blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart

    The Boy in the Striped Pajamas

    The Reader

    Jamila dan sang Presiden

    Lonely Hearts

    Vicky Cristina Barcelona

    Slumdog Millionaire

    The Curios Case of Benjamin Button







    Kamis, 21 Juni 2012
    SOEGIJA (2012)
    Menonton "Romo" Nirwan Berakting

    Rasanya saya tidak pantas menyebut diri sebagai penggemar film-film Garin Nugroho, karena ternyata masih banyak filmnya yang belum sempat saya tonton. Entah tersebab tak mendapat informasinya atau lantaran film itu tidak diputar di bioskop. Tapi beruntung untuk film SOEGIJA (2012) saya bahkan mendapat undangan nonton gala premiere-nya berkat kebaikan hati teman saya, Iksaka Banu yang menjadi tim promosinya. Terima kasih, Mas Banu.

    Ketika pertama kali mendengar berita tentang film Garin teranyar ini, aku sama sekali nggak punya informasi tentang manusia bernama Soegija. Jadi, saya tidak punya prasangka apa pun tentang film ini selain bahwa ini film Garin yang tentu saya harap akan menjadi tontonan yang apik.
    Kemudian, ketika film ini mulai ramai dibicarakan, muncul berbagai macam isu, termasuk soal kristenisasi mengingat film ini mengisahkan Soegija, seorang pastor yang dengan caranya sendiri ikut berjuang melawan Belanda dan Jepang.

    Ikhwal isu tersebut tidak terlalu saya risaukan, sebab kali ini saya punya satu motif kuat untuk menyaksikan film ini: saya ingin melihat akting Nirwan Dewanto yang kebagian peran sebagai Romo Soegija. Kenapa? Karena selama ini saya mengenal Nirwan hanya sebagai sastrawan , baik sebagai penyair maupun kritikus . Apalagi saat promosi film ini mulai dilakukan, konon Nirwan stres melihat gambar wajahnya terpampang di poster-poster, internet, dan terutama goodybag :D


    Dan, ketika malam tadi saya menyaksikannya muncul di layar lebar naik sepeda dengan jubah putih pastur, reaksi pertama saya adalah tertawa. Aduuh, lucu aja rasanya mengetahui si romo itu adalah Nirwan. Selanjutnya, aktingnya biasa-biasa saja. Tidak bagus, tetapi juga tidak buruk. Dia romo yang kaku, dingin, dan sedikit bicara. Dia suka menulis buku harian. Sosoknya menjadi lebih hidup dengan kehadiran Toegimin (Butet Kertarajasa) yang nyeleneh dan guyonis (suka bercanda, gitu). Cuma, celetukan-celetukan Toegimin masih terasa Butet-nya. Butet, gitu loh. Hehehe :P


    Menurutku, keputusan Garin tidak memfokuskan cerita pada tokoh Soegija cukup bijaksana dan sebuah siasat yang jitu, karena kalau semata-mata meneropong biografi Soegija, mungkin film ini akan bernasib sama dengan konser Lady Gaga, walaupun alas an pelarangannya berbeda.


    Filmnya berjalan lambat (saya sempat ngantuk di tengah-tengah-maaf ya, Mas Garin:D) dengan cerita yang kurang kuat. Di beberapa bagian bahkan Garin sempat kejeblos menyisipkan khutbah tentang nasib warga Tionghoa dari masa ke masa dan jargon menjadi pemimpin yang baik. Saya sangat menyayangkan kenapa bagian itu harus ada.


    Kalau soal kualitas gambar, ya nggak usah ditanyakan lagi. Sudah menjadi trade mark Garin menghadirkan gambar-gambar yang indah puitis, meskipun itu film perang. Scene iring-iringan perempuan membawa keranjang berisi nasi tekor untuk para gerilyawan berupa siluet dengan back ground cakrawala senja. Cantik sekali. Seperti kartu pos.


    Seting Jawa Tengah tahun 40-an cukup terwakili dengan baik, termasuk kostum dan make up artisnya. Ilustrasi musik bernuansa kolonial garapan Jaduk Ferianto terasa sedap di telinga. Yang kurang enak tuh adegan perangnya. Kurang menggigit. Hampir mirip adegan perang di film-film jadul kita. Seolah-olah bagian perang ini bukan bagian yang penting sehingga tidak ditangani dengan serius.


    Yah, secara keseluruhan saya merasa kurang puas nontonnya. Emosi saya tidak sempat ikut larut ke dalam cerita. Beda banget dengan saat saya menonton Daun Di Atas Bantal. Perasaan saya sampai sesak dan keluar bioskop dengan mata yang sembap karena menangis. Padahal di Soegija ini ada sedikitnya tiga adegan sedih, namun tak satu pun berhasil membuat saya tersentuh. Celakanya, ia juga gagal menggugah rasa nasionalisme yang saya rasakan saat menyaksikan Mata Tertutup.


    Tentu saja, kau tak perlu sepakat atau memercayai pendapat saya bulat-bulat (emangnya siapa gue? :P). Lebih baik tonton saja filmnya kemudian kita obrolin bersama. Boleh di sini atau off air sembari ngupi-ngupi.
    2 Comments:

    mau goodie bag :P

    6/21/2012 03:05:00 PM  

    yg gambar aku ya, Vin? :P

    6/21/2012 04:34:00 PM  

    Poskan Komentar

    << Home