). Sebuah film drama yang menarik. Bolehlah lain kali saya nonton film-film Wong Kar Wai yang lain.

    Endah Sulwesi

    Label: ,

    Bulu Dada James Bond
    kontributor: arya "sim card" perdana (lewat jalur calo)

    Judul: Casino Royale (2006)
    Sutradara: Martin Campbell
    Aktor: Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen, Jesper Christensen, Caterina Murino
    Produser: Michael G Wilson

    James Bond kita kali ini berbeda dengan James Bond yang dulu-dulu. Kalo dulu, Sean Connery atau Pierce Brosnan tampil kalem dan flamboyan, kini yang tampil Daniel Craig, pria Inggris yang-kata perempuan yang nonton sama saya: “Lambe-nya itu loh…. Jadi inget lolipop!”

    Coba ingat-ingat lagi saat Connery atau Brosnan mengucap kalimat perkenalan khasnya, "My name's Bond. James Bond." Dengan setelan hitam yang rapi klimis licin, Bond ala Connery dan Brosnan memang elegan, charming, dan semerbak melati mewangi.

    Tapi Bond cap Daniel Craig jauh beda. Ia kasar, ganas dan dingin. Berantakan, emoh mikir ruwet-ruwet. Dan satu yang penting, Bond generasi terbaru ini senang betul mengumbar bulu dada ke penonton. Para penonton bisa bingung: Ini James Bond atau Rhoma Irama yang di pelem-pelemnya dulu juga doyan banget pamer bulu dada sambil nyanyi dan nari-nari!

    Gara-gara sering lihat Bond pamer bulu dada inilah saya menemukan kesimpulan. Gini: bulu dada Bond yang diperankan Daniel Craig ini ternyata halus dan lurus sama kaya rambutnya, sementara bulu dada Rhoma Irama keriting ngglundung, sama juga kaya rambutnya yang ngglundung kriting. Kesimpulannya: kriting atau tidaknya bulu dada ditentukan oleh kriting atau tidaknya bulu rambut (mari kita bertanya pada Rudi Hadisuwarno yang bergoyang).

    Perhatikan gayanya waktu pesan minuman martini. "Stir, not shake," bilang Bond versi Brosnan. Tapi Bond versi Craig dengan sengaknya ngomong , "stir or shake, I don't give a damn!". Hahaha. Benar-benar nggak nurut pakem si Bond satu ini.

    Sebenarnya, inilah prekuel dari film-film Bond sebelumnya. Di sinilah dipaparkan kenapa agen Bond ini kok bisa jadi agen andalan MI-6, agen rahasia Inggris yang tentu saja bukan intel Melayu.

    (PERINGATAN: INI BAGIAN SPOILER/BOCORAN FILM)

    Ceritanya, Bond dikirim ke Madagaskar (ini saudara jauh Makasar). Ia diminta memburu seorang teroris pembuat bom bernama Mollaka (bedakan dengan Tan Malaka!), di kota Nambutu. Di sinilah terjadi adegan seru. Kejar-kejaran Bond vs Mollaka di crane yang tingginya naudzubillahi mindalik. Bond si agen MI-6 benar-benar nekat. Jantung saya berdebar lebih kencang saat kamera mengikuti aksi Bond bertarung di crane yang tingginya lebih dari 300 meter di atas tanah.

    Mollaka ini menghubungkan Bond dengan Alex Dimitrios, pembantu dekat buruan utama Bond, pria dengan satu bola mata yang terbikin dari kaca, Le Chiffre. Dia pake sepatu biasa, sebab kalau sepatunya juga ikut-ikutan terbuat dari kaca, namanya pasti Cinderella.

    Singkat cerita, Bond bikin gagal rencana Le Chiffre buat meledakkan sebuah pesawat saat sedang diluncurkan di kota Miami. Bond juga bisa membunuh Dimitrios (setelah sebelumnya hampir meniduri istri Dimitrios, Solange, yang tubuhnya bakal bikin lelaki normal maupun abnormal ngeces-ngeces kaya burung walet).

    Bond pun terlibat taruhan gede-gedean lawan Le Chiffre di Casino Royale, Montenegro (negara yang dulu pernah begitu rasis tapi memakai kata Negro). Bond pake duit Pemerintah Inggris. Makanya, setiap pengeluaran Bond diawasi benar sama bendahara Vesper Lynd (Ini masih sepupuan sama pemilik pabrik motor Vespa), si gadis Bond yang agak keluar kebiasaan karena digambarkan sebagai wanita pintar (berarti yang sebelumnya nggak pinter donk? Kan gak penting, yang penting semok. Hihihi…).

    Kembali ke laptop….

    Ngaku-ngaku pinter main poker, Bond justru kalahan pada awalnya. Duitnya habis. Tekor. Minta duit lagi sama Vesper, eh nggak dikasih. Akhirnya, Bond dipinjami duit sama CIA. Entah gimana ceritanya, Bond pun menang poker (soalnya saya nggak ngerti cara main poker, ngertinnya main gaplek di pos ronda). Tapi Le Chiffre sukses menyandera Vesper dan memancing Bond buat main kejar-kejaran pake mobil sport di jalanan mulus berkelok di Montenegro.

    Kayaknya, Bond ini nggak semahir supir metromini kalo soal kejar-kejaran pake mobil. Bond celaka dan ditangkap Le Chiffre. Bond ditelanjangi, disiksa, dan dipecuti. Ada humor segar saat Bond disiksa begini. Ia malah minta Le Chiffre buat memecut "biji"nya. Argggghhhhhhh....serem! Membayangkan sakitnya membikin perut saya mules tiba-tiba.

    Toh, pertolongan buat Bond tiba juga. Sosok misterius bernama Mr White muncul dan membunuh Le Chiffre. Bond pun berlibur sama Vesper-yang akhirnya jadi pacarnya-di Italia.

    Di ujung cerita, peran Vesper dan Mr White pun kemudian terungkap. Siapa sebenarnya mereka akhirnya diketahui Bond. Film ditutup dengan adegan berisi tagline populer yang sudah saya sebut di atas: "My name's Bond. James Bond".

    SPOILER/BOCORAN FILM BERAKHIR DI SINI

    Gampang buat menggambarkan kesenangan nonton film Bond di bioskop. Adegan seru, desing peluru saat adu pistol, kejar-mengejar dengan mobil sport mahal, perempuan-perempuan bahenol yang bakalan nangkring di otak untuk setidaknya 1 pekan ke depan, dan gambaran akhir bahwa kebaikan akan menang melawan kejahatan.

    Itulah sebabnya nonton James Bond itu terasa komplit. Adegan kebut-kebutan dan tembak-tembakkan akan menyeret pada memori daun pisang (hehehehe), persisnya memori masa kecil yang senang tembak-tembakan. Sementara adegan belai-belaian cewek seksi mengingatkan kita pada adegan beberapa hari silam di kamar kost atau di Paragkusumo. (baca dengan ekpresi mengedipkan mata: “Twink… twink….” Sambil lirik Ismanto tentu saja!)
    Rabu, 11 Juli 2007
    Paris, Je T'aime
    Sutradara: Oliver Assayas, Frederic Auburtin, Gerard Depardieu, Wes Craven, Joel & Ethan Coen, dll.

    Pemain: Natalie Portman, Elijah Wood, Fanny Ardant, Nick Nolte, Steve Buschemi, Maggie Gylenhaal, dll



    Dalam satu film ini ada delapan belas film, lho. Kok bisa? Itulah keistimewaannya. Paris, Je T’aime adalah sebuah film yang berisi sekumpulan film pendek dengan kisah yang berbeda-beda, yang juga digarap oleh sutradara yang berbeda-beda. Kalau buat kalian, para kutu buku, mungkin ini film sama dengan buku kumpulan cerpen.

    Masih ingat dengan film Love, Actually? Yah, kedua film ini ada kemiripannya. Keduanya mengisahkan tentang cinta dalam berbagai bentuknya. Keduanya mengisahkan tentang berbagai macam orang. Perbedaannya, selain seting tempat tentu saja, dalam Love, Actually terdapat benang merah tipis yang menyambungkan tokoh-tokohnya, dalam Paris ini nggak ada. Jadi, murni kedelapan belas kisah itu berjalan sendiri-sendiri, gitu.

    Apa nggak bingung tuh? Nggak dong, soalnya masing-masing ceritanya pendek, durasinya di bawah sepuluh menit semua. Aku jadi ingat dengan reality show On the Lot yang sekarang lagi tayang di StarMovie (oh, sayangnya aku nggak bisa nonton dong, soalnya nggak langganan, tapi sempat nonton juga waktu Indovision ngasih free trial sebulan—eh, curhat). Di situ kan masing-masing sutradara dikasih tugas untuk membuat film pendek dengan tema yang ditentukan. Nah, mungkin di fim ini begini juga. Para sutradaranya dikasih tema “Paris and love”, terus disuruh kerja sendiri-sendiri. Hasilnya adalah serangkaian kisah cinta yang terjadi di kota cinta.

    Aku paling suka narasi di cerita yang ini. Baguuusss ....

    Love. Ada berbagai macam cinta di sini. Cinta terhadap kekasih, cinta terhadap anak, cinta terhadap selingkuhan, cinta yang tumbuh begitu saja di antara orang yang nggak saling mengenal. Cinta. Ada yang wajar, ada yang absurd. Ada yang bersyarat, ada yang tanpa syarat. Ada yang berakhir bahagia, ada yang berakhir penuh kesedihan. In Paris, love is in the air.

    Awalnya aku agak bingung juga nonton film ini, karena aku masih mencari-cari keterkaitan antar cerita. Baru setelah seperempat film aku sadar kalau memang cerita-cerita itu nggak saling berkaitan. Total jenderal, ada delapan belas kisah di sini. Favoritku adalah cerita vampir yang diperankan Elijah Wood (absurd banget, soalnya), trus cerita tentang pasangan yang mengunjungi makam Oscar Wilde (he’s one of my favorite writers), cerita tentang pasangan aktris yang diperankan Natalie Portman dan orang buta (aku suka banget narasinya), dan tentu saja cerita tentang pemain pantomim (aneeeeeehhhh …).

    Kalau cerita yang tentang pantomim ini lucu banget!

    Bahasa pengantar dalam film ini adalah bahasa Prancis, karena memang film Prancis, toh? Hanya ada beberapa aktor Hollywood nyelip di sana-sini, di antaranya adalah Elijah Wood, Natalie Portman, Nick Nolte, Steve Buschemi, dan Maggie Gylenhaal. Kalau yang aktor Prancis aku nggak hafal, karena memang jarang nonton film Prancis sih (habis nggak ngerti bahasanya) Sutradara yang membesut film-film pendek ini pun berasal dari Prancis dan Amerika.

    Kesimpulannya, aku merekomendasikan film ini. Bagus! Btw, karena aku pas nonton lagi capek banget, aku jadi ketiduran di setengah film dan melanjutkan setengahnya pada malam berikutnya. Tapi ternyata nggak ngaruh, soalnya kan isinya juga film-film pendek, hehehe. So, watch it. Carilah makna cinta di sini ;-)


    -Mizz Antie-

    This review is crossposted in my Multiply page.

    Label: ,

    BEAUTIFUL SUNDAY (KOREAN/2007)


    Sutradara: Jin Gwang-gyo

    Skenario: Jin Gwang-gyo, Kim Kwon-tae

    Cast: Park Yong-woo, Namgung Min, Min Ji-Hye

    Tahun: 2007


    KENANGAN YANG INGIN DILUPAKAN

    Bagi saya sebuah film yang berhasil adalah sebuah film yang akan terus memacu saya untuk menghabiskan durasi film, sepanjang apapun film itu. Kemudian, ketika film itu berakhir, saya akan merangkai-rangkai kembali kisahnya di benak saya. Dan jika ada sesuatu yang kurang saya pahami, saya akan menontonnya beberapa kali lagi, tanpa rasa bosan, sampai saya benar-benar paham.

    Beautiful Sunday menjadi sebuah film yang berhasil bagi saya. Karenanya, saya menonton sampai beberapa kali secara berturut-turut, dan rasanya belum puas saking menariknya.

    Untuk membayar tagihan perawatan istrinya yang dalam keadaan koma di rumah sakit, Detektif Kang (Park Yong-woo) berusaha mendapatkan uang dengan berbagai cara. Ketika ia terlibat penyerbuan sebuah transaksi narkoba yang sedang terjadi antara seorang gembong narkoba dan rekan bisnisnya, narkoba dan uang yang ada hilang. Dalam laporan kepolisian jumlah narkoba dimanipulasi oleh si detektif. Narkoba tersebut ternyata telah berpindah tangan, dijual oleh seorang gembong narkoba lain, dan si detektif mendapatkan bagian dari hasil penjualan.

    Sampai di sini, saya merasakan aroma film Hong Kong di zaman keemasan dunia filmnya. Saya mengira, beberapa saat lagi saya akan meninggalkan film ini.

    Setelah si gembong narkoba bebas dari hukuman, ia menuntut barang dan uang yang tadinya disetor rekan bisnisnya. Ia telah mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di balik gagalnya transaksi narkobanya. Hal ini tentu saja membuat Detektif Kang terancam. Bukan hanya kariernya sebagai detektif polisi, tapi juga kehidupannya dan kehidupan istri yang dicintainya.

    Di tengah-tengah ancaman si gembong narkoba, mendadak muncul seorang pemuda bernama Min-Woo (Namgung Min) yang jatuh hati pada seorang gadis penjaga toko buku bernama Su-Yeon (Min Ji-Hye).

    Saat ini, saya seolah-olah menyaksikan dua buah kisah yang terlepas satu sama lain. Saya sampai mengerut-ngerutkan kening memikirkan kaitan dua buah kisah ini. Tapi gagal. Dan saya memutuskan menghabiskan seluruh film.

    Min-Woo berhasil mendekati Su-Yeon, bahkan sukses menikahi gadis itu. Kehidupan mereka sebagai pasangan muda tampak bahagia. Apalagi Su-Yeon akhirnya hamil.

    Sebelumnya, Su-Yeon adalah seorang gadis yang memiliki seorang kekasih lain. Tapi, suatu malam seorang lelaki muda menyergapnya, kemudian memperkosanya. Su-Yeon memutuskan meninggalkan kekasihnya gara-gara kejadian itu.

    Dalam keadaan hamil, tidak semua posisi bercinta bisa dilakukan untuk keamanan si ibu dan bayinya. Posisi bercinta yang mereka pilih –doggy style- mengingatkan Su-Yeon pada malam jahanam ketika kehormatannya direnggutkan secara kasar.

    Mengetahui Min-Yoo lah yang telah memerkosanya dulu, Su-Yeon meninggalkan Min-Woo dan bermaksud mengaborsi kandungannya. Tentu saja, Min-Woo tidak sepakat. Terjadi pertengkaran yang berakhir dengan menancapnya sebilah belati di perut Su-Yeon.

    Cerita berlanjut dan mencapai klimaks di kantor polisi pada suatu hari, tepatnya hari Minggu. Kantor polisi sepi, Detektif Kang yang tengah mabuk menghabiskan waktunya di sana. Saat sedang terkantuk-kantuk di tempat duduknya, muncul Min-Woo menyerahkan dirinya, mengaku jika dia telah membunuh istrinya.

    Percakapan dua lelaki yang tengah putus asa ini akhirnya menjawab kebingungan saya. Sebuah kejutan yang sangat menggedor, yang sama sekali tidak terduga, membuat film ini terasa sungguh memuaskan bagi saya. Saya merasa tertipu. Habis-habisan.

    Gila, keren, hebat. Film ini sama sekali tidak seperti film-film Hong Kong yang saya bayangkan sebelumnya. Skenario dan penggarapan yang dahsyat ‘bersekongkol’ menghasilkan karya yang brilian dan sangat kuat. Akting kedua aktor utama juga terkesan sangat memukau. Di antara keduanya, saya paling suka dengan akting Namgung Min. Ia memiliki penjiwaan yang dalam, berubah-ubah sesuai tuntutan skenario, dengan ekspresi –terutama- yang sangat pas. Yang paling memukau tentu saja aktingnya di adegan ending ketika harus berhadapan dengan aktor utama lain, Park Yong-woo. Wow!

    Ternyata, ternyata, Min-Woo adalah......kenangan yang ingin dilupakan.

    Tidak paham? Cari filmnya, dan tonton. Sebelumnya saya juga tidak paham kok.

    Oya, lima bintang dari saya!


    @MLPosting


    Senin, 09 Juli 2007
    Mon... Jadi Intel Kok Tetap Ganteng, Toh?
    kontributor: maulida(n)abi (lewat jalur calo)

    The Good Shepherd
    Sutradara: Robert de Niro
    Pemain: Matt Damon, Angelina Jolie, Alec Baldwin, Robert de Niro, Tammy Blanchard, Michael Gambon
    Produser: Jane Rosenthal

    Matt Damon. Wajah gantengnya hilang di balik karakter dingin Edward Wilson, dedengkot agen kontraintelijen pada Central Intelligence Agency (CIA). Walaupun kegantengannya seperti hilang, paling gak masih ganteng dari rata-rata intel Melayu. Intel CIA gitu loch...

    Simaklah perkataan Brocco, asistennya saat akan mulai bekerja. Saat itu Brocco tidak diberi tahu siapa nama bos yang akan ditemuinya. Wilson bertanya bagaimana Brocco tahu bahwa ia tidak salah orang. Jawabnya, “They said you were a serious SOB that didn't have any sense of humor. There can't be two of you.”

    SOB ini artinya Son of Bitch. Kalau dia intel Melayu, pasti kodenya bukan SOB tapi AJ (Anak Jablay). Kalo kebetulan dia intel kelahiran m’Bantul, kodenya pasti jadi AK (Anak’e Keple).

    Sikap dingin Wilson tampaknya seiringan dengan dinginnya hubungan Amerika-Soviet. Saking datar dan lambatnya, saya menghentak-hentakkan kaki saya di bioskop gara-gara bosan. Tapi masih gak separah cewek-cewek di film India yang nggoseh-nggoseh di tanah sambil menghamburkan gerimis air mata.

    Film ini sungguh datar, kayak muka hantu di samping kampusku (lho kok nyerempet ke horor). Bayangkan, selama 2 jam saya menonton film dengan dialog yang membutuhkan konsentrasi. Alurnya pun maju-mundur-maju-mundur tapi gak kena-kena (emang film warkop DKI: Maju Kena Mundur Kena)

    Kepusingan saya bertambah karena jaringan 21 memotong beberapa adegan, mungkin karena aslinya kepanjangan, 160 menit. Bagaimana saya tahu? Tentu saja setelah menontonnya ulang dari DVD bajakan. Oya, suasana di bioskop saat itu masih ditambah ulah Seni Apriliya, teman saya yang tidak berhenti mengoceh, “aku mah ga ngerti, aku mah pusing.”

    Belum lagi ocehan senada dari lelaki yang duduk di sebelah yang bergumam nyaris sama, “Aku pah ga ngerti, aku pah pusing.”

    Jadilah sebelah kanan kiriku seperti dialog sinetron Indonesia: Pah... Mah... Pah... Mah.... Papah... Mamah.....



    Tapi bosan dan bingung itu ternyata diselipi kekaguman atas akting Damon. Tidak bisa tidak. Ia berhasil menghidupkan tokoh Edward Wilson, tokoh rekaan di tengah fragmen kelahiran agensi intelijen mata-mata terbesar. Selain kesempurnaannya dalam dunia spionase, Damon juga berhasil memunculkan konflik pribadinya dengan istri dan anaknya yang traumatik.

    Film ini juga menggambarkan betapa tak enaknya sebuah keluarga yang dikepalai oleh lelaki yang juga seorang intel. Gimana gak sebel, “Polisi Tidur” aja udah menyebalkan, apalagi ini intel yang gak pernah tidur. Fuihh!

    Semua ini bermula dengan bergabungnya Wilson dalam Skull and Bones, perkumpulan rahasia di Universitas Yale. Namanya “ditemukan” Federal Bureau Intelligence (FBI) untuk kemudian diminta memata-matai guru sekaligus dekan sastra, Fredericks, yang ditengarai dekat dengan Jerman pada Perang Dunia II.

    Setelah tugas pertama, ia kemudian direkrut pada perang dunia dan berlanjut di perang dingin. Dari mata Wilson, kita bisa melihat Amerika dan Uni Soviet saling meracik formula yang paling baik untuk dihidangkan. Tidak berhadapan, tidak pula di negaranya masing-masing. “Pertempuran” itu terjadi di Jerman, di Kuba, atau negara lain.

    Edward Wilson tentu agen tangguh, tidak mudah tergiur atau terancam, dan setia pada agensi (serta negara). Juga gak tergiur sama perempuan macam James Bond. Ini bedanya dengan intel melayu yang “digoda” para penari yang cuma pakai cawat doang aja udah gelap mata, padahal para penari itu anggota RMS. Iya toh? Hooh toh?



    Sesuai dengan biasanya, Hollywood memunculkan tokoh yang patriot. Dan fasis juga kalau di mata saya. Sikap fasis khas Amerika itu dapat terlihat dari dialognya dengan Jimmy Palmi, imigran Italia sekaligus kriminal yang segera dideportasi.

    Palmi: Let me ask you something. We Italians we got our families and we got the church. The Irish they have their homeland. The Jews, their trdition. Even the Niggers they got their music. What about you people, Mr. Carlson? What do you have?

    Wilson: (Diam sejenak) The United States of America. The rest of you are just visiting.

    Kisah patriotik Wilson berbeda dengan agen lain yang penuh pengkhianatan. Dengan mudah seorang agen bisa berubah pikiran dan menyeberang. Hari ini kawan, besok jadi pacar, lusa jadi istri dan entah apa lagi. Orang-orang datang dan pergi... oh begitu saja (Loh kok jadi nyanyi Letto?)

    “Jangan percaya siapapun” adalah ayat ampuh pada bibel seorang intel. Mereka memegang teguh itu. Dan Wilson terus maju dengan pilihan yang diambilnya. Ia berusaha menjadi ayah sekaligus agen yang baik. Tentu, tentu saja ia tak mampu mendapat semuanya. Ia membayar dengan pengorbanan besar. Keluarganya sendiri. Mengharukan. Mirip film India ya? Hiks... hiks....



    Menonton The Good Shepherd, kita bisa tahu bahwa kesempurnaan berarti kesendirian. Seorang agen Inggris yang kemudian di pihak Soviet, Arch Cummings, mengutip sebuah puisi Irlandia. A friend for today is tomorrow's heartbreak. Sebuah larik yang mewakili lakunya.

    Di atas semua itu, Matt Damon tetap tampil dengan ganteng. Aku berdesir-desir tiap kali matanya menatap lurus ke dapan dengan tajam.

    Oh, Mon... wajahmu itu loh....

    Label: ,

    Four Weddings and A Funeral

    Skenario Richard Curtis
    Sutradara Mike Newell
    Pemain Hugh Grant, Andi MacDowell dll

    Tahun 1994









    Saya sering secara bergurau meledek sahabat-sahabat saya yang sudah menikah ketika mereka sedang terserang jenuh dan bete dengan kehidupan rumah tangganya. Biasanya saya meledek mereka dengan kalimat begini : menikah itu adalah penjara bagi wanita dan laundry gratis bagi pria (saya lupa, ini kalimat produk saya sendiri atau saya pernah membacanya entah di mana). Tentu saja saya dikeroyok. Mereka ramai-ramai protes tidak setuju dengan gurauan saya itu. Saya sih cengar-cengir aja. Tapi tentu protesnya juga dilakukan sambil tertawa-tawa, menertawakan diri sendiri. Menertawakan 'keberuntungan' saya yang masih jomblo terus, juga menertawakan 'ketidakberuntungan' mereka karena 'terperangkap' kehidupan perkawinan. Atau sebaliknya, meledek kejombloan saya dan mensyukuri keberuntungan perkawinan mereka. Hehehe. Walaupun mereka mengeluhkan hal-hal kecil itu , saya percaya, mereka, sahabat-sahabat saya tercinta, bahagia dengan pilihan hidup menikah itu. Bukankah setiap pilihan membawa risikonya sendiri-sendiri?


    Menikah atau tidak menikah adalah pilihan. Kita bisa saja bahagia dan tidak bahagia dengan pilihan itu. Tetapi menikah dengan seseorang yang tidak kita cintai adalah satu kekeliruan yang akibatnya bisa sangat serius. Itulah yang membuat Charles (Hugh Grant), membatalkan pernikahannya dengan Henrietta. Di depan altar suci, tiba -tiba ia sadar bahwa ia mencintai wanita lain, bukan pengantin yang ada di hadapannya. Wanita itu adalah Carrie (Andi MacDowell).

    Setelah bertualang dari satu wanita ke wanita lain, mengobral kata cinta ke sana ke mari, akhirnya Charles merasa harus segera memutuskan untuk menikah seperti orang-orang 'normal' lainnya. Ia telah memutuskan akan menikahi Henrietta, salah seorang kekasihnya yang berjuluk Si Wajah Angsa. Semua temannya bersuka cita menyambutnya. Mereka membantu mempersiapkan perkawinan itu. Namun, pada hari yang menentukan itu, Charles justru bertemu kembali dengan Carrie, wanita yang telah membuatnya jatuh cinta at the first sight. Hatinya bimbang sungguh untuk memilih apa yang harus diputuskan : melanjutkan pernikahan dengan Henrietta yang tidak pernah dicintainya atau mendengarkan dering bel cinta di hatinya yang hanya untuk Carrie dan itu artinya ia harus membatalkan pernikahannya dengan Hen.

    Sudah lama saya ingin menonton film drama komedi romantis ini. Sebuah kisah yang segar dengan tokoh utamanya Charles yang diperankan oleh Hugh Grant, spesialis pemeran pria flamboyan, kaya, bujangan playboy yang ogah menikah. Ingat saja peran-perannya di About A Boy atau Two Weeks Notice. Konon, dalam kehidupan sebenarnyapun pria seksi dengan aksen Inggris yang kental ini memang tidak mau menikah. Seperti umumnya drama komedi romantis, Four Weddings and A Funeral ini pun mengandalkan cerita cinta yang ringan-ringan saja dengan dialog-dialog segar yang mengundang senyum dan tawa. Daya tarik jenis film seperti ini terletak pada alur cerita bergaya komedi situasi yang mengalir lincah tanpa terjebak pada humor yang slapstick.

    Film ini tidak terlalu istimewa sih. Dengan akhir yang sudah bisa ditebak, Four Weddings And A Funeral cukup menghibur sebagai sebuah tontonan yang bisa kita saksikan sambil santai makan keripik kentang atau pop corn dan segelas coca cola tanpa kening berkerut. Oiya, sound track-nya juga oke tuh, Love Is All Around dari Wet Wet Wet.


    Endah Sulwesi

    Label: ,

    Jumat, 06 Juli 2007
    MADADAYO



    Sutradara: Akira kurosawa
    Skenario: Akira Kurosawa
    Pemain: Tatsuo Matsumura, Hisashi Iqawa dll
    Tahun : 1993










    Masih ingat nggak kamu syair lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Itu lho, lagu himne untuk para ibu bapak guru kita yang selalu kita nyanyikan setiap tanggal 2 Mei? Kalau tidak salah ada syairnya yang berbunyi begini :

    Semua baktimu akan kuukir
    di dalam hatiku
    S'bagai prasasti terima kasihku
    'tuk pengabdianmu...


    Dulu, waktu saya kecil, saya pernah bercita-cita menjadi guru. Di samping karena ada darah guru dalam keluarga besar kami (kakek dan beberapa paman saya guru), juga karena saya amat menaruh hormat pada guru-guru saya. Saya pikir menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang amat mulia. Dari tangan para pendidik (bukan sekedar pengajar lho mestinya) ini lahirlah orang-orang pandai. Mereka yang membukakan pintu awal menuju dunia luas dengan mengenalkan kita pada huruf dan angka. Demikian besar jasa para guru ini bagi kita semua, bukan?

    Saya punya kenangan berkesan dengan guru sastra dan bahasa Indonesia saya di SMA. Namanya Kuntadi. Postur tubuh dan wajahnya mirip dengan Kaharudin Syah, bintang film tampan era '80-an. Tahu saya amat suka membaca dan terlihat paling antusias dalam mengikuti setiap kelasnya, pada satu kesempatan ia memanggil saya ke ruang guru. Waktu itu saya deg-degan betul, ada apa kok beliau memanggil saya pas jam istirahat. Rasanya semua tugas darinya selalu saya selesaikan dan nilai-nilai saya untuk bahasa dan sastra Indonesia selalu paling tinggi di kelas.

    Ternyata beliau ingin mengajak saya ngobrol tentang buku-buku sastra yang saya baca. Wah, rasanya saya senang dan bangga betul ketika itu. Beliau juga lantas meminjamkan buku-buku (novel) sastra miliknya. Kenangan itu melekat terus dengan indahnya dalam hati saya.

    Di Jepang, penghormatan kepada guru demikian besarnya, setidaknya demikian yang saya saksikan dalam film Madadayo, besutan sutradara besar Akira Kurosawa. Profesor Hyakken Uehida (Tatsuo Matsumura), seorang pensiunan guru dalam cerita ini begitu dicintai dan dihormati para bekas muridnya. Di mata murid-muridnya itu, Pak Guru ini bagaikan emas murni yang kualitasnya tak akan pernah lekang oleh waktu. Kecintaan itu lalu diwujudkan dalam bentuk perayaan ulang tahun bagi pak guru tersebut setiap tahunnya. Mereka, para bekas murid itu, juga membuatkan sebuah rumah baru untuk sang guru setelah rumah yang lama hangus terbakar oleh serangan bom udara (setting ceritanya Tokyo semasa Perang Dunia kedua tahun 1943).

    Dua kali sebulan, pak guru yang hanya tinggal berdua dengan istrinya itu, mengundang para bekas muridnya untuk makan siang dan minum sake bersama di rumahnya. Mereka akan menghabiskan waktu dengan ngobrol berlama-lama. Kedatangan para muridnya itu membuat pak guru dan istrinya tak pernah merasa kesepian.

    Sang Profesor akan selalu dikenang oleh murid-muridnya sebagai seorang guru yang bijaksana, sederhana, hangat dan periang. Dalam setiap kesempatan ia selalu mengajak murid-muridnya bergurau dan tertawa. Ia tak pernah kelihatan susah dan bersedih bahkan saat rumahnya hancur lebur oleh bom udara.



    Satu-satunya peristiwa yang membuat ia sangat bersedih adalah saat ia kehilangan Nora, kucing kesayangannya. Berhari-hari ia murung memikirkan "bayinya" itu. Murid-muridnya berdatangan menghiburnya. Mereka ikut repot mencari kucing tersebut yang tak pernah ditemukan kembali.

    Madadayo adalah film terakhir Kurosawa (1993) sebelum ia wafat pada tahun 1998. Film berwarna dengan masa putar 135 menit ini dari awal hingga akhir memusatkan ceritanya pada Uehida. Melalui tokoh utamanya ini mengalirlah wejangan-wejangan yang arif tentang kehidupan. Karunia paling indah dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri, maka cintailah hidupmu. Temukanlah apa yang paling kau sukai dalam hidup ini. Jadikan ia 'hartamu' yang berharga dan bekerja keraslah untuk 'hartamu' itu.

    Ah...agak menyesal juga saya tidak cukup fokus pada cita-cita masa kecil itu.......


    Endah Sulwesi

    Label: ,

    Transformers (2007)
    Sutradara : Michael Bay
    Produser : Steven Spielberg dkk
    Pemeran : Shia LeBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, Jon Voight
    Tahun : 2007

    Transformers awalnya adalah robot mainan produksi Takara (Jepang) dan Hasbro (US) yang sempet merajai di 80-an. Bentuknya adalah robot yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa merubah bentuk dari robot yang kaku menjadi bentuk lain yang lebih umum ada di sekitar manusia, seperti aneka macam mobil, pesawat, atau peralatan lainnya. Keren banget tuh jaman itu kalo punya mainan ini :D

    Dari situ kemudian merambat dikomikin sama Marvel, jadi serial kartun di tivi, hingga di filmkan. Dan yang ini adalah versi terbaru dari film layar lebarnya yang diproduseri oleh Steven Spielberg dan disutradarai Michael Bay.

    Tersebutlah suatu populasi robot yang menghuni planet Cybertron. Nggak jelas apakah mereka itu sebenarnya mahluk hidup, ataukah sekedar robot super canggih. Nha, planet Cybertron ini sedang menuju kehancuran akibat terjadinya peperangan sengit antara kelompok cinta damai Autobots yang dipimpin Optimus Prime melawan kelompok Decepticons yang dipimpin Megatron. Mereka yang selamat dari kehancuran Cybertron menyebar ke seluruh alam semesta. Mereka mencari sebuah benda bernama Allspark yang memiliki pengaruh dan kekuatan besar dalam kehidupan para robot. Dan Allspark ternyata terlempar ke Bumi.

    Megatron berhasil menemukan lokasi Allspark di Arctic sekian puluh tahun silam. Sayangnya ia terjebak di Arctic dan terkubur dalam beku. Kapten Archibald Witwicky seorang penjelajah kutub secara tak sengaja menemukan Allspark dan Megatron. Megatron dengan sisa2 tenaganya berhasil mencetak peta lokasinya di kacamata Kapten Witwicky.

    Melompat ke masa sekarang Sam Witwicky, seorang anak sma buyut ke sekian dari Kapten Archibald, melelang barang2 peninggalan kakek buyutnya tersebut di eBay untuk menambah uang demi mobil pertamanya. Di antara benda yang dilelang adalah kacamata setengah retak. Tersebarnya gambar kacamata itu di internet mendamparkan Sam dalam petualangan seru bersama Autobots.

    Bumblebee, salah satu Autobots, yang memajang diri di penjualan mobil bekas berhasil memikat Sam yang sedang memilih2 mobil pertamanya. Ayah Sam setuju untuk membelikan Sam sebuah Camaro butut, mobil penyamaran Bumblebee. Selanjutnya Sam pun harus terkaget2 melihat mobil barunya yang bekas itu memiliki banyak keanehan. Bersama Mikaela Banes, teman perempuannya yang seksi, mereka akhirnya bertemu dengan rombongan Autobots yang dipimpin Primus Optima dan mau tak mau melibatkan diri dalam pencarian Allspark.

    Rombongan Decepticons tentunya tidak tinggal diam untuk bisa memiliki Allspark, apalagi kemudian Megatron berhasil bangkit kembali untuk memimpin Decepticons melawan Autobots dan penduduk bumi.

    ***

    Film ini berhasil memanjakan mereka yang pernah atau masih menjadi penyuka mainan robot. Apalagi buat mereka yang pernah ngefans berat sama serial TV Transformers, komik2nya, hingga mainannya. Seabreg robot berbagai ukuran yang mampu merubah bentuk dipajang sepanjang film ini. Grafis dan animasinya cocok banget dengan imajinasi kita tentang robot2an. Robot2 raksasa langkahnya berat berdebum-debum, tapi saat bertarung bisa bergerak dengan sangat lincah melompat-lompat.

    Adegan kejar-kejaran dan pertarungan antar robotnya juga seru. Pergerakan yang cepat di darat dan udara, serta gempuran senjata berat dari berbagai penjuru dijamin bakal memuaskan mereka yang pernah berimajinasi tentang perang antar robot.


    Hanya saja buat aku nih, kok bentuk robotnya terlalu rumit ya? Seperti tumpukan metal aneka bentuk yang ditempel2in tanpa tujuan. Keren sih, tapi terlalu berlebihan. Sering bingung ngeliatnya, ini robot posisinya gimana sih? tangan sama kakinya yang mana? Yang gampang dikenali cuma kepala, karena ada 2 mata yang menyala. Nggak cuma robot2 raksasanya, Frenzy si robot kecil yang bisa transform jadi boombox itu bentuknya juga aneh penuh tonjolan nggak jelas, begitu juga robot hasil perubahan dari handphone.



    Yang paling unik dan kekuatan utama dari karakter robot2 di Transformers tentu saja adalah kemampuan mereka merubah bentuk. Proses perubahan dengan melipat sisi ini dan itu, menarik yang sana, menyembunyikan bagian ini, hingga akhirnya robot tersebut tersamar sebagai sebuah mobil... adalah proses yang seharusnya keren banget. Kalo lagi main robot2an transformers, jaman kecil dulu, bagian itu adalah puncak pertunjukan.

    Cuman sayangnya, sama seperti bentuk robotnya yang terlalu rumit, proses transformasi di film ini terlalu cepat dan rumit. Ya akibat banyaknya tonjolan aneka bentuk itu juga kali. Jangan harap ada adegan detil proses transformasi... cuma permainan grafis, wut wut wut, tahu tahu jadi mobil. Padahal kalo ada satu aja adegan transformasinya di bikin detil dan lebih pelan, pasti keren banget dah.



    Gaya culun, innocent, Shia LeBeouf lumayan pas untuk memerankan Sam Witwicky yang memang karakternya seperti itu. Dan sexy-nya Megan Fox sebagai Mikaela Banes berhasil memercikkan kehangatan diantara dinginnya karakter2 robot :D Pengisi suara robotnya juga pas dengan porsinya masing2. Meskipun ada juga sih beberapa karakter yang tampak kedodoran, terutama waktu harus berinteraksi dengan robot.

    Tapi jangan anggap sebagai film robot, film ini bakalan dingin. Banyak sekali humor dan kekonyolan diselipkan disana sini. Aku sempet ngakak waktu Sam berusaha memamerkan otot lengannya ke Mikaela dengan pura2 menunjukkan letak assesoris2 mobilnya. Dan yang paling konyol adalah waktu robot2 raksasa Autobots harus bersembunyi di berbagai sudut halaman rumah agar tidak terlihat oleh ayah Sam yang lagi melongok keluar. Oon banget dah polahnya robot2 itu...



    Tentang jalan ceritanya... yaa, ikutin aja deh. Jangan terlalu di pikirin :D Soalnya terlalu cepet diceritakan, terutama tentang latar belakang perseteruan Autobots dan Decepticons. Tiba-tiba begini, terus begitu, tanpa sempat diserap dan dihubung2kan dengan adegan sebelumnya. Kalo penasaran cari aja detil ceritanya di internet :D

    Ini memang film hiburan kok. Nikmati saja seperti waktu kecil dulu suka main robot2an yang lagi seru2nya perang... Dijamin puas :)

    Label:

    Maaf, Saya Hampir Me*wek
    kontributor: agung be ha (kri-tikus amatir dari bioskop panas seblah)

    Sutradara: Deddy Mizwar
    Pemain: Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Uli Herdiansyah
    Penulis: Musfar Yasin
    Produksi: PT Gisela Citra Sinema (2007)

    Jujur!!! Ini film serius. Sangat-sangat serius. Hingga karena terlalu serius, Nagabonar (Deddy Mizwar) menarik-narik tangan patung Jendral Sudirman yang menghormat. Patung Jendral dengan ikat kepala dan mantel yang berdiri tegap menghormat entah kepada siapa.

    “Siapa yang kamu hormati Jendral?” lanjut Nagabonar, “apa mobil-mobil itu?”

    Saya sempat tertegun melihat adegan itu. La tiba-tiba kok saya kasihan pada Jendral Sudirman. Kok tiba-tiba saya ingat pepesan guru PMP, “Apa sumbangsihmu bagi negara?” Dan anehnya ada yang mengganjal di tenggorokan. Ada yang menggumpal dalam dada. Nafas saya tersengal. Di kelopak mata, seperti ada yang ingin keluar. Sesuatu itu saya tahan.

    Saya malu mengeluarkannya. Sebab saya saat itu di 21. Apa kata dunia, jika saya sampai mengeluarkan sesuatu yang seperti buliran itu keluar. Apa kata cewek berparfum menggoda melihat lelaki di samping kanannya me....

    Bioskop yang gelap menyelematkan saya dari malu. Dari ingus bening yang keluar dari hidung. Dari mew.... ah saya berhasil menahannya.

    Mungkinkah saat nasionalisme saya tergugah? Waduh!!! Ini terlalu serius. Ngomongin nasionalisme di jaman Tukul Arwana tenar. Ngomongin nasionalisme di jaman tentara di sepelemparan ketapel dari Monumen Nasional lebih suka bergoyang dangdut daripada perang.

    Tapi mungkin ini yang hendak disampaikan Babe Kalah Perang (Deddy mis-war) kepada penonton. Di tengah semarak film horor yang bikin terbahak. Bahwa, mungkin menurut Babe, Indonesia ini bukan saja hanya milik para pejuang, para tentara, dan para pahlawan. Tapi, barangkali, juga milik orang-orang yang dipilih Yang Maha Rahim lahir di tanah air ini: Indonesia. Dan generasi 3G ini sudah luntur nasionalismenya.

    Ini juga bukan jamannya orang diteror dengan film horor. Tapi jaman Indonesia yang serius tapi juga bisa tertawa.

    Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya pembaca, maaf jika dua paragraf di atas, saya terlalu serius. Tapi itu yang saya tangkap dan rasakan dari film ini. Film tentang kesenjangan nilai antar dua generasi. Tentang generasi Bonaga (Tora Sudiro) dengan jaman ketika Nagabonar yang mantan copet bisa jadi Jendral di jaman Revolusi Fisik.

    Saya tak hendak berargumen masalah kesenjangan nilai antar generasi ini. Sebab kuping saya, yang sebulan sekali dikorek, (kadang juga lupa) ini masih bisa mendengar gadis disamping kiri saya di 21 ngomong sama yayangnya, “Yang apa dulu Nagabonar jadi Jendral?”

    “Waduh!!! Mbaknya nonton Naganobar Jadi 2 pasti gara-gara pengaruh iklan,” batinku. Sejenak saya ingat pada kategori para penonton film di Janji Joni. Jika dikategorikan, Mbaknya ini pasti masuk golongan penonton berisik. Dan saya pun akan dicomot dan dimasukkan dalam kategori kritikus amatir. Weladalah!!! Saya kok main kategori-kategorian to ini.

    Tapi tak apalah, sang dalang (sutradara) Pak Deddy Mizwar memang membuat saya jadi seperti itu. Membuat saya harus menilai, menimbang dan memutuskan. Bahwa dalam perkara dakwah, Pak Deddy seperti Sunan Kalijaga. Dia ceramah lewat seni dan budaya pertunjukan. Jika Sunan Kalijaga dulu dakwah dengan wayang kulit, maka Pak Deddy ini dakwahnya lewat wayang modern, film namanya.

    Dan Wulan Guritno yang tampil anggun itu cuma pemain. Yang dia harus berperan m,enjadi wanita sempurna. Berparas ayu, cerdas, mulus (lemu tur alus, gemuk dan halus), punya mobil sedan mewah, tinggal di rumah mewah juga.

    “Apa kata dunia?”

    “Wahai lelaki!!! Diwajibkan atas kamu untuk ngiler pada wanita macam itu,” kata saya.

    Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya!!! Maafkan saya, kritikus amatir ini, lancang mengkritik Pak Deddy. “Nagabonar jadi 2” memang bagus. Tapi gaya sinetron tetap saja ada. Seperti juga Mbak Wulan yang memerankan wanita sempurna itu. Juga tentang Mas Tora yang jadi executive muda. Dan Tukang bajaj harus ditampilkan dengan wajah memelas. Waduh!!! La kok kayak sinetron bikinan Om-om Punjabi. Nehik lah ya.

    Jika boleh saya menilai, adegan terbaik dalam film ini adalah ketika Nagabonar berhasil mencopet jam tangan pengusaha Jepang.

    Apa kata Nagabonar?

    “Tak tahu lah Kau Bonaga, Jepang itu dulu merampas negeri kita lebih dari jam tangan ini.”

    Itu baru satu contoh. Satu contoh adegan terbaik lainnya ketika film ini usai. Nagabonar yang tua, memerintahkan kepada Tora dan kawan-kawannya untuk segera membayar permadani Mushala. Semua pemuda itu tampak tergeragap. Lari tergesa-gesa.

    Penonton di 21 itu pun terbahak. Entah apa yang mereka tertawakan. Sebab tawa itu segera reda. Lampu mulai di 21 itu pun dinyalakan. Penonton pun bubar.

    Sekali peristiwa, ketika film itu usai, sehabis nonton film ini dua lelaki kebingungan cari pintu keluar di Ambarukmo Plaza. Mereka nyasar sampai di lower ground.

    Mewekkah mereka?

    Dua lelaki itu akhirnya meringis, setelah mereka melihat Jalan Solo, Yogyakarta. Jujur!!! Cerita ini tak mengada-ada.

    Label: , ,