blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Kamis, 21 Februari 2008
    Extras (1st and 2nd Season)


    How I love this series ….

    Satu lagi nih, serial komedi yang keren banget. Kali ini buatan Inggris, keluaran BBC. Serial ini pendek saja kok, cuma 6 episode tiap musim. Jadi, dvd bajak laut yang aku beli cuma terdiri dari empat keping saja, dan itu sudah mencakup dua musim.

    Ceritanya tentang seorang pria bernama Andy Millman (Ricky Gervais), yang bercita-cita ingin menjadi seorang aktor meskipun umurnya sudah setengah baya. Untuk mengejar keinginannya itu, dia rela menjadi figuran di berbagai film. Bersama temannya, Maggie Jacobs (Ashley Jensen), dia dapat ditemui di berbagai set film, muncul sedikit di sana-sini, melakukan segala macam cara supaya mendapatkan dialog. Lazimnya seorang aktor, Andy juga punya agen. Hanya saja, agennya ini, yang bernama Darren Lamb (Stephen Merchant) betul-betul ga bisa diandalkan. Separah-parahnya parah pokoknya deh.

    Nah, yang menjadi keistimewaan Extras adalah bintang tamu yang muncul di tiap episode. Untuk season pertama, bintang tamunya Ben Stiller, Ross Kemp, Kate Winslet, Les Dennis, Samuel L. Jackson, dan Patrick Stewart. Untuk season kedua, ada Orlando Bloom, David Bowie, Daniel Radcliffe, Chris Martin, Ian McKellen, dan Jonathan Ross.

    Para bintang tamu itu memerankan diri mereka sendiri. Parahnya, mereka ini memerankan versi ngaco dari dirinya. Misalnya, Orlando Bloom yang selama di set selalu menjelek-jelekkan Johnny Depp atau membangga-banggakan diri sebagai aktor paling ganteng. Lalu, ada Ben Stiller yang ngotot pernah ciuman dengan Cameron Diaz padahal cuma di film. Atau Daniel Radcliffe yang sok dewasa, sukanya menggoda tante-tante dan membawa-bawa kondom ke mana-mana. Tapi, favoritku adalah pas bintang tamunya Chris Martin di season 2. Jadi, tanpa tahu malu, si Chris Martin ini mempromosikan album terbaru Coldplay kapan pun dan di mana pun. Ampun dah, ngakak berat pas episode ini.

    Cast of Extras (1st Season)

    Sebagai film komedi, Extras ini bisa dibilang sepi. Di sepanjang film, sama sekali nggak ada tuh musik-musiknya. Jadi, bisa dikatakan, serial ini memang menggantungkan diri sama skripnya saja (yang memang super duper keren). Letak kelucuannya ya dari dialog-dialog tokoh-tokohnya, juga dari karakternya yang kuat. Andy yang kasiaaan banget, Maggie yang silly dan suka kelepasan bicara, lalu yang paling bikin ketawa tentunya Darren si agen yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. (Mungkin kalau yang pernah nonton Entourage ingat sama karakternya Jeremy Piven, nah si Darren ini kebalikannya banget, hahahah….)

    Ya sudah, ayo mari silakan nonton saja serial ini. Lima bintang dariku. Very highly recommended nih!

    Rabu, 20 Februari 2008
    MONSTER

    Sutradara: Patty Jenkins
    Skenario: Petty Jenkins
    Pemain: Charlize Theron, Christina Ricci, dll
    Masa putar: 109 menit
    Produksi: Media 8 Entertainment
    Tahun: 2003

    Trauma masa kecil dan pengalaman tak menyenangkan, seringkali akhirnya membentuk karakter seseorang setelah ia dewasa dan tidak jarang lalu menjadi awal sebuah perjalanan hidup yang amat menentukan. Demikianlah yang terjadi pada Aileen Wuornos, diperankan dengan sangat menawan oleh Charlize Theron. Ia benar-benar tampak lebur ke dalam perannya tersebut. Konon katanya Theron sampai harus menaikkan berat badannya beberapa kilo serta menggunakan gigi palsu agar tampak macho dan mirip dengan Aileen asli. Untuk kerja kerasnya itu, ia patut mendapat Oscar) dalam film keren Monster.

    Film yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang Aileen Wuornos, pelacur jalanan di Florida, AS. Ia menjadi pelacur karena mengalami sexual abuse (dan hamil) pada usia 13 tahun. Ia terpaksa berhenti sekolah dan bekerja sebagai pelacur. Sebuah trauma yang amat membekas dan membuat luka jiwa sepanjang hidupnya.

    Setting cerita adalah Florida tahun 1989-1990, saat ia, Wournos, memutuskan untuk menjadi seorang lesbian sejak pertemuannya dengan Selby (Christina Ricci). Mereka lalu menajalani hidup bersama sebagai sepasang kekasih. Wournos, yang di film itu dipanggil Lee oleh Selby, seperti menemukan hidup baru bersama kekasih lesbiannya itu.

    Namun, nasib membawanya ke arah lain. Seorang pelanggan prianya telah memperlakukannya dengan amat kejam. Dia kembali mengalami kekerasan seksual seperti saat kecil dulu, bahkan kini nyawanya terancam. Dalam usahanya melepaskan diri, terpaksa ia harus menembak lelaki maniak seks itu sampai mati.

    Peristiwa tersebut sempat membuatnya khawatir. Ia ingin menyudahi 'karier'-nya sebagai pekerja seksual . Dia ingin bekerja sebagai wanita baik-baik dan hidup damai bersama kekasih lesbiannya yang mungil itu. Namun, Florida bukan milik kaum tak punya seperti dirinya. Tak ada kantor ataupun pabrik yang bersedia menerimanya bekerja. Maka lalu ia kembali ke jalanan dan membunuh lagi para pelanggannya. Sekali lagi, inilah kisah pahit tentang wanita yang menjadi korban kekerasan pria.

    Konon, dalam kenyataannya Aileen telah membunuh tujuh orang pria, termasuk satu di antaranya seorang misionaris. Untuk semua pembuhunan yang dilakukannya itu, Aileen harus menjalani hukuman mati di penjara Negara Bagian Florida pada 9 Oktober 2002.


    ENDAH SULWESI
    Selasa, 19 Februari 2008
    INSOMNIA

    Skenario Hillary Seitz
    Sutradara Christopher Nolan
    Pemain Al Pacino, Robin Williams, Hillary Swank
    Masa putar 118 menit
    Tahun 2002

    Pertama sekali yang menarik perhatian saya untuk menonton film ini adalah karena ada 2 orang aktor favorit saya yang bermain sebagai pemeran utama, yaitu : Al Pacino dan Robin Williams. Keterlibatan mereka berdua di film itu menggugah rasa ingin tahu saya, gimana ya jika kedua aktor kawakan tersebut bertemu dan beradu akting di satu layar yang sama di bawah arahan sutradara Christopher Nolan.

    Insomnia bukan sekadar sebuah film detektif. Will Dormer (Pacino) ditugaskan menyelidiki kasus pembunuhan seorang remaja di Nighmute, kota kecil di Alaska. Dormer selama ini dikenal sebagai seorang agen detektif yang punya reputasi bagus, disegani kawan-kawannya dan beberapa kali sukses menangani kasus-kasus pembunuhan. Di sana, ia disambut oleh detektif muda, idealis dan diam-diam mengaguminya, Elli Burr (Hillary Swank).

    Dengan kepiawaian serta pengalamannya menangani kasus-kasus pembunuhan, Dormer tak membutuhkan waktu lama untuk dapat mengungkap siapa pelaku pembunuhan itu. Pada hari yang telah ditentukan, ia beserta timnya menyergap sang penjahat di sebuah pondok. Celakanya, Dormer melakukan satu kesalahan fatal yang membuat rekannya tewas (kabut yang pekat menghalangi pandangannya sehingga ia salah sasaran, menembak Hap, rekannya itu). Dormer mengira tidak ada yang menyaksikan kecelakaan itu, maka dalam kesaksiannya ia mengatakan bahwa Hap adalah korban penembakan sang penjahat yang tengah mereka buru.

    Sebagai seorang detektif yang selama ini dikenal bersih dan handal, Dormer tak ingin kesalahan dalam tugas itu mencemari catatan baik prestasinya. Ia mulai berlaku tidak jujur dengan menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya. Namun, hati nuraninya tak bisa berdusta. Rasa bersalah mengganggu pikirannya, menyebabkannya tidak bisa tidur berhari-hari. Ditambah lagi ternyata si penjahat yang sedang dikejarnya, Walter Finch (Robin Williams), menyaksikan peristiwa salah tembak itu. Finch lalu mengancam dan memerasnya.

    Dormer dihadapkan pada sebuah dilema : tetap berdusta sampai akhir dan nama baiknya akan selamat walaupun jiwanya tak akan pernah tenang atau mengatakan yang sebenarnya dengan risiko karier dan reputasinya menjadi ternodai? Manakah yang akan dipilihnya? Untuk mengetahui jawabannya, ya tentu kudu nonton filmnya :)

    Endah Sulwesi
    Minggu, 17 Februari 2008
    Fur:An Imaginary Portrait of Diane Arbus

    Sutradara: Steven Shainberg
    Skenario: Erin Cressida Wilson berdasarkan buku karya Patricia Bosworth
    Pemain: Nicole Kidman, Robert Downey Jr., Ty Burrel
    Masa putar: 122 menit
    Tahun: 2006

    Ini film mengenai sepotong biografi Diane Arbus (Nicole Kidman), fotografer Amerika yang sangatr terkenal pada masanya. Kisah hidupnya yang unik menarik untuk disimak. Wanita cantik keturunan Yahudi ini lahir pada 14 Maret 1923 dan meninggal bunuh diri saat usianya 48 tahun (1971). Film berdasarkan buku Diane Arbus: A Biography karya Patricia Bosworth ini menukil sepenggal kisahnya di tahun 1958.

    Saat itu, Diane Arbus belum lagi menjadi seorang fotografer sungguhan. Ia hanya seorang ibu rumah tangga dan istri Allan Arbus (Ty Burrel), fotografer yang lebih sering memotret event-event keluarga atau untuk iklan. Diane membantu menyiapkan segala sesuatunya: kostum dan merias para model serta menyiapkan semua peralatan yang diperlukan pada sesi pemotretan sembari tetap berperan sebagai istri dan ibu bagi kedua orang putri mereka.

    Mulanya, kehidupan rumah tangga keluarga Arbus baik-baik saja. Diane yang jelita menjalankan perannya sebagai istri dan ibu yang baik. Sampai suatu hari karena sebuah peristiwa, Diane berkenalan dengan pria misterius yang tinggal di lantai atas apartemen mereka. Pria ini, Lionel Sweeney (Robert Downey Jr.) tak pernah menampakkan wajahnya. Setiap keluar rumah, ia selalu mengenakan kain penutup wajah seperti topeng, memakai topi dan stelan yang menutup rapat seluruh tubuhnya. Diane yang pada dasarnya seorang pribadi nyentrik dan mulai jenuh oleh rutinitas hidup yang dijalaninya, merasa tertarik dan kemudian berniat memotret laki-laki yang hidup menyendiri itu. Tak dinyana, hubungan itu berkembang menjadi love affair. Diane dan Lionel saling jatun cinta. Setahun berikiutnya (1959) Diane dan suaminya memutuskan berpisah. Setelah tak lagi bersama Allan, Diane memulai karier profesionalnya sebagai fotografer.

    Film berjalan dengan tempo yang lambat. Nicole tampil cantik sekali di film ini dengan gaun-gaun 50-an, make up, tata rambut yang klasik dan anggun. Sekilas mengingatkan pada perannya di film The Hours. Sosok Nicole benar-benar menjadi sentral cerita. Tak ada scene yang tak menampilkan dirinya. Beberapa di antaranya adegan telanjang.

    Enaknya sih nonton film ini sudah mengetahui dulu sedikit info tentang Diane Arbus itu. Wanita fotografer ini terkenal dengan karya fotografinya yang berjudul "Child with Toy Hand Grenade in Central Park, New York City" (1962).
    Sabtu, 16 Februari 2008
    BEHIND THE SUN

    Sutradara Walter Salles
    Skenario Karim Ainouz, Sergio Machado, Walter Salles
    Pemain Rodrigo Santoro, Jose Dumont, Ravi Ramos Lacerda dll.
    Produksi FAC Film tahun 2001
    Diedarkan Miramax Films
    Durasi 106 menit.


    Salah satu nominator Golden Globe tahun 2002 untuk kategori film asing ini skenarionya dibuat berdasarkan novel karya Ismail Kadare (penulis asal Albania) berjudul Broken April (1980). Karim Ainouz, Sergio Machado dan Walter Salles menerjemahkannya menjadi skenario film yang kelam dan muram tentang permusuhan dua keluarga di Brazilia tahun 1910 di mana kala itu masih berlaku hukum rimba : mata dibayar mata, nyawa diganti nyawa, di suatu tempat, di sana, di balik matahari.

    Dengan panduan narasi Pacu Breves (Ravi Ramos Lacerda), anak lelaki bungsu keluarga Breves, cerita bermula dari terbunuhnya anak lelaki sulung Breves oleh anak keluarga tetangga mereka. Permusuhan dua keluarga tersebut karena masalah kepemilikan tanah. Kematian itu harus dibalas dengan kematian pula demi kehormatan keluarga. Sang Ayah (Jose Dumont) lalu melimpahkan tugas menjaga kehormatan keluarga itu kepada si adik korban, Tonho Breves (Rodrigo Santoro), pemuda murung berusia 20 tahun.

    Pembalasan dendam akan dilaksanakan pada saat warna merah darah pada kemeja sang kakak yang terbunuh telah berubah menjadi kuning. Ketika saat itu tiba, pergilah Tonho menunaikan tugas 'mulia' tersebut : menembak mati pembunuh sang kakak dengan konsekuensi akan terbunuh pula saat darah di kemeja korbannya telah menguning, sebagai pembalasan.

    Tinggal pada sebuah ladang tebu yang jauh dari keramaian, keluarga Breves tidak pernah menyekolahkan anak-anak mereka. Ketiga anaknya dibiarkan buta huruf dan tanpa pendidikan formal. Setiap hari seluruh anggota keluarga terlibat pada pekerjaan berladang tebu dan mengolahnya menjadi gula dengan alat pertanian yang masih serba sederhana. Peran ayah yang dominan, seperti di kebanyakan keluarga petani, membuat anak-anak keluarga Breves tumbuh dengan pribadi yang murung dan sedih. Mereka jarang tertawa. Mereka tidak punya kawan. Sampai suatu hari melintaslah di halaman rumah mereka sebuah pedati membawa dua orang pemain sirkus, Clara (Flavia Marco Antonio) nan jelita beserta abang tirinya.

    Pertemuan dengan gadis pemain sirkus itu telah membuat Tonho jatuh cinta untuk pertama kalinya. Perasaan cinta dan pengalaman pertama memiliki seorang teman membuka mata dan pikiran Tonho akan sebuah dunia yang lain di luar keluarga dan ladang tebu mereka. Hatinya bimbang memilih antara tetap tinggal di rumah membela kehormatan keluarga atau pergi mencari dunia baru bersama kekasih hatinya.

    Behind The Sun, disutradarai oleh Walter Salles, adalah sebuah drama tentang balas dendam yang pahit. Karakter-karakter utama dalam film ini nyaris murung dan sedih seluruhnya. Tokoh-tokohnya adalah pribadi - pribadi tertekan dan tidak gembira oleh sebab kemiskinan dan hantu dendam kesumat yang selalu mengganggu mimpi-mimpi mereka. Susana kehidupan petani tebu yang miskin di Brazilia tahun 1910-an ditampilkan melalui gambar-gambar ladang tebu, penggilingan, tempat tinggal hingga kostum anggota keluarga Breves. Konflik yang muncul adalah konflik batin keluarga Breves menghadapi tradisi balas dendam yang berlaku di masa itu. Sementara konflik permusuhannya sendiri hanya selintas saja diceritakan. Pesan moral film ini barangkali adalah bahwa balas dendam tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Ia hanya akan melahirkan dendam-dendam baru.

    Endah Sulwesi
    The Shawshank Redemption

    Sutradara: Frank Darabont
    Skenario: Frank Darabont (dari cerpen Stephen King "Rita Hayworth and Shawshank Redemption")
    Pemain: Tim Robbins, Morgan Freeman, Bob Gunton, dll
    Masa putar: 142 menit
    Produksi: Castle Rock Entertainment
    Tahun: 1994

    Sudah lama DVD Jack Sparrow film ini ada di kotaknya, tetapi baru sempat semalam aku putar. Film yang keren. Diangkat dari cerita pendek karya Stephen King yang berjudul "Rita Hayworth and Shawshank Redemption" film ini berkisah tentang seorang banker, Andy Dufresne (Tim Robbins) yang divonis bersalah atas kematian istrinya dan selingkuhan sang istri, seorang pemain golf profesional. Meskipun Andy membantah dakwaan tersebut, tetapi para juri di pengadilan sepakat dengan vonis bersalah atas dirinya. Banker cerdas itu harus menjalani hukuman penjara di Shawshank Prison Parole Board.

    Andy paham betul, hidup di penjara sangat keras dan kejam. Oleh karena itu ia butuh teman yang dipercaya dan dapat diandalkan. Instingnya yang jeli lantas menagkap sosok Ellis Boyd "Red" Redding (Morgan Freeman ) sebagai orang yang bisa dijadikan teman.Sel mereka berdampingan. Mereka segera menjadi akrab satu sama lain di penjara yang dipimpin oleh seorang sipir jahat bernama Warden Norton (Bob Gunton) dengan "anjing" setianya, Kapten Hadley (Clancy Brown). Pasangan kejam ini tak segan-segan menghabisi nyawa para tahanan yang melawan atau tak mau mematuhi peraturan penjara. Kedua karakter ini pas banget mewakili kondisi penjara yang suram, keras, dan kejam. Adegan-adegan pemukulan, pengurungan di ruang isolasi, dan penembakan (pembunuhan) tergambar dengan bagus. Kekerasan bukan saja dilakukan oleh sipir dan petugas penjara, tetapi juga terjadi di antara para tahanan. Biasanya berupa bullying para senior kepada juniornya (pendatang baru).

    Tak terkecuali Andy pun mengalami perlakuan serupa dari geng The Sisters yang dikomandani oleh Boggs. Andy sempat diperkosa oleh geng ini walaupun ia melawan sekuat tenaga. Untungnya, Boggs kemudian dipindahkan ke penjara lain setelah satu insiden yang menyebabkan Andy harus masuk rumah sakit.

    Andy yang yakin dirinya tidak bersalah, sejak hari pertama di penjara telah menyusun rencana pelarian dirinya.Dengan cerdiknya ia memesan sebuah martil kecil kepada Red yang dikenal mampu memenuhi setiap pesanan barang dari para penghuni penjara dengan barter sebungkus atau dua sigaret. Untuk menyempurnakan rencananya, Andy juga memesan batu-batu dan poster Rita Hayworth (bintang film cantik yang sangat terkenal di tahun itu). Ketika tahun terus berganti, Andy memesan poster lain, seperti Marlyn Monroe dan Raquel Welch.

    Lantaran kecerdasannya, Andy lalu dipercaya untuk menangani pengelolaan perpustakaan penjara (aduuuh..aku suka bagian ini, saat Andy dengan fasih menyebutkan pengarang-pengarang novel terkenal seperti, Alexander Dumas). Ia menyurati banyak pihak di luar penjara untuk membantu perpustakaan tersebut. Usahanya tak sia-sia. Surat-suratnya berbalas beserta bantuan dana dan sumbangan buku-buku. Andy semakin dipercaya oleh Norton.

    Pada 1965, Shawshank kedatangan seorang penghuni baru, Tommy Williams (Gil Bellows). Anak muda ini sudah sering dipenjara sebelumnya untuk kasus-kasus kecil. Saat mendengar cerita tentang Andy, ia jadi teringat kisah seorang teman satu selnya di penjara terdahulu yang menguatkan fakta ketidakbersalahan Andy dalam kasus kematian istrinya dua puluh tahun lalu. Namun, alih-alih dibebaskan, Andy malah dikurung di ruang isolasi selama sebulan dan Tommy yang malang dibungkam selamanya.

    Informasi Tommy semakin memperkuat tekad Andy untuk kabur dari Shawshank dan ia benar-benar melaksanakannya pada suatu malam yang diguyur hujan lebat. Ia lolos lewat lubang di dinding selnya. Lubang itu dibuat dengan palu kecil yang selama ini disembunyikan dengan sangat sempurna di dalam alkitab. Sementara lubang tersebut ditutupi oleh poster seksi Welch. Sungguh cerdik. Norton kalang-kabut dibuatnya. Bukan itu saja, Andy juga rupanya diam-diam telah melaporkan segala penyimpangan yang dilakukan sipir penjara itu sehingga Norton dan Hadley harus diamankan.

    Seluruh kisah film ini dipandu oleh narasi yang dibwakan Red. Film ini dengan bagus banget menggambarkan kehidupan di penjara. Bagaimana para narapidana di sana harus pandai-pandai menyiasatinya agar bisa survive menghadapi segala kekejamannya. Seperti yang dikatakan oleh Red, "That's it. You fight. It's better that way. Prison is not fairy-tale world."

    Empat bintang untuk film keren ini.
    Endah Sulwesi