blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Minggu, 08 Juni 2008
    MAY (2008)
    Sutradara : Viva Westi
    Penulis : Dirmawan Hatta
    Pemain : Jenny Chang, Yama Carlos, Jajang C. Noer, Lukman Sardi, Niniek L. Karim, Tutie Kirana, Ria Irawan
    Produser : Heru Winanto
    Produksi : Flix Pictures
    Homepage : http://may-themovie.com/

    Akhirnya ada juga film Indonesia yang berani mengambil kerusuhan Mei 1998 sebagai latar belakang kisahnya. Sebelumnya sih ada film Pocong (1) -nya Rudi Sujarwo yang mengambil setting itu, cuma sayangnya tidak lolos sensor dan tidak jadi diedarkan. Pertama sih nggak terlalu tertarik dengan film ini, karena capek lah nonton dokumentasi dari kerusuhan yang memilukan itu. Tapi ketika membaca review positif di internet yang berani memberi rating tinggi untuk film ini, kok jadinya kepengen nonton.

    Kisah di Antara Kerusuhan Mei

    May (Jenny Chang) tokoh utama dalam film ini adalah seorang gadis keturunan Tionghoa. Dengan setting cerita pada Mei 1998, akan langsung bisa ditebak bahwa May adalah salah seorang yang menjadi korban kebiadaban peristiwa rusuh di Jakarta. Pada saat terburuk itu May terjebak di tengah huru hara massa. Antares (Yama Carlos), pacarnya yang anak pribumi, sibuk dengan kegiatannya merekam dokumentasi sejarah dan mengabaikan telepon May yang menangis meminta tolong. May yang tak berdaya akhirnya menjadi korban kebuasan manusia gelap mata. Seorang jurnalis asing bernama Raymond yang kemudian menolongnya. Ketika kembali ke rumahnya, May mendapati rumahnya porak poranda dan Mamanya entah kemana. Semakin terpuruk lagi kehidupan May, saat kemudian ia kedapatan hamil.

    Sepuluh tahun kemudian. May telah menutup luka lamanya dengan tinggal di Malaysia menjadi penyanyi. Namun malam itu, ketika May sedang menyanyi di cafe, Antares muncul kembali. Membawa penyesalannya dan setumpuk rasa bersalah. Luka May semakin terkoyak lagi ketika Raymond juga mendatanginya dengan membawa Tristan anak kandung yang ia tinggalkan.

    Di plot yang berbeda, Gandang (Lukman Sardi) seorang pegawai Hotel terseret teman-teman kerjanya yang mengambil kesempatan pada saat terjadi kerusuhan. Mereka memeras para pengungsi warga keturunan yang ingin segera meninggalkan Jakarta. Orang-orang yang sedang kalut itu bersedia menyerahkan hartanya asal bisa mendapat tiket untuk eksodus ke luar negeri. Mama May (Tutie Kirana) yang masih bingung karena May belum pulang selama kerusuhan itu, tak punya pilihan ketika saudaranya memaksa menyerahkan sertifikat rumah kepada Gandang demi selembar tiket. Dari hasil penjualan rumah Mama May itu, Gandang membuka usaha sendiri dan sukses.

    Sepuluh tahun kemudian, Gandang bertemu lagi dengan Mama May di sebuah kedai kopi di Malaka. Keadaan Mama May yang setengah linglung karena terus mencari-cari May, memunculkan perasaan bersalah pada diri Gandang yang merasa telah memanfaatkan kesengsaraan orang lain.

    Bagus, Nggak Klise

    Meskipun berlatarbelakang kerusuhan Mei 1998, film ini bukanlah film tentang kerusuhan itu. Ini adalah film drama tentang cinta dan keluarga yang konflik2nya terjadi sebagai akibat dari peristiwa Mei 98. Kejadian-kejadian brutal dari hari-hari berdarah cuma ditampilkan sebagai berita di televisi. Tidak ada reka ulang peristiwa kerusuhan tersebut yang ditampilkan secara frontal dalam film ini. Penggambarannya cukup dengan sedikit asap dan api, dan orang kalut berlari-larian yang melengkapi interaksi antar tokoh, sudah bisa menyampaikan kondisi kacau pada saat itu dari sisi yang lebih humanis. Tanpa perlu mengorek luka lama terlalu dalam.

    Dari sisi penuturan film ini berani bereksperimen dengan menyampaikan cerita dalam plot maju mundur. Bukan sekedar plot maju mundur biasa, tapi dalam film ini ditampilkan beberapa kisah paralel dari sejumlah tokoh secara bergantian yang masing-masing bergerak dalam plot yang maju mundur. Kedengarannya bakal berantakan dan membikin bingung penonton, apalagi sama sekali tidak disampaikan atau dituliskan keterangan tempat dan waktu yang menuntun penonton. Tapi berkat kepiawaian sutradara yang dibantu oleh penata rias, setting, dan busana, penonton akan dengan mudah menebak lokasi dan kronologi waktu dari adegan yang sedang ditampilkan. Permainan plot yang dengan cerdas menggiring penonton untuk memahami cerita dengan lebih baik kayaknya adalah kekuatan utama film ini, walaupun ada beberapa segmen yang terlalu bertele-tele.

    Pengambilan gambarnya tidak monoton ala sinetron, bukan cuma asal bagus tapi juga sanggup bercerita melengkapi dialog tokoh2nya. Setting klenteng dan pantainya cantik, juga setting rumah di dekat Prambanan. Sayang tata suaranya kurang sempurna. Lagu yang dibawakan May di cafe juga kurang pas dengan mood cerita.

    Permainan akting Jenny Chang sebagai May lumayan bagus meski belum cukup prima. Akting Jenny paling kedodoran saat ia harus berdialog dalam bahasa Inggris. Sementara Yama Carlos tidak bisa mengeksplore terlalu jauh karena memang karakter Ares adalah orang yang datar menyimpan emosi. Malah aktris gaek Tutie Kirana yang berhasil membuktikan kepiawaiannya berakting sebagai wanita tua yang tertekan. Lukman Sardi sebagai Gandang terlalu datar dengan ekspresi yang nyaris sama sepanjang cerita. Ria Irawan yang menjadi istri Gandang sempat memberikan penyegaran sebagai istri cerewet, meski di beberapa bagian agak overacting :p

    Cerita dari film ini sendiri cukup menyentuh, beberapa adegannya akan sanggup menghanyutkan emosi penonton. Alur cerita utama antara May dan Ares terasa agak bertele-tele, walaupun nggak sampai jatuh jadi cerita ala sinetron. Yang lebih kuat malah alur cerita dari kisah Gandang - Mama May, lebih menyentuh dari sisi humanis.

    Perkembangan cerita dalam film ini seringkali tidak disampaikan secara langsung dalam dialog atau narasi, kadang cukup dengan sedikit adegan tanpa dialog saja telah bisa bercerita banyak. Penonton dianggap cukup cerdas untuk mampu menangkap itu tanpa harus didikte oleh narasi. Cuman menurutku untuk endingnya, cara penyampaiannya kurang keren, mestinya dibiarkan saja menggantung tapi dengan sedikit petunjuk ke arah ending.

    Kesimpulannya. Untuk kelas film Indonesia, film ini kereeeen. Permainan plotnya cerdas. Kisahnya menyentuh tapi tidak cengeng. Sayang kurang promosi, jadi yang nonton dikit :(