blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Selasa, 17 Februari 2009
    Slumdog Millionaire

    Sutradara: Danny Boyle
    Co-Sutradara: Loveleen Tandan
    Skenario: Simon Beaufoy
    Pemain: Dev Patel, Anil Kapoor, Freida Pinto, dll
    Masa putar: 120 menit
    Tahun: 2008

    Akhirnya, aku nonton juga film keren ini. Film yang mendapat 10 nominasi Oscar 2009, termasuk untuk kategori film terbaik, gelar yang berhasil digondol di ajang Golden Globe. Aku sudah lama geregetan kepingin menyaksikan film garapan sutradara kelahiran Inggris ini, Danny Boyle yang dibantu oleh Loveleen Tandan, sutradara asal India. Naskahnya dibuat berdasarkan novel Q&A karya Vikas Swarup. Terjemahan Indonesianya sudah terbit juga. Tapi aku belum baca.

    Film ini memukau sejak adegan pertama hingga terakhir.Alhasil, masa putar yang panjang itu, 120 menit, sungguh tidak terasa buatku.

    Ini film India. Film tentang India. Tapi tolong, jangan buru-buru membayangkan sebuah sinema India ala Bollywood yang hanya menjual mimpi-mimpi layaknya sinetron produk Punjabi. Akan lebih tepat jika kamu mengingat kembali cerita City of Joy-nya Dominique Lapierre.

    Jika City of Joy memotret Calcutta, maka Slumdog Millionaire ini berseting di Mumbai, kota besar yang banyak menyimpan "borok" di tubuhnya. Setiap borok tak ada yang enak dipandang. Kalau bisa kita tutupi serapat mungkin dari penglihatan umum. Demikian pula "borok" di tubuh Mumbai, sama sekali tak sedap dilihat: orang-orang miskin yang hidup di gubuk-gubuk kardus.
    Danny Boyle mengajak penonton meneropong kehidupan di daerah slum itu lewat kisah Jamal (Dev Patel), seorang "chai- wallah" (pelayan yang bertugas menyiapkan teh di kantor-kantor), berumur 18 tahun, yang baru saja kaya mendadak lantaran berhasil memenangi uang sebesar 20 juta rupee, hadiah kuis "Who Wants to be A Millionaire" di televisi. Ia menang - berhasil menjawab seluruh pertanyaan kuis - bukan karena jenius, namun karena "takdir". Jawaban-jawaban pertanyaan itu ia peroleh bukan lewat bacaan tetapi dari pengalaman-pengalaman pahit yang mewarnai nyaris di sepanjang umurnya.

    Dengan cerdik, kisah Jamal dituturkan secara kilas balik melalui setiap pertanyaan yang diajukan. Misalnya ketika ia harus menjawab soal siapa bintang film India yang paling terkenal pada tahun 1973, penonton dilempar ke masa kecil Jamal, saat ia sebagai bocah menggilai-gilai Amitabh Bachchan. Selaku fans berat aktor ganteng itu, Jamal kecil rela nyemplung ke kubangan tinja demi bertemu sang idola. Adegan ini menjadi adegan paling jenaka.

    Jamal dan Salim lahir sebagai muslim. Dan seperti kita tahu, di India sering sekali terjadi huru-hara antara orang-orang Hindu dan Muslim. Ibu mereka pun tewas mengenaskan dalam sebuah kerusuhan antaragama itu. Praktis, setelah itu mereka menjadi anak jalanan yang terlempar-lempar dari satu kesulitan ke kesulitan yang lain. Pada bagian ini aku teringat film Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal, terutama adegan di atap kereta itu.

    Begitu seterusnya. Setiap jawaban pertanyaan akan membawa kita kepada masa lalu Jamal yang kelam, menjadi sebuah rangkaian cerita yang apik, menyentuh, mengharukan; yang sekaligus juga menjadi pembentuk karakter tokoh-tokohnya. Tak ada adegan yang terasa sia-sia. Semuanya menjadi sebab-akibat dalam membangun satu kisah yang utuh. Tidak ada bagian yang ujug-ujug. Semuanya tercipta melalui sebuah proses yang panjang. Sungguh sebuah film yang rapi. Nyaris tak ada celah untuk dinista-nista, kecuali mungkin bagian penutupnya yang agak Hollywood setelah melewati paparan kisah yang mengaduk-aduk emosi. Walau demikian, aku sih tidak keberatan, sebab masih dalam takaran wajar.

    Menyaksikan film ini rasanya seperti menyaksikan wajah Jakarta yang - seperti Mumbai - diam-diam juga banyak memiliki "borok dan bopeng". Pemandangan daerah kumuh pinggir rel, bantaran sungai, dan atau tempat pembuangan sampah, adalah gambar-gambar yang sangat akrab dan mudah kita saksikan di balik gemerlapnya Jakarta. Demikian juga halnya dengan anak-anak jalanan, pengemis, pekerja seks pinggir jalan, dapat dengan gampang kita temukan di Ibukota.

    Konon, film ini sempat diprotes oleh masyarakat India yang tinggal di luar India. Mereka keberatan dengan penggambaran India di film tersebut. Entahlah, barangkali kelompok yang protes ini adalah para India yang sukses di perantauan dan merasa malu menyaksikan sisi buruk wajah negeri mereka. Namun, apa boleh buat, memang demikianlah realitanya.

    Dan apa boleh buat, aku harus mengatakan, bahwa film ini sangat layak ditonton. Sayang deh kalau kamu melewatkannya.***
    Sabtu, 07 Februari 2009
    The Curios Case of Benjamin Button

    Sutradara: David Fincher

    Skenario: Eric Roth

    Pemain: Brad Pitt, Cate Blanchett, dll

    Masa Putar: 166 menit

    Tahun: 2008


    Alasanku nonton film ini bukan lantaran bintang utamanya si seksi Brad Pitt, tetapi karena film ini berjaya di ajang Golden Globe dan Oscar 2008 dengan mengantungi banyak nominasi. Salah satunya untuk Brad Pitt sebagai leading actor. Ya aku sih masih percaya bahwa film-film yang dijagokan di kedua festival tersebut biasanya memang film-film yang bagus.


    Layar dibuka dengan adegan Daisy Tua yang terbaring sekarat di rumah sakit. Menjelang ajalnya, ia ingin agar putrinya, Caroline (Julia Ormond) membacakan sebuah buku harian bersampul kulit yang ditulis oleh seorang pria : Benjamin Button (Brad Pitt).

    Maka, cerita pun surut ke belakang, ke tahun 1918, bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia I, lahir seorang bayi lelaki buruk rupa, anak seorang pemilik pabrik kancing, Thomas Button (Jason Flemyng). Karena malu dengan kondisi fisik bayinya, Thomas kemudian berniat melenyapkan orok tersebut dengan membuangnya di sungai. Namun, beruntung tidak jadi sebab keburu ketahuan polisi. Tetapi, setelah berhasil lepas dari kejaran opsir itu, Thomas lalu meninggalkan putranya di anak tangga depan pintu sebuah rumah jompo.


    Sekali lagi keberuntungan terjadi. Bayi malang itu diselamatkan dan dipelihara oleh Queenie (Taraji P.Henson), perempuan negro pengurus rumah jompo tersebut. Dia juga yang memberi nama si jabang bayi Benjamin.


    Benjamin tumbuh tidak seperti anak-anak lainnya. Fisiknya sama tuanya dengan para penghuni rumah jompo yang rata-rata berumur 80 tahun. Untuk anak berusia tujuh tahun, ia tampak serenta 70 tahun : keriput, botak dengan hanya beberapa lembar rambut putih, mata lamur, dan tak mampu berjalan, sehingga harus memakai kursi roda. Tetapi, Queenie dan para lansia di sana mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Ia belajar membaca dan main piano dari mereka.


    Keanehan terus berlangsung pada diri Benjamin. Seiring bertambahnya usia, fisiknya justru kian memuda. Ia semakin kuat dan tinggi. Tanda-tanda ketuaan di tubuhnya perlahan-lahan menghilang. Bahkan kemudian ia diterima bekerja sebagai anak buah kapal di bawah pimpinan Kapten Mike (Jared Harris). Ia berlayar ke seluruh dunia, meinggalkan rumah jompo dan seorang gadis cantik, Daisy (Cate Blanchett) yang diam-diam menyimpan cinta padanya.


    Sementara Benjamin pergi, Daisy berhasil mewujudkan ambisinya menjadi balerina terkenal. Mereka tetap memelihara kontak lewat surat dan kartu pos. Benjamin sempat tergoda asmara sesaat dengan wanita bersuami yang dijumpainya di sebuah hotel.


    Kisah unik Benjamin ini terinspirasi dari sebuah cerpen karya F.Scott Fitzgerald yang ditulis pada 1921. Kasus Benjamin ini akhirnya memang menjadi daya tarik utama film besutan David Fincher ini. Menyaksikan Benjamin tumbuh dengan cara yang berlawanan dengan umumnya makhluk hidup - bukannya bertambah tua tetapi justru semakin muda - menjadi sebuah bagian yang menakjubkan. Aku tidak tahu, apakah memang ada kasus medis seperti yang dialami Benjamin ini.


    Yang pertama mendapat pujian dariku adalah untuk tim make upnya yang telah bekerja dengan gemilang mendandani para pemain, khususnya perubahan wajah Benjamin dari tua ke muda, dan perubahan Daisy dari muda ke tua. Keren banget.


    Kedua, untuk akting Cate Blanchett sebagai Daisy (terutama saat dia terbaring sakit. Benar-benar kayak orang tua yang tengah sekarat). Sayang, dia tidak meraih nominasi untuk perannya tersebut.


    Ketiga, untuk sutradara David Fincher yang telah dengan apik membuat film ini. Rapi dan detail banget filmnya, meskipun aku lebih senang seandainya berhenti cukup sampai ketika Benjamin (duh, Brad Pitt ganteng banget di sini, seperti di film-film pertamanya) muncul kembali menemui Daisy dan Caroline. Tetapi, Fincher memilih menuntaskannya hingga ada yang mati.


    Bagaimana dengan si tampan Brad Pitt? Ah..ah...menurutku sih aktingnya tidak terlalu istimewa, kecuali saat dia menjadi lansia. Selanjutnya, ketika berubah muda lagi, ya dia kembali menjadi Brad Pitt deh :)


    Aku sih merekomendasikan film ini untuk kamu tonton, terutama buat kamu yang senang film drama. Temponya agak lambat memang. Buat kamu yang tidak sabaran, bisa bete juga nontonnya. Film ini sarat pesan spiritual, khususnya untuk kita yang sering cemas karena menjadi tua. Padahal, menjadi semakin muda juga ternyata tidak lalu menyenangkan. Pilih mana, menjadi tua atau menjadi bayi kembali? :D ***