blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Sabtu, 27 September 2008
    Laskar Pelangi

    Sutradara: Riri Riza

    Produser: Mira Lesmana

    Penulis Skenario: Salman Aristo

    Musik: Titi & Aksan Syuman


    Sinopsis :


    Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Bu Muslimah dan Pak Harfan, serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab berdasarkan surat pengawas sekolah jika tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.


    Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Kesepuluh murid, yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah itu, menjalin kisah yang tak terlupakan. (dari website Laskar Pelangi The Movie )


    Adaptasi Cerita :


    Andrea Hirata tampaknya tidak terlalu kaku mematok bahwa film ini harus sepenuhnya sama dengan novel yang ia tulis. Terbukti ia membebaskan Riri Riza dan Salman Aristo membuat skenario sesuai interpretasi mereka sendiri. Dan menurut wawancara di media, Andrea bisa menerima dan puas dengan perubahan2 dalam skenario filmnya.


    Riri dan Salman cukup berani membuat banyak perubahan. Tampaknya mereka juga merasakan banyak hal yang terlalu berlebihan di Laskar Pelangi versi novel, sebagaimana yang aku rasakan dan pernah aku posting di reviewku. Laskar Pelangi versi film ini menjadi lebih logis dan membumi. Hampir semua yang berlebihan dibabat habis dan dijejakkan kembali ke bumi. Pertanyaan2 di lomba cerdas-cermat telah disesuaikan dengan tingkat pendidikan peserta. Tarian di karnaval juga lebih sederhana hanya didramatisir dengan permainan kamera. Mahar juga lebih membumi dengan lagu "Seroja"-nya, bukan "Tennese Waltz". Grup Band Laskar Pelangi dengan electone, standing bas dll sama sekali tidak diceritakan. Petualangan ke pulau Lanun juga disederhanakan. Dan yang tersisa adalah sebuah kisah yang jauh lebih logis dan masuk akal, sesuai dengan setting cerita.


    Jika di novel kita akan merasa bahwa yang bercerita adalah Ikal dewasa tentang Ikal kecil, dengan seabreg istilah bahasa latin dan bahasa inggris bertaburan disana sini. Di film ini semuanya kembali ke suasana yang seharusnya, suasana Belitong yang masih agak terpencil dan suasana kehidupan anak-anak.


    Sementara penambahan2 cerita baru di beberapa tempat, bisa diterima dan menyatu dengan baik dengan cerita asli. Hanya saja tokoh baru Pak Mahmud yang diperankan Tora Sudiro itu apa memang perlu ya?


    Lalu satu hal lagi, karena ada banyak adegan di buku yang dimunculkan hanya sekilas tanpa terlalu banyak detail, aku agak bertanya-tanya apakah mereka yang belum membaca bukunya akan bisa menangkap semua cerita?


    Akting :


    Secara keseluruhan akting pemainnya lumayan bagus. Rata-rata bisa bermain secara natural dan menyatu dengan setting Belitong tahun 70-an.


    Yang paling menjiwai peran di film ini menurutku adalah Ikranegara sebagai Pak Harfan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah. Dia bisa mewujudkan sosok seorang kepala sekolah sebuah SD sederhana yang idealis dan pantang menyerah, tapi tetap lembut, ramah dan sayang kepada anak-anak didiknya. Sedangkan Cut Mini sebagai Bu Mus, lumayan total aktingnya yang lengkap dengan logat melayunya yang kental itu. Meskipun pada beberapa adegan ada yang kurang lepas emosinya. Pemain dewasa lain seperti Mathias Muchus, Rieke DP, Alex Komang, Robby Tumewu, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Jajang, juga bermain bagus tetapi karena porsinya tidak banyak ya tidak terlalu menonjol. Hanya Tora Sudiro yang terasa agak mengganggu pemunculannya disini karena tetap sebagai Tora Extravaganza yang tampak konyol.


    Para pemain anak2 asli Belitong yang memerankan Laskar Pelangi, meskipun mereka baru pertama kali berakting, tetapi ternyata cukup berhasil bermain secara natural. Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) tampil cukup meyakinkan. Yang paling bagus dan menjiwai karakternya adalah Veris Yamarno yang menjadi Mahar. Dia bisa bermain lepas tanpa beban sebagai anak eksentrik pecinta seni. Salut.


    Setting :


    Selain dari segi cerita, film ini tampaknya bakalan banyak dipuji dari segi artistik. Pengambilan gambarnya, lokasinya, dan sudut-sudut kamera yang diambil tidak sembarangan. Sisi-sisi indah dari pulau Belitong bisa dimunculkan dengan apik dan dramatis.


    Dengan setting asli di Belitong dan bahasa asli setempat, film ini tampil lebih natural dibandingkan dengan novelnya yang agak sedikit dikacaukan dengan banyaknya perbendaharaan kata2 bahasa inggris daripada bahasa setempat.


    Alur Cerita :


    Karena berdasarkan sebuah novel yang merupakan memoar masa lalu seorang Ikal, dan bukan sebuah cerita dengan fokus pada satu kisah utama, maka wajar saja jika ada yang merasa kalau film ini agak meloncat-loncat dan kemana-mana. Dan di beberapa bagian cerita akan terasa datar tanpa emosi, hanya sebatas bercerita tentang kehidupan tokohnya.


    Film ini memang adalah kisah kehidupan, bukan sebuah cerita dengan rentetan adegan2 yang membangun konflik lalu mencapai klimaks dan selesai. Ada bagian tentang cerianya dunia anak2, ada tentang betapa sederhananya kehidupan mereka, ada tentang perjuangan agar tetap sekolah, ada sedikit bumbu kisah cinta remaja, dan ada perlombaan untuk melambungkan kembali harapan. Semuanya disatukan untuk membangun sebuah gambaran utuh tentang kehidupan tentang anak-anak miskin yang berjuang untuk tetap bisa sekolah dan menggantungkan mimpi mereka setinggi-tingginya.


    Pesan Moral :


    Dalam rentetan gambar yang indah film Laskar Pelangi ini menurutku berhasil menyampaikan kisah tentang perjuangan sebuah sekolah sederhana untuk anak-anak miskin agar bisa terus hidup dan mendidik generasi penerus dengan akhlak yang mulia. Segelintir guru yang bekerja keras pantang putus asa dalam keterbatasan. Beberapa orang murid miskin yang tetap bersemangat tinggi dalam belajar. Bisa menginspirasi banyak orang untuk memajukan lebih tinggi lagi dunia pendidikan terutama di daerah-daerah terpencil dan untuk anak-anak miskin.

    Salut.


    [ tiga setengah bintang, dibulatkan jadi empat bintang :) ]



    Laskar Pelangi

    Sutradara : Riri Riza
    Produser: Mira Lesmana
    Skenario: Salman Aristo
    Pemain: Cut Mini, Ikranegara, Tora Sudiro, dll.
    Tahun: 2008
    Masa Putar: 125 menit

    Memfilmkan sebuah buku yang telanjur populer tentu merupakan beban tersendiri bagi sutradara dan penulis skenarionya. Ada semacam tuntutan untuk bersetia dengan yang tertulis di buku. Sebab, jika berani menyimpang salah-salah akan menuai kecaman dan protes dari para pembaca fanatiknya.

    Novel laris karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, apa mau dikata adalah karya yang dua tahun belakangan ini telah berhasil meraih perhatian publik pembaca kita. Terbukti dengan penjualannya yang konon mencapai 1 juta eksemplar. Sebuah angka langka bagi penjualan buku fiksi lokal. Sukses tersebut tampaknya akan terus berlanjut dengan pembuatan filmnya yang beredar secara serentak hari ini (25/9) di seluruh Indonesia.

    Lewat kolaborasi ciamik Riri Riza (sutradara) dan Salman Aristo (penulis skenario) jadilah Laskar Pelangi sebuah tontonan yang memikat justru berkat keberanian mereka “berselingkuh” pada novelnya atas seizin Andrea Hirata yang pada sebuah kesempatan pernah berujar, bahwa ia tak akan mencampuri pembuatan filmnya, sebab novel dan film adalah dua media yang berbeda, masing-masing memiliki keunikan sendiri.

    Keberanian duet ini untuk tidak bersetia kepada naskah asli novelnya, justru telah membuat film tersebut lebih manusiawi. Mereka berhasil menutupi “lubang-lubang” pada bukunya. Misalnya, dengan menghilangkan beberapa adegan “tidak logis” di bukunya atau menghadirkan tokoh lain yang tidak ada di buku : Mahmud dan Bakri.

    Kemunculan karakter Pak Mahmud (Tora Sudiro) dan Bakri yang tidak ada di buku, cukup menghidupkan film. Kisah Mahmud, guru SD PN Timah dalam upayanya menjerat hati Ibu Muslimah (Cut Mini) menjadi hiburan tersendiri. Siasat yang cukup berhasil untuk mencuatkan sisi lain Ibu Muslimah.

    Tokoh Bakri yang materialistis sekaligus realistis adalah antagonis kecil yang dihadap-hadapkan dengan sosok idealis Ibu Muslimah, anak didik Pak Harfan (Ikranegara), sang kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong yang sampai akhir hayatnya mengabdikan diri pada sekolah miskin yang nyaris ditutup karena ketiadaan murid itu.

    Film dibuka dengan narasi Ikal dewasa (Lukman Sardi) yang tengah pulang kampung guna mewartakan kabar gembira keberhasilan dirinya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi master di Universitas Sorbonne, Prancis. Lewat narasinya, kita kemudian dilempar secara kilas balik ke masa kecil Ikal bersama kesepuluh orang temannya di SD kampung yang reyot dan mirip kandang kambing itu. Oleh Ibunda Guru mereka, Ibu Muslimah, kesebelas bocah dekil dan kumal ini (kecuali Flo yang pindahan dari SD PN Timah) diberi nama Laskar Pelangi.

    Lalu adegan pertama yang menyentuh hati muncul di layar: Lintang, anak pesisir yang kelak jadi murid paling pandai, mengayuh sepeda menuju kelas barunya di Gantong. Ia menjadi murid pertama yang hadir di sekolah pada tahun ajaran baru 1974 itu. Tak lama kemudian, Ibu Muslimah tiba–juga dengan bersepeda–dan menghampiri Lintang. Terjadilah dialog sederhana dalam bahasa dan dialek Melayu yang membuat mata saya basah (Apa dialognya? Silakan nonton filmnya). Tapi mungkin juga ekspresi polos Lintang itu turut menebalkan keharuan.

    Selanjutnya, film mengalir dengan sebagian besar memuat adegan murid-murid Belitong yang lugu namun penuh semangat menuntut ilmu. Dalam segala keterbatasan mereka tetap berusaha ceria. Tak lupa mata kita juga dimajakan sejenak oleh pemandangan indah sebuah pantai yang penuh bebatuan raksasa tempat untuk pertama kalinya mereka menatap pelangi.

    Secara umum akting bocah-bocah itu lumayan natural. Tidak semuanya kebagian peran utama.Tiga yang menonjol adalah Ikal, Lintang, dan Mahar. Dan dari ketiganya, bintangnya adalah Mahar, si seniman yang selalu membawa radio transistor ke mana-mana dengan mengalungkannya di leher.

    Akhirnya film ditutup dengan satu lagi adegan mengharukan. Paling mengharukan bagi saya, sama ketika membaca bukunya: Lintang berpamitan kepada teman-teman dan gurunya, memberitahukan bahwa untuk seterusnya ia tak akan pernah datang lagi ke sekolah itu karena ayahnya hilang ditelan ombak lautan saat pergi menjala ikan. Sebagai anak lelaki sulung di keluarganya, Lintang kini harus mengambilalih tanggungjawab menghidupi ketiga orang adik perempuannya. Ya, si murid yang lima tahun lalu menjadi murid paling pertama tiba di sekolah, kini harus menjadi murid paling pertama yang meninggalkan sekolah. Kemiskinan orang tuanya telah menutup pintu kesempatan mengecap pendidikan setinggi-tingginya seperti yang diharapkan ayahnya. Gambaran yang teramat ironis di salah satu pulau paling kaya di negeri ini.

    Dan seraya diiringi lantunan vokal Giring Nidji yang menyanyikan soundtrack “Laskar Pelangi”, saya keluar gedung bioskop dengan air mata yang masih belum mengering. ***