blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • The Boy in the Striped Pajamas

    The Reader

    Jamila dan sang Presiden

    Lonely Hearts

    Vicky Cristina Barcelona

    Slumdog Millionaire

    The Curios Case of Benjamin Button

    Taxi Driver

    The Holiday

    Charlie and the Chocolate Factory







    Senin, 29 Juni 2009
    Inkheart

    Judul: Inkheart
    Sutradara: Iain Softley
    Skenario: David Lindsay-Abaire
    Pemain: Brendan Fraser, Eliza Bennet, Paul Bettany, dll.
    Masa putar: 106 menit
    Tahun: 2008

    Kalau saja aku belum membaca novelnya, mungkin aku tidak terlalu berminat menonton filmnya. Inkheart, film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama karya penulis cerita anak dan remaja asal Jerman, Cornelia Funke.

    Sejak pertama kali membaca novelnya yang bertajuk Pangeran Pencuri (buku ini pun sudah difilmkan), aku telah terpikat pada Cornelia Funke. Maka, saat Inkheart terbit dalam bahasa Indonesia, aku pun memburunya. Cerita fantasi yang keren dan mengesankan, sebab ia berkisah tentang orang-orang yang tergila-gila pada buku: Mortimer, Meggie, dan Elinor. Mereka bertiga adalah satu keluarga. Mortimer atau Mo adalah ayah kandung Meggie; sedangkan Elinor adalah bibi dari istri Mo, Resa.

    Dari ketiga tokoh tersebut, Elinor menjadi favoritku. Ia dengan segala kecintaannya kepada buku, bagiku menjadi tokoh yang sangat keren. Ia mengisi hampir seluruh ruangan di rumahnya yang besar dan luas dengan buku-buku. Sebagian besar merupakan koleksi langka yang mahal harganya. Elinor tidak menikah. Mungkin seluruh cintanya sudah dicurahkan kepada buku-buku miliknya itu, sehingga tak tersisa lagi bagi seorang pria pun. Barangkali, untuk Elinor, buku-buku itu jauh lebih setia daripada para lelaki. Hehehe…

    Sayangnya, tokoh favoritku ini bukanlah karakter utama. Walaupun tokoh utamanya, Mo si Silvertongue tidak kalah menariknya, namun bagiku Elinor lebih memikat dengan segala kekeraskepalaannya dan kuitpan-kutipannya tentang buku. Nah, di film, bagian ini tidak begitu kelihatan. Padahal, salah satu yang menarik dari Inkheart (novel) adalah membaca kutipan-kutipan itu.

    Tetapi baiklah, masih ada Brendan Fraser sebagai Mo yang cukup enak dipandang. Juga ada Paul Bettany yang berperan sebagai Dustfinger, salah satu karakter yang melompat ke luar karena lidah ajaib Mo.

    Ya, Mo memiliki bakat istimewa yang kelak menurun kepada Maggie (Eliza Bennet), putrinya. Mereka sanggup memunculkan ke dunia nyata para tokoh (dan juga benda-benda atau apa saja) dari buku-buku yang mereka baca. Syaratnya, membacanya harus dengan suara keras, tidak dalam hati saja. Kemampuan spesial ini agaknya bukan saja menjadi anugerah tetapi juga musibah. Ia harus bertanggung jawab mengembalikan tokoh-tokoh yang keluar dari buku Inkheart kembali ke tempat asal mereka. Masalahnya, Mo tidak yakin apakah ia sanggup melakukan itu semua. Ia sudah jelas bisa mengeluarkan mereka dari dalam buku, tetapi untuk mengembalikannya, ia belum pernah mencobanya.

    Masalah bertambah pelik ketika tokoh antagonisnya, Capricorn (Andy Serkis), menolak untuk kembali ke dalam buku. Capricorn lebih merasa nyaman dan kerasan di dunia Mo. Dan celakanya, tokoh jahat ini tetap menjadi penjahat seperti di dalam buku. Dunia riil tidak mengubah karakternya. Ia membuat kekacauan di Bumi.

    Bagi yang telah membaca novelnya, jangan kecewa jika ada beberapa bagian di film ini yang tidak serupa dengan di buku. Sah-sah dan biasa saja sih kalau hal seperti itu terjadi. Namanya juga dua media yang berbeda, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tetapi, jika aku harus memilih antara keduanya, aku akan menjatuhkan pilihanku pada novelnya, karena aku bisa bebas mengumbar imajinasiku tanpa dibatasi gambar-gambar ciptaan sutradara dan teknik sinematografi. Kamu punya pendapat lain?***
    4 Comments:

    Blog anda OK dan unik Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com

    9/06/2009 03:38:00 PM  

    Hi.. salam kenal!!
    Saya belum membaca kisah InkHeart (saya akan segera mencari ebook-nya..Hehe), namun saya tahu pasti film-nya jauh dari bagus.
    Sayang sekali, seakan sutradara kurang imajinasi..
    Ini merupakan salah satu film yang gagal dalam mem-visualisasi-kan sebuah karya tulis.

    2/23/2010 11:15:00 PM  

    salam admin,,
    saya bru saja ntn film inkheart ini di tv,, tapi blm tau cerita detailnya,, mksi admin n komentatornya yg sdh mau berbgi postingan..

    11/15/2013 12:53:00 PM  

    Kunjungi juga ya.

    Kumpulan Artikel Menarik seperti Cerita Cinta, Cerita mengharukan, Cerita Unik, dan lain-lain di www.szlovely.net

    Nonton Film Bioskop Online Gratis Subtitle Indonesia di www.szlovely-movie.com

    10/01/2014 02:08:00 PM  

    Poskan Komentar

    << Home