blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Emak Ingin Naik Haji

    Inkheart

    The Boy in the Striped Pajamas

    The Reader

    Jamila dan sang Presiden

    Lonely Hearts

    Vicky Cristina Barcelona

    Slumdog Millionaire

    The Curios Case of Benjamin Button

    Taxi Driver





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 November 2009







    Sabtu, 30 Juni 2007
    AFTER THIS OUR EXILE

    Sutradara: Patrick Tam
    Cast: Aaron Kwok, Charlie Yeung, Ian Iskandar Gouw, Kelly Lin, dll
    Produksi: 2006, DVD: 2007



    HILANGNYA KEINDAHAN MASA KANAK-KANAK



    Setelah dunia perfilman Hong Kong mengalami masa-masa suram, film yang diproduksi para sineas Hong Kong kontan berubah. Sekarang, jika kita menonton film Hong Kong, kita akan menemukan film-film yang digarap lebih baik, dengan cerita yang lebih bagus dan beberapa di antaranya hadir dengan sangat mengesankan. Salah satu di antaranya adalah After This Our Exile, sebuah film drama terpuji dengan nilai artistik yang tinggi. Film yang diedarkan Desember 2006 dan pada tahun 2007 ditabalkan sebagai Film Terbaik Golden Horse Award ke-43 menganugerahkan Best Actor untuk Aaron Kwok dan Best Supporting Actor untuk aktor anak-anak keturunan Indonesia, Ian Iskandar Gouw (Ng King-to). Selain tampil di beberapa festival film dunia, film ini juga mendapatkan penghargaan sebagai Film Asia Terbaik dari Tokyo International Film Festival.

    Setelah menikah dan memiliki satu anak laki-laki, Chow Cheung-sheng (Aaron Kwok), menjadi seorang lelaki berangasan yang senang berjudi. Hal ini membuat jera istrinya, Lee Yuk-lin (Charlie Yeung). Lee Yuk-lin berniat meninggalkan keluarga untuk memperbaiki hidupnya sendiri dan menerima pinangan seorang lelaki lain (juga diperankan Aaron Kwok dalam versi modis).

    Saat pertama kali mencoba minggat, ketahuan Lok Yun (Ian Iskandar Gouw) -anaknya, yang segera melaporkan kepada ayahnya. Maksudnya tentu saja untuk mencegah ibunya pergi. Niat istrinya ini membuat kemarahan Chow Cheung-sheng menjulang. Kali ini, dengan menggunakan sedikit kekerasan fisik, ia berhasil mencegah istrinya pergi.

    Tapi Lee Yuk-lin yang telah menemukan tambatan hati lain ini tetap mencari kesempatan, dan ketika kesempatan datang, ia menghilang selamanya dari kehidupan suami dan anaknya.

    Utang judi membuat Chow Cheung-sheng memutuskan untuk meninggalkan rumahnya. Ia kehilangan pekerjaan dan dikejar-kejar debt-collector. Saat bingung tak punya uang, ia memaksa Lok Yun untuk mencuri. Lok Yun memang sudah pernah mencuri arloji milik ayah teman sekolahnya, secara impulsif, gara-gara tidak bisa bayar langganan bis sekolah. Tindakan pencurian yang tak direncanakan itu telah membuat Lok Yun merasa ketakutan dan sangat berdosa. Makanya ia tak bisa melakukan pencurian sesuai suruhan ayahnya. Tapi karena dipaksa, ia menyusup ke rumah orang, kepergok, dan dipukuli habis-habisan. Ayahnya meninggalkannya dalam keadaan hampir mati dan membiarkan ia digiring ke pusat rehabilitasi anak-anak nakal.

    Sesungguhnya Lok Yun sangat mencintai ayahnya. Tapi ia tidak bisa memahami tindakan ayahnya, menyiksa ibunya dan terakhir memaksanya untuk mencuri. Ketika ayahnya mengunjunginya di pusat rehabilitasi, ia tidak menanggapi semua perkataan ayahnya yang penuh penyesalan. Ia hanya sekali memandang wajah ayahnya, kemudian menunduk. Saat akhirnya ia benar-benar mengangkat kepalanya, ia melakukan sesuatu yang tidak akan ia, juga ayahnya, lupakan seumur hidup.

    Mungkin film ini tidak akan menjadi favorit semua penonton, apalagi untuk penonton yang lebih suka film aksi atau genre film lain yang mengandalkan efek-efek khusus. Tapi akan menjadi kesayangan penonton yang menyukai drama-drama kehidupan yang lirih, membumi dan berkualitas. Jenis kehidupan yang ditawarkan dalam film ini sama sekali tidak asing, bisa saja terjadi dalam kehidupan kita, atau kehidupan tetangga kita, atau kehidupan orang lain yang kita kenal.

    Performa Aaron Kwok sebagai lelaki berangasan yang sama sekali jauh berbeda dengan penampilan-penampilannya sebagai pretty boy pada masa kejayaan perfilman Hong Kong, terkesan sangat kuat dan hidup. Pada beberapa adegan aktingnya terasa sangat menjengkelkan, memuakkan, tapi juga mendatangkan rasa iba, apalagi didukung oleh gestur dan ekspresi wajah yang pas. Tak heran, berkat perannya ini, lagi-lagi, setelah tahun sebelumnya menggondol Best Actor, ia memperoleh penghargaan yang sama dari Golden Horse Award.

    Ian Iskandar Gouw, tidak saja berparas manis dan tanpa dosa. Tapi penampilannya sangat bagus dan memiliki kadar penjiwaan yang menyentuh hati. Ekspresi wajah untuk melukiskan perasaannya kerap membuat saya berkaca-kaca. Penghargaan Golden Horse Award -sebagai aktor termuda yang pernah meraih penghargaan dalam sejarah Golden Horse Award- untuk dirinya benar-benar sangat layak.

    Kerja keras sang sutradara, Patrick Tam, untuk menghasilkan film yang rupanya menggunakan seting sebuah tempat di Malaysia ini tentu saja tidak bisa diabaikan. Sayangnya, ia belum mendapatkan penghargaan apa-apa. Agak aneh sebenarnya, meski sering terjadi di berbagai festival film, film dikukuhkan sebagai film terbaik, tapi sutradaranya tidak.


    Kembali ke film....

    Sepuluh tahun kemudian, setelah terakhir bertemu, Lok Yun telah tumbuh remaja (Tsui Ting Yau). Ia ingin membenahi kekeliruan yang pernah ia lakukan di masa kanak-kanak. Ketika ia berdiri di pinggir sebuah danau, tempat ia pernah melihat bintang-bintang di langit dengan ayahnya suatu ketika di masa kecilnya, ia melihat ayahnya sedang berjalan-jalan di seberang danau dengan seorang perempuan yang tengah hamil. Ayahnya memang telah menikah lagi.

    Ia hanya memandang ayahnya dari kejauhan. Dan tak tertahankan lagi, matanya berkaca-kaca. Jalan kehidupan mereka telah berbeda, sejak malam menakutkan itu, ketika cinta pada ayahnya bertempur dengan kata hatinya yang sebening kaca, dan ia kehilangan keindahan masa kanak-kanaknya.

    Label: ,

    Kamis, 28 Juni 2007
    Malang Benar Nasibmu, Arie!

    Judul : Arie Hanggara
    Sutradara : Frank Rorimpandey
    Pemain : Deddy Mizwar, Yan Cherry Budiono, Joice Erna, dll.
    Skenario : Arswendo Atmowiloto
    Produksi : PT Manggala Perkasa Film & Tobali Indah Film
    Tahun : 1985





    Film Arie Hanggara
    (1985) yang disutradarai Frank Rorimpandey, menurut data yang ditulis di belakang CD-nya, adalah kisah yang diputar dengan sorot balik. Maksudnya, prosesi penguburan dan pengadilan bapaknya si Ari dulu ditampilkan, baru menyusul cerita bagaimana rangsang penyiksaan Ari lewat adegan rekonstruksi.

    Tahu apa yang terjadi saat saya menonton film itu sewaktu saya duduk di kelas dua SD di bioskop tua kampung saya terjauh sana? Saya nyaris tak menikmati film ini. Maksudnya menangis ria berjamaah bersama penonton yang lainnya. Saya bingung dan kebingungan itu terus mengganjal di setiap pergantian rol. Saya menggerutu jangan-jangan pembawa rol film ini—yang biasanya naik film jenis enduro kayak motor balapan—salah ngambil karena pingin cepat-cepat atau ceroboh. Soalnya, mosok dikubur mati dulu baru ada penyiksaan. Yang benar kan ya disiksa dulu baru mati. Iya kan?

    Hingga saya dapatkan CD film ini di Glodok Jakarta di sebuah kios penjual khusus CD-CD film jadul Indonesia (kios itu kini sudah raib dan diganti kios film-film pendek atau sekeping). Di situlah baru saya tahu bahwa ada yang namanya alur sorot balik. Jadi saudara, sampai umur saya 27 tahun saya terus dibuntuti kebingungan. Katrok nggak itu.

    Padahal kata orang-orang ahli, film yang diproduksi pada 1985 ini bagus. Buktinya aktor terbaik untuk Piala Citra FFI 1985 disabet Dedy Mizwar yang berperan sebagai Tino Ridwan, ayah Arie Hanggara. Untuk musik yang digarap Idris Sardi dan skenario yang ditulis Arswendo Atmowiloto juga dapat Citra. Sementara pada Piala Kartini 1986 penghargaan untuk Pemeran Anak-Anak Terbaik jatuh di tangan Yan Cherry Budiono yang berperan sebagai Arie Hanggara.

    Film ini diambil dari kisah nyata setelah warga Jakarta dihebohkan kasus meninggalnya seorang bocah 8 tahun akibat penyiksaan orang tuanya. Media massa meliput penuh gempita kabar ini. Wajar kemudian ketika difilmkan, Arie Hanggara menjadi film juara satu untuk penonton terbanyak. Menurut data Perfin pada 1986, penonton Arie Hanggara sekira 382.708.

    Film ini memang menguras airmata—walau pertama kali nonton saya tidak. Berkisah tentang seorang penganggur kelas berat bernama Tino Ridwan (Deddy Mizwar). Bangun selalu siang, tukang janji kelas kakap, dan pembuat anak yang kuat. Sampai-sampai saudara dari pihak istrinya menggunjinginya sebagai pejantan yang hanya kuat membuat anak. Bayangkan anak-anaknya Cuma selisih setahun. Selama lima tahun pekerjaan utama istrinya adalah bunting.

    Karena tak punya kerjaan dan disertai dengan jaim yang tinggi, sementara Jakarta meminta terlalu banyak, bersiteganglah si Tino ini dengan istrinya. Sang istri kembali ke Depok dan Tino menitipkan anak-anaknya ke rumah neneknya untuk kemudian diambil lagi sewaktu dia sudah hidup bersama dengan pacarnya, Santi (Joice Erna). Ceritanya dua orang ini kumpul kebo.

    Di rumah kontrakan kecil ini hiduplah lima orang manusia. Tino dan Santi serta tiga anak Tino dari istri pertamanya: Anggi (tertua), Arie, dan Andi (si kecil).

    Dasar memang laki-laki bergaya parlente, jaim tinggi, dan ngomongnya selalu muluk-muluk kayak pegawai kantoran bergaji tinggi, dia cuma lantang-lantung aja di rumah. Untung Santi memiliki pekerjaan. Untuk menopang kegengsiannya, uang Santi pun dibelikannya mobil rombengan dengan tangan tetap menengadah untuk beli bensin dan onderdil. Lama-lama Santi sebel juga punya pacar seperti ini. Kalau Santi lagi menghitung penghasilannya di meja makan, si Tino ini uring-uringan saja di samping Santi sambil nunggu uang sisa.

    Si Tino sadar betul dengan profesinya sebagai penganggur. Tapi bagaimana lagi. Dia kan malu. Teman-temannya sudah bekerja semua. Tak kuat nanggapi omelan pacarnya, dia pun sehabis ngantar istri ke kantor, dia lamar kerja di sana dan di sini. Tapi nggak dapat-dapat juga. Teman-teman dihubungi, tapi semuanya menolak. Padahal di rumah rokoknya terus mengebul dan omongannya juga besar.

    Heh, apa nggak stres begini. Pacar udah mulai cerewet, kerja nggak ketemu juga, anak-anak di rumah kian bandel saja. Si Tino selalu menetapkan aturan yang keras kepada anaknya. Apa saja harus diatur. Tapi Arie Hanggara, si anak kedua ini, selalu membandel dengan aturan ini. Wajah si Yan Cherry Budiono yang memerankan Arie ini memang wajah memelas. Sosoknya pendiam. Tapi diamnya Arie adalah diam yang meresahkan Tino.

    Tino si penganggur heroik ini sebetulnya sayang juga sama anak ini. Santi juga nggak kejam-kejam amat. Namun itu tadi dia mulai cerewet dan nyindir-nyindir Tino atas kenakalan anak-anak yang diproduksinya dengan seksama. Lama-lama dia mulai jengkel, terutama kepada Arie. Mula-mula kalau semuanya berkumpul di meja makan malam hari, Tino tak sudah-sudah memperingati dan memaklumkan aturan supaya jangan nakal dan jangan nakal.

    Eh, Arie Hanggara tetap membandel dengan aturan itu. Awal dipukuli, si Arie ini masih mengaduh, tapi lama-lama anak ini menjadi adiktif dan seperti meminta untuk dihukum. Apalagi sehabis penghukuman, bersenandung instrumentalia murung Idris Sardi menemani Arie belajar dalam gelap.

    Lantaran takut melanggar, Arie sering berbohong. Dipukul lagi. Sampai-sampai kepala sekolah Arie, Bu Khodijah (Mien Brodjo), marah besar, geram dengan si Tino penganggur melihat wajah Arie lebam2 karena ditampar....

    Berkali-kali si ibu kepsek ini memperingati si Tino jangan terlalu jaga gengsi yang pada akhirnya menghancurkan anak sendiri. Tapi dasar si Tino... no no... pengangggur katrok. Nggak mudeng-mudeng. Gengsinya aja tinggi, kantongnya cekak. Dia itu jalannya petentang-petenteng. Anak-nya tahu bahwa dia itu bos... Lha setiap pagi ngantar pacarnya ke kantor dengan pantolan necis, bersih, dan bekas setrika yg lancip-lancip. Tak tahunya ia itu sopir pribadi si Santi...

    Di sekolah, si Ari jadi pendiam, asosial, dan jadi senang ngincar dompet teman-temannya. Ya, kayak si Nagabonar satu-lah. Nggak jauh-jauh. Maka jadi bulan-bulananlah dia. Kena gampar, tubuh tripleksnya terlempar-lempar.

    Peran si Santi di sini tidak seperti ibu tiri yang dipandang sebagai iblis. Tak tega juga dia lihat Arie dipukuli si Tino penganggur darurat ini di hadapannya. Dia tak keras-keras amat. Hanya bebebrapa kali menggertak, menjambak, dan juga memukul... hehhehe sama saja ya.

    Karena merasa “sakit prilaku” Arie sudah tak bisa diobati di sekolah SD Negeri, Tino pun berencana membawa si Ari ke pesanntren di Jawa Timur. Nggak disebut sih apa ke pesantren Tebu Ireng di Jombang atau Tambak Beras tempatnya para gus itu bernaung dan bersarung....

    Tapi sayang sebelum dia dibawa ke pesantren, dia harus melakukan kesalahan lagi. Tapi kali ini kesalahan kakaknya. Tapi Arie ngaku bahwa dialah yang melakukannya. Ini anak memang sudah adiktif dengan pukulan. Bahkan dia minta digantung saja atau tangan diikat saja supaya tak nakal lagi. Itu kata-kata si Arie sendiri. Coba, mau bilang apa kalau sudah begini.

    Saat kedua tangan dan kedua kaki si Arie diikat Tino, Santi kaget sekali. Arie, Arie kasihan amat lu jadi anak. Tapi gimana lagi cara menghadapi Tino si penganggur itu yang selera olahraganya sangat tinggi, seperti boling.

    Adegan kaki dan tangan Arie diikat itulah yang selalu saya dan orang-orang yang pernah menonton Arie Hanggara selalu terkenang. Sementara Arie diikat, dua saudaranya yang lain memberinya makan diam-diam.

    Saat sore, Arie sudah dimaafkan Tino. Tali dilepas. Tino bertanya: "Tahu kenapa Arie mau dimasukkan ke pesantren?” Arie dengan enteng menjawab: "Tahuuuu. Karna Arie suka nakal, suka mencuri, berbohong, suka mencuri lagi, sekali lagi, sekali lagi... mencuri lagi mencuri terusssss."

    Tugas Arie di hari kedua sebelum kematian adalah mbersihin kamar mandi. Tapi Arie malas-malasan. Namanya saja anak kecil, ya dia mainlah kerjanya di kamar mandi. Main percik-percik air. Kan asyik tuh. Uh, marahnya ini pendekar penganggur. Arie dipanggil. Arie maju ke hadapannya. Ndongak. Seperti nantang. Bergeraklah tangan si Tino penganggur ini ke pantat. Pukulan kayak gini enteng aja bagi Arie. Dihukumlah anak ini berdiri jongok. Disuruh ngitung 300-an kali.

    Saat-saat menjalani hukuman begini, melintas musik sedih Idris Sardi yang mengalunkan senandung yang bisa-bisa meruntuhkan bendungan mata airmata. Kakak dan adiknya melihat Arie yang terhuyung-huyung ngantuk sambil memeluk lutut di lantai menjalani hukuman yang mestinya tak boleh ditanggungnya. Ia tak boleh makan, adik dan kakaknyalah yang diam-diam memberinya biskuit. Tatkala mereka menawarkan diri memberi Arie minum, Arie menolak. Dan malapetaka itu pun terjadi.

    Pada 7 November 1984, si Tino pengangguran ini ketemu teman-temannya penjudi dan pemabuk. Maklum frustrasi ndaftar kerja, nggak dapet-dapet, mendaratlah dia di sini. Apa boleh buat. Frustrasi betul ia. Nggak ada kerjaan, istri sering ngomel karena jobless-nya ini, dan Arie tetap saja tak mau tunduk aturan...

    Si Santi pada malam malapetaka dan besoknya Arie dan Tino akan berangkat ke Jatim itu masih manis menasihati Arie untuk minta maaf saja sama si Tino penganggur dan sekarang pemabuk itu. Tapi Arie tak melakukannya, malah dibilangnya sama ibu tirinya itu, dia lebih baik dihukum terus saja. Maka menyambarlah tangan si Santi yang mendorong Arie ke dinding. Nggak sampe jatuh kok.

    "Arie, besok kita akan berangkat. Sekali ini Papa minta agar Arie jadi anak yang baik. Nah, malam ini Papa ingin melihat Arie minta maaf sama Papa dan Mama," pinta Tino sepulang dari mabok di malam jahanam itu.

    Namun apa jawabnya? "Pukul Arie sajalah, Pa. Arie kan nakal," katanya sambil garuk-garuk kepala. Coba, sudah pulang membawa sisa mabok, menghadapi anak yang dikira malam itu baik, eh malah minta dipukulin.

    "Ariiiii!" uh gusarnya si Tino ini. Disuruh berdiri jongkok sambil ngitung pun, Arie tetap saja membandel. Coba dengar caranya mengitung: "Satu lagi, dua lagi, tiga lagi, empat lagi....20 lagi... 30 lagi... 100 lagi... 200 lagi... 300 lagi"

    Tino berdiri dan menggampar pantat kecil anak malang ini. "Yang benar, Arie!" raungnya sementara Santi duduk sambil menjahit di ruang makan... Mata Arie yang lebam kebiruan memandang sendu bapaknya. Tak tahan memandang mata anak itu, diambilnya tongkat sapu. Diganyangnya pantat itu dengan pukulan bertalu-talu. Menjeritlah Santi melihat ulah si Tino yang nggak ketulungan ini. Anak ini nggak mau lagi menangis. Menatap bapaknya dengan sangat tajam, tapi raut wajah dingin yang mengerikan. Lalu dengan kesal dan kalap satu tamparan keras menghantam pipi kiri Arie dan terjungkallah ia ke lantai. Belum mati. Lalu si Tino memberinya air minum. Arie tetap di dekat tembok menjalani hukuman. Mereka sempat pelukan dan suara Tino sudah mengendur. Mungkin capek menghadapi sikap Arie yang dingin, patuh, tapi kepatuhan yang melawan. Dan Arie minta minum lagi. Tapi Tino mengancam, setelah dia diberi minum, nggak boleh lagi minum tanpa seizinnya. Arie pun dengan datar berjanji untuk tak minum lagi.

    Mungkin karena jiwa anak ini sudah mau bunuh diri di tangan ayahnya sendiri, dia melanggar lagi sabda si penganggur ini. Dia mengambil air minum, tapi gesekan gelasnya di dengar oleh Tino. Tino bangun dan lupa bahwa mereka besok mau ke pesantren. Dia kalap. Arie, anak malang ini, harus menjadi santapan kemarahan jam dua dini hari itu. Tak ada teriakan. Tak ada rintihan. Tak ada apapun keluar dari mulut anak yang sudah mencium bau kematian sejak 6 November ini yang bahkan satu jam sebelum kematiannya dia sudah berpesan kepada dua saudaranya bahwa ia akan pergi dengan sangat jauh. Arie terjatuh di lantai. Paniknya Tino dan Santi subuh itu melihat anak itu dan membawanya ke RS dalam kondisi yang sebetulnya sudah tak bernyawa.

    Ada raut sesal berkecamuk di hati Tino. Matanya bersimbah airmata melihat Arie terbujur kaku di atas ranjang roda berkain putih yang ditarik perawat putih-putih menuju dunia putihnya. Tapi apa boleh buat. Arie sudah tiada. Arie, si anak malang yang sudah mencium bau kematiannya itu meninggal di dinding penghukumannya. Huh... apa nggak nangis melihat adegan ini. Lalu musik pilu itu mengalun dan bergetar.

    Lalu koran-koran ibukota terbit sore pun menulis dengan besar di halaman depan kematian tragis bocah malang Arie Hanggara. Arie adalah korban dari perceraian orang tuanya. Nah, adegan di RS ketika Tino, Santi, dan istri pertamanya bertemu. Di situ ada juga ibu kepsek, Khodijah. Tino dan istri pertamanya bertengkar. Saya ingat betul kata-kata ibu kepsek ini yang disampaikan dengan derai airmata: "Kenapa kalian bertengkar. Apa kalau bertengkar bisa menghidupkan kembali Arie. Buat apa... buat apa...Kematian Arie karena ulah kalian semua. Semasa dia hidup kalian bertengkar dan bahkan ketika dia membujur jadi jenazah kalian masih juga bertengkar. Di mana perasaan dan naluri kalian sebagai orangtua kandung Arie. Apa nggak bisa kalian berdamai sejenak untuk melepasnya."

    Mata Tino setelah itu sembab. Mata Tina si ibu kandung juga sembab, mata Santi si ibu tiri juga sembab, mata ibu kepala sekolah nggak usah dibilang, mata bapaknya si Frengki (Zainal Abidin) yang teman Arie juga memerah. Termasuk matanya Gus Muh juga berkaca dengan hidung mengisak selumer cairan (yang ini kemungkinan tertulari flu si Zen Rahmat Soegito yang sudah dua minggu nggak sembuh2 dan menyebarkan virus buruk itu kepada orang seisi kantor).

    Saya memang terpaku. Memori dihantar melintas bertahun-tahun silam di mana waktu kejadian ini saya masih kelas tiga SD Inpres. Walau di layar sudah ada keterangan bahwa film mau berhenti, saya belum mau beranjak. Bukan karena terlalu dilamun sedih, tapi memikirkan apa yang mesti ditulis setelah nonton film ini yang dipagari oleh aturan, jangan sampai nulis kayak resensi film di Kompas dan Tempo.

    Sekaligus saya sedang berenung, apa tak baiknya tanggal 8 November (1984) yang merupakan tanggal kematian Ari Hanggara diperingati sebagai Hari Perlindungan Anak dari petaka kekerasan. Bagaimana pun kematian Ari Hanggara adalah patok bagaimana anak-anak dianiaya dan tak bisa melawan kebrutalan orang-orang dewasa.

    Muhidin M. Dahlan
    Cross posting dari Bioskop Sebelah

    Label:

    Le temps qui reste (Time to Leave, 2005)

    Sutradara: François Ozon
    Pemain: Melvil Poupaud, Jeanne Moreau, Christian Sengewald, dll


    Ketika sedang melakukan pemotretan fesyen, Romain pingsan. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan jika fotografer ini mengidap kanker. Usianya tidak lagi bisa dipastikan, cepat atau lambat ia akan menemui ajal. Kemoterapi untuk memperpanjang usia tidak menjadi pilihan yang menarik buat Romain.

    Sayangnya, di dalam penantian kedatangan maut, ia tidak bisa terbuka kepada keluarganya, bahkan juga kekasihnya. Seolah tidak ingin membagi kesedihan, ia malah bertengkar dengan Sophie, adiknya, dan memutuskan hubungannya dengan Sasha, sang kekasih.

    Hanya kepada neneknya ia bersikap jujur. Alasannya, seperti dirinya, neneknya juga sebentar lagi akan menghadapi hal yang sama dengannya: kematian. Walau sangat menyayangi neneknya, harapan neneknya supaya ia menjalankan kemoterapi tetap tidak digubrisnya.

    Dalam perjalanan pergi-pulang ke pedesaan menemui neneknya, ia singgah di sebuah restoran milik sepasang suami istri muda. Si suami adalah seorang lelaki steril, padahal keluarga ini mendambakan kehadiran anak. Mereka menawarkan uang buat Romain jika ia bersedia memberikan anak bagi mereka.

    Romain menolak gagasan suami-istri ini. Mereka tidak tahu, Romain seorang gay. Tidak mungkin ia berhubungan dengan seorang perempuan. Apalagi mempunyai anak. Ia bukan tipe lelaki yang menyukai anak kecil.

    Tapi, ketika Romain melihat jam kehidupannya makin berkurang, ia menemui suami-istri itu. Ia bersedia menjadi ‘ayah’ untuk anak yang akan menjadi milik mereka.

    Apa sesungguhnya yang membuat ia mengubah pikirannya? Satu saja. Ia ingin mewariskan kekayaannya untuk anak yang tidak akan pernah dilihatnya.

    Le temps qui reste (Time to Leave) adalah sebuah film bernuansa muram karya sutradara Prancis François Ozon. Sebelumnya ia pernah mengarahkan film seperti Under the Sand (2000) dan Swimming Pool (2003) yang dibintangi aktris Charlotte Rampling. Dalam film ini, ia akan menuntun penonton ke dalam suasana hati yang suram dari si karakter utama, Romain. Dari seorang fotografer terkenal yang aktif dan gesit, lalu berubah menjadi lelaki depresi yang gentar menghadapi beratnya kenyataan. Perubahan suasana hatinya begitu terasa sehingga mempengaruhi penonton (baca: saya). Melvil Poupaud pemeran Romain menampilkan perfoma yang memikat sehingga layak jika ia mendapat penghargaan sebagai aktor terbaik, yang antara lain diperolehnya dari Vallaoud International Film Festival. Dari seorang lelaki sehat bermetamorfosis menjadi lelaki sakit tergambar dengan baik, terutama dari tubuh yang berubah ringkih dan gestur yang menjadi lebih loyo.

    Tema penyakit yang mencabut kehidupan manusia sudah banyak digarap oleh para sineas dari berbagai negara. Mungkin karenanya, penulis cerita memberi sentuhan yang agak berbeda. Romain digambarkan sebagai lelaki gay yang hidup seapartemen dengan kekasihnya, Sasha. Hubungan mereka diketahui dan sudah dianggap biasa oleh keluarganya. Selain itu film ini tidak memberikan akhir yang melegakan. Permasalahan Romain dengan adiknya, tidak diselesaikan secara sempurna. Demikian juga hubungannya dengan Sasha. Setelah diputuskan, meski tetap mau menemui Romain, Sasha tidak menginginkan Romain lagi, ia menolak tawaran bercinta terakhir kali dari mantan teman hidupnya ini. Mungkin akan berbeda jika Sasha mengetahui apa sebenarnya yang membuat Romain menyakiti hatinya.

    Tapi di sinilah film ini memberi sengatan. Sampai debur ombak di penghujung film menghilang dari pendengaran, saya masih tetap merasakan dua perasaan yang mengendap: kesunyian dan kesepian. Persis seperti yang dirasakan Romain.

    Nikmati adegan ending yang terjadi di sebuah pantai:

    Senja menjelang, turun diam-diam. Semua orang di pantai itu mengangkat matras dan perlengkapan yang mereka bawa. Semua meninggalkan pantai. Mentari pelan-pelan tercelup ke dalam lautan, menyisakan sinar di tubuh Romain yang terkapar di atas sehelai handuk. Lalu tampak siluet tubuhnya, kaku bergeming.

    Dan terdengar debur ombak. Sunyi. Dan sepi.

    Rabu, 27 Juni 2007
    About Schmidt (2002)

    Sutradara Alexander Payne
    Skenario Alexander Payne (berdasarkan novel Louis Begley)
    Pemain Jack Nicholson dll.
    Tahun produksi : 2002



    Pernah tidak kalian sambil iseng membayang-bayangkan bagaimana kehidupan kita jika telah pensiun nanti? Saya pernah tuh. Bayangan saya agak mirip dengan yang dialami NH.Dini sekarang. Saya baca riwayat singkatnya di Kompas beberapa waktu lalu. Ia, NH.Dini, novelis terkenal itu, di masa pensiunnya memilih tinggal di sebuah panti jompo di Yogyakarta ketimbang menerima tawaran anak-anaknya untuk tinggal bersama mereka (satu di Kanada dan satunya lagi di Prancis, kalau tidak salah). Dini tidak ingin hari tuanya dihabiskan dengan menjadi beban orang lain, meski itu anak-anaknya sendiri. Menjadi tua untuk sebagian orang adalah sebuah bayangan yang menakutkan mungkin. Kita akan kembali sendiri dan kesepian. Anak-anak semua pergi meninggalkan rumah mencari kehidupannya sendiri. Kadang-kadang bahkan bertahun-tahun kita tidak dapat berjumpa dengan mereka karena beberapa alasan.

    Itulah yang dialami Warren Schmidt (Jack Nicholson) dalam film About Schmidt. Ia baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan asuransi terkenal di Amerika. Tidak lagi bekerja dan harus berdiam sepanjang hari di rumah hanya ditemani isterinya yang setia, Helen (June Squibb), membuatnya merasa amat kesepian. Apalagi tak lama kemudian Helen pun wafat. Sempurnalah kesunyiannya. Putrinya semata wayang, Jeannie (Hope Davis) juga tak bisa lagi tinggal bersamanya sebab telah menikah.

    Diperankan oleh Jack Nicholson, sosok Schmidt tampil nyaris sempurna sebagai lelaki yang kesepian di usia tuanya. Beberapa kali pengambilan gambar secara close up memperlihatkan mimik wajah serta perubahan air muka Schmidt yang menggambarkan perasaan hatinya yang sunyi. Hanya dengan menjentikkan alis matanya atau mengubah gerak bibirnya, kita telah menyaksikan sebuah akting yang memikat dari Nicholson. So, walaupun tokoh Schmidt mendominasi keseluruhan cerita yang bertempo lambat ini , kita tidak dibuat bosan karenanya. Nicholson benar-benar menjadi ruh film ini.

    Kisah yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Louis Begley ini membuat saya termenung, berpikir tentang masa tua saya kelak. Apakah saya juga akan mengalami rasa sepi dan sendiri seperti itu? Sedangkan mereka yang menikah dan punya banyak anak saja merasakan kesunyian itu, apalagi saya ya yang berniat melajang selamanya. Ah...tetapi barangkali saya malah tidak akan pernah sempat mengalami saat itu. Mungkin saja saya mati muda, iya toh? :)




    Selain itu, About Schmidt juga membuat saya jadi tersadar betapa saya selama ini mungkin telah mebiarkan orangtua saya merasa kesepian. Berangkat kerja pagi sekali dan baru kembali ketika mereka telah lelap. Waktu libur, saya lebih memilih menghabiskannya bersama teman-teman ketimbang menemani mereka ngobrol di rumah. Atau kalaupun di rumah saya lebih banyak tidur dan putar film. Alangkah pelitnya saya memberikan waktu bagi mereka. Saya janji deh, selanjutnya saya akan lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka

    Endah Sulwesi

    Label: ,

    BABEL

    Film: Babel
    Sutradara: Alejandro González Inárritu

    Skenario: Guillermo Arriaga

    Ide cerita: Alejandro Gonzáles Inárritu & Guillermo Arriaga

    Pemain: Brad Pitt, Cate Blanchett, Adriana Barraza, Gael Garcia Bernal, Rinko Kikuchi

    Produksi: 2006

    Kisah Sebuah Senapan

    Di Maroko, Richard Jones (Brad Pitt) dan istrinya, Susan (Cate Blanchett) sedang mengikuti tur. Richard memilih tempat ini sebagai tujuan wisata hanya dengan alasan supaya mereka bisa sendiri, jauh dari anak-anak, Debbie (Elle Fanning) dan Mike (Nathan Gamble). Hubungan mereka memang sedang berada di ujung tanduk. Kematian salah satu anak mereka, Sammy, telah menodai ketenangan keluarga, menciptakan jurang di antara mereka.

    Saat bis yang mereka tumpangi melintasi daerah padang pasir dengan bukit-bukit batu, sebuah tembakan dari arah sebuah bukit memecahkan kaca jendela persis di sebelah Susan, dan melukainya. Terjadi kegemparan. Di daerah itu tidak ada rumah sakit dan tidak ada dokter. Sejauh mata memandang, hanya tampak ketandusan bentang alam.


    Yussef (Boubker Ait El Caid) dan abangnya, Ahmed (Said Tarchani) sedang belajar menggunakan senapan yang baru dibeli ayah mereka. Sebenarnya senapan itu dibeli dengan tujuan untuk menembak serigala yang memangsa kambing gembalaan kedua anak Maroko itu. Tapi sambil bermain-main mereka menjadikan sebuah bis yang lagi bergerak di jalan di bawah bukit sebagai sasaran tembak. Tembakan pertama, luncas. Tembakan kedua, bis berhenti. Kedua anak itu meninggalkan lokasi penembakan dengan ketakutan.

    Peristiwa tertembaknya warga Amerika di Maroko ini segera menarik perhatian dunia. Diduga, peristiwa penembakan Susan disebabkan oleh teroris, yang sesungguhnya menurut pemerintah, tidak ada lagi di Maroko.

    Di San Diego, Amerika Serikat, Amelia (Adriana Bazzara), penjaga Debbie dan Mike, sedang kebingungan. Ia mesti pergi ke Meksiko guna menghadiri perkawinan anak lelakinya, tapi tidak mendapatkan orang untuk menjaga kedua anak itu selama ia pergi. Amelia memutuskan membawa kedua anak itu ke Meksiko, dan langsung kembali setelah acara kawin berakhir. Mereka menumpang mobil yang dikemudikan Santiago (Gael Garcia Bernal) untuk perjalanan pergi-pulang Amerika Serikat-Meksiko. Dalam perjalanan pulang ke Amerika Serikat terjadi masalah di perbatasan. Tidak ada surat izin dari orang tua yang membolehkan Debbie dan Mike meninggalkan Amerika Serikat.

    Di Jepang, seorang gadis tunarungu, Chieko Wataya (Rinko Kikuchi), tumbuh liar dalam sebuah single parent family. Ibunya meninggal bunuh diri. Ayahnya, Yasujiro Wataya (Koji Yakusho), tampaknya terus berkubang dalam kesedihan. Chieko melebur dalam aktivitas teman-teman tunarungunya untuk mengusir kesepian, menggoda seorang dokter gigi secara seksual, keluar rumah tanpa mengenakan celana dalam, dan kecewa ketika cowok gebetan pelipur sepi lebih tertarik pada teman sesama tunarungu. Tak tahan ditikam kesepian, ia mengundang Kenji Mamiya (Satoshi Nikaido) -polisi yang pernah mencari ayahnya, datang ke apartemennya. Tujuannya tidak lain untuk memperdaya si polisi dengan keremajaan tubuhnya. Tapi umpannya tidak disambar sang polisi.

    Kisah berseting tiga benua ini - Amerika, Afrika, dan Asia, terdiri atas empat kisah yang dirangkai menjadi satu. Pertama, kisah sebuah keluarga Maroko peternak kambing, dengan tiga anak yang dua di antaranya laki-laki, dan satu di antara dua itu bertabiat nekat dan nakal. Kedua, Richard dan Susan yang menjadi turis di Maroko. Ketiga, Amelia, si penjaga anak berdarah Meksiko beserta kedua anak yang jadi tanggung jawabnya. Keempat, Chieko, si gadis Jepang yang terjebak dalam dunia tunarungunya.

    Begitu film bergulir, hubungan tiga kisah yang pertama segera bisa dipahami. Tapi yang keempat seolah-olah terlepas dari keseluruhan film. Belakangan baru terungkap apa yang menghubungkan kisah keempat tersebut dengan tiga yang lain. Sebuah senapan, itulah yang menjadi pengikat empat kisah dalam film ini yang uniknya para karakternya tidak pernah terperangkap dalam satu adegan.

    Teknik penceritaan yang digunakan Inárritu dalam film ini sebenarnya tidak tergolong baru. Film pertama yang saya tahu menggunakan teknik beberapa kisah berbeda yang kemudian dijalin menjadi satu seperti ini adalah Pulp Fiction garapan Quentin Tarantino. Teknik yang sama juga saya lihat antara lain dalam Crash (sutradara Paul Haggis) dan Antares (sutradara Gotz Spielman). Di Indonesia, Nia Dinata ikut-ikutan menggunakan teknik yang sama dalam Berbagi Suami. Sedangkan film Korea, untuk menyebutkan contoh, belum lama ini saya lihat digunakan sutradara Park Seong-Beom dalam Cheaters (My Girl’s Boy). Dua film Inárritu yang pernah saya tonton sebelumnya juga menggunakan teknik yang sama, yaitu Amores Perros dan 21 Grams. Yang agak membedakan cuma dari segi cerita, dalam Babel, para pelaku keempat kisah yang berhubungan itu tidak pernah dipertemukan dalam satu adegan. Mungkin teknik ini tidak menjadi istimewa lagi karena telah sering digarap, tapi masih tetap menarik perhatian banyak kalangan pencinta film (termasuk saya). Terbukti, juri Oscar meliriknya sebagai calon penerima gelar film terbaik tahun 2007, di samping 6 nominasi lain yaitu untuk penyutradaraan, best supporting actress untuk dua aktris, skenario, editing, dan orginal score (hasil akhir hanya original score dari Gustavo Santaolalla, yang menang). Festival film Cannes memberikan film ini Francois Chalais Award selain sutradara terbaik untuk Inárritu sedangkan Golden Globe menganugerahkan film terbaik untuk kategori drama.

    Secara keseluruhan cerita film ini cukup menarik. Para pemain juga bermain dengan baik dan wajar. Selain bintang Holywood, sesuai cerita, film ini juga menggunakan pemain dari Meksiko, Maroko, dan Jepang. Beberapa pemain dari Maroko bukan merupakan pemain film profesional.


    Sebagai penggemar Cate Blanchett, mau tak mau, saya tetap menyukai perannya di sini, yang mengimbangi performa yang cukup menarik dari Brad Pitt. Yang mengagetkan, selain Adriana Bazzara, Rinko Kikuchi juga dinominasikan untuk menerima Oscar sebagai Best Supporting Actress. Menurut saya permainannya memang bagus, tapi tidak sangat istimewa sehingga mesti masuk nominasi Oscar. Memang dalam film ini Rinko tidak tanggung-tanggung, ia terbilang berani tampil bugil dan menampakkan bagian vitalnya (ahaaa, sori) yang tak mengenakan celana dalam. Mungkin keberanian jenis ini telah berperan pada keputusan juri Oscar mengingat untuk keberanian seperti ini beberapa aktris sempat masuk nominasi Oscar, bahkan ada yang menang. Untuk menyebut contoh, Kate Winslet, Halle Berry, Julianne Moore, Hilary Swank, dan Holly Hunter.

    Selain akting para pemain, penonton juga akan diajak mengintip gaya pernikahan tradisi Meksiko, lanskap alam Maroko nan gersang, dan Tokyo yang modern dan serbakemilau. Semuanya difilmkan langsung di tempat-tempat yang disebutkan.


    Sesuai judulnya, Babel memang berkisah ihwal kepincangan dalam berkomunikasi dan kekacauan hidup manusia. Judul ini akan mengingatkan pada Babel dalam Alkitab, lambang kekacauan yang berawal dari gagalnya komunikasi. Jika mau dirunut, gagalnya komunikasi keluarga Jones telah membawa mereka ke Maroko, membuat Susan kena tembak, dan menyebabkan Amelia terpaksa membawa kedua anak keluarga ini ke Meksiko, dan di perbatasan terjadi (lagi) kegagalan komunikasi yang menciptakan kekacauan. Sementara itu, Chieko yang tunarungu mengalami kesulitan berkomunikasi, termasuk dengan ayahnya; karakter yang tanpa sadar telah memicu terjadinya efek kupu-kupu, dari lahan gersang Maroko ke hingar-bingar dunia politik internasional.

    Selasa, 26 Juni 2007
    BRIDGE TO TERABITHIA (2007)

    Pemain : AnnaSophia Robb, Josh Hutcherson, Zooey Deschanel, Lauren Clinton, Bailee Madison
    Sutradara : Gabor Csupo
    Produser : Alex Schwartz, Lauren A. Levine, David Paterson (II)
    Lama tayang : 1Jam 35 menit
    Tanggal rilis : 16 February , 2007 (wide)
    Distributor: Buena Vista Pictures Distribution







    Jess Aaron, seorang anak keluarga miskin, yang tinggal di tepi hutan kecil. Dia berambisi ingin menjadi pelari tercepat di sekolah. Jess punya 4 orang saudara perempuan, 2 kakaknya yang selalu berisik, adiknya Maybelle yang memujanya, dan si bayi. Jess juga sangat suka melukis.

    Di hari pertama sekolah, di kelasnya masuk seorang murid baru, perempuan pula, bernama Leslie. Penampilan Leslie lumayan urakan, untuk ukuran sekolah Jess. Lalu di waktu istirahat, anak-anak berkumpul untuk lomba lari, Leslie ingin bergabung. Suatu hal yang tak pernah dilakukan anak perempuan sebelumnya, selama ini, lomba lari waktu jam istirahat itu adalah milik anak laki-laki. Dan ternyata, Leslie berhasil mengalahkan semua anak laki-laki itu.

    Ternyata, Leslie tinggal di dekat rumah Jess. Dan sejak itu mereka bersahabat. Dua anak kesepian yang menemukan teman. Leslie mengajari Jess untuk menggunakan imajinasinya dalam bermain. Mereka menemukan sebuah tempat di hutan dekat tempat tinggal mereka, tempat yang harus mereka capai melewati sebuah kali kecil, dan kebetulan mereka juga menemukan seutas tambang tergantung, yang mereka gunakan sebagai ayunan untuk menyeberangi kali tersebut.

    Di tempat itu, mereka juga menemukan rongsokan mobil, dan akhirnya membuat rumah pohon sebagai markas kerajaan mereka, kerajaan Terabithia.

    Persahabatan mereka terjalin sangat erat. Jess dan Leslie selalu saling membantu di sekolah, mereka anak-anak yang tak populer sama sekali, tak punya banyak teman. Sementara itu, Jess juga tertarik pada guru musik mereka yang masih muda dan cantik.

    Hingga suatu hari sang guru mengajak Jess ke museum. Dan di hari itulah musibah itu terjadi.

    Ternyata Leslie nekat sendirian ke tempat bermain mereka, dan karena hujan yang deras, air sungai naik tinggi, dan Leslie terjatuh sewaktu mau menyeberang. Leslie meninggal tenggelam terbawa arus.

    Jess, sepulang dari berjalan-jalan ke museum, menemukan keluarganya sedang berduka, yang menyangka dirinya juga ikut bersama Leslie, dan belum ditemukan. Mendengar berita itu, Jess sangat marah. Dan akhirnya menyalahkan dirinya karena tak mengajak Leslie ke museum.

    Namun kesedihan Jess akhirnya diobati karena Maybelle, adik kesayangannya, yang selalu memujanya. Jess pun akhirnya membawa Maybelle memasuki Terabithia, menjadi putri penguasa wilayah fantatis peninggalan Leslie.




    Leslie Burke : Close your eyes, but keep your mind wide open
    Film ini diangkat dari novel remaja karya Katherine Patterson. Novel ini sendiri juga mendapat penghargaan Newberry Award tahun 1978. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo tahun 2001.

    Banyak yang merasa kecewa karena mengira film ini adalah film fantasi seperti Narnia atau pun Harry Potter. Padahal, cerita ini merupakan salah satu cerita remaja yang sangat populer sebenarnya, hanya saja memang kalau di Indonesia, kurang terdengar gaungnya. Yah, memang kita tak menemukan aksi petualangan hebat, kisah fantasi luar biasa, ataupun anak-anak ajaib. Ini memang kisah biasa tentang persahabatan indah antara dua orang anak yang tersisih. Jess si anak miskin, dan Leslie, yang walau orangtuanya kaya, namun eksentrik, sehingga menyebabkan dirinya sering ditertawakan teman-temannya.



    Hanya satu yang kurang menonjol di film ini, yaitu hubungan erat Jess dengan adiknya Maybelle, karena sebenarnya, Maybelle adalah orang paling dekat dengannya di keluarga yang ramai dan miskin itu. Sebelum kedatangan Leslie, Maybelle adalah orang yang selalu menjadi teman bagi Jess.

    Di luar itu, film ini bagiku sih bagus. Aku suka dengan setting waktu yang disesuaikan ke masa sekarang. Manis sekali, mengingat novel ini sudah diterbitkan tahun 1977, dengan setting waktu di jaman itu, yang tentu saja situasinya sudah berbeda.

    Label: ,

    Senin, 25 Juni 2007
    THE KNOT



    Judul Film: THE KNOT
    Sutradara: Yin Li
    Pemeran: Chen Kun, Vivian Hsu, Li Bingbing, Steven Cheung, Isabella Leong, dll
    Produksi: 2006







    Lukisan Cinta Merah Darah


    One day when we were young
    One wonderful morning in May
    You told me you loved me

    When we were young one day


    Sweet songs of spring were sung

    And music was never so gay

    You told me you loved me

    When we were young one day


    Suara seorang lelaki muda yang sedang menyanyi terdengar di lantai atas sebuah rumah di Taibei. Ia berdiri di ambang pintu ruangan tempat seorang anak laki-laki tengah menggerayangi tuts-tuts piano. Sesekali sambil menyanyi ia menoleh ke luar ruangan. Seorang gadis manis, rambut dikepang dua, sedang melukis di luar. Sesekali sambil melukis ia menoleh ke arah si lelaki muda.
    ***

    Ia memandang lukisannya yang hampir usai. Lukisan gunung semburat kebiruan itu masih membutuhkan polesan. Sapuan warna putih untuk salju. Ia mengangkat kuasnya, lalu membubuhkan warna putih ke lukisan gunungnya. Saat cahaya siang singgah tepat di atas lukisan, lukisan itu tampak bertelau-telau.

    Sebentar lagi ia akan meninggalkan New York. Ia akan mengadakan pameran lukisan di berbagai kota di dunia. Hong Kong dan Shanghai telah menjadi tujuan berikutnya. Tapi, lukisan ini sepertinya masih memiliki kekurangan. Warna putih yang ia imbuhkan seakan-akan belum sesuai.

    Telepon berdering. Dari Hong Kong. Isabella, anak perempuan adiknya. Isabella berada di Hong Kong setelah meninggalkan pekerjaannya di Singapura. Isabella tengah melakukan riset untuk sebuah buku yang akan ditulisnya. THE KNOT, demikianlah judul yang telah direncanakan.

    Setelah selesai ngobrol dengan Isabella, ia terdiam. Perbincangan dengan keponakannya yang jelita tanpa tercegah membuka sumbat kenangan. Kenangan itu bergulir keluar dari benaknya, menggeliat lepas menuju Taibei (Taiwan) akhir tahun 1940-an. Ia melihat dirinya masih remaja, seorang gadis manis dengan rambut kepang dua.

    Suatu hari seorang pemuda bernama Chen Qiushui datang ke rumahnya untuk menjadi guru bahasa Inggris adiknya, Yumeng. Pemuda ini berasal dari Xiluo (Yunlin), sebuah daerah penghasil beras. Chen datang ke Taibei untuk kuliah kedokteran. Sambil kuliah Chen memberikan kursus bahasa Inggris untuk mendapatkan uang.


    Ia tahu, begitu mendengar suara, kemudian melihat wajah pemuda itu, ia jatuh cinta. Ia tahu juga, pemuda itu memiliki perasaan yang sama. Saking cintanya, ia pun membekukan wajah Chen dalam lukisan yang sampai saat ini selalu dibawa ke mana pun ia pergi.

    Ia ingat, saat itu dalam keluarga telah ada pembicaraan mengenai pernikahan. Tapi, Chen mesti meninggalkan Taiwan. Chen ternyata anggota kelompok sayap-kiri yang memberontak kepada pemerintah. Untuk menghindari penjara, Chen memutuskan pergi ke Cina Daratan.
    Pada malam perpisahan mereka, di tengah derasnya hujan dan air mata, ia menyelipkan cincin pertunangan ke jemari Chen. Ia mengatakan kepada kekasihnya bahwa ia akan menyusul ke Cina Daratan untuk masuk sekolah seni.

    Sayangnya, setelah malam itu, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Chen. Sambil menjaga ibu Chen di Xilou, ia menunggu lalu mencari, sampai mengunjungi hampir semua penjara di Taiwan, mengira Chen telah tertangkap. Ia dibantu oleh seorang pemuda baik hati, penggugup, dan pemalu yang tidak pernah berhenti mencintainya, Xue Zilu.

    Ia ingat lagi, sesungguhnya setelah perang penantiannya telah berakhir. Sebuah kabar dari Tokyo telah memastikan nasib cinta mereka. Chen berada di Tibet. Ia, Wang Biyun, memang bisa mencapai Tibet, tapi tidak bisa mencapai Chen lagi.
    **

    Setelah meninggalkan Taiwan, Chen pergi ke Propinsi Fujian bagian selatan dan bergabung dengan gerilyawan komunis. Untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan pada keluarga dan teman-temannya, ia mengganti namanya menjadi Xu Qiuyun. Ia berhasil menyelesaikan sekolah kedokterannya di Cina. Pada saat perang Korea meletus, ia menjadi dokter tentara di Dipingli, Korea. Di sana ia bertemu dengan gadis petugas medis bernama Wang Jindi. Meski kentara Wang Jindi menginginkan cintanya, ia hanya mengganggap gadis itu sebagai adik. Nama Wang Biyun tidak mungkin tergeserkan dari hatinya.

    Usai perang Korea ia mencari Wang Biyun di sekolah seni menyangka kekasihnya telah berada di Cina Daratan. Ia menemukan jika Wang Biyun tidak pernah ke Cina Daratan. Ketika harapan seakan hilang, ia memutuskan menerima penugasan sebagai dokter tentara di Tibet.

    Suatu hari ia dikejutkan dengan berita kedatangan Wang Biyun. Merasa luar biasa bahagia, ia tidak bisa menahan diri, keliling rumah sakit mencari kekasihnya. Yang datang ternyata bukan kekasihnya tapi Wang Jindi yang telah mengubah namanya menjadi Wang Biyun. Kehadiran Wang Jindi meyakinkan Chen bahwa ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan kekasihnya. Wang Jindi bahkan mengatakan bahwa Biyun telah berada di surga.
    ***

    Ia memandang lukisan gunungnya sekali lagi.

    Selamanya, kekasihnya tidak pernah meninggalkan Tibet. Ia telah menikahi perempuan lain dan memiliki seorang anak laki-laki.

    Lukisan gunung semburat kebiruan itu bertelau-telau. Kabar dari Tokyo benar-benar telah membekukan hatinya, seperti gunung dalam lukisannya, lembab dan licin dengan serpihan salju.

    Untung si budiman Xue Xilu tidak pernah meninggalkannya. Xue selalu ada untuknya. Kebaikan lelaki ini mengantarnya pada keputusan untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Sayangnya, Xue Xilu harus meninggalkannya sebelum berdua menapak masa senja kehidupan. Suaminya mengidap leukimia.

    Ia sesenggukan. Air mata meleleh dari sudut-sudut matanya yang rabun. Ya, ia sudah tua sekarang. Waktu telah merampas cahaya matanya, hitam rambutnya, mulus kulitnya, dan kekuatan kakinya.

    Di atas kursi roda, ia memutuskan menyempurnakan lukisannya. Isabella, sang keponakan, telah menemukan akhir dari perjalanan riset bukunya. Demikian juga lukisan ini. Berakhir.

    Ia menggerakkan kursi roda. Lukisan gunung semburat kebiruan itu bertelau-telau. Saatnya untuk memberikan sapuan terakhir ke atas lukisannya.

    Ia mengangkat kuasnya, mengguratkan cat ke permukaan kanvas. Satu kali. Dua kali.
    Dan ia tercekat dalam keheningan. Mata terpaku pada lukisannya.

    Kekasihnya tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup lebih lama dari yang ia bayangkan. Suatu hari ia pergi ke gunung bersama istrinya untuk menolong pasien yang tinggal di sana. Dalam cuaca membekukan yang membuat perjalanan terasa berat, istrinya kewalahan. Tatkala menuruni gunung, ia mesti menggendong istrinya. Saat itulah terjadi badai salju yang dahsyat. Kekasihnya dan istrinya tewas tertimbun salju.
    ***

    Aku melihat kepalanya yang telah dikerumuni uban bergeming. Aku tak bergerak di tempat dudukku.

    Bersama-sama kami mengamati lukisannya. Sementara aku merasakan ada butiran hangat memecah di ujung kelopak mata, warna yang merebak dominan dalam lukisan itu jatuh di selaput pelangi mataku.

    Akan kukatakan padamu apa yang kulihat: sebuah lukisan berwarna merah darah.



    Juga di : http://percikanku.multiply.com (Promosi.....)


    Label: ,

    Kramer Vs Kramer



    Sutradara Robert BentonSkenario Robert Benton
    Pemain Dustin Hoffman, Meryl Streep, Justin Henry
    Tahun 1979











    Yang membuat saya malas banget nonton sinetron-sinetron kita sekarang adalah karena cerita yang tidak wajar dan akting para pemainnya yang 'memprihatinkan. Kadang-kadang hanya bermodal wajah cantik, bodi seksi dan nama beken. Mungkin sedikit sekali dari mereka yang benar-benar berangkat dari dunia akting. Maraknya stasiun TV swasta yang mengejar setoran barangkali salah satu penyebab banjirnya produksi sinetron yang terkesan asal jadi. Mereka, para pembuat sinetron itu, seperti kehabisan ide dan kreativitas dalam mencipta sehingga yang hadir lagi-lagi kisah tentang permusuhan mertua-menantu, cinta segitiga dengan segala intrik perebutan harta warisan (India sekaleeee...) atau yang lagi marak adalah sinetron misteri dan cinta anak SMA.

    Dulu, waktu jamannya Irwin Syah (Alm) atau Dedi Setiadi masih produktif, saya selalu menunggu-nunggu karya mereka. Atau kalau di dunia film layar lebar, sutradara favorit saya adalah Teguh Karya (Alm). Rasanya semua karyanya tidak ada yang 'buruk'. Ibunda, Usia 18, Di Balik Kelambu sampai Pacar Ketinggalan Kereta. Kekuatan film-film garapannya menurut saya adalah pada naskah yang mengambil kisah kehidupan sehari-hari di seputar kita, membuat kita serasa tak berjarak dengan adegan-adegan yang tampil di layar. Kita seperti menonton keseharian kita sendiri. Sangat membumi, begitu akrab, sedekat tetangga sebelah rumah. Terutama pada 'Ibunda' dengan aktris kesayangannya, Tuti Indra Malaon (alm)

    Menyaksikan Kramer Vs Kramer (Robert Benton), saya jadi ingat film-film Teguh Karya. Memenangi Academy Award sebagai film terbaik tahun 1979, Kramer Vs Kramer buat saya menjadi film yang selalu enak ditonton berulang kali (Saya sih baru menontonnya 5 kali). Ceritanya sederhana dan biasa-biasa saja, tentang suami isteri Kramer yang menghadapi masalah perceraian mereka. Dengan akting cemerlang dua bintang utamanya, Dustin Hoffman dan Meryl Streep, film drama ini tersaji indah dalam alur yang perlahan-lahan menanjak menuju konflik, baik konflik antara kedua tokohnya maupun konflik batin dalam diri tokoh-tokohnya itu.

    Ted Kramer (Dustin Hofman) adalah eksekutif muda di sebuah perusahaan iklan, digambarkan sebagai lelaki yang gila kerja, lebih sering menghabiskan waktunya di kantor ketimbang bersama istrinya, Joana Kramer (Meryl Streep) dan anak mereka berumur 6 tahun, Billy (justin Henry), meskipun tidak perlu diragukan, ia sangat mencintai keduanya. Keadaan tersebut berlangsung bertahun-tahun hingga pada suatu hari Joana merasa tidak tahan lagi dengan situasi rumah tangganya tersebut. Ia jenuh dengan perannya selama ini yang hanya sebagai ibu rumah tangga semata. Ia lalu memutuskan untuk meninggalkan Ted, suaminya itu.

    Kepergian Joana membuat Ted kelabakan. Ia, yang tidak biasa dengan pekerjaan domestik, tiba-tiba harus bisa melakukan semua pekerjaan yang selama ini merupakan pekerjaan istrinya itu. Ia mendadak harus merangkap peran ayah sekaligus ibu bagi Billy. Perubahan yang tak terduga itu mau tidak mau akhirnya mengganggu pekerjaan kantornya. Beberapa kali ia terlambat menghadiri pertemuan penting dengan klien perusahaan karena urusan rumah tangganya itu. Perusahaan tempatnya bekerja akhirnya tidak bisa terus-menerus bertoleransi dengan kondisinya itu. Ted dipecat. Sementara Joana justru mendapatkan pekerjaan.



    Lihat, betapa wajarnya permainan Hoffman dan Streep di film ini. Bagaimana mereka dengan piawainya memainkan peran itu sehingga walaupun telah lima kali menonton ulang film ini, saya masih saja terharu dan meneteskan air mata. Tak lupa juga si kecil Justin Henry yang dengan luar biasa mengimbangi akting keduanya. Maka jadilah Kramer Vs Kramer sebuah film drama yang amat menyentuh perasaan. Bagi yang belum sempat nonton film ini, coba deh nonton, pasti ketagihan seperti saya.

    Endah Sulwesi

    Label: ,

    Sabtu, 23 Juni 2007
    BETINA



    Judul Film : BETINA
    Sutradara: Lola Amaria
    Pemain: Kinaryosih, Tutie Kirana, Agastya Kandou, Subur Sukirman, dll
    Skenario: BE. Raisuli
    Produksi: 9 P@lm Pictures & TIT’S Film Workshop
    Tahun : 2006 (DVD, 2007)





    PSILOSIBIN DALAM HASRAT DAN CINTA


    Kenapa banyak kematian datang di sekitar cinta dan kerinduanku
    Aku melihat cinta dalam kematian itu
    Dan aku merindukanmu dengan kematian orang lain


    Sebagai orang Indonesia, menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya untuk menyaksikan film produksi domestik. Sayangnya, belakangan lebih banyak muncul film bertema remaja, yang dari segi cerita dan penggarapan masih kekurangan polesan. Film Indonesia yang sempat menarik perhatian saya antara lain Arisan! (Nia Dinata) 9 Naga (Rudy Soedjarwo), dan Belahan Jiwa (Sekar Ayu Asmara). Sebagai panduan utama bagi saya untuk menonton yang pasti adalah genre film itu sendiri. Dan bagi saya drama kemanusiaan, hubungan antar manusia, dan problematik kehidupan manusia menjadi pilihan utama. Film aksi misalnya, apalagi yang mengandalkan special effect, berangsur menghilang dari minat saya. Oleh karena itu film “Betina” menjadi wajib tonton bagi saya, meski hanya lewat DVD (produksi Cinekom), karena film ini memang tidak ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air.

    Betina” diproduksi secara independen dan merupakan karya penyutradaraan perdana aktris Lola Amaria. Film ini mengusung tema kehidupan manusia yang dihadirkan sebagai sesuatu yang absurd. Tokoh-tokoh yang ada dalam film nyaris semuanya aneh, tapi jika dipikir-pikir sepertinya bisa eksis dan kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.


    Betina (Kinaryosih) adalah seorang gadis pemerah susu di pangkalan susu milik Mamang Otig. Ia seorang gadis berwajah cantik dan bertubuh molek. Tidak heran pria-pria di desanya (desa antah-berantah) mengagumi, bahkan mencoba melakukan hal-hal yang tidak pantas padanya.

    Betina tinggal dengan ibunya (Tutie Kirana) yang agak sinting setelah ayah Betina (Zairin Zain) diciduk dari rumah. Ayah Betina adalah seorang tentara yang telah menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam sebuah buku berjudul “NKRI Bukan Tuhan” yang dipandang sebagai tindakan subversif. Sepeninggal sang suami, ibu Betina tak pernah berhenti berharap lelakinya akan pulang ke rumah. Karenanya ia masih terus mencuci dan menyetrika seragam sang suami secara teratur dengan penuh kerinduan.


    Kepergian ayahnya yang tak kunjung kembali membuat Betina kehilangan figur lelaki. Hingga suatu hari, ia menemukan seorang lelaki yang dipikirnya ideal seperti ayahnya. Lelaki itu (Agastya Kandou) adalah seorang pemimpin prosesi pemakaman. Untuk melihat lelaki itu, Betina harus menunggu setiap kali di desanya terjadi kematian. Lelaki ini akan menuruni bukit dengan jubah putihnya yang aneh untuk menjemput para janda atau kerabat perempuan si mati.

    Pada saat itu beberapa orang tewas dibunuh. Antara lain Choky, bandar susu yang mencoba melecehkan Betina dan Otig, pemilik peternakan sapi yang mencoba memerkosa Betina. Pada saat keduanya hendak dikuburkan di pemakaman bukit dengan nisan berbentuk segitiga dan dipimpin oleh lelaki idaman Betina, para istri mengantar jenazah sambil menumpang pedati yang diikuti sejumlah orang berbusana sarung dan karung, berkalung piring seng, dan bertopi serok sampah. Salah satu bagian prosesi ini adalah para janda dijemput si pemimpin pemakaman, dan setelah jenazah dikuburkan akan berhubungan intim dengan si pemimpin pemakaman di kediamannya di tengah kuburan.

    Kematian Luta (Subur Sukirman), lelaki penjaga sapi yang otaknya rada miring tapi tergila-gila pada pada kesemokan Betina, membuat ibu Betina sebagai kerabat menaiki pedati untuk mengantar Luta. Sehingga akhirnya, ibu Betina akan mendapatkan giliran berhubungan intim dengan si penjaga kuburan.

    Begitu mengetahuinya, Betina menjadi sangat marah dan cemburu. Di tengah perasaanya yang lagi angot, ia sangat mendambakan si pemimpin pemakaman sampai-sampai berhalusinasi tengah bercinta dengan lelaki ini. Hanya ada satu jalan buat Betina untuk mendapatkan kesempatan bercinta yang sebenarnya: kematian ibunya.

    Film ber-tagline “... dan aku merindukanmu dengan kematian orang lain” (...and i miss you by the death of others), petikan puisi yang ditulis Afrizal Malna yang dalam film ini dibacakan oleh seorang penyiar radio, diawali dengan infomasi singkat mengenai “Jamur sebuah sajian menuju alam roh” dalam kalimat yang terus terang menurut saya kacau.

    Disebutkan bahwa di beberapa tempat di muka bumi ini di mana masyarakat masih menganut magi atau mistik, masih ada yang melaksanakan ritual proses transendal (fly, halusinasi, kesurupan, atau apa pun istilahnya). Untuk mendapatkan efek halusinasi sebelum ritual, orang memakan jamur beracun yang tumbuh di kotoran kandang sapi, kuda, atau kerbau. Jamur ini mengandung senyawa psilosibin yang memiliki efek halusinogenik jika dimakan atau dihisap. Psilosibin akan menimbulkan rasa sakit bahkan hingga kematian. Pemaparan tentang jamur dan psilosibin ini tergolong krusial mengingat sejumlah kematian yang terjadi dalam film disebabkan oleh psilosibin.

    Selanjutnya, sejumlah kematian yang terjadi akan menggiring penonton kepada pemahaman bahwa Betina lah yang telah menyuntikkan psilosibin ke tubuh korban. Tapi, apakah Betina benar-benar telah melakukan pembunuhan akan terjawab di akhir film, meski sejak awal penonton sudah bisa mengira-ngira, kecuali untuk kasus kematian paling akhir.

    Film ini sama sekali bukan film komersial. Terwujudnya skenario B.E. Raisuli menjadi film tampaknya lebih dipicu idealisme para pekerja seni yang menanganinya. Hal ini tersirat dari distribusi film yang antara lain melalui pemutaran di kampus-kampus.


    Sebenarnya kisah yang digelontor dalam film ini terbilang menarik, cuma memang lebih ditujukan kepada penonton yang menyukai film-film serius atau penonton yang menikmati film bukan hanya sekadar untuk mengisi waktu luang. Apalagi film ini hadir dengan dialog yang minimalis dan terutama mengandalkan gestur tubuh dan ekspresi wajah para pemain. So, para pecandu film jenis ‘jagung-brondong’ tidak dianjurkan menonton film satu ini.

    Film dengan dialog minimalis akan lebih terkesan sebagai film seni. Di sini yang akan berbicara banyak adalah gambar, dan gambar akan menjadi sangat penting dibanding kata-kata. Sesungguhnya wajar mengingat ini film dan bukan sandiwara radio. Sayangnya, pada saat dialog muncul (hal ini menyatakan bahwa butuh kata-kata untuk memperkuat gambar), beberapa pemain yang mendapatkan peran penting menampilkan akting yang terkesan teatrikal sehingga dialog yang mereka ucapkan terdengar ganjil.

    Primadona film ini tentu saja Kinaryosih (oh, i love u.....). Gestur tubuhnya yang indah menjadi kekuatan aktingnya. Ekspresi wajahnya ketika sedang gembira, marah, jengkel, cemburu, dan jatuh cinta sungguh pas dan enak dilihat. Kombinasi gestur dan ekspresi wajah yang sangat padu antara lain ditampilkannya pada adegan menjelang akhir film ketika kemarahan pada ibunya memuncak dan ia berhalusinasi sedang bercinta dengan si pemimpin pemakaman. Keren banget.

    Subur Sukirman yang memerankan Luta juga cukup bagus, sesuai perannya. Meski beberapa adegannya terkesan kacau dan agak menjijikkan, tapi ia berhasil menarik perhatian penonton. Akting gilanya hadir saat ia melampiaskan birahinya pada Mba (sapi milik ibu Betina) sampai menyusu pada si sapi segala (hahahahaha) dan saat ia mengencingi Dewa, sapi kesayangan Betina, saking cemburunya atas perhatian berlebih Betina kepada si sapi.

    Tutie Kirana dan Agastya Kandou yang didapuk memerankan dua karakter yang cukup penting tampil sangat kaku dan tidak menarik. Justru, dalam kebisuannya, Fahmi Alatas, yang berperan sebagai pembersih kandang sapi dan kuburan tampil jauh lebih menarik. Maudy Koesnaedi dan Nova Riyanti Yusuf memberikan ‘penampilan spesial’ (yang sebenarnya tidak cukup spesial) masing-masing sebagai janda Choky dan Mamang Otig. Sedangkan Syahrani mengalunkan suaranya untuk latar beberapa adegan dan menyanyikan lagu Good by Cruel World (karya Fahmi Alatas) dan Sun For Me (karya Fahmi Alatas & Syaharani).

    Label:

    Kamis, 21 Juni 2007
    MY GIRL'S BOY

    My Girl’s Boy (2007)

    Cheaters or Nae Yeojaeui Namja Chingu
    Pemain: Choi Won-yeong, Lee Jeong-Woo, Ko Da-Mi, Kim Poo-reun
    Sutradara: Park Seong-Beom








    RANTAI PERSELINGKUHAN

    Seok-Ho adalah seorang ‘lelaki gatal’ yang sebenarnya telah memiliki seorang istri yang cantik dan seorang anak. Tapi dia berselingkuh dengan Ji-Yeon, seorang fotografer seksi, dan Chae-Young, seorang pelayan kedai minuman berwajah manis, dengan mengaku-aku jika dirinya masih bujangan.

    Seok-Ho percaya Chae-Young masih perawan seperti pengakuan perempuan ini. Ia memenuhi apa pun keinginan Chae-Young sambil diam-diam berharap segera bisa menidurinya. Seok-Ho tidak tahu, Chae-Young sudah lama menjadi teman tidur laki-laki lain, Sun-Soo. Chae-Young sebenarnya tidak tertarik pada Seok-Ho, tidak berniat memasrahkan tubuhnya kepada laki-laki ini. Duit laki-laki inilah yang ingin dikuras Chae-Young untuk membiayai kegemarannya akan barang mahal. Sementara itu ia terus mencintai Sun-Soo yang tanpa sepengetahuannya telah bermain-main dengan si nona fotografer.


    Si nona fotografer sesungguhnya sangat mencintai Seok-Ho, tapi lelaki ini memperlakukan dirinya tidak lebih dari pemuas napsu belaka. Seok-Ho selalu berlagak sibuk kerja jika dihubunginya, padahal hanya sibuk mencari-cari kesempatan meniduri Chae-Young. Maka, ketika bertemu Sun-Soo, ia menemukan lelaki manis yang penuh gairah, dan mau jadi model telanjang untuk foto-fotonya. Kencan buta yang ia lakukan kemudian, atas anjuran temannya, mempertemukannya dengan Young-Soo, kakak Sun-Soo, yang menunjukkan intensitas ketertarikan yang kuat padanya. Tapi mereka baru sejauh ngobrol, belum ada acara tidur bareng. Toh, untuk memuaskan hasrat Young-Soo, sudah ada yang menyediakan diri, istri Seok-Ho.

    Nah, kacau kan?

    Semua berlangsung aman. Percintaan, perselingkuhan, dan seks terus berlangsung di atas serangkaian kebohongan. Hingga akhirnya, mereka semua dipertemukan di suatu tempat, dan diam-diam saling memahami apa yang telah terjadi di antara mereka. Terlebih ketika sebuah CD (compact-disk) menohok kesadaran masing-masing, membentuk sebuah rantai perselingkuhan.

    Tema seperti ini tidak asing lagi bagi penonton film. Percintaan, perselingkuhan, dan seks, sudah menjadi tema yang jamak berserakan di berbagai film.

    Maka, menjadi tugas para sineas untuk mengelola tema seperti itu seciamik mungkin sehingga menjadi tontonan yang menggelitik keinginan penonton untuk terus mengikutinya hingga tuntas. Para sineas My Girl's Boy bisa dikatakan berhasil melakukannya.

    Bagi saya, ini dia komedi cinta, selingkuh, dan seks yang memikat. Cerita bergulir dengan plot yang tidak linier, maju-mundur melintasi waktu, mengalami perulangan, bahkan tumpang-tindih dalam serpihan-serpihan seperti When a Man Loves a Woman, My Girl’s Boyfriend, My Girl’s Boyfriend’s Girlfriend, Our Girl’s Boyfriend, dan The Friends. Penonton mesti mengikuti dengan tekun supaya tidak kebingungan. Jika tidak, akan terasa sukar untuk menikmati film ini. Tapi di sinilah asyiknya film ini. Kisah yang sudah jamak dirangkai secara kocak, kacau, dan tidak biasa sehingga akan sangat mengesankan penonton, terutama, tentu saja, penonton yang tidak menjadi bingung atau membingungkan diri.

    Adegan paling lucu menurut saya adalah adegan munculnya seekor anjing di ambang pintu kamar yang tidak tertutup, padahal di dalamnya, di atas ranjang, sepasang manusia tengah menandak-nandak menciptakan badai. Ada dua adegan menampilkan adegan ranjang dengan kehadiran seekor anjing, tentu saja pada waktu yang berbeda, dan 'pejantan' yang juga berbeda. Lalu apa lucunya? Ah, tidak menarik untuk disampaikan di sini.


    Label: ,

    NO REGRET

    Film : No Regret
    (Hoo-hoi-ha-ji Hanh-a)

    Pemain: Lee Han, Lee Young-Hun
    Sutradara: Leesong Hee-Il
    Tahun: 2006









    CINTA YANG TIDAK PANDANG BULU

    Cinta memang tidak pandang bulu. Basi, tapi benar. Mungkin, kita harus mengakui bahwa kita memang tidak pernah merencanakan siapa sasaran cinta kita. Ketika cinta itu hadir, kita baru menyadari siapa diri kita. Dan dengan cinta yang kita miliki, kita siap dihakimi. Ada cinta yang dianggap benar, dan ada yang salah. Sebenarnya tergantung dari siapa yang memandangnya.


    Jae-Min, datang dari keluarga kaya dengan latar belakang konservatif. Sebagai anak dari keluarga kaya, Jae-Min adalah pewaris perusahaan milik orang tuanya. Untuk menegakkan garis keturunan, Jae-Min tentu saja harus menikah. Maka, bertunanganlah dia dengan seorang perempuan cantik.

    Tapi tanpa setahu keluarga dan tunangannya, Jae-Min menyimpan sebuah rahasia. Ia adalah seorang lelaki dengan orientasi seksual berbeda, seorang homoseksual.

    Secara kebetulan Jae-Min bertemu dengan Su-Min, lelaki yatim-piatu yang datang ke Seoul untuk mengubah nasib. Berbagai pekerjaan telah Su-Min lakoni, termasuk menjadi supir yang mempertemukannya dengan Jae-Min. Ia juga pernah bekerja di pabrik milik keluarga Jae-Min, tapi kemudian memutuskan keluar karena sebuah masalah. Setelah itu ia malah menjadi male escort di sebuah bar gay.

    Setelah pertemuan mereka, Jae-Min jatuh cinta kepada Su-Min, dan tak pantang membodohi dirinya sendiri untuk meyakinkan cintanya pada Su-Min. Melihat ulah Jae-Min, meski awalnya sempat marah karena dikejar-kejar, Su-Min jadi bersimpati padanya. Kemudian, tak dapat dicegah lagi, ia benar-benar mencintai lelaki kaya ini.

    Tapi kebahagiaan dua lelaki ini tidak berusia panjang. Jae-Min harus menikah dengan tunangannya. Jae-Min mencoba menghalau cintanya kepada Su-Min, bahkan bersikap dingin ketika Su-Min mendatanginya di kantor, lengkap dengan setelan rapi layaknya seorang pria hendak meminang kekasihnya.

    Pertarungan hati terjadi, dan saat Jae-Min berhasil menggurat luka di hati Su-Min, justru ia bisa mengakui orientasi seksualnya, kepada orang tua dan juga, tunangannya. Pada saat bersamaan, ia menyatakan siapa sebenarnya yang ia cintai. Ia mencoba menelepon Su-Min, tapi Su-Min yang sedang patah hati tak menggubriskan dering telepon genggamnya.

    Bukan kisah cinta biasa, dan karena tidak biasa No Regret menjadi tontonan yang asyik. Tentu saja setelah menghalau prasangka negatif terhadap homoseksual.

    Cinta memang tidak pandang bulu, dan itulah sebabnya sampai kapan pun film bertema cinta tetap enak dinikmati. Dengan menyaksikan film karya Leesong Hee-Il (sutradara terbaik Festival Film Cannes), No Regret, kita bisa menikmati kisah cinta yang lain, yang sesungguhnya tidak terlalu tidak biasa, karena bukan film tema sejenis yang pertama digarap.

    Tidak terkesan hadirnya adegan basi atau sekadar tempelan untuk memperpanjang durasi film. Kedua pemain utama, Lee Young Hoon (Su Min) dan Lee Han (Jae Min) pun bermain wajar, dan terutama Lee Young Hoon pada saat-saat tertentu tampak sangat gay. Untuk menghidupkan tokoh yang mereka perani, keduanya harus melakoni serangkaian adegan yang cukup berani, karena tidak hanya mencakup adegan tanpa busana atau ciuman bibir, tapi juga adegan seks yang tampak realistis, meski tentu saja, tidak digarap berlebihan.

    Film ini menyajikan beberapa adegan yang sangat menyentuh, antara lain ketika rekan kerja di bar gay yang disayangi Su-Min karena mengingatkannya pada ‘adik’-nya di panti asuhan, tewas akibat tabrakan pada saat menikmati mobil baru. Setelah jenasah rekannya ini dikremasi, abunya ditaburkan di sepanjang jalan pulang sambil berlinangan air mata. Setelah mengalami berbagai kehilangan dalam hidupnya sebagai yatim-piatu, kehilangan ini menjadi hantaman telak yang menyakitkan hati Su-Min. Karena itu, dapat dimengerti, ketika harus kehilangan Jae-Min yang telah merampas cintanya, ia tidak ingin menerima kenyataan ini. Pada adegan selanjutnya, sulit rasanya sebagai manusia, kita tidak tersentuh melihat air mata Su-Min manakala menyadari ia harus kehilangan sekali lagi.

    Sebelumnya ada juga adegan menyentuh dan lucu, yaitu saat Jae Min dipukuli rekan-rekan Su-Min di bar gay. Su-Min akhirnya harus menggendong Jae-Min dan membawa pulang ke rumahnya. Adegan yang sama terulang, secara terbalik, pada ending film yang cukup mengharukan.

    Peristiwa tabrakan yang menjadi adegan penutup film seolah-olah mempersiapkan penonton untuk menyaksikan akhir kehidupan para tokoh utama. Tapi apakah yang terjadi? Simak adegan menggelikan yang terjadi di ending film.

    Film ini sama sekali tidak mengajak penonton yang merasa lelaki tulen untuk menjadi gay, tapi sekadar memberi jendela yang sedikit lebih lebar, untuk memahami sebuah dunia yang mungkin berbeda dengan dunia yang dipunyai penonton, dunia tempat sejenis cinta bersemi, yang mungkin juga berbeda dengan cinta yang dimiliki penonton. Jadi, sebagai manusia yang berwawasan luas, kenapa tidak meluangkan waktu menonton film satu ini?

    Label: ,

    Dinocroc (2004)
    Dinocroc (2004)
    Sutradara : Kevin O'Neill
    Pemain : Matt Borlenghi, Jane Longenecker










    Akhirnya disela rasa kantuk yang menyerang, semalam aku nonton bioskop Trans TV yang kini sedang menayangkan program “Monster Week”. Semalam film yang diputar berjudul ‘Dinocroc’. Nama yang aneh dan bikin penasaran, apalagi kalau lihat preview-nya yang menggambarkan seekor monster melompat –lompat menyerang manusia.

    Ceritanya sih sederhana saja, tak banyak berubah dari pakem film-film monster lainnya.
    Ternyata Dinocroc adalah kepanjangan dari Dinosourus Crocodile, buaya pra-sejarah yang berhasil dikembangkan oleh sejumlah ilmuwan yang tergabung dalam sebuah pusat penelitian.

    Suatu saat dinocroc yang sedang dikembangkan kabur dari pusat penelitian dan meneror sebuah kota. Korban-korban berjatuhan. Dikisahkan seorang anak bernama Michael kehilangan anjingnya yang bernama Lucky, seekor anjing yang hanya memiliki tiga buah kaki akibat kecelakaan yang pernah menimpanya. Michael meminta bantuan pada Diane, seorang penangkap hewan di kota itu. Ternyata Diane adalah teman lama Tom, kakak kandung Michel. Dan Tom-pun turut membantu Diane mencari Lucky.

    Di tengah pencarian Lucky inilah teror dinocroc berlangsung. Untuk itu pemda setempat meminta bantuan kepada seorang pemburu buaya yang berasal dari Australia. Suatu malam, sepulang mencari keberadaan Lucky dan monster dinocroc, Diane bermalam di rumah Tom. Saat itu Tom melihat Michael, adiknya tengah tertidur pulas. Sambil bercengkrama, Diane dan Tom mengolok-ngolok Lucky yang harus mereka cari. Olokan terhadap Lucky, anjing kesayangannya ini membuat Michael yang pura-pura telah tertidur menjadi tersinggung dan menyelinap keluar untuk mencari Lucky sendirian.

    Di tengah pencariannya inilah Michael bertemu dengan Dinocroc yang mengejarnya hingga ke sebuah pondok kosong dan akhirnya memangsanya hingga menyisakan kepala Michael yang dibiarkan tergeletak di pondok tersebut.

    Esoknya pencarian Dinocroc oleh Diane, Tom, Sherif, dan si pemburu buaya dilanjutkan, mereka tak menyadari bahwa Michael telah menjadi mangsanya. Mereka bertemu dengan Dinocroc namun gagal untuk menangkapnya. Malamnya barulah Tom menyadari bahwa ia kehilangan adinya dan saat itu juga polisi menemukan sepeda Michael yang telah rusak dan sepenggal kepala dalam sebuah pondok yang ternyata kepala Michael.

    Tentu saja Tom menjadi frustasi, ia sangat menyesal karena hilangnya Tom terjadi saat ia bermesraan dengan Diane. Pencarian terhadap Dinocroc semakin intensif. Sejumlah pasukan polisi dikerahkan dengan senjata lengkap. Tujuan mereka hanya satu, untuk melenyapkan monster yang telah memakan sejumlah korban. Tom bertekad untuk membalas dendam kemaitan adiknya.


    Seperti diungkap diatas, secara umum alur film dinocroc masih berada di jalur ‘pakem’ film-film monster. Yang agak membuat lain adalah salah satu korbannya seorang anak belasan tahun (Michael). Di film2 monster lainnya, biasanya yang menjadi korban orang-orang dewasa. Adegan tewasnya minchael sangat mengiris, latar musiknya juga membuat saya tersentuh, apalagi saat berada dalam pondok kosong dan klimkasnya saat si dinocroc memangsa michael sehingga hanya menyisakan kepalanya saja.

    Rasanya adegan tewasnya michael dan penyesalan kakaknya (Tom) merupakan adegan yang paling emosional dalam film ini.

    Dari efek visualnya , sosok mosternya cukup mengerikan, lebih mengerikan lagi kalau diperlihatkan secara sekilas-sekilas, berupa lompatan-lompatan dinocroc saat mengejar mangsa dll, namun begitu sang Dinocroc muncul secara utuh, terlihat sekali ada gerakan-gerakannya kaku. Kalau dibanding efek visual dinosourus di Jurasic Park, Dinocroc masih satu level dibawahnya.

    Demikian, ulasan saya…..wah ini ulasan perdana saya soal film nih….semoga berkenan buat pembaca di blog ini.

    @h_tanzil

    Label: , ,

    Before Sunset (2004)

    Sutradara Richard Linklater
    Skenario Richard Linklater, Ethan Hawke, Julie Delpy
    Pemain Ethan Hawke, Julie Delpy
    Tahun 2004











    Kalau kalian suka jenis film drama yang isinya 'cuma' ngobrol dengan tokoh yang minim jumlahnya, tontonlah Before Sunset . Film dengan masa putar 80 menit ini dari awal hingga selesai 'hanya' berisi adegan ngobrol dua orang tokoh utamanya, Jesse (Ethan Hawke) dan Celine (Julie Delpy). Kisah film tersebut mengalir lewat dialog-dialog mereka berdua.

    Jesse seorang penulis terkenal asal Amerika Serikat akhirnya berjumpa kembali dengan Celine, gadis cantik yang pernah dijumpainya di kereta dalam sebuah perjalanan ke Budapest sembilan tahun yang lalu. Mereka bertemu kembali di Paris, kota tempat tinggal Celine empat tahun terakhir ini di sebuah acara promosi buku terbaru Jesse. Mereka berdua tidak pernah menduga sama sekali bahwa suatu hari akan bertemu kembali, sebab mereka tak pernah saling bertukar alamat ataupun nomor telepon setelah pertemuan singkat 9 tahun yang lalu itu.


    Sambil menunggu penerbangannya beberapa jam lagi, Jesse menghabiskan waktunya di Paris hari itu bersama Celine. Mereka ngobrol banyak tentang segala hal yang tak sempat mereka percakapkan dulu. Jesse ternyata telah menikah dan punya satu orang putra sedangkan Celine masih tetap sendiri. Celine, cewek kota yang mendiri dan masih senang melajang walaupun kerap ia merindukan sebuah hubungan serius dengan seorang lelaki yang mencintainya. Ia sempat merasa sedih sebab semua lelaki yang pernah kencan dengannya akhirnya menikah dengan wanita lain dan ketika bertemu kembali mereka (para lelaki itu) selalu berkata bahwa sebenarnya cinta mereka yang sesungguhnya adalah Celine (tentu saja semua itu omong kosong para lelaki , bukan? Hehehe) Demikianpun Jesse. Ia juga berkata hal yang sama hari itu tentang perasaannya terhadap Celine. Ia bahkan pernah punya impian selama bertahun-tahun untuk dapat berjumpa kembali dengan Celine. Mungkin jika mereka sempat bertemu lagi dulu, kisah hidupnya akan lain.



    Keseluruhan film ini berisi adegan percakapan mereka berdua di sepanjang jalan di Paris, cafe, Sungai Rheine dan apartemen Celine. Kamera bergerak mengikuti mereka berdua. Sudut ambilnya berganti-ganti, dari depan, belakang atau samping. Film yang sederhana, bertumpu sepenuhnya pada akting Hawke dan Delpy. Saya sih suka jenis film seperti ini. Mau coba nonton?

    Endah Sulwesi

    Label: , ,

    Rabu, 20 Juni 2007
    Little Miss Sunshine (2006)

    Little Miss Sunshine (2006)
    Sutradara : Jonathan Dayton, Valerie Faris
    Pemain : Steve Carell, Greg Kinnear, Toni Collette, Alan Arkin, Paul Dano
    Lama tayang :1 jam 41 menit
    Distributor : Fox Searchlight Pictures, 20th Century Fox International









    Keluarga Hoover adalah keluarga kelas menengah dari Albuquerque. Sang ayah, Richard Hoover, sedang gelisah menunggu kepastian dari calon penerbit buku yang ditulisnya. Sebuah buku tentang metode menuju kesuksesan yang diberinya nama The Nine Steps, sembilan langkah.

    Cerita ini dimulai sejak sang ibu, Sheryl, menjemput adiknya, Frank, dari rumah sakit. Frank baru saja berusaha bunuh diri. Setibanya di rumah, Frank bertemu dengan keponakannya Dwayne, yang sedang berpuasa bicara, sebagai kaul dalam usahanya untuk masuk sekolah penerbang. Di rumah itu juga tinggal ayah Richard, seorang tua eksentrik yang kecanduan narkoba. Lalu ada Olive, anak perempuan bungsu keluarga Hoover.

    Olive sedang tergila-gila dengan lomba kecantikan, dia baru saja berhasil meraih tempat kedua dalam kompetisi lokal.

    Saat makan siang, sewaktu Frank pertama kali tiba di rumah Hoover, Olive mendapat berita, kalau pemenang pertama kompetisi kecantikan yang diikutinya itu, ternyata didiskualifikasi, yang berarti dia berhak untuk pergi ke California untuk ikut dalam kontes Little Miss Sunshine.

    Adegan makan siang ini sangat menarik, terutama percakapan antara Olive yang ingin tahu kenapa paman Frank-nya tangannya dibebat. Reaksi kedua orangtuanya yang bertentangan, lalu jawaban-jawaban pamannya yang tak menutupi fakta apa pun, lalu reaksi Olive menerima jawaban itu, tersaji dengan sangat cerdas dan lucu.



    Keikutsertaan Olive dalam kontes di California ternyata akhirnya membuat seluruh penghuni rumah itu harus pergi bersama dengan sebuah van VW kuning tua. Perjalanan mereka dipenuhi berbagai kejadian tak terduga. Dimulai dari rusaknya van tua tersebut, sehingga setiap kali mau berjalan setelah parkir, harus ada acara dorong-mendorong. Lalu sang ayah yang menerima berita mengesalkan karena kegagalan kontraknya dengan penerbit.


    Dan kejadian mengejutkan dengan sang kakek yang jahil bermulut kotor itu juga lucu sekaligus mengharukan. Lalu ada lagi kejadian Dwayne yang ketahuan buta warna, yang membuatnya syok berat. Dan kejadian dengan sang polisi yang menemukan majalah....

    Begitupun, keluarga tersebut berhasil mengantarkan Olive hingga bisa mengikuti kontes Little Miss Sunshine di California tadi, dan silahkan terkejut dengan pertunjukan bakat yang selama ini dilatih oleh sang kakek...




    Film ini sangat menyenangkan, penuh satir yang akan membuat kita tersenyum kadang tak bisa menahan tawa sepanjang cerita. Ceritanya terasa sangat nyata, dan manis, kadang mengharukan.

    Dan kata-kata di bagian akhir film ini juga sangat sederhana, namun menjadi bagian favoritku :


    [following Olive's act, the Hoovers are sitting outside the Suite Redondo security office]
    Officer Martinez: Okay, .......................................
    Frank: I think we can live with that.

    Label: ,

    Selasa, 19 Juni 2007
    Heroes (1st Season)

    Kabarnya, Heroes adalah serial dengan rating tertinggi untuk serial TV di AS sepanjang 2007. Melihat potongan-potongan iklannya di Starworld plus gembar-gembor dari kuping kanan dan kiri, sebagai pelahap serial ya jelas aku tertarik, dong. Tapi, tentu saja aku lebih memilih buat nonton DVD-nya saja. Kenapa? Yah, karena males banget kalau mesti nunggu seminggu-seminggu gitu lah. Time is money, baby ….

    Oke, back to business. Heroes mengisahkan tentang sekelompok orang biasa yang tiba-tiba punya kekuatan super. Kejadiannya bermula dari sebuah peristiwa gerhana matahari. Berdekatan dengan fenomena alam itu, para tokoh kita menyadari ada yang berbeda dengan diri mereka. Di Manhattan ada Peter Petrelli, seorang perawat yang yakin banget kalau dirinya bisa terbang; Nathan Petrelli, abang Peter yang juga calon senator dan ternyata beneran bisa terbang; juga Isaac Mendez, seorang pelukis yang bisa menggambarkan kejadian masa depan dalam komik-komiknya. Di Las Vegas, ada Niki Sanders, seorang Internet stripper yang ternyata punya alter ego yang kuat banget. Di sebuah kota kecil di Texas ada Claire Bennet, cewek ABG yang bisa melakukan regenerasi (mirip-mirip Wolverine gitu, deh). Di Tokyo ada Hiro Nakamura, seorang geek penggemar komik yang bisa memanipulasi waktu. Di India ada Mohinder Suresh, yang nggak punya superpower, tapi dia ini anak profesor yang meneliti kelainan genetis yang menyebabkan kondisi super itu. Itu cuma sebagian lho ya, masih banyak tokoh super yang lain dalam serial ini.

    The good guys.

    Dari episode pertama, waktu Hiro berhasil untuk pertama kalinya memanipulasi waktu dan terlempar ke Manhattan, kita langsung tahu tuh kalau bakal ada bom yang menghancurkan sebagian besar New York. Maka, inilah yang menjadi misi utama. Menghentikan bom besar itu meledak. Hiro-lah yang kemudian melakukan perjalanan melompat-lompati waktu untuk memberikan peringatan kepada para hero lainnya. Intinya, ya supaya bom itu nggak meledak dan membunuh berjuta-juta penduduk New York. Nah, manuver Hiro inilah yang akan menjadi benang merah penyambung tokoh-tokoh itu.

    Lalu, tiba-tiba muncullah seorang tokoh misterius bernama Sylar. Duh, siapa pula orang satu ini? Well, he's the supervillain, guys! Superpower yang dia punya adalah menyedot kekuatan hero lain. Tapi, untuk melakukannya, dia mesti membelah kepala si korban. Makanya, menyeramkan! Nah, apa hubungan dia dengan bom besar? Ada … dan nantinya yang paling terlibat dalam hal ini adalah Peter Petrelli. Lalu, apakah bom yang dibicarakan dari awal itu bom beneran? Teroris? Atau apa? Hahaha, bingung ga sih? Nonton sana gih!

    Ini dia yang namanya Sylar. Keren yak?

    Hanya saja, menurutku serial ini sangat ABG. Dialog yang dangkal-dangkal saja, logika yang cupet, meskipun plotnya lumayan, membuatku nggak begitu terjerat olehnya. Konfliknya terasa kurang dalam. Dan, yang paling parah, aku selalu menemukan kebodohan tokoh-tokohnya, terutama yang paling menjengkelkan tuh Mohinder Suresh sama Isaac Mendez. Duh, nih orang, kenapa sih? Selain itu, aku kok nggak terkesan dengan akting mereka ya? Sometimes they just didn't seem believable. Aku bukannya nggak suka sih, cuma males aja kali kalo disuruh nonton lagi.

    Meskipun begitu, wajar saja kalau serial ini jadi pemegang rating tertinggi. Alasannya sih ya mungkin karena kegampangannya untuk dicerna itu. Nggak perlu mikir dalam-dalam juga udah ngerti kok. Kalau aku sih suka dengan kekomikannya itu. Maksudnya, nonton serial ini kayak lagi baca komik superhero. Belum lagi nama-nama tokohnya tuh, sangat komik. Gampang-gampang disebut gitu kan, macam Peter Parker, Bruce Wayne, dll. Yah, anggap saja nonton film superhero tak berkostum. Selain itu, aktor-aktor yang main di film ini sekarang juga sudah jadi bintang baru gitu. Lihat tuh, si Hayden Panettiere (Claire Bennet) yang bahkan sekarang dianggap sebagai cewek terseksi di Hollywood, atau James Kyson Lee (Ando) yang kemarin sempat jadi juri Miss Universe segala.

    So, mau membuktikan ucapanku? Mau setuju? Mau berbeda pendapat? Silakan ditonton filmnya ya. Tell me what you think of it, okay?


    -Mizz Antie-
    Crossposted in my Multiply page.

    Label: , ,

    Senin, 18 Juni 2007
    Little Women (1994)


    Sutradara Gillian Armstrong
    Skenario Jo Swicord
    Pemain Susan Sarandon, Wynona Rider, Kirsten Dunst dll















    Sejak dulu hingga kini, kehidupan selalu terasa lebih sulit bagi para perempuan, bahkan bagi para perempuan di Amerika Serikat, sebuah negeri yang--katanya--menjunjung tinggi persamaan hak. Kalaupun hari ini sudah tercapai, adalah hasil sebuah perjalanan sejarah yang panjang. Terlebih lagi jika terjadi konflik bersenjata/perang, pastilah kaum perempuan dan anak-anak yang paling menderita. Merekalah yang menanggung beban terberat. Istri yang tiba-tiba harus menjadi kepala keluarga karena suami mereka ikut berperang di garis depan serta anak-anak yang tak jarang terpaksa meninggalkan bangku sekolah akibat situasi perang tersebut.
    Demikian salah satu hal yang sempat disorot dalam film Little Women, besutan sutradara asal Australia, Gillian Armstrong.

    Diangkat dari novel klasik karya Louisa May Alcott yang terbit tahun 1869, film ini menceritakan kehidupan seorang ibu yang dipanggil "Marmee" , dengan empat orang anaknya, masing-masing Meg March, Jo March, Beth March dan Amy March, selama perang saudara di Amerika. Mereka tinggal di New England, sementara sang ayah pergi berperang.
    Dengan segala keterbatasan sebagai perempuan pada masa itu (yang tidak memiliki hak pilih dan mengalami diskriminasi di sekolah) mereka menjalani hidup dengan tetap gembira. Karakter yang paling menonjol dalam film ini adalah Jo March (Wynona Rider), anak kedua keluarga March yang tomboy, penuh semangat dan terobsesi menjadi seorang penulis terkenal. Demi cita-citanya itu, ia nekat pergi keluar dari rumahnya menuju New York. Di sana ia bekerja sebagai guru privat . Di sana pula ia merintis cita-citanya sebagai penulis dengan segala suka-dukanya sampai harus menyamarkan namanya menjadi Joseph agar berkesan maskulin, sebab pada masa itu perempuan penulis tidak dilirik sebelah matapun oleh para penerbit dan surat kabar. Dengan dorongan semangat kekasihnya seorang profesor filsafat asal Jerman, Jo March terus menulis dan menulis.



    Tahun ke tahun para gadis keluarga March tumbuh dan berkembang. Meg, si sulung menikahi tetangga mereka. Amy si bungsu yang romantis , pergi ke Paris menemani nenek bibi mereka sambil belajar melukis. Dan Beth, si lembut hati yang senang tinggal di rumah, akhirnya meninggal karena sakit. Kematian saudarinya ini membuat Jo amat kehilangan. Duka dan cintanya yang dalam terhadap Beth, kenangan-kenangan manis semasa mereka kecil, perjalanan hidup saudari-saudarinya yang lain, kemudian mengilhami Jo untuk menuliskannya menjadi sebuah novel berjudul "Little Women"

    Keluarga yang penuh kasih dan cinta memang tak jarang menjadi sumber kekuatan bagi kita dalam menjalani hidup yang tidak selalu mudah ini. Alangkah beruntungnya mereka yang memiliki ayah, ibu serta adik dan kakak yang saling menyayangi. Keluarga, seperti sarang, adalah tempat para burung akhirnya pulang setelah terbang jauh.

    Endah Sulwesi

    Label: , ,

    Monsieur Ibrahim

    Sutradara Francois Dupeyron
    Skenario Francois Dupeyron, Eric-Emmanuel Schmitt
    Pemain Omar Sharif, Pierre Boulanger dll
    Tahun 2003












    Blue Road, Paris, suatu hari....

    Seorang remaja pria tampak menghampiri seorang pelacur negro bergaun hijau. Dia mengajak pelacur yang usianya jauh lebih tua darinya itu bertransaksi. Tak berhasil. Ia mencoba dengan pelacur lainnya. Tak direspons. Wajah bayinya membuat para wanita pekerja seks itu tak mau melayaninya. Barulah pada wanita ke empat ia berhasil. Pergilah mereka ke sebuah kamar sederhana......

    Hari itu Moses (Pierre Boulanger) tepat berusia 16 tahun. Ia ingin ada sesuatu yang istimewa untuk mengenangnya. Sepanjang enam belas tahun hidupnya, ia tinggal di sebuah daerah pinggiran kota Paris, bertetangga dengan para pelacur jalanan dan seorang pria tua bernama Ibrahim (Omar Sharif). Moses tak punya kawan sebaya. Dia tumbuh besar di bawah asuhan ayahnya yang selalu saja mencela dirinya. Moses selalu tampak murung. Dia hampir lupa caranya tersenyum. Hari itu, ia membuka celengan babinya untuk bersetubuh, pertama kali dalam hidupnya, dengan salah satu pelacur tadi.

    Moses yang kesepian itu diam-diam telah menarik perhatian Ibrahim, pemilik toko kelontong di seberang rumahnya. Orang-orang di sekitar situ mengenalnya sebagai Arab, sebutan untuk toko makanan yang buka dari jam 8 pagi hingga tengah malam, termasuk hari Minggu. Ibrahim tahu bahwa Momo (demikian ia memanggil Moses) setiap kali belanja di tokonya selalu mencuri sekaleng makanan yang disembunyikan di saku celananya. Ibrahim membiarkannya karena ia tahu kehidupan Momo yang muram dengan seorang ayah yang terlalu menekannya.

    Lamban laun terbangunlah sebuah relasi yang unik di antara mereka. Ibrahim yang muslim kerap mengutip ayat-ayat Al Qur'an untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Momo yang Yahudi. Mereka berdua sama-sama menemukan seorang sahabat, bahkan lebih dari itu. Bagi Momo, Ibrahim adalah sosok ayah ideal, teman bicara yang menyenangkan tempat ia bertanya tentang banyak hal. Dan bagi Ibrahim yang tidak dikaruniai anak, Momo mengisi kekurangan itu. Agama yang berbeda bukanlah sekat penghalang untuk saling memberi dan mengasihi.




    Hubungan dua karakter dari dua generasi yang terpaut jauh itulah menjadi inti cerita film Monsiuer Ibrahim. Film berbahasa Perancis ini bertempo lambat. Karakter murung Momo membuat keseluruhan film berkesan sedih. Ibrahim, meskipun berusaha tampak riang, sebenarnya adalah juga seorang yang kesepian. Istrinya berada jauh di sebuah desa di Turkey.

    Jadilah Monsiuer Ibrahim sebuah drama yang memikat. Siapa yang berani meragukan kemampuan akting Omar Sharif? Duetnya kali ini bersama Pierre Boulanger membuahkan penghargaan baginya sebagai aktor terbaik dalam Festival Film Venesia 2003. Film ini pun masuk nominasi Golden Globe untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

    Endah Sulwesi

    Label: ,

    Iam Not Scared


    Sutradara Gabriele Salvatores
    Skenario Niccolo Ammaniti
    Pemain Giuseppe Cristiano, Mattia Di Pierro dll.
    Tahun 2003
    Masa Putar 108 menit











    Layar dibuka dengan pemandangan kuning emas ladang gandum yang terbentang luas sejauh mata memandang. Apa bila angin bertiup, helai-helai batang gandum itu akan meliuk-liuk, membentuk gerakan bagai gelombang air laut. Langit biru di atasnya dengan awan-awan putih yang melayang mengelompok menambah keindahan gambar yang ditampilkan : siang hari yang cerah pada suatu musim panas di Selatan Italia.

    Lalu sejumlah anak usia menjelang remaja, lelaki dan perempuan, tampak bermain gembira dengan sepeda-sepeda mereka. Hawa terik musim panas menyemburatkan warna ranum di pipi bocah-bocah itu. Di antara anak-anak itu terdapatlah Michele (Giuseppe Cristiano) dan adik perempuannya. Saat sore menjelang, anak-anak desa itu bergegas kembali ke rumah masing-masing. Namun, Michele terpaksa menunda sebentar kepulangannya karena kaca mata adiknya tertinggal di tempat mereka bermain tadi. Saat mencari kaca mata itulah Michele menemukan sebuah sumur /lubang yang di dalamnya tinggal seorang anak lelaki seusia dirinya. Kelak Michele tahu nama anak lelaki itu adalah Filippo (Mattia Di Pierro); ia disandera oleh para penculiknya demi sejumlah besar uang tebusan.


    Kedua anak tersebut kemudian menjalin pertemanan. Michele secara diam-diam sering mengunjungi Filippo di lubangnya, membawakan roti dan kue-kue. Ia baru mengetahui bahwa Filippo adalah anak yang diculik setelah tanpa sengaja mendengar percakapan ayah dan teman-teman ayahnya di rumah mereka pada suatu malam. Michele terkejut bukan main karena ayahnya termasuk salah seorang kawanan penculik yang tengah dicari-cari polisi itu. Bahkan pada suatu kesempatan, kembali ia mendengar para penculik itu berencana untuk menghabisi nyawa Filippo. Maka, dengan melawan rasa takutnya, Michele pun lalu berusaha menyelamatkan sahabatnya itu, kendati nyawanya sendiri terancam.

    Cerita film ini (berdasarkan novel dengan judul yang sama) sebenarnya sederhana saja dengan tema persahatan yang sudah sering diangkat. Plotnya juga tak rumit, sehingga sebagai sebuah film anak-anak sangat mudah diikuti. Unsur heroik (kepahlawanan) pada tokoh Michele yang sederhana, setia kawan, dan rela berkorban, menurut saya, sangat baik sebagai teladan bagi kanak-kanak yang menonton film ini. Suasana tegang tak terlalu berhasil dihadirkan, justru keharuanlah yang akhirnya tercipta di akhir kisah.

    Kelebihan lain film ini adalah penuh dengan gambar-gambar cantik seputar ladang gandum dan pemandangan desa di Italia yang memanjakan mata. Jalur-jalur jalan yang membelah ladang, membentuk pola yang indah dilihat dari atas. Pemandangan ladang gandum itu, mengingatkan saya pada gambar-gambar di kartu pos.

    Film berbahasa Italia ini diproduksi tahun 2003 dengan judul asli Io Non Ho Paura.

    Endah Sulwesi

    Label: ,

    Eternal Summer : Persahabatan, Cinta, dan (Seks)

    * Sebuah film dengan 3 pemain utama: Joseph Chang, Kate Yeung, Bryant Chang*













    Mungkin karena dalam pekerjaan sehari-hari aku selalu berhadapan dengan anak remaja, sampai saat ini aku masih suka membaca cerita-cerita remaja dan menonton film-film remaja. Meski sering mengecewakan, karena karakter dan alur yang tidak asyik, aku gak kapok-kapok.

    Tapi Eternal Summer adalah film tentang remaja yang berbeda. Bukan cuma karena ada selipan adegan seksualnya, tapi film ini mengusung cerita remaja yang menarik, digarap dengan baik, tanpa kesan berlebihan.


    Jonathan dan Shane berteman sejak kecil sewaktu masih di sekolah dasar. Shane adalah seorang anak pembuat masalah, sehingga guru dan orang tuanya memutuskan Shane harus mendapatkan teman yang sesuai untuknya, untuk mengurangi kenakalannya. Di kelasnya ia memang tidak memiliki teman. Jonathan, pelajar nomor satu di kelas, diatur untuk menjadi teman Shane.

    Pertemanan mereka terus berlanjut hingga mereka belajar di sebuah sekolah menengah atas. Tapi ada sesuatu yang berubah. Mereka mulai mengenal cinta. Celakanya, Jonathan tidak bisa menghindari cintanya pada Shane. Padahal ada Carrie, seorang gadis, teman sekolah yang sangat menyukainya.

    Walau sulit, karena Shane tidak pernah mau menjauh darinya, Jonathan mulai mencoba menciptakan jarak di antara dirinya dan Shane. Justru pada saat inilah Carrie masuk dalam hidup Shane, menjadi cinta pertamanya. Hal ini tentu saja membuat Jonathan cemburu. Tapi dengan kepribadiannya yang lembut, tenang, dan pendiam, Jonathan sukar mengekspresikan kecemburuannya.

    Pada akhirnya, Jonathan memutuskan tidak mau lagi bertemu dengan Shane. Shane jelas tidak bisa menerima. Di dalam hatinya, ia tidak mau kehilangan Jonathan, tapi juga tidak Carrie.

    Sebuah film remaja dengan cerita yang asyik, tidak membosankan, dan menyentuh hati. Ketiga pemain utamanya juga berakting secara wajar sehingga adegan-adegan yang hadir menjadi berkesan natural. Yang mungkin agak mengganggu adalah adegan seks antara Jonathan dan Shane. Adegan ini hanya memberi kesan kalau Shane terbelah cintanya antara Jonathan dan Katie. Padahal sebenarnya tidak demikian. Jelas hubungan Shane dengan Jonathan dan hubungan Shane dengan Katie memiliki perbedaan. Ada sekat yang membatasi antara sahabat dan kekasih.

    Secara keseluruhan film besutan sutradara Leste Chen ini menegaskan betapa indahnya sebuah persahabatan yang tetap terjaga kendati harus melewati masa-masa yang memberikan cobaan pada persahabatan itu sendiri, apakah akan sanggup bertahan atau tidak.


    (Cross posting dari komentar Jody di Multiply)

    Label: , ,

    Selasa, 05 Juni 2007
    Blog Film Para Kutu Buku


    Selamat datang di blog yang akan ngomongin tentang film-film, yang ditonton oleh para kutu buku, yang ternyata juga pada doyan nonton.

    Ini bukan resensi film, hanya sekedar curahan hati para penonton.....

    Label: