blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • RAYYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA (2012)

    MAMA CAKE (2012)

    THE AMAZING SPIDER-MAN (2012)Marc Webb  Appetizer ...

    LEWAT DJAM MALAM (1954)

    SANG PENARI

    SNOW WHITE AND THE HUNTSMAN (2012)

    SOEGIJA (2012)

    DI TIMUR MATAHARI (2012)

    Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009 Juni 2012 Juli 2012 September 2012







    Jumat, 31 Oktober 2008
    PEREMPUAN PUNYA CERITA

    Cerita Pulau, Cerita Yogyakarta, Cerita Cibinong dan Cerita Jakarta. Empat cerita tersebut disajikan secara terpisah dan masing-masing berdiri sendiri tanpa ada kaitannya sama sekali namun tetap tergabung dan berdasarkan satu tema utama yaitu tentang perempuan (di Indonesia). Dan jadilah judulnya Perempuan punya Cerita (Chants of Lotus).

    Disutradarai oleh empat sutradara wanita yaitu Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony. Film ini mengisahkan tentang berbagai macam masalah yang kerap dialami oleh perempuan-perempuan di Indonesia.

    Kisah pelecehan seksual dan perkosaan yang terjadi di Kepulauan Seribu serta praktek aborsi oleh seorang Bidan yang kemudian di vonis menderita kanker payudara ada di Cerita Pulau. Rieke Diah Pitaloka yang bermain sebagai bidan Sumantri bermain cukup apik dan berhasil lepas dari sosok Oneng yang selama ini melekat padanya. Rachel Maryam juga berakting baik saat memerankan karakter gadis yang terbelakang mentalnya. Kisah klasik aborsi, perkosaan dan permohonan maaf melalui uang memang banyak menjadi dilema di negeri ini. Ketidakberdayaan dan ketidakmampuan ekonomi kerap membuat perempuan berada di pihak yang kalah.

    Setting Kepulauan Seribu yang indah ditampilkan melalui komposisi dan angle-angle pengambilan gambar yang pas. Riak dan pantulan air laut, sepeda, perahu dan lainnya mengawali cerita film ini dan membuat film ini terasa semakin menarik.

    Cerita Yogyakarta cukup membuat kita terhenyak dengan adanya realita seks bebas di kalangan pelajar kota besar seperti Yogyakarta dan mungkin di semua kota besar lainnya di Indonesia. Kirana Larasati sebagai tokoh utama yang masih berseragam abu-abu tampak bermain natural. Fauzi Baadilah yang berperan sebagai Jay, wartawan Jakarta yang menyamar jadi mahasiswa juga sedikit berbeda dengan peran-peran dia sebelumnya. Belia, dewasa tapi lugu. Itu mungkin kesan tentang kisah ini. Usia belia namun berperilaku seperti orang-orang dewasa karena menjadikan seks sebagai kebutuhan hidupnya namun juga lugu karena toh sebenarnya mereka masih polos dan kadang konyol. Misalnya saat mitos tentang nanas dan sprite yang bisa buat menggugurkan kandungan. Padahal mereka sehari-hari gemar berinternet ria. Rupanya kemudahan teknologi bagi kebanyakan orang belum dimanfaatkan buat kebaikan dan mendapatkan pengetahuan.



    Selanjutnya di Cerita Cibinong, Shanty dan Sarah Sechan bermain gemilang. Berkisah tentang Esi (Shanty) yang bekerja di club dangdut. Meninggalkan Saroh, anaknya di rumah dengan pacarnya yang pengangguran. Sampai akhirnya ternyata si Saroh mengalami pelecehan seksual yang membuat Esi syok. Sementara Cicih (Sarah Sechan) adalah seorang penyanyi dangdut yang terobesesi untuk bisa hijrah ke Jakarta dan bermain di club dangdut yang lebih terkenal. Makanya saat bertemu Mansyur yang katanya bisa membuat dia dan Saroh menjadi terkenal di Jakarta dia begitu bersemangat. Cicih tidak sadar kalau sebenarnya Mansyur adalah seorang calo jaringan perdagangan anak. Bahasa dan logat Sunda yang dipakai oleh Esi dan Cicih sangat menarik dan membuat film ini menjadi semakin hidup. Ditunjang juga dengan musik dan penampilan yang “Dangdut banget” khas masyarakat kelas menengah ke bawah.



    Susan Bahtiar di Cerita Jakarta tampil sebagai Laksmi, seorang penderita AIDS yang terlular dari suaminya yang semasa hidupnya pengguna narkoba. Dan cerita sederhana tentang seorang ibu dengan anak perempuannya itu pun berkembang. Stigma dan anggapan yang salah di masyarakat tentang HIV/AIDS mengemuka dan menjadi dilema serta beban yang berlipat buat Laksmi karena selain harus menghadapi penyakitnya dia juga harus menghadapi keluarga dan orang luar yang jauh dari mengerti. Tetap bersama anaknya dan hidup dalam kesusahan atau menyerahkan anaknya ke ibu mertuanya adalah pilihan sulit bagi seorang ibu seperti Laksmi ini.

    Dalam Cerita Jakarta ini, detail-detail interior dan daerah pecinan dalam setting kisah ini berhasil ditampilkan menarik. Warung Chineese Food dengan daging babi yang tergantung, Vihara dengan detail dan warna merah serta emasnya sampai gang kawasan pecinan menjadi lebih istimewa di film ini.

    ==

    Tidak ada bahasa yang menggurui dari semua kisah itu. Semua mengalir begitu saja. Malah sepintas semuanya memperlihatkan ketidakberdayaan perempuan. Kekalahan perempuan Indonesia karena satu dan banyak hal.

    Namun menurutku disitulah Nia DiNata sebagai produser justru tengah membuka mata kita kalau masalah klasik seperti itu ada dan akan selalu ada di sekitar kita. Dengan kesederhanaannya kita diajak merenung dan semakin aware dengan apa yang terjadi.

    Dan yang pasti, teriakan si Cicih di scene terakhir Cerita Cibinong memang benar adanya. Dengan berbahasa Sunda dia berteriak ke Esi, “Aya keneh harepan !” (Masih ada harapan !). Teriakan itu buat saya tidak semata-mata ditujukan kepada Esi agar terus berjuang mendapatkan kembali Saroh anaknya. Tapi juga teriakan buat semua perempuan Indonesia agar terus berharap serta berusaha untuk mendapatkan hak mereka agar menjadi lebih baik.


    | imgar imama |
    Kamis, 16 Oktober 2008
    Mamma Mia!

    Sutradara: Phyllida Lloyd
    Skenario: Catherine Johnson
    Pemain: Meryl Streep, Pierce Brosnan, Collin Firth, dll.
    Masa putar: 108 menit
    Tahun: 2008

    Hey, Anda generasi 80-an, tentu masih ingat dengan baik - seperti saya - grup band asal Swedia, ABBA. Grup yang terdiri dari 2 orang cowok dan 2 orang cewek blonde ini sempat sangat ngetop ke seantero jagat pada era 70 dan 80-an. Lagu-lagu mereka yang berirama pop selama kurun waktu itu sangat digemari oleh generasi muda dunia, tak terkecuali Indonesia. Keempat anggotanya, Benny Anderson, Bjorn Ulvaeus, Anni-Frid Lyngstad, dan Agnetha Faltskog ini menamakan kelompok band mereka ABBA yang merupakan singkatan nama keempatnya (Anni, Bjorn, Benny, Agnetha). Merentang waktu sepuluh tahun (1972-1982), lagu-lagu hits mereka bercokol di anak tangga teratas radio-radio di Eropa dan Amerika Serika. Sebagaimana grup band lainnya, ABBA juga melakukan tur ke seluruh dunia, membawakan tembang-tembang legendarisnya, seperti : "Dancing Queen", "Chiquitita", "Fernando", "Waterloo", "Ring Ring", "Mamma Mia", dan masih banyak lagi.

    Pada 1997, untuk pertama kalinya digelar sebuah pentas musikal bertajuk Mamma Mia! yang kemudian mengilhami Chaterine Johnson untuk menuliskan naskah bagi versi layar lebarnya yang akhirnya tayang sepuluh tahun kemudian di bawah arahan sutradara kelahiran Inggris, Phyllida Christian Lloyd, dalam bentuk komedi musikal. Film yang dibintangi antara lain oleh aktris gaek peraih Oscar, Meryl Streep ini seluruhnya memuat 22 buah lagu kelompok band tersebut.

    Cerita filmnya sendiri bukan tentang grup musik ABBA dan para personelnya. Kisahnya sederhana saja, ihwal seorang perempuan paruh baya, Donna Sheridan (Meryl Streep) yang pernah memiliki tiga orang kekasih di masa lalunya. Dari hubungan percintaan tersebut, Donna hamil dan melahirkan seorang putri cantik, Sophie (Amanda Seyfried). Celakanya, Donna tidak tahu persis oleh siapa dia hamil. Dengan kata lain, Donna tidak tahu siapa dari ketiga pria yang mencintainya yang berhak menjadi ayah kandung Sophie.

    Sejatinya, Donna tak pernah mempersoalkan hal tersebut hingga tiba hari pernikahan Sophie. Putrinya yang baru berusia 20 tahun itu, telah secara diam-diam mengundang ketiga pria dari masa lalu Donna : Sam Carmichael (Pierce Brosnan), Harry Bright (Collin Firtf), dan Bill Anderson (Stellan Skarsgard). Tak urung, kemunculan tiba-tiba ketiga lelaki yang kini sudah sama-sama menua itu,mengejutkan Donna dan mengusik ketenangan hidupnya yang selama ini dia jalani berdua putrinya sebagai pengelola hotel di sebuah pulau cantik di Yunani. Donna bertambah pusing saat ketiga mantan pacarnya itu sama-sama mengaku sebagai ayah kandung Sophie.

    Sebagai sebuah film komedi musikal, peran musik dan lagu di film ini bukan sekadar tempelan atau ilustrasi, tetapi menjadi salah satu unsur yang menyatu dalam cerita. Seperti opera, gitu loh. Lagu-lagu menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan film. Tentu saja seluruhnya merupakan lagu-lagu dari album ABBA yang, kerennya lagi, dinyanyikan oleh para pemainnya, termasuk Meryl Streep dan Pierce Brosnan. Hampir di sepanjang pertunjukan, saya beserta penonton di kiri-kanan saya, ikut bersenandung melantunkan lagu-lagu kenangan tersebut. Begitu juga penonton di kursi belakang saya. Ah, rasanya jadi seperti sedang bernostalgia 80-an :)

    Sebagaimana biasa, Meryl Streep kali inipun menunjukkan kepaiawaian aktingnya sebagai Donna Sheridan. Ia menyanyi dan menari layaknya seorang "dancing queen", ratu di sebuah pesta dansa remaja. Demikian pula sang James Bond, Pierce Brosnan. Vokalnya yang berat, cocok-cocok saja dengan lagu "S.O.S" dan "I Do I Do I Do I Do".

    Film komedi bermasa putar 108 menit ini, benar-benar menghibur. Selain lagu-lagunya yang sudah akrab di telinga, juga lantaran dialog dan adegan-adegannya, meski beberapa ada juga yang dipaksakan sehingga terjerumus jadi slapstick. Namun, secara keseluruhan, Mamma Mia! menyuguhkan sebuah komedi segar yang membangkitkan kembali kenangan masa remaja mereka yang pernah mengenal dengan intim lagu-lagu ABBA itu.

    Sambil menuju pintu keluar, beberapa penonton, termasuk saya, lamat-lamat masih menyenandungkan "Dancing Queen" : You are the dancing queen, young and sweet, only seventeen......"