blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • The Curios Case of Benjamin Button

    Taxi Driver

    The Holiday

    Charlie and the Chocolate Factory

    Perempuan Berkalung Sorban

    Breakfast at Tiffany's

    9 1/2 Weeks

    Twillight (The Movie/2008)

    PEREMPUAN PUNYA CERITA

    Mamma Mia!







    Selasa, 17 Februari 2009
    Slumdog Millionaire

    Sutradara: Danny Boyle
    Co-Sutradara: Loveleen Tandan
    Skenario: Simon Beaufoy
    Pemain: Dev Patel, Anil Kapoor, Freida Pinto, dll
    Masa putar: 120 menit
    Tahun: 2008

    Akhirnya, aku nonton juga film keren ini. Film yang mendapat 10 nominasi Oscar 2009, termasuk untuk kategori film terbaik, gelar yang berhasil digondol di ajang Golden Globe. Aku sudah lama geregetan kepingin menyaksikan film garapan sutradara kelahiran Inggris ini, Danny Boyle yang dibantu oleh Loveleen Tandan, sutradara asal India. Naskahnya dibuat berdasarkan novel Q&A karya Vikas Swarup. Terjemahan Indonesianya sudah terbit juga. Tapi aku belum baca.

    Film ini memukau sejak adegan pertama hingga terakhir.Alhasil, masa putar yang panjang itu, 120 menit, sungguh tidak terasa buatku.

    Ini film India. Film tentang India. Tapi tolong, jangan buru-buru membayangkan sebuah sinema India ala Bollywood yang hanya menjual mimpi-mimpi layaknya sinetron produk Punjabi. Akan lebih tepat jika kamu mengingat kembali cerita City of Joy-nya Dominique Lapierre.

    Jika City of Joy memotret Calcutta, maka Slumdog Millionaire ini berseting di Mumbai, kota besar yang banyak menyimpan "borok" di tubuhnya. Setiap borok tak ada yang enak dipandang. Kalau bisa kita tutupi serapat mungkin dari penglihatan umum. Demikian pula "borok" di tubuh Mumbai, sama sekali tak sedap dilihat: orang-orang miskin yang hidup di gubuk-gubuk kardus.
    Danny Boyle mengajak penonton meneropong kehidupan di daerah slum itu lewat kisah Jamal (Dev Patel), seorang "chai- wallah" (pelayan yang bertugas menyiapkan teh di kantor-kantor), berumur 18 tahun, yang baru saja kaya mendadak lantaran berhasil memenangi uang sebesar 20 juta rupee, hadiah kuis "Who Wants to be A Millionaire" di televisi. Ia menang - berhasil menjawab seluruh pertanyaan kuis - bukan karena jenius, namun karena "takdir". Jawaban-jawaban pertanyaan itu ia peroleh bukan lewat bacaan tetapi dari pengalaman-pengalaman pahit yang mewarnai nyaris di sepanjang umurnya.

    Dengan cerdik, kisah Jamal dituturkan secara kilas balik melalui setiap pertanyaan yang diajukan. Misalnya ketika ia harus menjawab soal siapa bintang film India yang paling terkenal pada tahun 1973, penonton dilempar ke masa kecil Jamal, saat ia sebagai bocah menggilai-gilai Amitabh Bachchan. Selaku fans berat aktor ganteng itu, Jamal kecil rela nyemplung ke kubangan tinja demi bertemu sang idola. Adegan ini menjadi adegan paling jenaka.

    Jamal dan Salim lahir sebagai muslim. Dan seperti kita tahu, di India sering sekali terjadi huru-hara antara orang-orang Hindu dan Muslim. Ibu mereka pun tewas mengenaskan dalam sebuah kerusuhan antaragama itu. Praktis, setelah itu mereka menjadi anak jalanan yang terlempar-lempar dari satu kesulitan ke kesulitan yang lain. Pada bagian ini aku teringat film Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal, terutama adegan di atap kereta itu.

    Begitu seterusnya. Setiap jawaban pertanyaan akan membawa kita kepada masa lalu Jamal yang kelam, menjadi sebuah rangkaian cerita yang apik, menyentuh, mengharukan; yang sekaligus juga menjadi pembentuk karakter tokoh-tokohnya. Tak ada adegan yang terasa sia-sia. Semuanya menjadi sebab-akibat dalam membangun satu kisah yang utuh. Tidak ada bagian yang ujug-ujug. Semuanya tercipta melalui sebuah proses yang panjang. Sungguh sebuah film yang rapi. Nyaris tak ada celah untuk dinista-nista, kecuali mungkin bagian penutupnya yang agak Hollywood setelah melewati paparan kisah yang mengaduk-aduk emosi. Walau demikian, aku sih tidak keberatan, sebab masih dalam takaran wajar.

    Menyaksikan film ini rasanya seperti menyaksikan wajah Jakarta yang - seperti Mumbai - diam-diam juga banyak memiliki "borok dan bopeng". Pemandangan daerah kumuh pinggir rel, bantaran sungai, dan atau tempat pembuangan sampah, adalah gambar-gambar yang sangat akrab dan mudah kita saksikan di balik gemerlapnya Jakarta. Demikian juga halnya dengan anak-anak jalanan, pengemis, pekerja seks pinggir jalan, dapat dengan gampang kita temukan di Ibukota.

    Konon, film ini sempat diprotes oleh masyarakat India yang tinggal di luar India. Mereka keberatan dengan penggambaran India di film tersebut. Entahlah, barangkali kelompok yang protes ini adalah para India yang sukses di perantauan dan merasa malu menyaksikan sisi buruk wajah negeri mereka. Namun, apa boleh buat, memang demikianlah realitanya.

    Dan apa boleh buat, aku harus mengatakan, bahwa film ini sangat layak ditonton. Sayang deh kalau kamu melewatkannya.***
    1 Comments:

    haiya..smua org bilang bagus. dan aku blom sempet nonton film ini. tadinya rencananya wiken yg lalu. tapi batal gara2 wiken yg berantakan. hmmm..smoga miggu dpn masih ada.

    imgar

    2/21/2009 05:19:00 PM  

    Poskan Komentar

    << Home