blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Inkheart

    The Boy in the Striped Pajamas

    The Reader

    Jamila dan sang Presiden

    Lonely Hearts

    Vicky Cristina Barcelona

    Slumdog Millionaire

    The Curios Case of Benjamin Button

    Taxi Driver

    The Holiday







    Jumat, 13 November 2009
    Emak Ingin Naik Haji

    Judul film: Emak Ingin Naik Haji
    Sutradara: Aditya Gumay
    Skenario: Aditya Gumay (Adaptasi cerpen karya Asma Nadia)
    Pemain: Aty Kanser, Reza Rahardian, Didi Petet, Ninik L Karim, dll
    Produksi: Mizan Production
    Tahun: 2009

    Menandai tibanya “musim haji” tahun ini, Mizan Production melepas sebuah film bernuansa agama berjudul Emak Ingin Naik Haji. Dibesut oleh Aditya Gumay, film yang diadaptasi dari cerpen karya Asma Nadia ini, menampilkan sebuah drama religi yang mengharukan.

    Adalah seorang ibu yang akrab disapa Emak (Aty Kanser) oleh anak-anak dan para tetangganya, telah lama memendam hasrat ingin beribadah haji. Namun, bagi orang miskin seperti dirinya–untuk nafkah sehari-hari, Emak yang sudah lama menjanda itu berjualan kue apem–barangkali pergi ke Tanah Suci hanyalah sebuah impian di siang bolong. Ongkos naik haji (ONH) yang setiap tahun selalu naik itu–mungkin sekarang sekitar 30-40 juta–sangat jauh untuk dapat dijangkau oleh orang-orang kecil seperti Emak. Kalaupun akhirnya mampu, mereka kudu menabung dulu bertahun-tahun lamanya.

    Demikianlah yang dialami Emak. Demi niat sucinya itu, Emak dengan tekun mengumpulkan setiap rupiah yang diperolehnya untuk tabungan ONH. Tetapi, baru saja terkumpul lima juta rupiah dari hasil menabung bertahun-tahun, cucunya mendadak sakit dan harus segera dioperasi. Emak yang selalu bersikap baik ini, dengan ikhlas merelakan tabungannya untuk kesembuhan sang cucu.

    Hanya beberapa langkah dari pondoknya yang tua dan suram, tinggallah Haji Sa’un (Didi Petet) beserta istri (Ninik L Karim) dan keluarganya. Haji Sa’un adalah orang terkaya di kampung nelayan itu. Sebagai saudagar kapal dan besi tua, Haji Sa’un dan istrinya telah berkali-kali naik haji dan umroh. Baginya, ONH yang 40 jutaan itu tidak berarti apa-apa. Malah tahun ini, mereka sekeluarga berencana umroh bersama rombongan artis sinetron.

    Cerita di atas, jika kita jeli, sebenarnya merupakan potret kehidupan nyata masyarakat kita. Sebuah kondisi yang memiriskan hati ketika seorang yang kaya raya bisa dengan gampangnya (seperti ke toilet saja) bolak-balik naik haji, sedangkan orang-orang kurang mampu sulit sungguh mewujudkan niat mulia tersebut. Semoga dengan tayangan tersebut, para haji yang sudah berulang kali ke Tanah Suci, bisa terketuk hati mereka untuk memberikan kesempatan berhaji kepada yang belum pernah. Toh, kewajiban berhaji itu hanya satu kali seumur hidup. Mudah-mudahan, pahalanya akan sama besar.

    Seting cerita film ini di sebuah kawasan permukiman nelayan di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara yang mayoritas warganya adalah orang-orang Betawi yang sangat mengagungkan naik haji. Bagi masyarakat Betawi, sampai hari ini masih banyak yang beranggapan naik haji jauh lebih penting ketimbang sekolah tinggi. Hal ini pernah saya terjadi pada tetangga saya yang lebih mendahulukan pergi haji ketimbang membiayai kuliah anak perempuannya.


    Peran orang (Betawi) miskin dimainkan dengan sangat baik oleh Aty Kanser. Aktingnya sangat natural. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta dialog-dialog yang diucapkannya, pas banget. Sebagai orang miskin–peran yang nyaris menjadi spesialisnya ini–Aty tampil begitu anggun dan terhormat. Dia tak pernah mengeluh atau menggerutui nasib malangnya. Di tengah-tengah kesulitannya, ia masih sanggup membantu tetangganya yang juga kesusahan. Sesungguhnya, dengan segala kebaikan budinya ini, Emak sudah jadi haji. Kemuliaan hatinya tercermin begitu saja dari sikap dan perbuatannya. Dia tidak menangis ketika menghadapi kenyataan impiannya untuk naik haji pupus. Malah jadinya saya yang mengucurkan air mata dan sibuk mencari-cari tisu. Hiks. Empat jempol dan empat bintang untuk Aty Kanser.

    Didi Petet tak kalah keren berperan sebagai Haji Sa’un, orang Jawa yang menikah dengan perempuan Betawi dan hidup di tengah-tengah masyarakat Betawi. Yang agak kedodoran justru Ninik L Karim (ah, tumben banget!). Aktingnya kurang konsisiten. Di awal, ia cukup bagus memerankan orang Betawi dengan dialek khasnya. Tetapi, pada beberapa scene mendekati akhir film, malah keluar logat Jawanya yang kental itu.

    Juga untuk casting Reza Rahardian yang bermain sebagai Zein, putra bungsu Emak yang lebih senang melukis ketimbang menjala ikan di laut, terasa kurang pas, terutama secara fisikli. Reza kelewat ganteng sebagai pemuda miskin (bukan berarti orang miskin nggak boleh ganteng, loh!). Kulit putihnya tampak kurang cocok sebagai orang yang berumah di pesisir, meskipun memang aktivitasnya sebagai pelukis lebih banyak dilakukan di dalam rumah, terlindung dari panggangan sinar matahari.

    Oya, masih ada satu plot lagi: Pak Joko yang juga ingin naik haji. Berbeda dengan Emak dan Haji Sa’un, motivasi Pak Joko meraih gelar haji adalah untuk mendukung upaya pencalonan dirinya sebagai walikota. Di akhir kisah, ketiga plot ini bertemu.

    Secara keseluruhan, film ini layak dinikmati. Selaku film religi, Emak Ingin Naik Haji, berhasil menyampaikan pesan moralnya tanpa menggurui. Penonton dibuat tersentuh oleh kisah dan karakter Emak sebagai tokoh utamanya. Penyutradaraannya cukup baik, kendati di beberapa bagian ada detail yang luput. Misalnya, rambut anak tetangga Emak yang miskin itu, tampak sangat sehat dan berkilau. Harusnya kan bisa dibuat lebih kusam dan kusut, layaknya anak-anak kekurangan gizi. Selebihnya, saya sangat merekomendasikan film ini, terutama untuk mereka yang ingin dan sudah berkali-kali naik haji agar, siapa tahu, bisa bercermin.*** Endah Sulwesi (November 2009).
    5 Comments:

    blogwalking

    11/20/2009 02:48:00 PM  

    Bro, blog lu bagus.
    Gw jadi follower y.
    Gw jg nulis2 ttg film, tp masih pemula.
    Kalo ada wkt, liat2 aja.
    Hehehehe, lam kenal...

    12/21/2009 01:08:00 AM  

    nih ada tempat download baru di

    WWW.MOVIESTERBARU.CO.CC

    4/22/2011 10:37:00 PM  

    dan ini posting terakhir pakai akun si biru ya hihihi

    6/21/2012 02:44:00 PM  

    postingan yang bagus.........

    8/01/2012 09:37:00 AM  

    Poskan Komentar

    << Home