blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Lonely Hearts

    Vicky Cristina Barcelona

    Slumdog Millionaire

    The Curios Case of Benjamin Button

    Taxi Driver

    The Holiday

    Charlie and the Chocolate Factory

    Perempuan Berkalung Sorban

    Breakfast at Tiffany's

    9 1/2 Weeks







    Senin, 04 Mei 2009
    Jamila dan sang Presiden

    Sutradara: Ratna Sarumpaet
    Skenario: Ratna Sarumpaet
    Produksi: Satu Merah Panggung
    Pemain: Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Dwi Sasono, Surya Saputra, dll
    Masa putar: 87 menit
    Tahun: 2009


    Sejak aku melihat posternya pertama kali bulan lalu, aku sudah merencanakan akan menonton film ini. Mengapa? Tentu terutama karena magnet Christine Hakim. Sudah rindu aku menyaksikan kembali si Tjut Nyak ini berakting. Terakhir filmnya yang kutonton, kalau tidak salah ingat, adalah Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho). Di film tersebut, aktris favoritku ini bermain cemerlang sebagai Asih.


    Ya, sungguh, satu-satunya alasanku menonton film karya sutradara Ratna Sarumpaet ini adalah kerinduanku pada Christine. Habis apalagi? Bintang utamanya, Atiqah Hasiholan, baru kudengar namanya. Kalau akting ibundanya sih sudah cukup sering kusaksikan, khususnya di atas pentas Satu Merah Panggung.


    Kiranya, film ini tak lepas dari kiprah Ratna di dunia teater. Naskah film ini sebelumnya pernah dipentaskan di bawah judul "Pelacur dan sang Presiden". Tak mengherankan jika kemudian yang tampil di layar lebar masih menyisakan bau-bau panggung teater. Umpamanya saja, akting Atiqah sebagai Jamila. Atau dialog-dialog yang sarat kritik dan protes, diucapkan dengan gaya main drama.


    Namun, tema yang diangkat cukup memikat: perdagangan anak dan perempuan (trafficking). Sebuah persoalan besar yang harus diselesaikan oleh negeri ini.


    Sentral kisahnya ada pada tokoh Jamila (Atiqah Hasiholan), seorang perempuamn berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur. Ia menyerahkan diri ke polisi menyusul ditemukannya jenazah Nurdin (Adjie Pangestu) di sebuah kamar hotel dengan sebuah lubang peluru di dadanya. Jamila mengaku dirinyalah yang telah menghabisi nyawa korban.


    Sontak negeri ini menjadi geger sebab yang terbunuh adalah seorang menteri. Beragam reaksi timbul di masyarakat. Yang terkeras adalah dari sekelompok pemuda Islam yang berunjuk rasa meminta agar Jamila dihukum mati.


    Cerita kemudian menuju kilas balik. Penonton (yang tadi hanya berjumlah 7 ekor di studio 2 Metopole pertunjukan matinee jam 12) diajak mengenal siapa Jamila sesungguhnya. Gadis cantik ini ternyata memiliki sejarah masa lalu yang kelam.


    Pada usia 6 tahun (tapi aku dengarnya kok Jamila mengucapkan 2 tahun, ya?), dengan dalih kemiskinan orang tuanya, ia dijual oleh ayahnya ke seorang perempuan yang ternyata mucikari. Tetapi, bertahun-tahun kemudian ia berhasil kabur dan kembali kepada ibunya yang telah melahirkan satu anak lagi, Fatima. Oleh ibunya, Jamila disuruh pergi ke Jakarta, dititipkan pada keluarga Wardiman. Namun, bagai sudah ditakdirkan, di rumah tsersebut lagi-lagi ia mengalami pelecehan. Sekali lagi ia minggat.


    Entah berapa kali gadis ini harus kabur dari satu tempat ke tempat lain. Hingga suatu kali dia terdampar di sebuah lokalisasi pelacuran dan bertemu Susi (Ria Irawan). Di tempat ini, karier PSK-nya dimulai.


    Agaknya, selain sebagai pelacur, Jamila diam-diam juga mempunyai kegiatan sebagai aktivis perempuan. Kegiatan ini lebih terdorong karena kepentingan pribadinya mencari tahu tentang nasib Fatima yang kabarnya telah pula dijual.


    Kembali kepada kasus utama terbunuhnya Nurdin. Jamila menolak didampingi pengacara dan tak hendak memohon grasi kepada presiden. Ia menerima hukuman itu sebagai bentuk tanggung jawabnya. Apalagi baginya hidup sudah tidak penting karena Fatima mungkin sudah mati.


    Hey..hey..lalu mana kupasan untuk Christine Hakim? Oh..oh...aktris luar biasa ini berperan sebagai Ria, kepala penjara Budi Luhur, tempat Jamila ditahan. Menurutku sih, kehadiran sipir ini agak dipaksakan. Aku merasa tidak pasa saja. Oh, bukan Christine yang tidak pas memerankannya, tetapi keberadaan tokoh ini. Jika pun ia tak ada, juga tidak memengaruhi kisah. Kalau sekadar sebagai jalan untuk masuk ke masa lalu Jamila, Jamila toh bisa curhat kepada salah satu tahanan di situ, misalnya.


    Tapi baiklah. Memerankan apa pun, Christine selalu oke. Juga saat menjelma Ria ini, sipir penjara yang galak dan tegas. Fisikli sudah sangat pas, ditambah akting yang natural. Jadilah ia seperti sipir sungguhan.


    Satu lagi yang aktingnya enak dilihat adalah Ria Irawan yang kebagian rol sebagai Susi. Kegenitannya yang liar dan murahan, benar-benar alami. Sayang, cuma kebagian porsi sedikit. Padahal, aku suka banget menonton aksinya itu.


    Jadi, begitulah. Film ini mengangkat potret suram perempuan kita yang masih sering menjadi korban perdagangan manusia (trafficking). Hulu masalah sebenarnya adalah kemiskinan, hingga orang tua pun tega menjual anak kandung mereka sendiri demi keluar dari kemelaratan. Sementara itu, pemerintah seperti macan ompong, tak berdaya menghadapi pelaku kejahatan perdagangan orang ini.


    Seharusnya, film ini bisa menjadi sebuah kisah yang menyentuh. Sayang, sang sutradara lebih mengedepankan cara protes dan kritik yang penuh kemarahan untuk menyampaikan gugatannya. Kurang lembut. Bahkan, Jamila susah banget meneteskan airmatanya.


    Ngomong-ngomong, kalau Manohara termasuk kasus trafficking bukan? :)

    2 Comments:

    Maunya baca resensi film JDSP, nyatanya jurnal nonton film JDSP.

    5/08/2009 09:24:00 AM  

    oh, jurnal nonton, kiranya... hehehe

    11/24/2009 10:10:00 AM  

    Poskan Komentar

    << Home