blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Minggu, 28 Desember 2008
    Breakfast at Tiffany's

    Sutradara: Blake Edwards
    Skenario: George Axelrod
    Pemain: Audrey Hepburn, George Peppard, dll.
    Masa putar: 115 menit
    Tahun: 1961

    Sebagai penggemar film-film jadul (baca: klasik) tentu aku tak akan melewatkan film yang satu ini. Film yang naskahnya dibuat berdasarkan novel karya Truman Capote dirilis pertama kali pada tahun 1961. Filmnya sudah berwarna dengan setting New York awal 60-an.

    Inginnya sih aku membaca lebih dulu novelnya, tetapi karena yang ada padaku sekarang adalah DVD-nya - itu pun dapat pinjaman dari teman - ya akhirnya nonton filmnya saja dulu. Menurut gosip dari sumber yang sangat bisa dipercaya, novelnya bakal terbit tahun depan. Diterjemahkan oleh penerjemah keren - demikian sang penerjemah melekatkan predikat itu pada dirinya dan memang harus diakui keren *uhuk* - Berliani Nugrahani. Diterbitkan oleh penerbit baik hati : Serambi *lidah menjulur-julur tanda menjilat agar dibuntelin gratis novel ini*.

    Film dibuka dengan pemandangan pagi hari di depan etalase toko perhiasan "Tiffany's". Tampak di depan kaca yang memajang aneka model berlian itu seorang wanita cantik dalam dandanan sempurna. Gaun malam hitam elegan membalut tubuh kurusnya. Rambutnya ditata menjadi sebuah sanggul tinggi yang memperlihatkan leher eloknya. Sayup-sayup mengalun instumentalia "Moon River" mengiringi langkah anggun wanita tadi menuju flatnya tak jauh dari Tiffany's.

    Si cantik itu adalah Holly Golightly (Audrey Hepburn), wanita yang tinggal sendiri - hanya ditemani seekor kucing gendut yang dipanggil Cat - di salah satu lantai apartemen itu. Holly yang tenyata bernama asli Lula Mae memiliki masa lalu yang kurang bahagia. Pada usia 14 tahun dia menikah dengan Doc Golightly (Buddy Ebsen) di Texas. Kemudian ia kabur ke New York dan menghidupi diri dengan cara apa pun, termasuk mengencani pria-pria kaya. Di New York, Holly atau Lula mae ini menghabiskan waktunya dengan mengunjungi pesta-pesta dan pulang pagi dalam kondisi mabuk berat. Dari para kencannya, Holly semata-mata hanya menginginkan uang mereka.

    Di apartemen tersebut, Holly berkenalan dengan Paul Varjak (George Peppard), seorang penulis yang memiliki affair dengan wanita bersuami, 2E. Namun, belakangan kehadiran Holly yang polos sekaligus liar itu telah merebut perhatian dan membuat Paul terpikat. Ia jatuh cinta pada Holly dan memutuskan hubungan dengan 2E. Akan tetapi Holly yang tidak lagi percaya pada cinta, tampaknya keberatan dengan perkembangan hubungan itu dan memilih pergi ke Brazil bersama Jose, pria kaya raya yang berjanji menikahinya.

    Kalau kalian menduga ini sebuah film drama serius, tidak terlalu tepat juga, sebab banyak scene yang menampilkan adegan-adegan lucu yang mengundang senyum seperti di film-film komedi. Praktis drama ini dimainkan berdua saja oleh si molek Hepburn dan si tampan George Peppard. Untuk aktingnya sebagai Holly, Audrey diganjar nominasi Oscar sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik, meskipun ada satu adegan yang gagal dibawakan dengan baik, yakni ketika ia harus tampil mabuk berat. Bajunya tetap rapi, riasannya tanpa cela seperti saat belum mabuk, tak ada sedikit pun rona merah di wajah dan mata layaknya orang mabuk. Yang dilakukannya hanya mengubah cara bicara dan gesturenya saja. Mungkin ini yang menyebabkan ia tak berhasil memboyong Oscar (sok tahu).

    Tetapi Aku suka banget waktu dia menyanyikan sound track film ini: "Moon River"; sembari duduk di bingkai jendela dan memetik gitar kecil. Ia tampak bagaikan peri. Musiknya digarap oleh Henru Mancini dan liriknya ditulis oleh Johnny Mercer. Lagu yang keren. Tak heran jika di ajang Oscar berhasil meraih predikat best original song.

    Satu hal lagi yang menarik untuk dipandang di film ini selain paras jelita Audrey Hepburn adalah gaun-gaun yang dikenakannya, hasil rancangan Hubert de Givenchy. Baru-baru ini konon gaun-gaun indah tersebut berhasil dilelang dengan harga tinggi.

    Sesungguhnya film garapan Blake Edwards ini memikat. Sayang, endingnya Hollywood banget : Holly dan Paul berciuman di bawah siraman hujan *spoiler* :D (maaf..maaf..maaf..). Entahlah, apakah memang bukunya juga berakhir demikian? Tapi kalau aku sutradaranya, aku akan hentikan film dengan kepergian Paul.

    Moon River


    Moon River, wider than a mile,

    I'm crossing you in style some day.

    Oh, dream maker, you heart breaker,

    wherever you're going I'm going your way.

    Two drifters off to see the world.

    There's such a lot of world to see.

    We're after the same rainbow's end--

    waiting 'round the bend,

    my huckleberry friend,

    Moon River and me.
    Senin, 22 Desember 2008
    9 1/2 Weeks

    Skenario: Sarah Kernochan & Zalman King

    Pemain: Mickey Rourke, Kim Bissinger

    Masa putar: 112 menit

    Tahun: 1986


    Sebelum menonton film ini, aku sudah sering banget mendengar tentang kehebohannya, bukan saja ketika diputar 22 tahun yang lalu, tetapi juga sampai kini. Di antara teman-temanku yang seangkatan (80-an gitu loh), film ini masih sering dirumpiin. Kata mereka sih ini film seks. Apa sih yang dimaksud film seks itu? Apakah film yang bercerita tentang pendidikan seks? Atau film yang melulu berisi adegan seks (yang berarti sama dengan film biru)? Atau film cerita dengan kategori "untuk dewasa" karena ada adegan-adegan seksnya yang tidak boleh dilihat anak-anak di bawah 17 tahun?

    Sebelum menonton secara utuh film tersebut, aku sempat mencuri-curi mengintipnya lewat situs www.youtube.com. Penggalan-penggalan yang kulihat itu cukup mewakili dan membuat penasaran hingga akhirnya aku menyaksikannya secara utuh. Setelah melihatnya, kesimpulanku 9 1/2 Weeks ini jenis film dewasa yang memuat beberapa adegan "dewasa.


    Namun, sungguh tidak seheboh yang pernah kubayangkan. Adegan percintaan dua orang tokoh utamanya, John (Mickey Rourke) dan Elizabeth (Kim Bassinger) adalah adegan seks biasa yang sering kita lihat di film-film dewasa. Jadi sama sekali tidak vulgar. Maksudku, bukan adegan seks seperti di film-film porno itu loh. Ada juga sih yang sedikit liar, tetapi menurutku itu tidak porno. Kalaupun ada scene yang memperlihatkan Elizabeth bugil, itu hanya disyut dari belakang (cuma bokong dan punggungnya yang terlihat dalam pencahayaan temaram).


    Ceritanya juga tidak terlampau menarik, ihwal hubungan cinta John dan Liz yang dipertemukan secara tidak sengaja di sebuah keramaian kota New York yang sibuk. John seorang pebisnis yang menyembunyikan asal-usul serta latar belakang kehidupannya; sedangkan Liz bekerja di sebuah biro seni. Setiap kali bertemu, John selalu berupaya merayu Liz dan pada pertemuan yang ketiga, mereka bercinta. Barangkali bagian-bagian permainan cinta ini yang dianggap heboh, karena menampilkan "jurus-jurus" bercinta mulai dari yang romantis sampai yang paling liar (Tidak liar-liar amat sih sebenarnya).


    Hari ke hari, dari jalinan hubungan itu, mulai tumbuh cinta di hati Liz. Setiap saat hanya John yang ia harapkan ada di sisinya. Setiap saat ia ingin bersama John. Ia juga ingin agar John mau mengetahul lebih jauh kehidupannya, mengenal teman-temannya. Namun, John menolak. Baginya cukup Liz saja. Biarlah siang hari Liz menjadi milik dirinya dan teman-temannya. John cukup puas memiliki Liz di malam hari, untuk sebuah permainan cinta yang menggairahkan. Lama kelamaan Liz mulai merasa relasi mereka bukanlah relasi yang normal. John hanya menginginkan tubuhnya. John hanya ingin menikmati seks dengannya. Liz tak bisa meneruskan hubungan tersebut meski John berusaha meyakinkannya dengan kata-kata cinta.


    Film berdurasi hampir dua jam ini akhirnya terasa membosankan. Ceritanya tidak cukup nggreget. Satu-satunya hal yang membuatku bertahan sampai film usai adalah karena penasaran berharap akan tampil adegan "hot" yang nyaris menjadi cap buat film ini. Dan aku harus "kecewa" sebab adegan sejenis itu tidak ada, kecuali kalau adegan bercinta di bawah pancuran itu tergolong hot sih. Pastinya sewaktu diedarkan di bioskop kita dulu, adegan-adegan tersebut sudah kena gunting LSF (sekarang BSF). Lebih garing lagi kan?


    Tetapi harus kuakui, gambar-gambar yang dihadirkan cukup keren. Juga soundtracknya. Sementara, akting Rourke dan Kim sih biasa-biasa saja. Tidak menonjol. Tapi yang jelas, aku sekarang tidak penasaran lagi sama film ini.***

    Minggu, 07 Desember 2008
    Twillight (The Movie/2008)

    Baiklah, Twillight. Seperti halnya buku-buku lain yang terlalu di-overrated (misalnya, Laskar Pelangi, Harry Potter and The Deathly Hallows, Ayat-Ayat Cinta), aku memang cenderung malas membaca. Dan kalau pada akhirnya filmnya main duluan, ya sudahlah nonton saja (eh, tapi aku ga nonton Ayat-Ayat Cinta karena sudah mencicipi bukunya dan muak sebelum habis sepertiga).

    Twillight pun begitulah adanya. Seingatku, heboh buku ini sudah dimulai sekitar setahun yang lalu. Berbagai review mulai beredar dengan kekuatan berimbang antara yang memuja-mujanya dan mencela-celanya. Lalu, beberapa bulan terakhir ini, setelah terjemahannya beredar, makin santerlah demam Twillight ini. Ada yang bikin Klub Pecinta Edward, ada yang bikin Klub Pembenci Bella. Hingga di suatu titik, aku penasaran juga, macam apa sih sebenarnya ini buku, dan aku pun mengunduh keempat e-booknya. Belum sempat dibaca (tentu saja), filmnya sudah beredar. Jadi, kita tinggalkan saja bukunya, hahahaa.

    Maka, tanpa ekspektasi apa pun (karena sama sekali belum baca bukunya dan nggak tahu karakter-karakternya), aku menonton film ini bersama Miss Icha (yang sudah membaca bukunya dan belum memutuskan apakah dia menyukainya atau tidak) di sebelah kanan dan seorang cowok tidak dikenal (yang tampaknya juga sudah membaca dan ngefans pada bukunya) di sebelah kiri. Yang aku tahu hanyalah, ini cerita tentang kisah cinta antara dua dunia, manusia dan vampir (bukan Isabella dong ya, hahaa.)

    Baru setengah jam film berjalan, aku sudah memutuskan, aku nggak suka sama Bella Swan (Kristen Stewart). Sebagai tokoh utama, Bella ini terlalu nggak jelas. Maksudnya, karakternya yang nggak jelas. Yang terlihat olehku, dia gadis pemurung dan tertutup. Tapi, anehnya adalah, kenapa banyak banget yang suka padanya? Dia juga kadang-kadang cenderung kasar dan nggak menyenangkan dalam memperlakukan teman-temannya. Terlalu cantik tidak, terlalu pintar juga tidak, terlalu modis juga tidak, yah … hanya gadis yang sedang-sedang saja (yoah, kak Vetty banget). Dan cowok paling keren di sekolahnya jatuh cinta kepadanya? Owh, aku mengerti kenapa Prince Charming jatuh cinta kepada Cinderella. Tapi, kenapa Edward Cullen (dan beberapa cowok yang lain) jatuh cinta kepada Bella? Entahlah. Selain itu, biar pendiam begitu ternyata Bella agresif. Cenit sejati. Sigh.

    Tapi, aku mengerti kenapa banyak orang (melirik banyak orang) jatuh cinta kepada Edward Cullen (Robert Pattinson). “Owwh … things like these,” beberapa kali terucap olehku dan segera diiyakan oleh Miss Icha. Misalnya, ketika Edward menggendong Bella dan melompat dari pohon ke pohon, atau ketika Edward melompat dengan gesit buat menyelamatkan Bella dari mobil yang mau menabraknya, atau kalimat-kalimat gombal mukiyo yang disampaikannya. (Ow, ternyata aku menganut “You don’t have to say it frequently, just say it at the right time” sehingga tidak terlalu terkesan juga pada pergombalan si Edward ini, hihihiii.) And he’s a vampire too.

    Secara keseluruhan, sebagai sebuah film (ya, ini review filmnya, bukan bukunya loh ya!), Twillight ini biasa saja. Beneran, menurutku nggak ada yang oke banget dari film ini. Sebagai film remaja, kostumnya juga biasa saja (malah kata Miss Icha itu sudah lebih bagusan daripada yang diceritakan di bukunya). Karakter Bella yang pemurung juga jadi bikin betek yang nonton. Lagu-lagunya nggak ada yang nempel di telinga. Dan Edward, mmm, keren sih, tapi ya nggak sekeren itu. Dari segi cerita, ya biasa saja. Plotnya pun banyak lubang-lubang kecilnya. Make-up malah rada parah, karena vampir-vampir itu ya, kelihatan banget belangnya antara muka dan lehernya *tepok jidat*. Belum lagi, dialog yang kadang-kadang cheesy banget.

    Yaahh … it’s just another teen movie. Tidak mengesankan buatku, tapi ini hanya masalah selera, bukan? Yang jelas, setelah nonton filmnya, aku sudah tidak penasaran lagi pada bukunya. Jadi, dua bintang saja deh. It’s just not for me, hahahaa ….