Kamis, 21 Juni 2012
DI TIMUR MATAHARI (2012)
Perang Itu Cara Paling Primitif
Perkara
keindahan lanskap, Papua ibarat sepotong surga yang dilemparkan Tuhan ke
dunia. Tetapi untuk urusan kemakmuran dan kesejahteraan, mungkin bagai
neraka bagi kebanyakan rakyat di sana. Kekayaan alam yang melimpah
rupanya tidak berbanding lurus dengan kondisi sosial ekonomi penduduknya
yang mayoritas masih mendiami perkampungan tradisional yang kental
dengan hukum adat dalam menyelesaikan segala konflik dan persoalan.
Rendahnya tingkat kemampuan ekonomi rakyat di sana barangkali hanya bisa
disaingi oleh tingkat pendidikannya.
Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan oleh film terbaru Alenia Pictures yang berjudul Di Timur Matahari. Ini film ketiga mereka yang mengambil seting kawasan timur Indonesia setelah Tanah Air Beta (2010) dan Serdadu Kumbang
(2011) dan disutradarai oleh Ari Sihasale. Formula andalan dari ketiga
film yang temanya mirip satu sama lain itu ada 3: Pertama, memanjakan
mata penonton dengan gambar-gambar indah pemandangan alam Indonesia
Timur yang masih jarang dijamah beserta keunikan budaya dan adat
istiadatnya. Kedua, ceritanya tentang orang miskin (biasanya anak-anak)
yang berjuang meraih impian. Dan ketiga, menyertakan pemain lokal
sebagai tokoh utamanya. Ditambah sedikit bumbu politik berupa kripik
(eh, kritik) pedas terhadap negara (pemerintah) yang kurang peduli
kepada rakyatnya di kawasan timur.
Ketika dalam opening-nya Di Timur Matahari ini menampilkan scene
anak-anak Papua berseragam merah putih di sebuah sekolah dasar yang
ditinggal guru mereka cuti selama 6 bulan, saya sempat curiga film ini
akan seperti Laskar Pelangi atau Serdadu Kumbang.
Untunglah, kecurigaan saya tidak terbukti. Anak-anak sekolah yang tidak
bersepatu itu hanya salah satu problem di sana yang tidak menjadi
konflik utama. Saya sempat nyengir juga ketika “Himne Guru” menjadi lagu
pembuka film ini. Kalau saya guru, muka saya pasti sudah merah karena
merasa tersindir berat.
Cerita utamanya adalah ikhwal
suku-suku di Lembah Tiom yang masih sering memilih berperang sebagai
cara menyelesaikan sebuah konflik antarsuku ketimbang memakai cara-cara
damai. Mata harus dibayar mata, begitu hukum adat yang berlaku. Nyaris
tak ada yang mempu mencegah. Tidak juga ayat-ayat Alkitab yang diucapkan
oleh Pendeta Samuel (Lukman Sardi) maupun Dokter Fatima (Ririn
Ekawati) yang mengancam tidak akan mau menolong para lelaki yang
terluka karena perang suku itu. Perang tetap terjadi, menghanguskan
honai-honai, menghanguskan kasih sayang, menghanguskan perdamaian.
Film
ini agak kebanyakan tokoh, sehingga akhirnya tak ada satu tokoh pun
yang mendapat porsi menonjol sebagai fokus utama. Ada Pendeta Samuel,
ada Dokter Fatima, ada Michael dan Vina (Laura Basuki), dan ada Mazmur
(Simson Sikoway), bocah malang yang kematian ayah. Apalagi tokoh Vina
(meskipun akting Laura Basuki patut dipuji di sini), menurut saya sih
kehadirannya tidak penting. Tanpa dia pun jalan cerita tidak akan
berubah.
Satu hal lagi yang buat saya cukup mengganggu
adalah bagian endingnya yang agak-agak “fiksi”. Mengingatkan saya pada
drama Natal di panggung sekolah :D.
|
posted by Unknown at 6/21/2012 02:40:00 PM

Pgn liat film. Eh,"Serdadu Kumbang" bersetting di Sumbawa seingat saya. :)
Bener.