blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Selasa, 28 Agustus 2007
    Curious George (2006)
    Curious George (2006)
    Directed by: Matt O'Callaghan
    Produced by: Bonne Radford, Ken Tsumura, James Whitaker
    Distributors: United International Pictures, Universal Pictures Distribution
    Voices : Will Ferrell , Frank Welker, Drew Barrymore, David Cross, Eugene Levy, Joan Plowright, Dick Van Dyke, Shane Baumel, Tamara Jo Beatty, Timyra-Joi Beatty

    Ted, seorang pegawai sebuah museum kecil milik Mr Bloomsberry yang sedang terancam tutup. Museum itu akhir-akhir ini sangat sepi pengunjungnya. Salah satu yang masih setia mengunjunginya adalah Miss Maggie Dunlop yang membawa anak-anak muridnya. Namun bahkan anak-anak tersebut bosan setengah mati pada Ted dan museum itu.



    Anak Mr Bloomsberry, Junior, punya rencana tersendiri. Dia ingin menjual museum tersebut, yang kini sendirian terapit gedung-gedung pencakar langit. Rencananya, lokasi itu akan dijadikan gedung parkir.

    Namun Ted sangat menyayangi Museum itu, dan tiba-tiba terjebak dalam rencana mencari Patung Zagawa raksasa, yang sudah menjadi obsesi Mr Bloomsberry.

    Ted pun berangkat ke Afrika. Sebelum berangkat, dia pergi ke toko yang menjual peralatan petualang. Dasar memang Ted bodoh, dia pun ditipu oleh penjaga toko, dan akhirnya berangkat dengan kostum norak berwarna kuning menyala! Ted pun menjadi bahan tertawaan semua orang.

    Tiba di Afrika, Ted beserta rombongan masuk hutan, dan setelah berjalan mengikuti peta yang dibuat Mr Bloomsberry, mereka tiba di lokasi yang seharusnya merupakan tempat patung tersebut. Namun yang ditemukan adalah patung Zagawa yang kecil mungil, terletak dalam suatu altar dengan sebuah pesan aneh.

    Ted kecewa dan segera mengirimkan foto Zagawa mungil itu ke Mr Bloomsberry... namun dasar teknologi! Kog malah terjadi kesalahpahaman! Mr Bloomsberry senang sekali, dan segera mempersiapkan pameran besar-besaran untuk menyambut kedatangan patung Zagawa yang sensasional.

    Ted yang sedang frustrasi, tak sengaja bertemu dengan George si monyet usil. George adalah monyet imut yang nakal banget. Kerjanya mengusili binatang-binatang lain, tapi semua anak binatang di hutan menyukainya (ih, mirip Kobo yah karakternya? menggemaskan gitu.... hi hi hi hi). Awalnya George, yang waktu itu belum bernama George dan sekedar dipanggil Monkey, tertarik pada topi Ted yang warnanya nge-jreng-jreng-jreng kuning begitu. Monkey satu ini juga suka banget main cilukba dengan Ted.

    Sewaktu Ted kembali ke Amerika, ternyata George mengikutinya. Ted pun akhirnya mengakui keadaan sebenarnya pada Mr Bloomsberry, bahwa Zagawa itu hanya sebesar gantungan kunci. Junior senang, karena berarti keinginannya mendirikan gedung parkir akan tercapai.

    Namun akhirnya George, yang dinamai seperti presiden Amerika, George Washington, membantu Ted menemukan kembali patung Zagawa yang luar biasa itu.

    Curious George, adalah karakter ciptaan Hans Augusto dan Margret Rey untuk serangkaian buku anak-anak. George adalah seekor monyet mungil yang bandel, dan tingkah lakunya yang polos itu, sering menyebabkan orang-orang eh binatang-binatang lain marah.

    Dalam film animasi yang berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini, kita akan ditemani warna-warna yang sangat cerah (yang sangat disukai oleh Kobo...) dan cerita yang lucu. Gemas sekali melihat tingkah laku George yang seenaknya, dan kadang menyusahkan Ted, si pria berbaju kuning menyala. Aku paling suka adegan waktu si George berkelana ke apartemen sang penyanyi opera, dan akhirnya menghiasi rumahnya dengan lukisan tangannya, hahahaha! Lalu si diva itu disiram cat oleh George, aduh, kocak banget!

    Yang pasti : Kobo suka sekali film ini..... (sampai sudah nonton 4 kali diulang-ulang, hua ha ha ha ha!)

    Label:

    Senin, 20 Agustus 2007
    SEABISCUIT

    Judul:Seabiscuit
    Sutradara:Gary Ross
    Skenario:Gary Ross berdasarkan novel Laura Hillenbrand
    Pemain:Jeff Bridges, Chris Cooper, Tobey Maguire,Elizabeth Banks
    Distributor:Universal Pictures
    Tahun:2003

    Seabiscuit adalah nama seekor kuda pacu yang pernah menjadi legenda di arena pacuan kuda Amerika Serikat sekitar tahun 1936 sampai 1940-an. Masyarakat AS pecinta pacuan kuda akan selalu mengingatnya sebagai seekor kuda yang telah mencatat sejarah tersendiri, sebab pada zamannya Seabiscuit yang tak pernah diunggulkan sama sekali telah berhasil mengalahkan kuda jawara saat itu. Keberhasilannya tak muncul tiba-tiba. Di baliknya ada tiga orang yang berperan, yaitu : Charles Howard (Jeff Bridges) sebagai pemilik, Tom Smith (Chris Cooper), perawat dan pelatih sekaligus, serta John "Red" Pollard (Tobey Maguire), sang joki. Ketiga sosok lelaki inilah yang telah menciptakan Seabiscuit menjadi legenda.

    Menurut saya, cerita film yang diangkat dari kisah nyata ini, tidak terlalu istimewa. Biasa saja. Bahkan cenderung membosankan. Skenarionya (Gary Ross) dibuat berdasarkan novel yang ditulis oleh Laura Hillenbrand (2001). Bagi penonton yang tidak sabaran, menyaksikan Seabiscuit akan terasa melelahkan. Alurnya berjalan lambat sehingga kita bisa meninggalkannya sejenak untuk pipis atau ke dapur ambil minum tanpa kehilangan lanjutan cerita.

    Adalah Tom Smith, mantan koboy yang amat mencintai kuda, yang pertama kali menemukan Seabiscuit. Dengan nalurinya yang tajam tentang kuda, ia segera membujuk majikannya, Charles Howard, untuk membeli kuda tambun dan lamban itu. Charles semula adalah pengusaha mobil. Setelah perceraiannya ia menikah kembali dengan Marcela (Elizabeth Banks) dan bersama-sama dengan istri barunya itu ia beralih ke bisnis pacuan kuda. Ia lalu menyewa Tom sebagai pelatih dan perawat kuda-kudanya. Dalam perjalanan cerita selanjutnya, Tom pulalah yang menemukan John "Red" Pollard dengan bakat jokinya. Mereka bertiga lalu bekerja sama menjadikan si tambun Seabiscuit pemenang dalam berbagai kejuaraan.

    Yang paling menarik buat saya dari film ini adalah akting Tobey Maguire sebagai Red Pollard. Amat berbeda karakter yang dimainkannya di sini dengan pada saat ia menjadi Manusia Laba-laba di Spiderman 1 dan sekuelnya. Red Pollard hanyalah joki biasa yang berhasil menjadi juara karena latihan dan kerja keras di samping tentu saja bakat yang dibawanya. Berasal dari keluarga kelas menengah Amerika yang bangkrut, ia lalu memilih jalan hidup sebagai joki setelah gagal menjadi petinju profesional. Maguire berhasil ke luar dari kostum laba-labanya yang ketat itu menjelma sebagai seorang pemuda rapuh yang punya ambisi besar.

    Akhirnya, bagi saya, Seabiscuit adalah sebuah film drama tentang perjalanan seseorang mencapai sukses. Tak ada keberhasilan yang jatuh tiba-tiba dari surga ke atas pangkuan kita. Segalanya itu adalah berkat usaha dan kerja keras yang terkadang butuh waktu tidak sebentar.

    endah sulwesi
    Senin, 13 Agustus 2007
    Dexter (1st Season/2006)

    Pernah terpikir nggak, kalau ternyata teman, keluarga, atau bahkan pasangan kita ternyata pembunuh berantai? Penampilannya sih biasa-biasa saja, normal dan menyenangkan, tapi begitu malam tiba, dia berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Mengerikan sekali, bukan?

    Seperti itulah Dexter Morgan (Michael C. Hall). Pada siang hari, dia bekerja sebagai ahli forensik di labkrim Miami Metropolitan Police Department. Orangnya baik hati dan ramah, gemar menolong sesama, rekan kerja yang dapat diandalkan, pacar siaga, tapi ternyata semua itu hanyalah kedok belaka. Di balik topengnya, Dexter adalah seorang psikopat mematikan. Korbannya sudah tidak terhitung lagi banyaknya.

    Sebagai seorang pembunuh berantai, Dexter bekerja dengan sangat bersih dan disiplin. Korban-korbannya tak pernah diketahui lagi keberadaannya. Dia memegang teguh sebuah kode yang diajarkan oleh ayah angkatnya, Harry Morgan (James Remar). Yak, Harry inilah satu-satunya orang yang mengetahui sisi gelap Dexter. Dia pula yang dengan tegas memberikan aturan main untuk Dexter, yang mencakup siapa saja yang boleh dibunuh dan bagaimana Dexter harus bersikap di tengah masyarakat. Masalahnya, Dexter ini memang manusia yang dingin alias nggak punya perasaan—secara harfiah mati rasa. Berkat kode Harry, Dexter hanya membunuh orang-orang yang sama monsternya dengan dia.

    The Cast of Dexter

    Konflik muncul saat Kota Miami dihebohkan oleh kasus pembunuhan berantai Ice-Truck Killer. Dexter merasa pembunuh baru ini melakukan kejahatannya hanya untuk mengincar dirinya. Apalagi saat dia mendapatkan pesan-pesan pribadi dari si pembunuh, misalnya boneka Barbie yang termutilasi di dalam kulkasnya atau TKP yang disusun persis seperti kenangan masa lalunya. Jadi, si Ice-Truck ini sepertinya sangat mengenal Dexter luar-dalam. Padahal, adik angkat Dexter sendiri, Debra Morgan (Jennifer Carpenter), yang bekerja sekantor dengannya, malah tidak tahu apa-apa soal kelakuan nista abangnya.

    Jadi, siapakah sebenarnya si Ice-Truck ini? Apa yang dikehendakinya? Lalu, apa yang membuat Dexter sampai menjadi berdarah dingin begitu? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang diungkap jawabannya dalam musim pertama serial Dexter ini. Serial ini sendiri diangkat dari novel karya Jeff Lindsay, yaitu Darkly Dreaming Dexter. (Kayaknya novelnya seru juga, ada yang mau menerbitkankah? *tuing-tuing.)

    Secara keseluruhan, aku suka serial ini. Yang menurutku paling keren adalah pikiran-pikiran Dexter yang menjadi narasi. Ternyata begitu ya, jalan pikiran seorang pembunuh berantai berdarah dingin, hehehe …. Jangan membayangkan adegan-adegan yang mencekam dulu karena, somehow, komedi yang nakal justru berserakan di sana-sini dalam serial ini. Selain komedi, yang juga berceceran di sana-sini adalah darah. Jadi, yang nggak suka darah mungkin bakal mual-mual. Tapi kalau aku sih nggak, secara kadang-kadang aku juga haus darah. Michael C. Hall sebagai Dexter menurutku juga keren. (Ah, aku jadi pengin nonton Six Feet Under. Kenapa dvd season limanya nggak dijual?) Lihat juga opening scene-nya. Kereeenn …..

    Jadi, silakan nonton serial ini. Siapa tahu ada pembunuh berantai di sekitar kita, kan bisa waspada, gitu. Oke deh, selamat nonton!!

    -Mizz Antie-

    Label: ,

    Jumat, 03 Agustus 2007
    SHARK TALE


    (spesial for : Kobo, secara ia tak hendak menjadi dewasadan senangnya ngakak-ngakak)

    Judul: Shark Tale
    Sutradara: Bibo Bergeron dan Vicky Jesson
    Skenario: Damian Shannon dan Mark Swift
    Pengisi Suara: Robert de Niro, Will Smith, Renee Zelwege,Angelina Jolie
    Produksi: Dreamworks
    Tahun: 2004


    Percaya nggak kalau di dasar samudra yang gelap itu ada juga gerombolan mafianya? Percaya aja, sebab itu terjadi di negeri dongeng terbesar sejagat : Hollywood. Negeri yang mampu memwujudkan semua khayalan kita dengan keajaiban kartun-kartunnya. Bukankah anything can happen in cartoon? Di sana ada dua pabrik kartun terbesar, yaitu : Disney dan Dreamworks. Setelah Disney sukses dengan Finding Nemo, maka Dreamworks, pesaing utamanya, tidak mau kalah. Mereka bikin Shark Tale, cerita tentang hiu-hiu yang menjadi mafia dalam bentuk kartun tiga dimensi. Sederet nama beken turut mengusung film ini sebagai pengisi suara. Ada Robert de Niro, Will Smith, Renee Zelweger dan Martin Scorcese. Bisa kebayang kan bakal jadi cerita animasi yang seperti apa Shark Tale ini.

    Nun di bawah laut yang biru terdapatlah sebuah komunitas para penghuni samudera. Berbagai jenis ikan, udang, kerang, kepiting, ubur-ubur dan lain-lain hidup damai berdampingan selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari terjadilah keributan dikarenakan Frankie (Michael Imperioli) salah satu putera Don Lino (de Niro), seorang eh seekor hiu yang menjadi boss mafia, kedapatan mati. Tak ada yang menyaksikan peristiwa terbunuhnya Frankie kecuali saudaranya Lenny (Jack Black) dan Oscar (Will Smith), seekor ikan kecil yang semula hendak dimangsa oleh Frankie. Ia berhasil selamat sebab Frankie keburu mati tertimpa jangkar kapal. Oscar, pemuda yang selalu kekurangan uang itu, kemudian mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Membuallah ia dengan menyebar cerita bohong bahwa dialah yang membunuh hiu jahat itu. Dalam sekejap menjelmalah ia menjadi pahlawan bawah samudera.

    Sementara itu, Lenny, hiu yang vegetarian (coba, gila banget kan, masak ada hiu vegetarian hahaha) tak berani pulang ke rumahnya setelah kematian Frankie. Ia tahu ayahnya pasti akan marah besar karena kejadian itu, maka kemudian ia mencari perlindungan pada Oscar, sang pembunuh hiu gadungan. Oscar dengan senang hati menerima Lenny di kediamannya. Tidak dengan niat tulus sepenuhnya, sebab berikutnya ia punya rencana sendiri dengan hiu baik hati itu. Rencana itu adalah membuat sebuah show yang ditayangkan ke seluruh dasar samudera tentang bagaimana ia beraksi menghajar seekor hiu. Lenny yang lugu itu setuju-setuju saja selama ia tidak harus pulang dan berhadapan dengan Don Lino yang galak itu.

    Namun, sepandai-pandainya ikan (karena tokoh utamanya ikan bukan tupai) melompat satu saat akan terjatuh juga. Sepandai-pandai mereka bersandiwara, akhirnya terbongkar juga. Angie-lah (Renee Zelweger) yang pertama kali mengetahui kebohongan itu. Angie yang mencintai Oscar meminta agar Oscar segera mengakhiri semua ulahnya dan Lenny kembali ke rumahnya. Urusannya tidak segampang itu, sebab Don Lino beserta pengikutnya telah bertekad untuk mencari siapa pembunuh Frankie. Cara-cara mafiapun (tak ada yang lebih pas memerankan boss mafia kecuali de Niro) dipakailah. Don Lino, setelah mendapat info dari Lola (Angelina Jolie), cewek lain yang juga naksir Oscar karena uangnya, lantas menculik Angie. Tahu dong apa yang selanjutnya terjadi? Oscar sudah barang tentu berupaya membebaskan kekasihnya itu.

    Jika Finding Nemo tampak berusaha menampilkan kehidupan dasar laut semirip mungkin dengan aslinya, Shark Tale justru membuat tokoh-tokoh utamanya secara karikaturis. Walaupun demikian, bukan berarti lalu ia kalah seru dengan Finding Nemo. Gimana nggak seru jika misalnya saja Don Lino, berwujud seekor hiu yang berwajah mirip de Niro, lengkap dengan tahi lalatnya. Begitu juga Lola, adalah ikan sexy dengan bibir tebal khas Angelina Jolie.

    Disutradarai oleh Bibo Bergeron (Road to Eldorado) dan Vicky Jenson (Shrek) , Shark Tale menjadi tontonan kartun yang amat menghibur. Mereka berdua ini sudah tak terbantahkan lagi kualitasnya sebagai sutradara film-film animasi. Diperkuat oleh dua orang penulis naskahnya, yaitu Damian Shannon dan Mark Swift, lengkaplah Shark Tale sebagai tontonan keluarga yang segar dengan pesan moral "jadilah dirimu sendiri". Kalau mau ngakak-ngakak, silakan nonton film ini.


    Endah Sulwesi