blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Minggu, 31 Mei 2009
    The Boy in the Striped Pajamas

    Judul: The Boy in the Striped Pyjamas
    Sutradara: Mark Herman
    Skenario: Mark Herman (berdasarkan novel John Boyne)
    Pemain: Asa Butterfield, Vera Farmiga, Zac Mattoon O'Brien
    Masa putar: 94 menit
    Tahun: 2008

    Setelah dua tahun lalu aku membaca novelnya, akhirnya berkesempatan juga menyaksikan versi filmnya (terima kasih ya, Erry!). Buku yang bagus dan telah membuatku menangis tersedu-sedu. Meski filmnya juga ciamik, tetapi tidak sebegitu menyesakkan dada. Atau lantaran aku sudah tahu ceritanya, ya, sehingga tidak ada efek kejutnya lagi. Sempat menitikkan air mata juga sih pada bagian Bruno (Asa Butterfield) mengingkari persahabatannya dengan Shmuel (Jack Scanlon). Juga ketika tiba pada adegan Bruno dan Shmuel berjabat tangan setelah Bruno meminta maaf atas 'kejahatannya' itu.

    Cerita The Boy in the Striped Pajamas ini sebuah kritik tajam terhadap peristiwa holocaust yang menyebabkan jutaan orang Yahudi mati di kamp-kamp konsentrasi tentara Jerman di masa pemerintahan Adolf Hitler. Novelnya konon telah terjual lebih dari 5 juta copy di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa, termasuk Indonesia. Boyne menyampaikan kritiknya tidak dengan kemarahan tetapi justru dengan sebuah kisah yang sangat menyentuh siapa pun yang membacanya. Dalam bukunya, ia tidak satu kali pun melontarkan makian terhadap Jerman atau sebaliknya pemihakan terhadap Yahudi. Ia mengambil posisi sebagai seorang manusia yang menentang pembantaian manusia terhadap manusia lain.

    Tentu tidak akan adil andai membandingkan film dengan bukunya, sebab merupakan dua media yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi dalam hal ini filmnya cukup setia kepada bukunya. Ada sih bagian yang dihilangkan, seperti saat Hitler bertamu ke rumah keluarga Bruno. Juga penyebutan "Out-with" (Auschwitz), agaknya sudah dilenyapkan dari dialog. Entah kenapa.

    Filmnya cukup apik, berhasil dengan baik menampilkan suasana Jerman dan Polandia masa Perang Dunia II. Lengkap dengan mobil, kereta api, dan kamp Auschwitz-nya (jadi ingat film Life is Beautiful. Hiks..). Tata rias dan rancangan kostum para pemainnya juga cukup mewakili, kendati akting mereka tidak terlalu istimewa. Kecuali Vera Farmiga yang lumayan menonjol sebagai ibu Bruno. Bagi Mark Herman, ini adalah film kedelapan yang dibesutnya. Sutradara asal Inggris ini juga menulis sendiri naskah film-filmnya, termasuk The Boy in the Striped Pajamas.

    Tokoh utamanya seorang bocah lelaki berusia delapan tahun bernama Bruno. Ia tinggal di Berlin, Jerman, bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya, Gretel (12 tahun). Waktu itu tengah berkecamuk Perang Dunia Kedua di Eropa. Jerman di bawah komando Hitler, seperti sudah sama-sama kita ketahui, dalam perang tersebut memburu orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. The Fuhrer, Adolf Hitler, dengan sangat arogan mengklaim bahwa ras Aria adalah ras paling unggul dan orang-orang Yahudi harus disingkirkan dari muka bumi.

    Ayah Bruno (Zac Mattoon O'Brien) adalah salah seorang pejabat militer kepercayaan Hitler yang dikirim bertugas ke Auschwitz sebagai komandan di kamp konsentrasi di sana. Bruno yang polos sama sekali tidak tahu bahwa kini mereka tinggal di sebuah kawasan kamp konsentrasi, tempat ribuan orang Yahudi menemui ajal di kamar-kamar gas dan tungku-tungku pembakaran. Ia hanya tahu bahwa kini ia kesepian tanpa seorang teman pun. Tetangganya hanyalah sebuah tempat luas dengan pagar kawat mengelilinginya. Di dalam pagar itu Bruno melihat sejumlah bangunan berukuran besar serta banyak orang laki-laki, dewasa dan anak-anak seumurnya, berpiama garis-garis.

    Bruno, bocah yang senang menjelajah itu, pada suatu petang akhirnya mendapatkan seorang teman sebaya yang tinggal di balik pagar tersebut: Shmuel, bocah Polandia keturunan Yahudi yang seusia dengannya. Sejak itu, secara rutin Bruno setiap petang mengunjungi sahabat barunya itu. Mereka mengobrol, saling bertukar cerita. Sesekali Bruno juga membawakan sepotong coklat atau roti yang berhasil diselundupkan dari dapur rumahnya untuk Shmuel.

    Sampai pada suatu hari, Bruno harus kembali ke Berlin. Anak baik itu sedih sekali karena berarti dia harus berpisah dengan sahabat satu-satunya, Shmuel. Untuk itu, sebelum pergi ia berniat melakukan "permainan" mencari ayah Shmuel yang telah beberapa hari menghilang. Tentu ia harus masuk ke balik pagar untuk dapat menemukan ayah Shmuel.

    Film yang bagus. Namun, jika aku harus memilih antara buku atau film, aku akan memilih membaca bukunya.***
    Senin, 18 Mei 2009
    The Reader

    Sutradara: Stephen Daldry
    Skenario: David Hare (screenpaly) dan Bernhard Schlink
    Pemain: Kate Winslet, Ralph Fiennes, David Kross, dll.
    Masa putar: 124 menit
    Tahun: 2008

    Oh ya, sudah barang tentu, magnetnya adalah Kate Winslet yang tahun ini sukses menggondol piala Oscar sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik. Berikutnya adalah berita-berita dan obrolan-obrolan yang beredar ihwal adegan-adegan panas di film ini antara Hanna Schmitz (Kate Winslet) dan Michael Beng (David Kross). Meskipun aku kudu kecewa lantaran tidak kebagian adegan-adegan yang dihebohkan itu - BSF sudah menggunting-guntingnya agar tak terjerat UUAP - namun aku cukup puas dengan film The Reader ini. Film yang kemungkinan besar hanya akan diputar pada pertunjukan tengah malam ini, menampilkan akting keren Winslet sebagai mantan anggota tentara SS.

    "Dijamin kamu tidak akan menyaksikan adegan 15 menit pertama yang syur itu," ujar salah seorang sahabat penggemar film ketika aku meniatkan diri hendak menonton film ini. Dan ia benar. Adegan tersebut (sepanas apa aku tidak tahu) sudah menghilang dari layar. Masih ada juga sih beberapa yang berhasil lolos, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan "ketegangan" :D Mengapa ya bagian itu meski dilenyapkan? Toh filmnya diputar midnite dengan penonton umumnya orang-orang dewasa yang sudah sangat pantas dan cukup usia untuk menyaksikannya.

    Tapi baiklah, aku masih beruntung karena BSF masih mengizinkan film itu ditayangkan.

    The Reader. Pembaca. Adalah Michael Beng (Ralph Fienne), seorang pengacara Jerman yang memiliki kisah ini. Kisah tentang kenangan kepada seorang perempuan kondektur trem yang dikenalnya pada tahun 1958. Mereka pertama kali bertjumpa di tengah hujan deras yang mengguyur Berlin. Saat itu Michael sedang sakit dan Hanna Schmitz menolongnya. Waktu itu, Maichael masih seorang bocah lelaki bongsor berusia 15 tahun dan usia Hanna menjelang 40. Seperti anak dan ibunya.

    Namun, agaknya selisih umur yang cukup mencolok itu tak menghalangi mereka untuk bercinta. Tiga bulan setelah pertemuan pertama itu, Hanna memerjakai Michael di apartemennya. Sejak itu, hubungan keduanya kian erat. Di sela-sela percintaan mereka yang panas, Hanna kerap meminta Michael membacakan sebuah buku. Buku sastra. Dengan senang hati, Michael menjadi seorang pembaca bagi kekasihnya itu yang selalu menyebutnya, "Nak".

    Hanna kecanduan. Ia senantiasa menjadi pendengar yang baik bagi setiap cerita yang dibacakan pacar kecilnya itu. Bahkan tak jarang kisah-kisah itu melarutkan perasaannya; membuatnya menangis dan atau tertawa. Melalui buku-buku yang dibacakannya - dari Huckleberry Finn , The Odyssey, hingga Tintin - Michael telah membukakan cakrawala baru bagi Hanna. Dari sekian banyak buku, ada satu yang sangat berkesan baginya, yaitu The Lady with the Dog, karya Anton Chekov. Kelak, buku inilah yang membawa pencerahan bagi Hanna.

    Sayang, hubungan asmara mereka harus berakhir. Hanna pergi entah ke mana. Michael baru menjumpainya kembali delapan tahun kemudian (1966) di sebuah pengadilan enam orang bekas anggota SS yang bertugas di kamp konsentrasi Auschwitz semasa pemerintahan diktator Hitler. Michael yang waktu itu telah menjadi siswa Heidelberg Law School, tak menyangka sama sekali bahwa ternyata salah seorang terdakwanya adalah Hanna Schmitz. Bahkan, mantan kekasihnya itu menjadi tertuduh paling berat.

    Inilah bagian yang mengungkap riwayat hidup Hanna Schmitz. Bagian yang menjadi inti cerita gubahan Bernhard Schlink (terbit pertama kali dalam bahasa Jerman, Der Vorleser, pada 1995) ini. Buatku, inilah bagian paling mengharukan. Kita akhirnya tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpenampilan dingin dan keras itu. Di sini pula kita menikmati permainan watak Kate Winslet yang keren itu. Empat bintang untuknya. Adegan seks yang heboh itu barangkali boleh di-skip dengan alasan apa pun, tetapi tidak untuk yang ini. Anda akan kehilangan arah jika melewatkannya.

    Akhirnya, The Reader adalah sebuah film yang memuaskan. Gambar-gambarnya bagus, berhasil menyuguhkan suasana Jerman tempo doeloe. Misalnya, stasiun trem yang suram dan tua, kostum dan tata rias para pemainnya, suasana jalan-jalan di Berlin, mobil, sepeda, dan perabot-perabot rumah tangga. Apik. Pujian khusus untuk make up Kate Winslet yang berangsur-angsur menua. Juga untuk sajian pemandangan desa dan alam pertanian yang indah menjadi sebuah tamasya mata yang menyegarkan.

    Sementara itu, peran untuk aktor tampan Ralph Fiennes tidak terlalu menantang, sehingga pria berumur 46 tahun ini tampil standar saja. Demikian pula halnya dengan David Kross. Agak kurang pas sih sebetulnya saat ia menjadi bocah 15 tahun. Ketuaan. Aktor asal Jerman ini sejatinya berumur 19 tahun. Mungkin make up-nya yang kurang sempurna, ya? Tapi bagaimanapun, ia beruntung sekali bisa bersanding dengan aktris sekaliber Kate Winslet. Beradegan panas pula :D

    Secara aku masih penasaran dengan adegan-adegan panas di 15 menit pertama yang dilenyapkan itu, sepertinya aku akan menonton ulang film ini lewat DVD. Khusus demi bagian yang raib itu :P ***
    Senin, 04 Mei 2009
    Jamila dan sang Presiden

    Sutradara: Ratna Sarumpaet
    Skenario: Ratna Sarumpaet
    Produksi: Satu Merah Panggung
    Pemain: Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Dwi Sasono, Surya Saputra, dll
    Masa putar: 87 menit
    Tahun: 2009


    Sejak aku melihat posternya pertama kali bulan lalu, aku sudah merencanakan akan menonton film ini. Mengapa? Tentu terutama karena magnet Christine Hakim. Sudah rindu aku menyaksikan kembali si Tjut Nyak ini berakting. Terakhir filmnya yang kutonton, kalau tidak salah ingat, adalah Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho). Di film tersebut, aktris favoritku ini bermain cemerlang sebagai Asih.


    Ya, sungguh, satu-satunya alasanku menonton film karya sutradara Ratna Sarumpaet ini adalah kerinduanku pada Christine. Habis apalagi? Bintang utamanya, Atiqah Hasiholan, baru kudengar namanya. Kalau akting ibundanya sih sudah cukup sering kusaksikan, khususnya di atas pentas Satu Merah Panggung.


    Kiranya, film ini tak lepas dari kiprah Ratna di dunia teater. Naskah film ini sebelumnya pernah dipentaskan di bawah judul "Pelacur dan sang Presiden". Tak mengherankan jika kemudian yang tampil di layar lebar masih menyisakan bau-bau panggung teater. Umpamanya saja, akting Atiqah sebagai Jamila. Atau dialog-dialog yang sarat kritik dan protes, diucapkan dengan gaya main drama.


    Namun, tema yang diangkat cukup memikat: perdagangan anak dan perempuan (trafficking). Sebuah persoalan besar yang harus diselesaikan oleh negeri ini.


    Sentral kisahnya ada pada tokoh Jamila (Atiqah Hasiholan), seorang perempuamn berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur. Ia menyerahkan diri ke polisi menyusul ditemukannya jenazah Nurdin (Adjie Pangestu) di sebuah kamar hotel dengan sebuah lubang peluru di dadanya. Jamila mengaku dirinyalah yang telah menghabisi nyawa korban.


    Sontak negeri ini menjadi geger sebab yang terbunuh adalah seorang menteri. Beragam reaksi timbul di masyarakat. Yang terkeras adalah dari sekelompok pemuda Islam yang berunjuk rasa meminta agar Jamila dihukum mati.


    Cerita kemudian menuju kilas balik. Penonton (yang tadi hanya berjumlah 7 ekor di studio 2 Metopole pertunjukan matinee jam 12) diajak mengenal siapa Jamila sesungguhnya. Gadis cantik ini ternyata memiliki sejarah masa lalu yang kelam.


    Pada usia 6 tahun (tapi aku dengarnya kok Jamila mengucapkan 2 tahun, ya?), dengan dalih kemiskinan orang tuanya, ia dijual oleh ayahnya ke seorang perempuan yang ternyata mucikari. Tetapi, bertahun-tahun kemudian ia berhasil kabur dan kembali kepada ibunya yang telah melahirkan satu anak lagi, Fatima. Oleh ibunya, Jamila disuruh pergi ke Jakarta, dititipkan pada keluarga Wardiman. Namun, bagai sudah ditakdirkan, di rumah tsersebut lagi-lagi ia mengalami pelecehan. Sekali lagi ia minggat.


    Entah berapa kali gadis ini harus kabur dari satu tempat ke tempat lain. Hingga suatu kali dia terdampar di sebuah lokalisasi pelacuran dan bertemu Susi (Ria Irawan). Di tempat ini, karier PSK-nya dimulai.


    Agaknya, selain sebagai pelacur, Jamila diam-diam juga mempunyai kegiatan sebagai aktivis perempuan. Kegiatan ini lebih terdorong karena kepentingan pribadinya mencari tahu tentang nasib Fatima yang kabarnya telah pula dijual.


    Kembali kepada kasus utama terbunuhnya Nurdin. Jamila menolak didampingi pengacara dan tak hendak memohon grasi kepada presiden. Ia menerima hukuman itu sebagai bentuk tanggung jawabnya. Apalagi baginya hidup sudah tidak penting karena Fatima mungkin sudah mati.


    Hey..hey..lalu mana kupasan untuk Christine Hakim? Oh..oh...aktris luar biasa ini berperan sebagai Ria, kepala penjara Budi Luhur, tempat Jamila ditahan. Menurutku sih, kehadiran sipir ini agak dipaksakan. Aku merasa tidak pasa saja. Oh, bukan Christine yang tidak pas memerankannya, tetapi keberadaan tokoh ini. Jika pun ia tak ada, juga tidak memengaruhi kisah. Kalau sekadar sebagai jalan untuk masuk ke masa lalu Jamila, Jamila toh bisa curhat kepada salah satu tahanan di situ, misalnya.


    Tapi baiklah. Memerankan apa pun, Christine selalu oke. Juga saat menjelma Ria ini, sipir penjara yang galak dan tegas. Fisikli sudah sangat pas, ditambah akting yang natural. Jadilah ia seperti sipir sungguhan.


    Satu lagi yang aktingnya enak dilihat adalah Ria Irawan yang kebagian rol sebagai Susi. Kegenitannya yang liar dan murahan, benar-benar alami. Sayang, cuma kebagian porsi sedikit. Padahal, aku suka banget menonton aksinya itu.


    Jadi, begitulah. Film ini mengangkat potret suram perempuan kita yang masih sering menjadi korban perdagangan manusia (trafficking). Hulu masalah sebenarnya adalah kemiskinan, hingga orang tua pun tega menjual anak kandung mereka sendiri demi keluar dari kemelaratan. Sementara itu, pemerintah seperti macan ompong, tak berdaya menghadapi pelaku kejahatan perdagangan orang ini.


    Seharusnya, film ini bisa menjadi sebuah kisah yang menyentuh. Sayang, sang sutradara lebih mengedepankan cara protes dan kritik yang penuh kemarahan untuk menyampaikan gugatannya. Kurang lembut. Bahkan, Jamila susah banget meneteskan airmatanya.


    Ngomong-ngomong, kalau Manohara termasuk kasus trafficking bukan? :)