blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Sabtu, 29 Maret 2008
    Vantage Point (2008)

    “8 Strangers. 8 Points of View. 1 Truth.”

    Ini film pilihan waktu nomat bersama Miss Icha kemarin, mengalahkan Spiderwick Chronicle. Pertimbangannya adalah karena ada Matthew Fox, dan di 21 sudah nggak tayang lagi. (Kenapa ya? Padahal kemarin di Blitz masih rame yang nonton tuh, kenapa di 21 sudah nggak ditayangin lagi ya?) Kami sih nonton tanpa ekspektasi apa-apa, soalnya memang aku juga belum pernah baca review-nya, baru beberapa kali lihat iklannya saja di TV. (Sejujurnya, kami nonton film ini murni karena ada Matthew Fox doang, hikhikhik.)

    Tapi, begitu mulai, dueengg … adegan pembukanya sangat keren. Dari sudut pandang bilik tim berita sebuah stasiun TV, diceritakan bahwa Presiden US hendak berpidato di sebuah KTT di Salamanca, Spanyol. Langsunglah ditampilkan tokoh-tokoh utamanya. Si operator siaran (Sigourney Weaver), dua orang anggota Secret Service (Dennis Quaid dan Matthew Fox), seorang turis Amerika (Forest Whitaker), seorang polisi preman Spanyol, si presiden, lalu dua orang pria misterius. Kedelapan orang inilah yang nantinya menjadi tokoh kunci dalam film ini. Nah, mereka semua berada di tempat yang sama dan menjadi saksi ketika si presiden tertembak saat sedang berpidato.

    Nah, adegan pembuka itu ditutup dengan ledakan bom dan kekacauan yang menyusul setelahnya. Lalu, habis itu … zreeeetttt … eh, waktunya dibalikin lagi. Adegannya diulang lagi, tapi kali ini dari sudut pandang yang berbeda, dari tokoh yang lain. Haaa, seru! Dari sinilah aku menyadari kalau plot film ini sangat keren. Yah, pembalikan plot itu dilakukan sebanyak delapan kali dong. Sempat mengikik waktu dengar orang di depanku mengeluh, “Yah, ini film diulang-ulang mulu, sih.” Padahal menurutku justru kerennya di situ. Dari pengulangan-pengulangan itulah cerita kompletnya tersusun.

    Sayangnya, plot yang keren itu ditutup dengan ending yang kedodoran dan berasaskan kebetulan, teori konspirasi yang agak tertebak, dan sosok heroik Dennis Quaid yang menjadi hero karena keberuntungan semata. Tadinya mau kasih empat bintang, nggak jadi deh. Tiga aja jadinya. Tapi film ini layak tonton, loh. Crunchy chiki msg kriuk-kriuk. Dan Matthew Fox tetap keren, dong, hehehehe ….


    Death At A Funeral (2007)

    Film ini sungguh kacau balau. Kocak banget ….

    Ini film Inggris, jadi mungkin banyak wajah yang nggak kita kenal main di sini (aku cuma tahu empat orang aktornya), tapi tetap saja, lucuuu. Ide ceritanya sederhana saja. Tentang rentetan kejadian di luar kendali yang mengacaukan sebuah upacara pemakaman.

    Pada dasarnya, cerita ini melibatkan sesosok mayat dan sebotol halusinogen, dengan sejumlah tokoh orang biasa yang saat disatukan menjadi sebuah kombinasi yang teramat sangat konyol. Mau diceritakan alurnya pun susah, karena ceritanya ya cuma gitu doang. Kekacauan sebuah upacara pemakaman gara-gara ada salah seorang tamu yang salah minum obat (dikira Valium padahal sebenarnya halusinogen), persaingan antar saudara, ditambah dengan sebuah rahasia kelam almarhum yang baru terungkap pas hari kematiannya.


    Komedinya nggak susah buat diikuti, kadang-kadang bahkan slapstick di sana-sini, tapi secara keseluruhan, menurutku skenario film ini oke. Ironis banget, karena dengan seting upacara pemakaman, kok bisa-bisanya ditampilkan komedi ancur begini. Sifat karakter-karakternya khas banget dan ditampilkan dengan keren banget oleh aktor-aktornya. Dan, yang jelas, komedi Inggris memang beda. British people are hilarious. Oh iya, karena yang kutonton ini jelas DVD bajak laut, subtitle-nya ngaco banget. Jadi ya terpaksa dimatikan saja dan menajamkan telinga buat mendengarkan aksen Inggris yang meliuk-liuk itu, hihihi ….

    Minggu, 16 Maret 2008
    Le Grand Voyage
    Sutradara: Ismael Ferroukh
    Pemain: Nicolas Cazale dan Mohammad Madjid


    Perjalanan darat ayah-anak (Reda). Mengendarai mobil (warna biru kecuali pintu kanan-muka kuning) dari Prancis ke Arab Saudi. Melewati kota-kota Eropa. Melewati banyak bahasa. Budaya. Ketaksalingpengertian. Milan, Slovenia, Balkan, Bulgaria, Turki, Syria, Jordan, Mekkah.

    Dua orang. Dua watak. Ayah tak bisa membaca, tapi bersikukuh sebagai pimpinan perjalanan. Mengatur uang. Mengatur makanan. Mengatur kapan waktu istirahat dan kapan jalan. Sementara anak dengan pikirannya yang tetap nempel di Prancis. Peristiwa2 kecil menggoda. Tentang penumpang aneh di Italia. Tentang paspor. Tentang penukaran uang. Tentang jalan-jalan yang menyesatkan. Melewati musim-musim tak terduga. Terjebak dalam salju di Pegunungan Bulgaria. Keduanya adalah sebuah dialog. Kadang dingin. Hangat. Tapi juga menyentuh ke kedalaman. Dua orang yang saling memberi dan mempengaruhi pasase hidupnya. Si ayah mengajari cerita-cerita tentangnya yang hingga ke masa silam.

    Dalam jebakan salju, muncul kepanikan. Tapi juga cinta. Ada tenggang. Dalam kesulitan, mereka berbagi. Kesalingpahaman terbangun dalam kesulitan. Ditahan di perbatasan lantaran perbedaan bahasa. Ada kejengkelan, tapi bisa berdamai lantaran ada seseorang yang tahu berbahasa Turki. Si anak dipersilakan mengisap sadu di rumahnya.

    Lihatlah, mereka di Turki. Tapi mereka ketambahan Mustapha yang lancar berbahasa Prancis. Dia mau naik haji juga. Haji menumpang. Di Turki, azan2 mulai terdengar. Menara2 masjid menjulang. Tuh, ada masjid biru yang dibangun semasa utsmaniyah berkuasa. Nomor dua (6) setelah mekkah (7) dihitung dari jumlah menara.

    Di Turki si anak diajak Mustapha nenggak bir hingga mabok. Ternyata itu ulah si Mustapha yang mencuri perbekalan mereka. Sang ayah marah besar dan berkata: “Kamu mungkin tahu membaca dan menulis, tapi tak tahu bagaimana hidup.” Keduanya tak bisa membuktikan Mustapha bersalah di hadapan polisi karena tak ada bukti.

    Terpaksa uang pulang digadang untuk perjalanan pergi. Saatnya berhemat. Bensin nyaris habis. Perjalanan masih jauh. 90 mil lagi Damascus (Syiria). Di Damascus muncul pengemis sewaktu mereka ngambil air di jamban umum. Si ayah memberinya dalam kondisi yang sangat kekurangan. Si Anak hendak mengambil kembali uang itu. Tapi si ayah mencegah. Kena gampar. Si Anak meradang. Meminta pasport. Kepingin jalan sendiri Memanggul tas ke atas bukit. Si ayah nyusul. Memberitahu bahwa ia sudah bisa ditinggal dan mengurus diri sendiri dan membebaskan anaknya memilih. Tapi kekerasan hati itu bisa luluh. Mereka bersatu kembali di tengah padang pasir. Perjalanan berlanjut. Si anak diberi roti, tapi minta daging. Untuk memulihkan tenaga.

    Mereka membeli kambing hidup. Di tengah jalan kambing mau disembelih. Di tangan si anak kambing itu lepas. Dia mengejarnya. Tapi nggak dapat.

    Saat si bapak salat, si anak menemukan kantong uang. Dia tersenyum. Ternyata si ayah masih memiliki cadang di bawah jok. Si anak meninggalkan ayahnya di hotel. Masuk bar. Nonton tari perut dan berdansa dengan para dada yang membusung dan berkeringat. Ah, si bapak memergoki si anak lagi mabuk dan main sama si cewek berdada aduhai. Si ayah marah besar. Meninggalkan anaknya. Berjalan sendiri. Si anak memohon agar naik mobil. Tapi ia berjalan sendiri menenteng kopornya. Ia luluh juga setelah anak itu menghardik keras: “Tidakkah ada ampunan dalam agamamu?”

    Waktu rombongan banyak orang naik haji berkumpul di Jordan, si anak tak mau ikut salat. Malah keluyuran sendiri di padang pasir. Nyoret2 nama Lissa, seorang kristiani pacarnya di Prancis.

    Sendirian di gurun. Berdialog. Anak: “Apa pentingnya Mekkah buatmu?” Si bapak menjelaskan seperti umumnya. Bahwa ia akan terus gelisah bila mati sebelum melengkapi kewajibannya naik haji. “Dan tanpamu aku tak akan pernah bisa melakukan haji kewajiban ini.”

    Anak itu terharu. Betapa walau hanya menemani, dia juga penentu ayahnya bsia naik haji atau tidak.

    Masuk mereka ke Mekkah. Melewati gerbang dua pedang yang tertanting. Disambut ahlan wa sahlan. Sementara ayahnya ke masjid. Si anak di mobil saja. Tertidur. Ngeliat2 foto Lisa yang sedang duduk di sofa dengan paha putih pualam tersingkap. Delapan hari mereka di Mekkah ini. Si ayah berpakaian ihram. Si anak tetap aja kaosan. Kuning warna kaosnya. Si Reda ini lucu ya. Lha orang berlabbaikan2 pakai ihram, dia ikutan aja pakai kaos. Sendiri lagi pakai kaos. Semua orang berkalafeyah.

    Tapi di sinilah si anak disadarkan, tatkala ayahnya tak pernah kembali lagi. Ia terus mencari, mencari, mencari di tengah jutaan manusia berihram putih. Oleh seorang polisi, di antar ke kamar mayit. Di situlah ayahnya terbaring dengan ihram abadinya membungkus jasadinya.

    Kukira, film ini adalah perjalanan tentang kesadaran berpindah-ubah. Dan itu bukan ayahnya, tapi diri anaknya sendiri. Si reda-lah yang sesungguhnya naik haji itu. Si pengantar kematian.

    Dan setiap kematian memang guncangan. Ini adalah perjalanan membawa diri ke keharibaan kematian. Di sana. Di Mekkah. Dan sesungguhnya Le Grand Voyage adalah perjalanan menuju gerbang lahat.

    @Ghost Muh >>> Krapjak 9 Oktober 2007
    Rabu, 05 Maret 2008
    THE MISSING

    Sutradara Ron Howard
    Skenario Ken Kaufman
    Pemain Tommy Lee Jones, Cate Blanchett, Evan Rachel Wood, Jenna Boyd
    Produksi Columbia Pictures th 2003
    Durasi 130 menit


    Amerika Serikat pada 1885 adalah sebuah negeri yang masih disibuki oleh perang saudara serta konflik-konflik dengan Indian, 'pemilik' asli dataran yang diklaim ditemukan oleh Colombus itu. Bersetting tahun 1885 di Negara Bagian New Mexico, kisah film ini dimulai.

    Tersebutlah seorang wanita cantik bernama Maggie (Cate Blanchett) tinggal dengan dua orang anak gadisnya Lily (Evan Rachel Wood) dan Dot ( Jenna Boyd) di sebuah farm. Maggie adalah seorang healer (semacam dokter pada masa itu). Suatu hari mereka kedatangan seorang lelaki keturunan Indian, Samuel Jones (Tommy Lee Jones) yang ternyata adalah ayah Maggie yang pernah pergi meninggalkan ia dan ibunya. Luka hati Maggie membuat ia mengusir ayahnya dari rumahnya.

    Namun, ketika terjadi penculikan terhadap Lily oleh sekelompok Indian , Maggie tak dapat menolak uluran tangan Samuel untuk bersama-sama mencari putri sulungnya tersebut. Dalam upaya pencarian Lily inilah terbangun kembali relasi ayah-anak yang sempat hilang puluhan tahun. Inilah yang mengisi hampir separuh film. Pemandangan alam gurun yang panas dan gersang seperti layaknya terdapat di film-film koboy dapat kita saksikan di sini. Juga adegan tembak-menembak dan perkelahian satu lawan satu ala Indian.

    Sosok Maggie sebagai perempuan tegar dan berani berhasil diperankan dengan baik oleh Cate Blanchett. Juga akting Tommy Lee Jones, tentu tak perlu diragukan lagi. Mereka cukup berhasil membangun emosi sehingga film sepanjang 130 menit ini tidak terasa membosankan.

    Cerita film ini diangkat dari novel berjudul The Last Rider karya Thomas Eidson. Ditulis menjadi naskah film oleh Ken Kaufman serta disutradarai oleh Ron Howard, sutradara peraih oscar untuk filmnya A Beautiful Mind.
    Selasa, 04 Maret 2008
    THE BOXER

    Skenario Jim Sheridan, Terry George
    Sutradara Jim Sheridan
    Pemain Daniel Day-Lewis, Emily Watson
    Masa putar 113 menit
    Tahun 1997

    Susah sekali menjadi "orang baik-baik". Apalagi bagi seorang mantan narapidana seperti Danny Flynn (Daniel Day-Lewis). Sekeluarnya dari penjara setelah menjalani hukuman selama 14 tahun karena terlibat sebagai aktivis IRA (Tentara Irlandia), Danny Flynn ingin memulai lembaran baru hidupnya sebagai seorang petinju. Dia pulang ke rumahnya dan mengaktifkan kembali sasana tinju tempat ia dulu berlatih sebelum dipenjara. Bersama pelatihnya, Ike, Flynn melatih pula anak-anak di sekitar tempat tinggalnya untuk menjadi petinju handal. Dia benar-benar ingin meninggalkan masa lalunya yang penuh intrik dan konflik politik sebagai anggota IRA. Tetapi penjara sepertinya telah memberi cap "orang jahat" di dahinya. Bukan sesuatu yang mudah bagi Flynn untuk dapat diterima kembali oleh masyarakat.

    Peran sebagai orang Irlandia pernah pula dimainkan Day Lewis (aktor kelahiran London, Inggris) dengan sangat baik di film In The Name of The Father (salah satu film favorit saya). Aktingnya tidak perlu diragukan lagi. Salah satu pertimbangan saya menonton The Boxer ini adalah karena ada Day Lewis di situ. Karakternya kali ini sebagai Flynn sangat berbeda dengan peran antagonisnya sebagai tukang jagal yang bengis dan kejam di Gangs of New York. Sebagai Flynn, ia amat lembut dan santun, walaupun berprofesi sebagai petinju.

    Selain perjuangannya berusaha menjadi "orang baik-baik", tak lupa pula bumbu-bumbu romantis kisah cinta Flynn dengan mantan kekasihnya, Maggie (Emily Watson). Api asmara masa lalu berkobar kembali meski harus melewati jalan yang tak semulus 14 tahun lalu.
    Minggu, 02 Maret 2008
    Hantu Ambulance

    Resensi (diambil dari http://www.21cineplex.com/) :

    Nama baik keluarga adalah segalanya. Aib sekecil apapun sebisanya ditutupi. Inilah yang dilakukan Widya terhadap cucu laki-laki kesayangannya, Rano. Gina, ibu Rano, melakukan pesugihan demi memperbaiki taraf ekonomi keluarganya. Namun Gina mesti membayarnya dengan tumbal nyawa. Hingga satu ketika, karena melalaikan kewajiban itu, maka sang makhluk gaib yang disembah Gina pun menghabisi seluruh keluarga Gina. Hanya Rano yang terselamatkan

    Sekian tahun berlalu, Rano bersama teman-temannya, Dicky, Ocha dan Popi, memutuskan kuliah di Bandung. Mereka sepakat tinggal bersama di satu rumah kontrakan yang ternyata kediaman keluarga Rano di masa lalu. Dan di rumah tersebut terparkir sebuah ambulance yang menurut desas-desus mengandung mistik

    Semenjak mereka tinggal di rumah itu, kejadian-kejadian aneh dan mengerikan mereka alami. Terutama ambulance yang terus memakan korban serta menyimpan kutukan makhluk gaib yang masih mengincar korbannya, yaitu keluarga Rano. Setelah selidik punya selidik, terkuaklah tentang masa lalu keluarga Rano yang selama ini dirahasiakan oleh Widya, neneknya. Betapa sedih dan kecewanya Rano. Apalagi, teman-temannya juga jadi korban. Rano bertekad mematahkan kutukan itu dengan caranya sendiri, walaupun harus mengorbankan dirinya.

    Di tengah-tengah ketegangan yang berlangsung, Fiona, mantan kekasih Rano tiba-tiba datang menemui Rano di Bandung. Rano yang menaruh hati Popi, gundah kembali. Namun, Rano akhirnya harus merelakan kepergian salah satu dari kedua gadis yang dekat di hatinya, dengan cara tragis


    Review :
    Ini adalah film horror Indonesia kedua yang saya tonton di bioskop. Film pertama dulu adalah filmnya Marcella Zalianti yang sudah lupa judulnya apa. Kenapa menonton film ini dan film horror di bioskop ? Semata-mata karena ajakan. Bukan karena kemauan saya sendiri.

    Seperti biasa, banyak hal yang membuat saya ngakak sewaktu menonton film horror Indonesia. Alasannya adalah karena ceritanya yang tidak masuk akal, pemainnya yang begitu sinetron (akting dan ekspresi takutnya keliatan banget dibuat-buat. Jauh dari natural orang kalau lagi ketakutan), ending cerita yang sok-sok an gak jelas dan ngambang sampai dengan tampilan hantunya yang lucu. Hehe..

    Biar gak buang waktu, langsung saya tulis keanehan dan ketidakmasukakalan (baca : cacatnya) dari film ini aja ya :

    -Ceritanya si tokoh-tokoh film ini kan lagi cari rumah kost di Bandung dan kemudian mereka menemukan rumah di Jl. Bahureksa yang ada ambulance nya ini. Kenapa gak curiga dari awal waktu melihat ada ‘benda aneh’ yang gak biasa ada di rumah. Mereka cuek-cuek aja. *kalo gak begini, gak akan ada filmnya kali ya ?*. Udah gitu rumahnya udah kaya gudang yang puluhan tahun gak dihuni pula. Kotor dan berantakan plus ruangan yang serba temaram karena kurang pencahayaan. Hehe..anak gaul Jakarta yang mau ngekost koq milih rumah seperti itu ya ? Apa mereka gak punya ‘selera’ ?

    -Latar belakang hantu itu kan dari pesugihan dll tadi, tapi koq tiba-tiba penampakan hantunya jadi ada tiga macam (yang paling sering muncul) yaitu hantu berbaju putih berwajah rusak dan berambut gimbal yang sepertinya banci kamera banget karena berkali-kali muncul dan menampakkan diri dan berusaha membuat para tokoh ini ketakutan. Trus ada juga pocong dengan wajah yang rusak dan berdarah-darah. Dan terakhir adalah hantu cantik jelita yang bahenol dengan berpakaian ala si manis jembatan ancol. Hehe..tapi dari semua tokoh hantu ini, koq sama sekali tidak ada yang menakutkan kecuali karena efek suara nya saja. Makanya banyak banget kejadian yang bikin saya ngakak.

    -Trus ada kejadian itu ambulance nyusul salah satu tokohnya ke kampus. Yup.. ambulance itu ke kampus di siang bolong. Bingung gak sih ? Hebatnya mahasiswa-mahasiswa di situ pada cuek dan gak perhatian. Gak ada yang peduli ada mobil aneh yang tiba-tiba nongkrong di kampus mereka. Trus lagi si Ocha (orang yang dicari hantu ambulance itu) dengan begonya malah masuk ke kampus dan ke lorong yang sepi dan gak ada satu pun mahasiswa di sana (padahal jam kuliah) sehingga akhirnya dia mati terbunuh.

    -Ada kejadian juga Fiona, si pacarnya Rano (Dimas Andrean) yang di awal atau tengah cerita dibilang dipaksa pergi ke luar negeri oleh orang tuanya karena hubungan percintaan mereka gak direstui, tiba-tiba nongol aja di rumah kos di Jl. Bahureksa itu. Padahal pas mereka ngobrol dibilang kalau si cewek ini sama sekali gak bisa dihubungi oleh si Rano. Hehe..gampang bener balik dari luar negeri secara tiba-tiba gitu. Udah gitu langsung nongol di tempat kejadian yang sama sekali belum dia tau lagi. Hebat kan ?

    -Sampai film selesai, semuanya serba gak jelas. Peran Suzzana dan Cliff Sangra dalam menolong para tokoh itu tidak terlihat kecuali mereka sempat berdoa dan melafalkan bacaan-bacaan penghalau hantu. Endingnya benar-benar dibikin menggantung. Bukannya memberikan jawaban kepada penonton, tapi malah memberikan seribu pertanyaan saat keluar bioskop.
    Ya gitu deh film horror Indonesia sekarang ini. Penuh celaan dan banyak yang bikin ketawa karena ketidakmasukalannya. Tapi herannya banyak banget yang penuh dengan niat buat nontonnya.

    - imgar untuk kutubukungomonginfilm -