blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Rabu, 28 Januari 2009
    Taxi Driver

    Sutradara: Martin Scorsese
    Skenario: Paul Schrader
    Pemain: Robert de Niro, Cybill Shepherd, Jodie Foster
    Tahun: 1976


    Sebagai penggemar film-film jadul, Taxi Driver tentu salah satu film yang wajib ditonton. Entah kapan aku menonton untuk pertama kalinya film karya sutradara favoritku ini, Martin Scorsese. Ada kesan yang berbeda ketika menontonnya kembali sekarang. Juga ada rasa "lucu" menyaksikan wajah-wajah muda Robert de Niro dan Jodie Foster. Malah dilihat-lihat, kok Mr. De Niro ini jadi mirip si pemeran Spiderman ya? :) Sementara Jodie Foster, duuh..masih imut banget. Jelas saja, saat memerankan Iris, pelacur jalanan berumur 12 tahun, ia masih berusia 14 tahun! Dan dia sudah melakukan adegan ciuman di film ini. Juga adegan merokok. Tapi memang tidak sia-sia akting yang dia lakukan karena kemudian diganjar dengan mendapat nominasi Oscar untuk kategori Pemeran Pembantu Wanita Terbaik.


    Ia bermain mendampingi aktor idolanya, Rodert de Niro yang berperan sebagai Travis Bickle, seorang veteran perang Vietnam yang beralih profesi menjadi sopir taksi. Ganteng banget deh Mas Robert di film ini : muda dan jantan. Sepertinya dia memang dilahirkan untuk menjadi aktor.


    Dan apa yang bisa kukatakan untuk sutradara hebat Martin Scorsese kecuali 2 jempol untuknya? Di tangan dinginnya, rasanya setiap skrip akan menjelma film yang keren. Yang aku tandai dari film-film lelaki kelahiran 1942 ini adalah : darah. Ya, muncratan darah nyaris selalu ada dalam setiap film garapannya. Tak terkecuali Taxi Driver. Ingat saja Cape Fear (1991), Raging Bull (1980), dan Gengs of New York (2002). Tampaknya Robert de Niro merupakan bintang kesayangannya.


    Taxi Driver bercerita tentang Travis, 26 tahun, seorang sopir taksi kesepian yang menderita insomnia. Mungkin sebagai akibat trauma perang Vietnam yang pernah dialaminya. Kadang-kadang, berhari-hari dia tidak tidur. Dia beroperasi di satu kawasan prostitusi di New York City.


    Saat itu sedang berlangsung kampanye pemilihan presiden Amerika. salah satu kandidat terkuatnya adalah Senator Charles Palantine (Leonard Harris) yang memperoleh banyak dukungan di New York. Salah seorang pendukungnya adalah Betsy (Cybill Shepherd) yang bekerja sebagai volunteer tim kampanyenya.


    Setiap hari Travis melewati kantor tempat Betsy bekerja. Dari dalam taksinya, Travis mengintai gerak-gerik wanita yang diam-diam ditaksirnya itu, hingga suatu hari Travis berhasil mengajak gadis cantik itu keluar makan siang. Celakanya, ketika kencan berikutnya, Travis membuat kesalahan fatal yang mengakibatkan Betsy ilfil.


    Penolakan Betsy membuat hati Travis terluka. Ia marah. Ia butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya. Dan yang kejatuhan sial adalah Sport, seorang germo yang mempekerjakan Iris (Jodie Foster), gadis di bawah umur sebagai pelacur.


    Maka, baku tembak pun terjadilah. Darah berhamburan di layar penonton. Adegan aksi yang sangat riil dan enak ditonton (sadis banget ya aku?) Maksudku, adegan tersebut begitu..hmm...nyata. De Niro memang keren. Dia memperlihatkan akting yang gemilang: perubahan karakter dari seorang pendiam menjadi pemarah yang ekstrem sekaligus juga lelaki berhati lembut yang sangat sensitif.


    Begitu pun Jodie Foster. Sebagai pelacur jalanan, dia benar-benar lebur dalam perannya. Perhatikan ketika ia merayu Travis, membuka kancing kemejanya (kancing kemeja Travis), ikat pinggangnya....Benar-benar seperti pelacur profesional. Dia akan selalu jadi aktris favoritku bersama-sama Meryl Streep dan Meg Ryan.***
    Senin, 26 Januari 2009
    The Holiday

    Sutradara: Nancy Meyers
    Skenario: Nancy Meyers
    Pemain: Cameron Diaz, Kate Winslet, Jude Law, Jack Black
    Masa putar: 138 menit
    Tahun: 2006


    Inggris menjelang Natal. Salju berjatuhan dari langit laksana serpihan kapas. Udara dingin membekukan tulang. Di sebuah kantor penerbitan tengah berlangsung pesta menjelang libur Natal yang panjang. Seluruh orang bergembira, kecuali Iris Simpkins (Kate Winslet) yang remuk hatinya karena cowok yang dikencaninya selama 3 tahun malam itu mengumumkan pertunangannya dengan gadis lain. Iris membawa pulang hatinya yang hancur bagai kepingan salju.


    Sementara itu, nun jauh di LA, Amerika Serikat, seorang gadis sukses kaya raya juga tengah mengalami nasih yang mirip dengan Iris. Amanda Woods (Cameron Diaz) baru saja putus dengan pacarnya yang kedapatan selingkuh.


    Kedua gadis yang terpisah jauh ini sama-sama gundah dan ingin suasana baru untuk menghibur hati mereka. Maka, lewat internet mereka sepakat untuk saling bertukar rumah selama liburan Natal dan Tahun Baru itu.


    Iris yang berasal dari sebuah desa di Inggris girang bukan main ketika tiba di LA dan mendapati rumah megah Amanda yang akan dia tinggali sepanjang liburan. Iris tipe gadis Inggris konservatif dengan model rambut dan busana yang terkesan klasik itu tak butuh waktu lama untuk mendapatkan kesenangan liburannya. Dengan segera ia memiliki teman : seorang penulis terkenal berumur 90 tahun dan Miles (Jack Black), seorang pria Amerika yang santun.


    Kisah liburan Amanda tak kalah seru. Ia yang terbiasa dengan kehidupan kota besar pada awalnya harus tergagap-gagap menyesuaikan diri dengan alam pedesaan dan pondok mungil Iris yang sangat Inggris. Mirip pondok dalam dongeng-dongeng klasik yang memiliki perapian di dalamnya serta cerobong asap menjulang di atapnya; menjadi pemandangan yang paling indah di film ini.


    Baru beberapa jam saja Amanda sudah mati gaya. Ia memutuskan pulang kembali ke Amrik. Namun, niat tersebut urung berkat kedatangan Graham (Jude Law...OMG, tampan sekaleeee *glek), kakak lelaki Iris. Sudah bisa ditebak dong apa yang terjadi di antara mereka kemudian? (ooh..aku mau jadi Amanda! :D)


    Yayaya...ceritanya memang sangat Hollywood :romantis, segar, dan happy ending. Sangat pas sebagai hiburan malam libur Imlek (daripada nonton teve yang isinya debat politik melulu itu). Setidaknya jelas lebih enak menikmati wajah tampan Jude Law ketimbang menyaksikan lagak tengil para politisi karbitan yang sibuk jual bacot menjelang Pemilu itu.


    Sungguh, aku rasa film ini memang sengaja dibuat untuk semata-mata menghibur penontonnya seperti halnya karya-karya Meyers yang lain: Something Gotta Give (2003) dan What Women Want (2000).
    Charlie and the Chocolate Factory

    Sutradara: Tim Burton
    Skenario: John AugustPemain: Johnny Depp, Freddie Highmore, David Kelly, dll.
    Masa putar: 115 menit
    Tahun: 2005


    Aku nonton film ini setelah selesai membaca bukunya. Buku cerita anak-anak karya Roald Dahl dengan judul yang sama: Charlie and the Chocolate Factory. Buku yang terbit pertama kali tahun 1964 ini telah memesonaku sehingga aku langsung kepingin nonton filmnya. Kebetulan pula bintangnya adalah Johnny Depp, salah satu aktor favoritku.

    Maka, nontonlah aku dengan ingatan yang masih segar tentang bukunya. Dan ternyata filmnya sama keren seperti bukunya. Film yang dibesut oleh Tim Burton ini tergolong film yang setia pada novelnya. Tim kreatifnya cukup berhasil menjelmakan teks menjadi gambar-gambar yang bagus. Pabrik cokelatnya terlihat sangat fantastis. Mereka juga sukses membuat adegan Violet yang membiru dan menggelembung serta Mike Teavee yang menjadi setipis kertas!

    Sementara itu, karakter Mr. Wonka diperankan dengan gemilang oleh Johnny Depp. Pun keempat kakek nenek Charlie benar-benar seperti yang aku bayangkan tentang orang-orang tua uzur berumur 96,5 tahun. Yang aku juga suka adalah lagu-lagu yang dinyanyikan para makhluk bernama Oompa-Loompa. Sayangnya, para pemain anak-anaknya tampil tak terlalu istimewa.

    Cerita yang diangkat dari buku Roald Dahl ini adalah tentang Charlie Bucket, bocah lelaki berumur 10 tahun. Ia tinggal di sebuah pondok yang nyaris rubuh bersama kedua orang tuanya dan empat orang kakek nenek yang hanya sanggup berbaring sepanjang waktu di satu-satunya ranjang besar di pondok tersebut. Ayah Charlie bekerja di pabrik odol sebagai tukang pasang tutup tube odol. Mereka miskin sekali sehingga hanya mampu makan sup kubis encer setiap hari.

    Tak jauh dari pondok reyot mereka, berdiri dengan sangat megahnya sebuah pabrik cokelat kepunyaan Mr. Wonka. Setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah, Charlie lewat di depan pabrik tersebut. Dari kakeknya, Charlie mendengar kisah tentang Mr. Wonka dan pabrik cokelatnya yang pernah untuk beberapa waktu ditutup lantaran disusupi mata-mata dari pabrik pesaingnya. Mereka berhasil mencuri resep rahasia dari pabrik Mr. Wonka.

    Tetapi lalu pabrik tersebut beroperasi lagi dan kembali menghasilkan aneka cokelat dan kembang gula yang jauh lebih lezat; yang ragam rasanya semula hanya sanggup dibayangkan. Namun ada yang aneh dengan pabrik itu. Di sana tidak tampak satu orang pun pekerja. Gerbangnya senantiasa tertutup rapat. Hanya suara deru mesin dan kepulan asap beraroma cokelat cair yang keluar dari cerobong-cerobong pabrik saja yang menandakan di dalamnya ada kegiatan. Lalu, siapa yang mengoperasikan pabrik sebesar itu? Mustahil jika hanya dilakukan oleh Mr. Wonka seorang diri.

    Kelak akhirnya diketahuilah rahasia itu ketika melalui sebuah sayembara Mr. Wonka mengundang lima orang anak yang beruntung mendapatkan tiket emas di dalam kemasan cokelatnya untuk berkunjung ke pabriknya. Salah satu bocah bernasib baik itu adalah Charlie.

    Di bukunya tidak pernah diungkapkan siapa dan apa latar belakang kehidupan Willy Wonka. Di filmnya, bagian yang “bolong” itu ditutupi. Upaya yang patut dipuji karena berhasil menjadikan cerita film lebih membumi. Ending-nya pun agak sedikit dipelintir. Alhasil jadi terasa lebih menyentuh dan manusiawi. Sebagaimana bukunya, film yang pernah dibuat juga pada 1971 dengan judul Willy Wonka & the Chocolate Factory (Mel Stuart) ini sangat menghibur. Terutama buat kamu yang menggandrungi Johnny Depp, sebab dialah bintangnya. Aku suka Johnny Depp. Aku suka Roald Dahl. Aku suka cokelaaaat….!***
    Selasa, 13 Januari 2009
    Perempuan Berkalung Sorban


    Judul: Perempuan Berkalung Sorban
    Sutradara: Hanung Bramantyo
    Skenario: Hanung Bramantyo & Ginatri S.Noor
    Pemain: Revalina S.Temat, Oka Antara, Widyawati, Reza Rahadian, Joshua Pandelaki
    Produksi: Starvision
    Masa putar:
    Tahun: 2009

    Perempuan Berkalung Sorban menjadi film pertama yang saya tonton di tahun 2009. Pertama kali saya tahu tentang film ini dari Abidah El Khaleiqy yang adalah penulis novelnya (si Mbak ini muncul juga satu kali sebagai dosen sastra yang sedang memberi kuliah). Novelnya telah terbit sejak 2001. Baru difilmkan tahun ini barangkali karena sekaranglah saatnya yang tepat, menyusul sukses Ayat-Ayat Cinta .

    Sayang sekali, sampai menonton filmnya saya belum selesai menamatkan bukunya yang baru saya beli Jumat lalu (penting gak sih informasi ini? :D). Tetapi walaupun demikian, dari hasil pembacaan yang baru sedikit itu, saya bisa menduga film garapan sutradara muda yang sukses membesut Ayat-Ayat Cinta ini adalah film yang bicara ihwal kesetaraan lelaki dan perempuan dalam Islam. Tema yang cukup sensitif di negeri yang masih sangat patriarki ini.

    Adalah Anissa (Revalina S.Temat), putri bungsu K.H. Hanan Abdul Malik (Joshua Pandelaki) pemilik pondok pesantren putri Al Huda, yang sangat ingin belajar naik kuda seperti kedua kakak lelakinya, Reza (di bukunya bernama Rizal) dan Wildan. Namun, tentu saja sang ayah tak mengizinkan dengan alasan karena perempuan, seorang muslimah, tidak pantas berkuda.

    Agaknya bukan cuma soal urusan berkuda saja Anissa mengalami diskriminasi, tetapi juga untuk banyak hal lain. Misalnya, tidak boleh keluar rumah tanpa ditemani pria yang menjadi muhrimnya, tidak boleh makan sambil bicara, tidak pantas sekolah tinggi-tinggi. Kelak setelah Anissa dewasa. Ia masih harus menambahkan dalam daftar “tidak boleh” itu sejumlah hal lagi: tidak boleh menolak kemauan suami yang ingin mengajak bersetubuh kapan pun; tidak boleh berinisiatif mengajak suami bersetubuh; dan tidak boleh meminta cerai. Jika aturan itu dilanggar, maka Allah beserta seluruh isi dunia dan akhirat akan melaknat.

    Oleh karena ini film yang ingin bicara soal kesetaraan, tentu harus ada seseorang yang memberontak dan menentang semua itu. Siapa lagi jika bukan Annisa. Sudah pasti agar ceritanya lebih seru, mesti diciptakan konflik. Dan terjadilah konflik itu antara Nisa dan ayahnya yang puncaknya pecah saat Nisa dipaksa kawin dengan Syamsudin (Reza Rahadian), anak seorang kyai kaya raya sahabat baik sang ayah. Sebenarnya perkawinan tersebut lebih bermotif ekonomi sebab Kyai Abdul Malik berambisi memperbesar pesantrennya dan itu hanya bisa terwujud jika Nisa menikah dengan Udin yang ayahnya kerap menyantuni Al Huda.

    Oh, Annisa yang kritis tentu tidak mau. Ia masih ingin menggapai cita-citanya kuliah di Al Azhar, Kairo, menyusul pemuda pujaan hatinya, Khudori (Oka Antara). Namun, apalah dayanya sebagai seorang anak yang masih sangat bergantung kepada orang tua sementara sang kekasih tengah berada jauh di negeri orang.

    Hu..hu..hu..ternyata si Udin bukanlah suami yang baik. Selain suka mabuk-mabukan, Udin juga senang main perempuan. Akibatnya, suatu hari ia harus bertanggung jawab karena telah membuat hamil seorang perempuan. Lagi-lagi Nisa tak kuasa menolak nasib yang disodorkan kepadanya. Ia harus mau menerima kehadiran madunya di dalam rumahnya. Sebab, Islam mengizinkan poligami.

    Sementara itu, Khudori telah kembali dari Kairo dengan membawa cintanya untuk Nisa. Tetapi sebagai lelaki yang baik, ia tak mungkin merebut Nisa dari suaminya. Hingga pada suatu hari Udin memergoki mereka sedang berdua-dua di kandang kuda. Udin kalap. Ia mengamuk dan saat itu juga mengucapkan talak kepada istrinya.

    Adegan ini paling berkesan buat saya. Anissa dan Khudori yang dituduh berzina harus menerima hukum rajam dengan dilempari batu oleh warga setempat. Ketika orang-orang mulai menghujani mereka dengan batu, ibu Anissa (Widyawati) maju membela putri satu-satunya itu. Digenggamnya sebongkah batu sebesar kepalan tangan dan berkata, “Hanya mereka yang merasa tidak berdosa saja yang boleh melempar”.

    Cukup ya untuk gambaran filmnya. Kini komentar untuk filmnya.

    Tema
    Isu kesetaraan ini tema yang belum banyak dilirik sineas kita. Apalagi yang berlatar belakang Islam. Biasanya bila tak cerdik menyiasati, tema-tema yang menyinggung sebuah agama, berpotensi menuai kritik dan kecaman. Syukur kalau cuma berhenti sampai di mengecam saja. Yang gawat kan jika akhirnya dilarang diputar. Jangankan tema, judul film saja, bisa jadi masalah serius di negeri kita ini. Salut deh untuk Hanung dan Starvision yang sudah berani menfilmkannya.

    Akting
    Rata-rata para pemainnya berakting standar saja, termasuk aktris senior Widyawati. Yang agak cemerlang justru Reza Rahadian. Sebagai Udin dia mampu menghidupkan karakter laki-laki jahat dan licik yang sangat menyebalkan. Gayanya yang sok dan tengil itu benar-benar menjengkelkan. Rasanya saya ingin ikut menampar wajah mesumnya J

    Detail
    Lumayan cermat penggarapannya. Hanya ada satu yang menjadi pertanyaan saya, mengapa Anissa tidak pernah melepas kerudungnya meskipun ia sedang tidur bersama suaminya? Juga soal mesin ketik. Terasa kuno dan tidak cocok berada di sebuah kantor women crisis centre di Yogyakarta pada tahun 2001 (seting cerita). Mestinya sudah berganti dengan komputer, bukan?
    Juga “pemandangan” piramid di luar jendela kamar Khudori di Mesir, tampak terkesan dipaksakan.

    Poster
    Aku suka posternya. Keren. Kuat sekali menggambarkan makna seorang perempuan muslim yang melawan arus.

    Sound track
    Lumayan enak, dibawakan oleh Siti Nurhaliza.

    Lain-lain
    Secara keseluruhan film ini oke. Sayang, masih ada beberapa bagian yang maunya menyisipkan pesan moral tetapi karena penyampaiannya masih mengandalkan cara-cara verbal, akibatnya malah jadi seperti khotbah. ***