blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Fur:An Imaginary Portrait of Diane Arbus

    BEHIND THE SUN

    The Shawshank Redemption

    August Rush (2007)

    Ugly Betty (1st Season)

    The Kite Runner

    MR. BROOKS

    FLIGHT PLAN

    THE TWILIGHT SAMURAI

    MARIE ANTOINETTE







    Selasa, 19 Februari 2008
    INSOMNIA

    Skenario Hillary Seitz
    Sutradara Christopher Nolan
    Pemain Al Pacino, Robin Williams, Hillary Swank
    Masa putar 118 menit
    Tahun 2002

    Pertama sekali yang menarik perhatian saya untuk menonton film ini adalah karena ada 2 orang aktor favorit saya yang bermain sebagai pemeran utama, yaitu : Al Pacino dan Robin Williams. Keterlibatan mereka berdua di film itu menggugah rasa ingin tahu saya, gimana ya jika kedua aktor kawakan tersebut bertemu dan beradu akting di satu layar yang sama di bawah arahan sutradara Christopher Nolan.

    Insomnia bukan sekadar sebuah film detektif. Will Dormer (Pacino) ditugaskan menyelidiki kasus pembunuhan seorang remaja di Nighmute, kota kecil di Alaska. Dormer selama ini dikenal sebagai seorang agen detektif yang punya reputasi bagus, disegani kawan-kawannya dan beberapa kali sukses menangani kasus-kasus pembunuhan. Di sana, ia disambut oleh detektif muda, idealis dan diam-diam mengaguminya, Elli Burr (Hillary Swank).

    Dengan kepiawaian serta pengalamannya menangani kasus-kasus pembunuhan, Dormer tak membutuhkan waktu lama untuk dapat mengungkap siapa pelaku pembunuhan itu. Pada hari yang telah ditentukan, ia beserta timnya menyergap sang penjahat di sebuah pondok. Celakanya, Dormer melakukan satu kesalahan fatal yang membuat rekannya tewas (kabut yang pekat menghalangi pandangannya sehingga ia salah sasaran, menembak Hap, rekannya itu). Dormer mengira tidak ada yang menyaksikan kecelakaan itu, maka dalam kesaksiannya ia mengatakan bahwa Hap adalah korban penembakan sang penjahat yang tengah mereka buru.

    Sebagai seorang detektif yang selama ini dikenal bersih dan handal, Dormer tak ingin kesalahan dalam tugas itu mencemari catatan baik prestasinya. Ia mulai berlaku tidak jujur dengan menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya. Namun, hati nuraninya tak bisa berdusta. Rasa bersalah mengganggu pikirannya, menyebabkannya tidak bisa tidur berhari-hari. Ditambah lagi ternyata si penjahat yang sedang dikejarnya, Walter Finch (Robin Williams), menyaksikan peristiwa salah tembak itu. Finch lalu mengancam dan memerasnya.

    Dormer dihadapkan pada sebuah dilema : tetap berdusta sampai akhir dan nama baiknya akan selamat walaupun jiwanya tak akan pernah tenang atau mengatakan yang sebenarnya dengan risiko karier dan reputasinya menjadi ternodai? Manakah yang akan dipilihnya? Untuk mengetahui jawabannya, ya tentu kudu nonton filmnya :)

    Endah Sulwesi
    0 Comments:

    Poskan Komentar

    << Home