blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Transformers (2007)

    Maaf, Saya Hampir Me*wek

    Pride and Prejudice (2005)

    BADAI PASTI BERLALU (INDONESIA/2007)

    Berujung di Kamar Mandi

    OSAMA (2003)

    Bayi Ajaib!

    Ismail dan Pelacur Kencur

    Monsoon Wedding (2001)

    AFTER THIS OUR EXILE







    Jumat, 06 Juli 2007
    MADADAYO



    Sutradara: Akira kurosawa
    Skenario: Akira Kurosawa
    Pemain: Tatsuo Matsumura, Hisashi Iqawa dll
    Tahun : 1993










    Masih ingat nggak kamu syair lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Itu lho, lagu himne untuk para ibu bapak guru kita yang selalu kita nyanyikan setiap tanggal 2 Mei? Kalau tidak salah ada syairnya yang berbunyi begini :

    Semua baktimu akan kuukir
    di dalam hatiku
    S'bagai prasasti terima kasihku
    'tuk pengabdianmu...


    Dulu, waktu saya kecil, saya pernah bercita-cita menjadi guru. Di samping karena ada darah guru dalam keluarga besar kami (kakek dan beberapa paman saya guru), juga karena saya amat menaruh hormat pada guru-guru saya. Saya pikir menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang amat mulia. Dari tangan para pendidik (bukan sekedar pengajar lho mestinya) ini lahirlah orang-orang pandai. Mereka yang membukakan pintu awal menuju dunia luas dengan mengenalkan kita pada huruf dan angka. Demikian besar jasa para guru ini bagi kita semua, bukan?

    Saya punya kenangan berkesan dengan guru sastra dan bahasa Indonesia saya di SMA. Namanya Kuntadi. Postur tubuh dan wajahnya mirip dengan Kaharudin Syah, bintang film tampan era '80-an. Tahu saya amat suka membaca dan terlihat paling antusias dalam mengikuti setiap kelasnya, pada satu kesempatan ia memanggil saya ke ruang guru. Waktu itu saya deg-degan betul, ada apa kok beliau memanggil saya pas jam istirahat. Rasanya semua tugas darinya selalu saya selesaikan dan nilai-nilai saya untuk bahasa dan sastra Indonesia selalu paling tinggi di kelas.

    Ternyata beliau ingin mengajak saya ngobrol tentang buku-buku sastra yang saya baca. Wah, rasanya saya senang dan bangga betul ketika itu. Beliau juga lantas meminjamkan buku-buku (novel) sastra miliknya. Kenangan itu melekat terus dengan indahnya dalam hati saya.

    Di Jepang, penghormatan kepada guru demikian besarnya, setidaknya demikian yang saya saksikan dalam film Madadayo, besutan sutradara besar Akira Kurosawa. Profesor Hyakken Uehida (Tatsuo Matsumura), seorang pensiunan guru dalam cerita ini begitu dicintai dan dihormati para bekas muridnya. Di mata murid-muridnya itu, Pak Guru ini bagaikan emas murni yang kualitasnya tak akan pernah lekang oleh waktu. Kecintaan itu lalu diwujudkan dalam bentuk perayaan ulang tahun bagi pak guru tersebut setiap tahunnya. Mereka, para bekas murid itu, juga membuatkan sebuah rumah baru untuk sang guru setelah rumah yang lama hangus terbakar oleh serangan bom udara (setting ceritanya Tokyo semasa Perang Dunia kedua tahun 1943).

    Dua kali sebulan, pak guru yang hanya tinggal berdua dengan istrinya itu, mengundang para bekas muridnya untuk makan siang dan minum sake bersama di rumahnya. Mereka akan menghabiskan waktu dengan ngobrol berlama-lama. Kedatangan para muridnya itu membuat pak guru dan istrinya tak pernah merasa kesepian.

    Sang Profesor akan selalu dikenang oleh murid-muridnya sebagai seorang guru yang bijaksana, sederhana, hangat dan periang. Dalam setiap kesempatan ia selalu mengajak murid-muridnya bergurau dan tertawa. Ia tak pernah kelihatan susah dan bersedih bahkan saat rumahnya hancur lebur oleh bom udara.



    Satu-satunya peristiwa yang membuat ia sangat bersedih adalah saat ia kehilangan Nora, kucing kesayangannya. Berhari-hari ia murung memikirkan "bayinya" itu. Murid-muridnya berdatangan menghiburnya. Mereka ikut repot mencari kucing tersebut yang tak pernah ditemukan kembali.

    Madadayo adalah film terakhir Kurosawa (1993) sebelum ia wafat pada tahun 1998. Film berwarna dengan masa putar 135 menit ini dari awal hingga akhir memusatkan ceritanya pada Uehida. Melalui tokoh utamanya ini mengalirlah wejangan-wejangan yang arif tentang kehidupan. Karunia paling indah dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri, maka cintailah hidupmu. Temukanlah apa yang paling kau sukai dalam hidup ini. Jadikan ia 'hartamu' yang berharga dan bekerja keraslah untuk 'hartamu' itu.

    Ah...agak menyesal juga saya tidak cukup fokus pada cita-cita masa kecil itu.......


    Endah Sulwesi

    Label: ,

    2 Comments:

    Endah, judul lagunya bukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, tapi HIMNE GURU....hehehehe...aku kan mantan guru jadi tau hehehehehe

    7/08/2007 12:06:00 AM  

    hehehe..trims Jod, nti aku koreksi.maklumlah, daku calon ibu guru yang "berkhianat"

    7/08/2007 02:41:00 PM  

    Poskan Komentar

    << Home