blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Ayat-Ayat Cinta

    Azur et Asmar

    The NameSake

    4 Months, 3 Weeks, and 2 Days

    Infamous

    Yakitate Japan

    When Harry Met Sally

    What's Eating Gilbert Grape

    THE BROTHERS GRIMM

    Project Runway







    Rabu, 30 April 2008
    ELEPHANT

    Sutradara : Gus Van Sant
    Skenario: Gus Van Sant
    Pemain: Alex Frost, Eric Deulen, John Robinson dll.
    Tahun: 2003
    Masa putar: 80 menit


    Siapa menyangka dua orang siswa SMA bisa tiba-tiba menjadi teroris di sekolahnya, menyerang dan menembaki teman-teman mereka sendiri? Eric (Eric Deulen) dan Alex (Alex Frost) adalah dua orang siswa sebuah SMA di Amerika Serikat, berwajah bayi dengan mata tanpa dosa. Mereka sama seperti remaja lainnya di dunia : memakai jins, bermain bola dan pacaran. Namun, hari itu ada sesuatu yang berbeda yang telah mereka lakukan : menjadi teroris di sekolah mereka sendiri. Siang yang cerah di Portland, Oregon, itupun berubah jadi hari pembantaian.


    Diceritakan Eric adalah murid yang pendiam. Tipe murid kurang gaul, karenanya tidak punya banyak kawan. Seringkali ia bahkan menjadi bahan olok-olok teman-teman sekelasnya. Penyuka Beethoven (dia memainkan Fur Elise dengan pianonya) itu diam-diam menyimpan dendam dan sakit hati yang dilampiaskan dengan aksi terorisme. Menggunakan senjata mesin otomatis yang dipesannya lewat layanan internet, dia menghabisi nyawa para guru dan murid di SMA itu.


    Gus Van Sant --adalah juga sutradara film-film To Die For, Good Will Hunting, Finding Forrester--menyuguhkan sebuah drama realis lewat Elephant ini. Pada awal-awal film, kita masih dibuat bertanya-tanya hendak kemana arah cerita dibawa. Konflik apakah yang akan terjadi selanjutnya? Irama film yang terkesan datar di awal tadi, perlahan-lahan meningkat dan menjadi agak mencekam saat adegan penembakan oleh Eric dan Alex. Kamera banyak mengambil gambar dari belakang/punggung tokoh-tokohnya dan bergerak terus mengikuti tokoh yang sedang mendapat giliran diceritakan. Kita seperti menyaksikan sebuah tayangan reality show. Gaya penceritaan kilas balik dalam film ini mengingatkan kita pada film Pulp Fiction atau Amores Perros. Atau yang paling mutakhir : 21 Grams. Seperti puzzle, potongan-potongan adegan itu menyatu di akhir menjadi sebuah cerita yang utuh.


    Selain Eric dan Alex yang homoseksual, diceritakan pula karakter-karakter lain yang ikut meramaikan kisah ini. Ada John (JohnRobinson) yang harus hidup dengan seorang ayah pemabuk, ada Michelle (Kristen Hicks), murid wanita yang tidak mau memakai celana pendek pada setiap pelajaran olahraga, dan Elias (Elias McConnell) siswa yang hobi fotografi.


    Lewat film ini, barangkali Van Sant (menulis juga skenario film ini) ingin memotret sebuah dunia remaja di salah satu sudut dunia, tepatnya di Portland, Oregon, Amerika Serikat, dengan segala persoalannya. Masa remaja selain masa terindah adalah juga suatu masa yang sulit. Bukan lagi kanak-kanak dan belum diakui sebagai manusia dewasa. Kita semua pernah mengalaminya. Tidak mustahil ada banyak Eric dan Alex di bumi ini.


    Elephant mendapat penghargaan Palme d'Or pada Festifal Film Cannes tahun 2003 dan sutradara terbaik untuk Van Sant di Canadian Film Festival pada tahun yang sama.


    Tapi, ngomong-ngomong, lalu apa hubungannya ya dengan gajah? *bingung*


    5 Comments:

    VCD aslinya, kemarin diobral digramedia palembang, dengan harga 3000 saja, waaah tapi aku belum sempat nonton.... jadi gak sabar buat nonton....

    5/03/2008 08:56:00 AM  

    Beberapa tahun dulu pernah nonton. Film yang aneh ya?
    'moonlight sonata' pada film ini memang pas buat bangun suasana agak seram.

    7/16/2008 05:06:00 PM  

    film aneh ya? hihihi. masa aneh sih?

    7/20/2008 11:18:00 AM  

    Yang hobi maen piano itu justru Alex (Alex Frost) and yang rambutnya mirip Eminem itu Eric (Eric Deulen).
    Menurut w sih adegan ciuman mereka di di kamar mandi bukan sebuah ciuman antar sepasang homosex, melainkan sekedar ciuman perpisahan antar teman. (Terdengar aneh memang) Tp g tw juga sih, apa Alex dan Eric yang asli (ini dr kisah nyata kan!) adalah pasangan gay ato nggak.

    Klo soal judulnya Elephant, ini hanya teori w aja. Tp menurut w, jdulnya 'Elephant' diambil dr pribahasa 'Semut diujung samudra terlihat, tapi gajah didepan mata tidak terlihat' (kurang lbh bgitu), yg artinya bisa jadi kesalahan org sekecil apapun pasti selalu bisa kita lihat / ungkit. Sementara kesalahan kita sebesar apapun terkadang tidak kita sadari.
    Pribahasa yang mungkin dialami oleh Alex dan Eric, yang kerap kali menjadi bulan2an tmn2nya, karena mereka tidak bisa 'melihat kesalahan' mereka sendiri, hingga tak sadar membuat Alex dan Eric dendam hingga bisa bertindak psikotis begitu.

    THIS MOVIE DFNTLY BEST TEEN MOVIE EVER!! At least... my fave teem movie ever!!
    Hurray for Van Sant!!

    O ya, Michael Moore bikin film dokumenter ttg tragedi SMU Columbine ini, lewat 'Bowling for Columbine', yg memenangkan Oscar kategori Film Dokumenter terbaik.

    10/21/2008 01:52:00 PM  

    Kenapa judulnya "Elephant"?
    setahu aku, di barat ada pepatah yang berkata "gajah tidak pernah lupa".
    jadi maksud dari film ini adalah kita ditantang untuk mengingat detil demi detil film ini ( karena film ini adalah sebuah film bergenre postmodernism dimana alur diacak sesuka hati sang sutradara ) sebelum akhirnya kita sampai pada suatu kesimpulan cerita. film berjenis ini memaksa kita untuk jadi pemerhati dan pengingat yang baik, karena sekali saja kita ketinggalan clue nya, mau tak mau ikta harus mengulang unutk memahami lagi =)

    4/06/2010 10:43:00 AM  

    Poskan Komentar

    << Home