blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Jumat, 22 Juni 2012
    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    Sebuah Jejak Sejarah 


    Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah terlibat dalam upaya menyelamatkan film ini. Mereka antara lain National Museum of Singapore,  Martin Scorcese yang lewat World Cinema Foundation telah menanggung separuh biaya restorasi ini, Yayasan Konfiden, Sinematek, Kineforum, dan lain-lain  yang telah bekerja keras membuat film ini menjadi “utuh” dan bisa kita nikmati kembali mulai 21 Juni 2012 di beberapa bioskop tanah air.

    Saya sempat terharu karena akhirnya berkesempatan menyaksikan film karya Usmar Ismail hasil restorasi ini. Gambarnya yang semula suram, penuh bercak dan “hujan” kini menjadi terang dan bersih. Ya, masih ada sih sedikit “gerimis” di beberapa bagian, tetapi itu sudah jauuuuuh lebih baik daripada sebelumnya. (Saya pernah nonton versi yang belum direstorasi).  Suaranya juga menjadi jelas, tidak ada lagi bunyi “kresek kresek”. Oh, seandainya Usmar Ismail atau Asrul Sani masih hidup, mereka pasti akan sesenggukan menyaksikan karya mereka “hidup” kembali.

    Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya, karena itu bisa dengan mudah kautemukan di internet. Saya lebih suka ngobrolin bahwa film ini adalah semacam arsip sejarah Indonesia tahun 1950-an. Di film ini kita menyaksikan Bandung tempo doeloe dengan Jalan Braga dan Gedung Sate yang terkenal itu. (Bandung jadul betulan, bukan buatan tim kreatif.)  Juga kehidupan masyarakat kita, khususnya golongan menengah atas, yang gemar berpesta layaknya orang Belanda. Lengkap dengan dansa-dansi ala Eropa diselingi lagu “Rasa Sayange” yang menjadi semacam acara berbalas pantun di antara muda-mudinya. 

    Dan coba perhatikan gadis-gadisnya. Mereka memakai gaun tanpa lengan seperti noni-noni Belanda. Gaun selutut itu bagian bawahnya melebar sehingga ketika pemakainya berputar, bagian bawah gaunnya itu mengembang.  Di film ini, Netty Herawati dan Dhalia tak kalah cantik dari Katherine Hepburn atau Liz Taylor, deh. Cara mereka menata rambut dan melukis alis juga mirip.  Begitu pun pemain prianya. Model rambut dan gaya sisiran A.N. Alcaf f dan Bambang Hermanto ,James Dean banget dengan kumis ala Clark Gable. Boleh diadu deh gantengnya. Hehehe.

    Lewat penggambaran pesta di film ini, terlihat juga pergaulan muda-mudi kota zaman itu sudah cukup bebas. Maksud saya, mereka tidak sungkan-sungkan bermesraan di muka umum. 

    Musik. Nah, musik yang ditata oleh GRW Sinsu ini jadi mengingatkan saya pada film Soegija (harusnya terbalik, ya. Hehehehe).  Sedap didengar  dan nuansa kolonialnya berasa banget.  Tak heran jika pada FII 1955 di Jakarta, film ini memenangi penghargaan untuk kategori Tata Musik Terbaik.

    Bagaimana dengan akting para pemainnya? Hmm, masih standar, sih, tetapi lumayan, terutama Bambang Hermanto yang berperan sebagi Puja, mantan pemuda pejuang yang menjadi centeng rumah bordil.  (Sempat heran melihatnya begitu ramping dan tampan, sebab yang teringat di memori saya actor ini bertubuh tambun.) AN Alcaff juga cukup menjiwai perannya sebagai Iskandar, mantan pemuda pejuang idealis yang frustrasi melihat negeri yang diperjuangkannya ternyata menjadi negeri yang korup.  (Gimana kalau Iskandar hidup di masa sekarang, ya? Pasti sudah sakit jiwa dia.)

    Singkatnya (plaaaak!), Lewat Djam Malam adalah film klasik Indonesia yang (mestinya) wajib ditonton para penikmat dan penggila film.

    Kamis, 21 Juni 2012
    SANG PENARI

     
    Terima Kasih, Ifa.

    Empat jempol untuk penyutradaraan dan akting Oka Antara sebagai Rasus dan Prisia Nasution sebagai Srintil yang sungguh terpuji. Rasanya mereka pantas dicalonkan untuk mendapat Citra di FFI. Jangan lagi Landung Smatupang dan Slamet Rahardjo, nggak heran deh kalau mereka bermain bagus. Yang tak kalah keren adalah Dewi Irawan sebagai Nyai Kertareja. Meski lama tak muncul, aktingnya masih oke. Suasana Dukuh Paruk berhasil dihadirkan bukan saja secara visual tetapi juga diperkuat oleh dialog-dialog dalam bahasa Banyumasan yang medok oleh para pemainnya. Kalau kamu sudah baca novelnya yang dahsyat itu, kamu akan tahu bahwa Ifa sukses menerjemahkan naskah tersebut ke dalam gambar. Tentu, ini bukan pekerjaan mudah jika mengingat novel RDP yang sudah dikenal masyarakat. Selalu ada risiko menuai kritik dari para pembaca setianya.

    Sekarang saya mengerti mengapa Pak Ahmad Tohari sebagai penulis novel trilogi itu menangis terharu saat menyaksikan film ini. Sangat berbeda ketika novel yang sama difilmkan oleh Yazman Yazid menjadi Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) yang hanya mengekspos masalah seksnya dengan Enny Beatrice sebagai  Srintil. Saat itu, Enny Beatrice terkenal sebagai artis yang kerap bermain dalam film-film hot. Saking kecewanya, Ahmad Tohari tidak pernah sudi meyaksikan film tersebut. Sampai sekarang pun. Namun, Ifa telah membayar semua kekcewaan Pak Toh lewat Sang Penari.

    Jika hendak bersetia dengan novelnya, awal mula Srintil menjadi ronggeng seharusnya pada usia dua belas, ketika ia menadapat haid pertama kali. Tetapi, dengan pertimbangan moral, Ifa memutuskan sedikit mengubah bagian itu dengan Srintil yang sudah berusia 17. Keputusan yang bijak, saya rasa.

    Ya, ini kisah yang sarat tradisi lokal, tentang seorang ronggeng di Dukuh Paruk. Ronggeng itu bernama Srintil. Di Dukuh Paruk yang miskin, keberadaan ronggeng adalah sebuah keharusan sekaligus anugerah turun temurun. Ronggeng terakhir tewas beserta beberapa warga dukuh yang lain akibat keracunan tempe bongkrek bikinan ayah Srintil  Srintil waktu itu masih bocah ingusan. Ayah ibu Srintil akhirnya juga ikut mati oleh tempe buatan mereka sendiri. Untunglah, Srintil selamat. Kemudian dia diasuh oleh kakeknya (Landung Simatupang).

    Srintil memiliki sahabat, Rasus namanya. Mereka tumbuh bersama dan tanpa sadar benih-benih cinta telah turut bersemi seiring beranjaknya usia mereka. Jika Rasus mengisi waktunya dengan bekerja sebagai buruh tani di kebun singkong, Srintil diam-diam memendam hasrat untuk menjadi ronggeng yang telah lama tiada di dukuh mereka. Meski Rasus tak setuju dengan cita-cita Srintil, tetapi takdir lebih berkuasa menjadikan Srintil sebagai penari. Maka, pada waktu yang telah ditentukan, digelarlah upacara penobatan Srintil sebagai ronggeng. Selain harus menari, dalam upacara itu dia juga harus melewati ritual “bukak klambu”.  Dalam ritual ini keperawanan Srintil dilelang dan akan diserahkan kepada penawar tertinggi.

    Rasus yang cemburu tak sanggup membayangkan gadis yang dicintainya itu melakukan ritual bukak klambu. Dia lalu menemui Srintil yang menyambutnya dengan gairah yang sama. Di dalam kegelapan kandang kambing, Srintil dan Rasus menyatukan tubuh dan cinta mereka.

    Dan selanjutnya, Srintil menjelma ronggeng yang dicintai Dukuh Paruk. Rasus yang tetap tak sepakat, memilih meninggalkan kampungnya dan kemudian menjadi tentara.

    Seiring perkembangan politik tanah air masa itu, Dukuh Paruk tak luput dari jangkauan partai komunis. Kemiskinan dan kebodohan orang-orang di desa itu adalah sasaran empuk bagi propaganda partai yang berpaham kerakyatan itu. Bakar berhasil mendapatkan pengikut melalui jargon “semua untuk rakyat”, termasuk kesenian. Termasuk ronggeng.

    Srintil yang lugu dan hanya tahu menari pada akhirnya harus menanggung akibatnya. Ketika pecah kaos pada 1965, bersama orang-orang Paruk, Srintil ditangkap dan ditahan. Ironisnya, petugas/tentara yang melakukan penangkapan itu salah satunya adalah Rasus.

    Percintaan Rasus dan Srintil yang menjadi sentral cerita tergarap dengan baik, tidak terjerumus menjadi adegan-adegan seks yang murahan atau meratap-ratap. Begitu pun untuk bagian huru-hara politik 1965. Ifa menampilkan kehadiran PKI di Dukuh Paruk lewat sosok Bakar (Lukman Sardi), seorang anggota PKI, dan warna merah pada beberapa properti (caping, selendang, ikat kepala, spanduk). Seingat saya tidak satu kali pun kata "PKI" terucap, bahkan oleh para tentara yang melakukan "pembersihan" di Dukuh Paruk itu.

    Detailnya juga cukup rapi. Setting tahun 1950-1960-an hadir tanpa canggung melalui kostum para pemain, mobil-mobil, truk tentara, angkutan umum, sepeda, motor, rumah, jalan, dan pasar.

    Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Ifa Isfansyah, Oka Antara, Prisia Nasution, Salman Aristo (penulis skenario), dan seluruh kru film Sang Penari yang telah bekerja dengan baik menciptakan karya sinema bermutu ini. ***
    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)
    Mengapa Kecantikan Menjadi Begitu Penting?

    Jika dalam Mirror Mirror dongeng Putri Salju disajikan dengan gaya ringan dan menghibur, Snow White and the Huntsman ini penuh diliputi kegelapan. Suram. Muram. Gothic. Nyaris tanpa humor. Praktis dongeng anak-anak yang konon disebarluaskan oleh Grimm Bersaudara ini, di tangan Rupert Sanders menjelma menjadi sebuah kisah orang dewasa yang penuh intrik dan dendam dan sarat pesan feminisme.

    Lewat tokoh Ratu Ravenna (Charlize Theron) disampaikan bahwa hanya kecantikanlah yang membuat seorang wanita berkuasa dan disanjung sepanjang masa. Ketika kecantikan seorang perempuan mulai meluntur digerus waktu, maka dia akan ditinggalkan, terutama oleh para pria. Maka, kau perempuan, harus selalu menjaga kecantikan dan kemudaanmu. Jargon itulah yang kini dijejalkan oleh industri kosmetik kepada para perempuan lewat berbagai produk krim awet muda, anti aging, pemutih, penghilang kerut wajah...

    Mitos ini pula yang membuat klinik-klinik praktik dokter sesialis bedah plastik laris manis dengan aneka paket operasi: memancungkan hidung, sedot lemak, melangsingkan pinggang dan membesarkan bokong, mengecilkan dan membesarkan payudara, menghilangkan selulit, botox....

    Kalau dulu sudah ada semua yang saya sebutkan di atas, tentu Ratu Ravenna tak perlu menjadi ratu yang kejam yang demi memperoleh kecjelitaan abadi harus menyedot aura kemudaan dan kecantikan dari para perempuan di kerajaannya. Tentu dia tak perlu memburu anak tirinya, Snow White (Kristen Stewart), untuk diambil jantungnya. Dia hanya perlu operasi plastik, memakai aneka krim awet muda, dan mengonsumsi pil-pil pelangsing atau jamu galian singset :P

    Dan, sang Ratu yang telah pudar kecantikannya itu akhirnya harus kalah menghadapi kemudaan dan kecantikan Snow White. Untungnya, Snow White bukan cuma jelita, tetapi juga baik hati.

    So, kata teman saya kecantikan itu takdir, sedangkan kecerdasan adalah hasil usaha. Maka jika seorang perempuan memiliki keduanya, dia telah menggenggam dunia.
    SOEGIJA (2012)
    Menonton "Romo" Nirwan Berakting

    Rasanya saya tidak pantas menyebut diri sebagai penggemar film-film Garin Nugroho, karena ternyata masih banyak filmnya yang belum sempat saya tonton. Entah tersebab tak mendapat informasinya atau lantaran film itu tidak diputar di bioskop. Tapi beruntung untuk film SOEGIJA (2012) saya bahkan mendapat undangan nonton gala premiere-nya berkat kebaikan hati teman saya, Iksaka Banu yang menjadi tim promosinya. Terima kasih, Mas Banu.

    Ketika pertama kali mendengar berita tentang film Garin teranyar ini, aku sama sekali nggak punya informasi tentang manusia bernama Soegija. Jadi, saya tidak punya prasangka apa pun tentang film ini selain bahwa ini film Garin yang tentu saya harap akan menjadi tontonan yang apik.
    Kemudian, ketika film ini mulai ramai dibicarakan, muncul berbagai macam isu, termasuk soal kristenisasi mengingat film ini mengisahkan Soegija, seorang pastor yang dengan caranya sendiri ikut berjuang melawan Belanda dan Jepang.

    Ikhwal isu tersebut tidak terlalu saya risaukan, sebab kali ini saya punya satu motif kuat untuk menyaksikan film ini: saya ingin melihat akting Nirwan Dewanto yang kebagian peran sebagai Romo Soegija. Kenapa? Karena selama ini saya mengenal Nirwan hanya sebagai sastrawan , baik sebagai penyair maupun kritikus . Apalagi saat promosi film ini mulai dilakukan, konon Nirwan stres melihat gambar wajahnya terpampang di poster-poster, internet, dan terutama goodybag :D


    Dan, ketika malam tadi saya menyaksikannya muncul di layar lebar naik sepeda dengan jubah putih pastur, reaksi pertama saya adalah tertawa. Aduuh, lucu aja rasanya mengetahui si romo itu adalah Nirwan. Selanjutnya, aktingnya biasa-biasa saja. Tidak bagus, tetapi juga tidak buruk. Dia romo yang kaku, dingin, dan sedikit bicara. Dia suka menulis buku harian. Sosoknya menjadi lebih hidup dengan kehadiran Toegimin (Butet Kertarajasa) yang nyeleneh dan guyonis (suka bercanda, gitu). Cuma, celetukan-celetukan Toegimin masih terasa Butet-nya. Butet, gitu loh. Hehehe :P


    Menurutku, keputusan Garin tidak memfokuskan cerita pada tokoh Soegija cukup bijaksana dan sebuah siasat yang jitu, karena kalau semata-mata meneropong biografi Soegija, mungkin film ini akan bernasib sama dengan konser Lady Gaga, walaupun alas an pelarangannya berbeda.


    Filmnya berjalan lambat (saya sempat ngantuk di tengah-tengah-maaf ya, Mas Garin:D) dengan cerita yang kurang kuat. Di beberapa bagian bahkan Garin sempat kejeblos menyisipkan khutbah tentang nasib warga Tionghoa dari masa ke masa dan jargon menjadi pemimpin yang baik. Saya sangat menyayangkan kenapa bagian itu harus ada.


    Kalau soal kualitas gambar, ya nggak usah ditanyakan lagi. Sudah menjadi trade mark Garin menghadirkan gambar-gambar yang indah puitis, meskipun itu film perang. Scene iring-iringan perempuan membawa keranjang berisi nasi tekor untuk para gerilyawan berupa siluet dengan back ground cakrawala senja. Cantik sekali. Seperti kartu pos.


    Seting Jawa Tengah tahun 40-an cukup terwakili dengan baik, termasuk kostum dan make up artisnya. Ilustrasi musik bernuansa kolonial garapan Jaduk Ferianto terasa sedap di telinga. Yang kurang enak tuh adegan perangnya. Kurang menggigit. Hampir mirip adegan perang di film-film jadul kita. Seolah-olah bagian perang ini bukan bagian yang penting sehingga tidak ditangani dengan serius.


    Yah, secara keseluruhan saya merasa kurang puas nontonnya. Emosi saya tidak sempat ikut larut ke dalam cerita. Beda banget dengan saat saya menonton Daun Di Atas Bantal. Perasaan saya sampai sesak dan keluar bioskop dengan mata yang sembap karena menangis. Padahal di Soegija ini ada sedikitnya tiga adegan sedih, namun tak satu pun berhasil membuat saya tersentuh. Celakanya, ia juga gagal menggugah rasa nasionalisme yang saya rasakan saat menyaksikan Mata Tertutup.


    Tentu saja, kau tak perlu sepakat atau memercayai pendapat saya bulat-bulat (emangnya siapa gue? :P). Lebih baik tonton saja filmnya kemudian kita obrolin bersama. Boleh di sini atau off air sembari ngupi-ngupi.
    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Perang Itu Cara Paling Primitif


    Perkara keindahan lanskap, Papua ibarat sepotong surga yang dilemparkan Tuhan ke dunia.  Tetapi untuk urusan kemakmuran dan kesejahteraan, mungkin bagai neraka bagi kebanyakan rakyat di sana.  Kekayaan alam yang melimpah rupanya tidak berbanding lurus dengan kondisi sosial ekonomi penduduknya yang mayoritas masih mendiami  perkampungan tradisional yang kental dengan hukum adat dalam menyelesaikan segala konflik dan persoalan. Rendahnya tingkat kemampuan ekonomi rakyat di sana barangkali hanya bisa disaingi oleh tingkat pendidikannya.

    Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan oleh film terbaru Alenia Pictures yang berjudul Di Timur Matahari.  Ini film ketiga mereka yang mengambil seting kawasan timur Indonesia setelah Tanah Air Beta (2010) dan Serdadu Kumbang (2011) dan disutradarai oleh Ari Sihasale. Formula andalan dari ketiga film yang temanya mirip satu sama lain itu ada 3:  Pertama, memanjakan mata penonton dengan gambar-gambar indah pemandangan alam Indonesia Timur yang masih jarang dijamah beserta keunikan budaya dan adat istiadatnya.  Kedua, ceritanya tentang orang miskin (biasanya anak-anak) yang berjuang meraih impian. Dan ketiga, menyertakan pemain lokal sebagai tokoh utamanya.  Ditambah sedikit bumbu politik  berupa kripik (eh, kritik) pedas terhadap negara (pemerintah) yang kurang peduli kepada rakyatnya di kawasan timur.

    Ketika dalam opening-nya Di Timur Matahari ini menampilkan scene anak-anak Papua berseragam merah putih di sebuah sekolah dasar yang ditinggal guru mereka cuti selama 6 bulan, saya sempat curiga film ini akan seperti Laskar Pelangi atau Serdadu Kumbang. Untunglah, kecurigaan saya tidak terbukti. Anak-anak sekolah yang tidak bersepatu itu hanya salah satu problem di sana yang tidak menjadi konflik utama. Saya sempat nyengir juga ketika “Himne Guru” menjadi lagu pembuka film ini. Kalau saya guru, muka saya pasti sudah merah karena merasa tersindir berat.

    Cerita utamanya adalah ikhwal suku-suku di Lembah Tiom yang masih sering memilih berperang sebagai cara menyelesaikan sebuah konflik antarsuku ketimbang memakai cara-cara damai. Mata harus dibayar mata, begitu hukum adat yang berlaku. Nyaris tak ada yang mempu mencegah. Tidak juga ayat-ayat Alkitab yang diucapkan oleh  Pendeta Samuel (Lukman Sardi) maupun Dokter Fatima (Ririn  Ekawati) yang  mengancam tidak akan mau menolong para lelaki yang terluka karena perang  suku itu. Perang tetap terjadi, menghanguskan honai-honai, menghanguskan kasih sayang, menghanguskan  perdamaian.

    Film ini agak kebanyakan tokoh, sehingga akhirnya tak ada satu tokoh pun yang mendapat porsi menonjol sebagai fokus utama. Ada Pendeta Samuel, ada Dokter Fatima, ada Michael dan Vina (Laura Basuki), dan ada Mazmur (Simson Sikoway), bocah malang yang kematian ayah. Apalagi tokoh Vina (meskipun akting Laura Basuki patut dipuji di sini), menurut saya sih kehadirannya tidak penting. Tanpa dia pun jalan cerita tidak akan berubah.  

    Satu hal lagi yang buat saya cukup mengganggu adalah bagian endingnya yang agak-agak “fiksi”. Mengingatkan saya pada drama Natal di panggung sekolah :D.

    Tapi, efek film ini buat saya adalah: saya jadi pengen ke Papua dan motret sampe begok di sana :