Rabu, 30 April 2008
ELEPHANT
Selasa, 22 April 2008
Ayat-Ayat Cinta
kontributor: kotho ben pundjabi (dari bioskop panas kelas ekonomi di sebelah)![]() Tak lama berselang, (cieeh.. bahasanya) film itu diputar juga. Aku sudah baca resensinya di Kompas minggu yang ditulis Susi Ivvanti (kira-kira begitulah namanya) yang kemudian aku tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam menceritakan alur film tersebut. Susi, dalam resensinya bercerita bahwa Nurul menuduh Fahri memperkosanya, yang baik dalam novel dan filmnya tokoh itu bernama Noura. Adakah karena kedekatan nama tersebut membuat Susi lupa dan media sebesar Kompas luput mengeditnya. Atau jangan-jangan Mbak Susinya belum tahu itu novelnya. Kha..kha..kha.. Demikianlah, sebagaimana yang ditakdirkan aku menantang pacarku. “Gimana, hari ini diputar perdana loh, mau nonton gak.” Kataku pada sang pacar. Sumpah, di kantongku hanya ada uang tujuh ribuan saja yang hanya bisa untuk sekedar makan malam saja. “Gak lah. Pasti antri. Lagi pula mahal,” tolaknya. “Lalu?” “Kita tunggu saja CD-nya. Paling bentar lagi yang bajakan pasti ada.” Dan batallah kami ke Ambarukmo Plaza Jogja dan jadilah aku makan malam yang lebih enak sendirian. Ramalannya sepenuhnya benar. Beberapa hari kemudian, ketika filmnya masih diputar di bioskop, kawan tetangga kamarku datang menenteng dua keping CD. “Ayat-ayat cinta,” teriaknya. “Cuma boleh minjam sehari saja.” Apa lacur. Banyak yang antri. Pelem baru lagi. Kami sepakat akan menontonnya sehabis magrib. Meski bajakan, saudara; dengan mutu gambar dan suara yang lumayan parah, toh aku bisa juga menikmati keseluruhan ceritanya. Nanti, pada bagian akhir CD kedua, film ini tak sepenuhnya selesai. Ending yang aku ketahui hanyalah ketika Aisya kembali ke rumah dan Maria tersenyum di balik pintu. Disk ketiganya aku dapatkan juga di sebuah warnet, ketika aku hendak mengoleksi film-film porno sebelum pemerintah turun tangan mengenyahkan barang-barang tersebut. Selebihnya yang bersisa hanya gerutu dan kekesalan. Betapa tidak, lihatlah Fahri, tokoh kita yang satu ini. Betapa pasifnya dia sebagai bintang utama. Nyaris dalam keseluruhan film ia tampak diam dan menunduk. Karakter muslim pun tidak sempurna melekat pada dirinya. Tak ada janggut, tak ada pakaian dan sikap yang mencerminkan dia anak al-Azhar kecuali pada bagian di mana dia tak mau bersalaman dengan perempuan lalu dia tampak khusuk di tempat yang remang, pengajian. Ha..., Ndika Mahrendra, temanku penyair itu saja lebih terlihat lebih Islami ketimbang dia. Atau mungkin lebih pas An Ismanto yang berperan menjadi Fahri. Lalu Maria sebagai gadis Kairo dan Aisya sebagai gadis Jerman tak terlihat karakternya sekali. Belum lagi bahasa yang mereka gunakan, bahasa Indobnesia yang Jakarta banget. Kesan bahasa ini sepenuhnya amat mengganggu. Kita seolah menonton film yang sedang di dubbing. Tiap awal adegan, kita ditawarkan pada bahasa Arab sebagai pengantar, seolah memaksa kita untuk menyadari bahwa “Ini di Mesir lo, ihwan-ahwat!” Saya seperti melihat film yang ditayangkan Indosiar tentang legenda-legenda itu. Kenapa tidak sekalian bahasa Arab saja? Kenapa hanya bahasa-bahasa pengantar saja menggunakan bahasa Arab? Kalo yang itu, tak usah jauh-jauh ke Mesir segala. Di sini, main saja ke markas organisasi-organisasi Islam, bahasa semacam itu bukan barang baru lagi, kok. Aku tak habis pikir juga, bagaimana para pemain yang diwawancarai itu bilang, itu karena kursus bahasa Arab lah dan semacamnya. Gus Muh saja lancer kok kalau cuma bicara “ikhwan-akhwat-afwan-ukhti-dsb” semacam itu. Aisyah, kita kembali pada cewek cantik ini. Dalam resensi di situs resminya saya dapatkan keterangan semacam ini, “Aisha, 25 th (Rianti Cartwright). Mahasiswi asing keturunan Jerman dan Turki, cerdas, cantik dan kaya raya. Latar belakang keluarganya yang berliku mempertemukan dirinya dengan Fahri.” Indo Jerman Turki? Terwakilikah karakter ini menurut saudara? Lalu soal kaya rayanya itu lo. Saya tidak menemukan hubungan kekayaannya dengan jalinan cerita yang dibangun. Apakah kekayaan itu ingin ditampilkan ketika Fahri dalam penjara dan dia berusaha menyelamatkan sang suami dan menghabiskan banyak uang? Di sini pun, siapa pun akan melakukan hal yang sama, saya rasa. Meskipun harus menggadai sawah dan tanah mereka. Kesan Islami pada perempuan ini hanya muncul ketika dia masih gadis saja. Begitu menikah, dia terlihat menjengkelkan dan pongah. Sikapnya pada sang suami juga tak terlampau mewakili bahwa dia istri yang baik dan santun. Dialog-dialog dia dengan fahri di amna dia mengganti komputer tua lakinya dengan laptop misalnya atau ketika mereka bersoal akan tinggal di mana, malah terlihat sikap sombong dan arogan. Dan kematian Maria. Betapa terburu-buru digarap. Ketika dia menikah dengan Fahri, dalam waktu sekejap dia sembuh dari sakit yang parah. Tapi begitu menceritakan kematiannya, dalam waktus sekejab dia meninggal dunia. Wah... takdir bung, takdir, teriak kawan jengkel. Lalu mengenai gadis Nurul binti Ja'far Abdur Razaq yang berasal dari Jawa Timur ini, kehadirannya di film sama sekali tidak mempengaruhi jalan cerita. Dia hadir atau tidak saya pikir sama saja. Justru kehadiran tokoh ini membuat saya harus berkomentar buruk lagi. Betapa tidak, tak terlihat keakrabannya dengan Fahri, tiba-tiba saja, entah karena apa dia kagum, jatuh cinta, dan hendak menikahinya. Dan tiba-tiba saja ngambek dan marah. Kenapa dia? Ada bagian yang dipotong lembaga sensor ya? Sudahlah, sudah begitu banyak resensi mengenai ini saya kira. Kritik dan pujian tentu saja. Benar itu semua. Saya juga ingin berkata, mana Mesirnya? Apa yang khas selain kacamata hitam dan keranjang Maria? Tokoh-tokoh yang berperan jadi orang Mesir pun sepertinya dimainkan oleh orang-orang India Pasar Baru. Soal bahasa dan seting yang terburu-buru digarap dan melupakan detail soal Mesir dan sebagainya semakin memperparah cerita ini. Atau tengoklah ketika Fahri meraung-raung di penjara dan seorang kawan terpidana lainnya menghajarnya dengan nasehat. Mahasiswa S2 itu pun tersadarkan oleh napi yang tak diketahui indentitasnya itu, apakah dia seorang rektor atau kyai sebelumnya? “Tak bisa. Ndak layak itu. Tidak masuk akal,” giliran pacar saya yang marah melihat Fahri yang tiba-tiba tersadarkan. “Semula dia hero, membela perempuan Barat di bis dengan firman Tuhan, kok tiba-tiba justru disadarkan oleh seorang narapidana yang tak jelas semacam itu?” kembali dia meradang. “Kebenaran datangnya kan dari mana saja. Kita juga bisa belajar dari orang-orang semacam itu. Orang-orang yang tak diduga dan luput dari amatan kita,” saya mencoba membela. “Tapi merusak logika filmnya tau,” pacar saya mengaum lebih keras dan mulai tak terkendali. Kalau sudah begini saya lebih baik diam saja. Tapi begitulah. Sebuah film dan Indonesia pula, tentu tak habis dibicarakan segala kekurangannya. Jika boleh memuji saya suka dengan ilustrasi musiknya, tetapi tidak dengan cerita dan setingnya. Itu saja. Lalu suatu kali teman perempuan di kampus saya yang diakuinya sendiri jarang nonton film mengatakan kepada saya, “Pelem yang bagus itu ya kayak Ayat-ayat Cinta, Tauk!” “O....” Dan saya pun melongo. Saya masih belum bisa menjawab ini tentang benar atau tidaknya. Permisi! AYAT-AYAT CINTA (2008) Pemain: Fedy Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara Penulis Naskah: Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy Produksi: MD Pictures Sutradara: Hanung Bramantyo |
Sabtu, 19 April 2008
Azur et Asmar
The NameSake
Jumat, 18 April 2008
4 Months, 3 Weeks, and 2 Days
Infamous
Kamis, 17 April 2008
Yakitate Japan
![]() Awalnya sih, gara-gara iseng memindah-mindahkan saluran Indovision. Kebetulan, pas di Animax, ada sebuah film kartun tentang pembuat roti. Sebagai penggemar makan (bukan penggemar masak), saya jadi tertarik untuk menontonnya sampai habis satu episode. Padahal saya bukan penggemar anime (tapi suka menonton kartun yang berhubungan dengan masak-masak hihihii). Akhirnya, malah ketagihan. Tokoh utamanya adalah Kazuma Azuma, seorang anak lelaki “bertangan matahari” yang punya ciri khas selalu memakai bando untuk menahan poninya yang panjang. Menurut filmnya sih, orang-orang yang memiliki “tangan matahari” yang bertemperatur panas ini biasanya jagoan mengadoni roti atau kue (sementara orang-orang yang memiliki “tangan kutub” atau tangannya selalu dingin seperti saya, jagoan mengolah nasi. Tapi, tampaknya tidak benar--dalam kasus saya, hihihiii). Azuma ini adalah anak desa, yang dibesarkan oleh kakeknya. Sejak kecil dia sudah bereksperimen untuk membuat “Japan”, roti khas Jepang, karena Jepang adalah negara yang nggak memiliki roti tradisional. Akhirnya, dia diterima di sebuah cabang jaringan toko kue yang besar, Pantasia. Di sana, dia bertemu Mr. M (Ken Matsuhiro), laki-laki aneh berambut kribo dan bertampang seram, manajer cabang; Kyosuke si cowok centil; Tsukino, cucu perempuan pemilik Pantasia; dan seorang lagi yang saya lupa namanya, berambut seperti batok. Namanya juga film kartun masak-masak, pasti ada kompetisi masak. Awalnya, kompetisi yang Azuma ikuti adalah melawan St. Pierre, toko roti saingan yang berseberangan dengan toko mereka. Yang dilawan adalah Mr. Mokoyama, seorang pembuat roti kekar tapi gemulai. Setelah itu, Kazuma mengikuti kompetisi antarpembuat roti pemula di Pantasia sendiri. Hasilnya, namanya juga film kartun, ya dia pemenangnya. Setelah memenangi turnamen, Azuma, Kyosuke, bersama dua mantan lawannya, Shigeru--cowok berambut pink yang ternyata anak bos Yakuza--dan Suwabara, seorang ahli katana, dikirim mengikuti Turnamen Monaco, melawan negara-negara lain. Tentu saja Jepang menang. Yang terakhir, Kirisaki, pemilik St. Pierre, menantang Azuma untuk mengikuti turnamen yang bernama Yakitate 9. Cerita ini belum selesai diputar di Animax, masih tengah-tengah. Anime ini menarik bagi saya karena pertama, selalu menampilkan berbagai teknik membuat roti. Mulai dari bagaimana membuat roti yang meledak tiga kali, siasat mengukus bakpao dengan teh dari daun bambu, dan banyak lagi. Yang kedua, anime ini kacau banget, hahaha …. Nyaris di setiap episode ada kemustahilan, tapi saya senang menontonnya. Contohnya, reaksi Pierrot, badut istana yang menjadi juri Turnamen Monaco. Sewaktu episode Azuma dan teman-temannya terdampar di sebuah gua bawah laut, setelah makan roti ikan buatan Azuma, si Pierrot ini jadi punya insang. Atau reaksi juri Yakitate 9, Mr. Kuronayagi--yang sering diledek dengan sebutan “Pak Tua” oleh Kyosuke--saat memakan roti ganggang laut buatan Azuma. Reaksinya lamaaaa sekali. Ternyata, lama itu karena dia mengurus surat-surat untuk menikah dulu, lalu menikah, kemudian berbulan madu, dan bercerai lagi (sungguh aneh, hahaha). Ada juga kisah Shigeru yang melawan kakak tirinya sendiri, dengan taruhan yang kalah akan menjadi ahli waris Yakuza. Di akhir episode, bapaknya menyadari bahwa kedua anaknya sudah menemukan jalan hidup masing-masing, dan malah mengambil si Mr. M untuk menjadi penerusnya (sungguh ajaib). Selain alur cerita yang agak-agak ajaib, seringkali ada kejutan di tengah episode. Misalnya, kemunculan seorang tokoh anime yang khas, dan tiba-tiba Kyosuke berbicara ke kamera, “Produsernya sudah minta izin belum ya, menampilkan tokoh itu di sini?”. Atau, saat Mr. M sudah menjadi bos Yakuza, si Kyosuke juga berkata, “Baru beberapa episode, tapi dia sudah jadi bos penjahat!” Jadi, setiap hari, pasti saya berusaha untuk menonton serial anime ini. Lumayan, selain untuk menambah pengetahuan tentang roti-rotian dan berbagai bahan makanan serta cara mengolahnya, saya juga bisa tertawa karena keanehan serial ini. (Dan ternyata bukan saya saja yang suka, beberapa teman lain juga setia menonton, hihihiii) Gambar dicomot dari: http://anime.mikomi.org *Pedagang Kebab Suze Marie untuk Kutubuku Ngomongin Film* |
When Harry Met Sally
Rabu, 16 April 2008
What's Eating Gilbert Grape
Selasa, 15 April 2008
THE BROTHERS GRIMM
Minggu, 13 April 2008
Project Runway
![]() Ini dia tontonanku di TV yang nggak boleh kelewat saat ini, selain American Idol. Project Runway ini disiarkan di Discovery Travel & Living. Itu saluran favoritku tuh, soalnya isinya kebanyakan jalan-jalan dan makan-makan melulu, hihihi. Ditayangkannya seminggu beberapa kali (diulang-ulang), tapi biasanya aku nonton yang Sabtu malam atau Minggu siang. (Pertanda wiken tidak pernah dihabiskan di luar rumah.) Acaranya sebenarnya rada mirip dengan America's Next Model dalam hal memuaskan hasrat pecinta baju-bajuan. Hanya saja, yang dikompetisikan dalam reality show ini adalah desainernya, bukan modelnya. Host sekaligus juri dalam acara ini adalah Heidi Klum si supermodel, ditemani oleh desainer beken Michael Kors, Nina Garcia fashion director Elle, dan juri keempat yang tiap minggu berganti. Selain itu ada pula Tim Gunn yang bertindak sebagai mentornya para peserta. Yang kutonton sekarang sih sudah musim keempat, dan tiga musim sebelumnya aku nggak nonton, huks …. Aku sih selalu terkagum-kagum kalau melihat acara ini. Menurutku desainer baju itu salah satu profesi terkeren di dunia. (Di samping penerjemah buku, tentu saja.) Apalagi dalam kompetisi ini mereka selalu dituntut membuat baju keren dengan waktu dan dana terbatas. Minggu lalu, misalnya, mereka disuruh bikin baju dengan bahan-bahan yang ada di toko cokelat Hershey. Ada yang bikin baju dari kertas-kertas cup cokelat, ada yang dari bungkus-bungkus permen. Keren bangeeettt ….. Bagian yang aku suka sih waktu para peserta itu belanja kain untuk dibikin baju. Asik banget, ngelihat orang yang memilih kain, trus tahu pasti mau bikin apa dengan bahan itu. Uh, jadi pengen iri. Hmm, ada yang jual bajak lautnya nggak ya, aku jadi pengen nonton yang musim-musim sebelumnya, lalu terngiler-ngiler …. Label: reality show, tv series |