blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Inkheart

    The Boy in the Striped Pajamas

    The Reader

    Jamila dan sang Presiden

    Lonely Hearts

    Vicky Cristina Barcelona

    Slumdog Millionaire

    The Curios Case of Benjamin Button

    Taxi Driver

    The Holiday





    Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Maret 2008 April 2008 Mei 2008 Juni 2008 Juli 2008 Agustus 2008 September 2008 Oktober 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009









    BloggerHacks
    Senin 29 Juni 2009
    Inkheart

    Judul: Inkheart
    Sutradara: Iain Softley
    Skenario: David Lindsay-Abaire
    Pemain: Brendan Fraser, Eliza Bennet, Paul Bettany, dll.
    Masa putar: 106 menit
    Tahun: 2008

    Kalau saja aku belum membaca novelnya, mungkin aku tidak terlalu berminat menonton filmnya. Inkheart, film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama karya penulis cerita anak dan remaja asal Jerman, Cornelia Funke.

    Sejak pertama kali membaca novelnya yang bertajuk Pangeran Pencuri (buku ini pun sudah difilmkan), aku telah terpikat pada Cornelia Funke. Maka, saat Inkheart terbit dalam bahasa Indonesia, aku pun memburunya. Cerita fantasi yang keren dan mengesankan, sebab ia berkisah tentang orang-orang yang tergila-gila pada buku: Mortimer, Meggie, dan Elinor. Mereka bertiga adalah satu keluarga. Mortimer atau Mo adalah ayah kandung Meggie; sedangkan Elinor adalah bibi dari istri Mo, Resa.

    Dari ketiga tokoh tersebut, Elinor menjadi favoritku. Ia dengan segala kecintaannya kepada buku, bagiku menjadi tokoh yang sangat keren. Ia mengisi hampir seluruh ruangan di rumahnya yang besar dan luas dengan buku-buku. Sebagian besar merupakan koleksi langka yang mahal harganya. Elinor tidak menikah. Mungkin seluruh cintanya sudah dicurahkan kepada buku-buku miliknya itu, sehingga tak tersisa lagi bagi seorang pria pun. Barangkali, untuk Elinor, buku-buku itu jauh lebih setia daripada para lelaki. Hehehe…

    Sayangnya, tokoh favoritku ini bukanlah karakter utama. Walaupun tokoh utamanya, Mo si Silvertongue tidak kalah menariknya, namun bagiku Elinor lebih memikat dengan segala kekeraskepalaannya dan kuitpan-kutipannya tentang buku. Nah, di film, bagian ini tidak begitu kelihatan. Padahal, salah satu yang menarik dari Inkheart (novel) adalah membaca kutipan-kutipan itu.

    Tetapi baiklah, masih ada Brendan Fraser sebagai Mo yang cukup enak dipandang. Juga ada Paul Bettany yang berperan sebagai Dustfinger, salah satu karakter yang melompat ke luar karena lidah ajaib Mo.

    Ya, Mo memiliki bakat istimewa yang kelak menurun kepada Maggie (Eliza Bennet), putrinya. Mereka sanggup memunculkan ke dunia nyata para tokoh (dan juga benda-benda atau apa saja) dari buku-buku yang mereka baca. Syaratnya, membacanya harus dengan suara keras, tidak dalam hati saja. Kemampuan spesial ini agaknya bukan saja menjadi anugerah tetapi juga musibah. Ia harus bertanggung jawab mengembalikan tokoh-tokoh yang keluar dari buku Inkheart kembali ke tempat asal mereka. Masalahnya, Mo tidak yakin apakah ia sanggup melakukan itu semua. Ia sudah jelas bisa mengeluarkan mereka dari dalam buku, tetapi untuk mengembalikannya, ia belum pernah mencobanya.

    Masalah bertambah pelik ketika tokoh antagonisnya, Capricorn (Andy Serkis), menolak untuk kembali ke dalam buku. Capricorn lebih merasa nyaman dan kerasan di dunia Mo. Dan celakanya, tokoh jahat ini tetap menjadi penjahat seperti di dalam buku. Dunia riil tidak mengubah karakternya. Ia membuat kekacauan di Bumi.

    Bagi yang telah membaca novelnya, jangan kecewa jika ada beberapa bagian di film ini yang tidak serupa dengan di buku. Sah-sah dan biasa saja sih kalau hal seperti itu terjadi. Namanya juga dua media yang berbeda, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tetapi, jika aku harus memilih antara keduanya, aku akan menjatuhkan pilihanku pada novelnya, karena aku bisa bebas mengumbar imajinasiku tanpa dibatasi gambar-gambar ciptaan sutradara dan teknik sinematografi. Kamu punya pendapat lain?***
    Minggu 31 Mei 2009
    The Boy in the Striped Pajamas

    Judul: The Boy in the Striped Pyjamas
    Sutradara: Mark Herman
    Skenario: Mark Herman (berdasarkan novel John Boyne)
    Pemain: Asa Butterfield, Vera Farmiga, Zac Mattoon O'Brien
    Masa putar: 94 menit
    Tahun: 2008

    Setelah dua tahun lalu aku membaca novelnya, akhirnya berkesempatan juga menyaksikan versi filmnya (terima kasih ya, Erry!). Buku yang bagus dan telah membuatku menangis tersedu-sedu. Meski filmnya juga ciamik, tetapi tidak sebegitu menyesakkan dada. Atau lantaran aku sudah tahu ceritanya, ya, sehingga tidak ada efek kejutnya lagi. Sempat menitikkan air mata juga sih pada bagian Bruno (Asa Butterfield) mengingkari persahabatannya dengan Shmuel (Jack Scanlon). Juga ketika tiba pada adegan Bruno dan Shmuel berjabat tangan setelah Bruno meminta maaf atas 'kejahatannya' itu.

    Cerita The Boy in the Striped Pajamas ini sebuah kritik tajam terhadap peristiwa holocaust yang menyebabkan jutaan orang Yahudi mati di kamp-kamp konsentrasi tentara Jerman di masa pemerintahan Adolf Hitler. Novelnya konon telah terjual lebih dari 5 juta copy di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa, termasuk Indonesia. Boyne menyampaikan kritiknya tidak dengan kemarahan tetapi justru dengan sebuah kisah yang sangat menyentuh siapa pun yang membacanya. Dalam bukunya, ia tidak satu kali pun melontarkan makian terhadap Jerman atau sebaliknya pemihakan terhadap Yahudi. Ia mengambil posisi sebagai seorang manusia yang menentang pembantaian manusia terhadap manusia lain.

    Tentu tidak akan adil andai membandingkan film dengan bukunya, sebab merupakan dua media yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi dalam hal ini filmnya cukup setia kepada bukunya. Ada sih bagian yang dihilangkan, seperti saat Hitler bertamu ke rumah keluarga Bruno. Juga penyebutan "Out-with" (Auschwitz), agaknya sudah dilenyapkan dari dialog. Entah kenapa.

    Filmnya cukup apik, berhasil dengan baik menampilkan suasana Jerman dan Polandia masa Perang Dunia II. Lengkap dengan mobil, kereta api, dan kamp Auschwitz-nya (jadi ingat film Life is Beautiful. Hiks..). Tata rias dan rancangan kostum para pemainnya juga cukup mewakili, kendati akting mereka tidak terlalu istimewa. Kecuali Vera Farmiga yang lumayan menonjol sebagai ibu Bruno. Bagi Mark Herman, ini adalah film kedelapan yang dibesutnya. Sutradara asal Inggris ini juga menulis sendiri naskah film-filmnya, termasuk The Boy in the Striped Pajamas.

    Tokoh utamanya seorang bocah lelaki berusia delapan tahun bernama Bruno. Ia tinggal di Berlin, Jerman, bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya, Gretel (12 tahun). Waktu itu tengah berkecamuk Perang Dunia Kedua di Eropa. Jerman di bawah komando Hitler, seperti sudah sama-sama kita ketahui, dalam perang tersebut memburu orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. The Fuhrer, Adolf Hitler, dengan sangat arogan mengklaim bahwa ras Aria adalah ras paling unggul dan orang-orang Yahudi harus disingkirkan dari muka bumi.

    Ayah Bruno (Zac Mattoon O'Brien) adalah salah seorang pejabat militer kepercayaan Hitler yang dikirim bertugas ke Auschwitz sebagai komandan di kamp konsentrasi di sana. Bruno yang polos sama sekali tidak tahu bahwa kini mereka tinggal di sebuah kawasan kamp konsentrasi, tempat ribuan orang Yahudi menemui ajal di kamar-kamar gas dan tungku-tungku pembakaran. Ia hanya tahu bahwa kini ia kesepian tanpa seorang teman pun. Tetangganya hanyalah sebuah tempat luas dengan pagar kawat mengelilinginya. Di dalam pagar itu Bruno melihat sejumlah bangunan berukuran besar serta banyak orang laki-laki, dewasa dan anak-anak seumurnya, berpiama garis-garis.

    Bruno, bocah yang senang menjelajah itu, pada suatu petang akhirnya mendapatkan seorang teman sebaya yang tinggal di balik pagar tersebut: Shmuel, bocah Polandia keturunan Yahudi yang seusia dengannya. Sejak itu, secara rutin Bruno setiap petang mengunjungi sahabat barunya itu. Mereka mengobrol, saling bertukar cerita. Sesekali Bruno juga membawakan sepotong coklat atau roti yang berhasil diselundupkan dari dapur rumahnya untuk Shmuel.

    Sampai pada suatu hari, Bruno harus kembali ke Berlin. Anak baik itu sedih sekali karena berarti dia harus berpisah dengan sahabat satu-satunya, Shmuel. Untuk itu, sebelum pergi ia berniat melakukan "permainan" mencari ayah Shmuel yang telah beberapa hari menghilang. Tentu ia harus masuk ke balik pagar untuk dapat menemukan ayah Shmuel.

    Film yang bagus. Namun, jika aku harus memilih antara buku atau film, aku akan memilih membaca bukunya.***
    Senin 18 Mei 2009
    The Reader

    Sutradara: Stephen Daldry
    Skenario: David Hare (screenpaly) dan Bernhard Schlink
    Pemain: Kate Winslet, Ralph Fiennes, David Kross, dll.
    Masa putar: 124 menit
    Tahun: 2008

    Oh ya, sudah barang tentu, magnetnya adalah Kate Winslet yang tahun ini sukses menggondol piala Oscar sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik. Berikutnya adalah berita-berita dan obrolan-obrolan yang beredar ihwal adegan-adegan panas di film ini antara Hanna Schmitz (Kate Winslet) dan Michael Beng (David Kross). Meskipun aku kudu kecewa lantaran tidak kebagian adegan-adegan yang dihebohkan itu - BSF sudah menggunting-guntingnya agar tak terjerat UUAP - namun aku cukup puas dengan film The Reader ini. Film yang kemungkinan besar hanya akan diputar pada pertunjukan tengah malam ini, menampilkan akting keren Winslet sebagai mantan anggota tentara SS.

    "Dijamin kamu tidak akan menyaksikan adegan 15 menit pertama yang syur itu," ujar salah seorang sahabat penggemar film ketika aku meniatkan diri hendak menonton film ini. Dan ia benar. Adegan tersebut (sepanas apa aku tidak tahu) sudah menghilang dari layar. Masih ada juga sih beberapa yang berhasil lolos, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan "ketegangan" :D Mengapa ya bagian itu meski dilenyapkan? Toh filmnya diputar midnite dengan penonton umumnya orang-orang dewasa yang sudah sangat pantas dan cukup usia untuk menyaksikannya.

    Tapi baiklah, aku masih beruntung karena BSF masih mengizinkan film itu ditayangkan.

    The Reader. Pembaca. Adalah Michael Beng (Ralph Fienne), seorang pengacara Jerman yang memiliki kisah ini. Kisah tentang kenangan kepada seorang perempuan kondektur trem yang dikenalnya pada tahun 1958. Mereka pertama kali bertjumpa di tengah hujan deras yang mengguyur Berlin. Saat itu Michael sedang sakit dan Hanna Schmitz menolongnya. Waktu itu, Maichael masih seorang bocah lelaki bongsor berusia 15 tahun dan usia Hanna menjelang 40. Seperti anak dan ibunya.

    Namun, agaknya selisih umur yang cukup mencolok itu tak menghalangi mereka untuk bercinta. Tiga bulan setelah pertemuan pertama itu, Hanna memerjakai Michael di apartemennya. Sejak itu, hubungan keduanya kian erat. Di sela-sela percintaan mereka yang panas, Hanna kerap meminta Michael membacakan sebuah buku. Buku sastra. Dengan senang hati, Michael menjadi seorang pembaca bagi kekasihnya itu yang selalu menyebutnya, "Nak".

    Hanna kecanduan. Ia senantiasa menjadi pendengar yang baik bagi setiap cerita yang dibacakan pacar kecilnya itu. Bahkan tak jarang kisah-kisah itu melarutkan perasaannya; membuatnya menangis dan atau tertawa. Melalui buku-buku yang dibacakannya - dari Huckleberry Finn , The Odyssey, hingga Tintin - Michael telah membukakan cakrawala baru bagi Hanna. Dari sekian banyak buku, ada satu yang sangat berkesan baginya, yaitu The Lady with the Dog, karya Anton Chekov. Kelak, buku inilah yang membawa pencerahan bagi Hanna.

    Sayang, hubungan asmara mereka harus berakhir. Hanna pergi entah ke mana. Michael baru menjumpainya kembali delapan tahun kemudian (1966) di sebuah pengadilan enam orang bekas anggota SS yang bertugas di kamp konsentrasi Auschwitz semasa pemerintahan diktator Hitler. Michael yang waktu itu telah menjadi siswa Heidelberg Law School, tak menyangka sama sekali bahwa ternyata salah seorang terdakwanya adalah Hanna Schmitz. Bahkan, mantan kekasihnya itu menjadi tertuduh paling berat.

    Inilah bagian yang mengungkap riwayat hidup Hanna Schmitz. Bagian yang menjadi inti cerita gubahan Bernhard Schlink (terbit pertama kali dalam bahasa Jerman, Der Vorleser, pada 1995) ini. Buatku, inilah bagian paling mengharukan. Kita akhirnya tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpenampilan dingin dan keras itu. Di sini pula kita menikmati permainan watak Kate Winslet yang keren itu. Empat bintang untuknya. Adegan seks yang heboh itu barangkali boleh di-skip dengan alasan apa pun, tetapi tidak untuk yang ini. Anda akan kehilangan arah jika melewatkannya.

    Akhirnya, The Reader adalah sebuah film yang memuaskan. Gambar-gambarnya bagus, berhasil menyuguhkan suasana Jerman tempo doeloe. Misalnya, stasiun trem yang suram dan tua, kostum dan tata rias para pemainnya, suasana jalan-jalan di Berlin, mobil, sepeda, dan perabot-perabot rumah tangga. Apik. Pujian khusus untuk make up Kate Winslet yang berangsur-angsur menua. Juga untuk sajian pemandangan desa dan alam pertanian yang indah menjadi sebuah tamasya mata yang menyegarkan.

    Sementara itu, peran untuk aktor tampan Ralph Fiennes tidak terlalu menantang, sehingga pria berumur 46 tahun ini tampil standar saja. Demikian pula halnya dengan David Kross. Agak kurang pas sih sebetulnya saat ia menjadi bocah 15 tahun. Ketuaan. Aktor asal Jerman ini sejatinya berumur 19 tahun. Mungkin make up-nya yang kurang sempurna, ya? Tapi bagaimanapun, ia beruntung sekali bisa bersanding dengan aktris sekaliber Kate Winslet. Beradegan panas pula :D

    Secara aku masih penasaran dengan adegan-adegan panas di 15 menit pertama yang dilenyapkan itu, sepertinya aku akan menonton ulang film ini lewat DVD. Khusus demi bagian yang raib itu :P ***
    Senin 04 Mei 2009
    Jamila dan sang Presiden

    Sutradara: Ratna Sarumpaet
    Skenario: Ratna Sarumpaet
    Produksi: Satu Merah Panggung
    Pemain: Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Dwi Sasono, Surya Saputra, dll
    Masa putar: 87 menit
    Tahun: 2009


    Sejak aku melihat posternya pertama kali bulan lalu, aku sudah merencanakan akan menonton film ini. Mengapa? Tentu terutama karena magnet Christine Hakim. Sudah rindu aku menyaksikan kembali si Tjut Nyak ini berakting. Terakhir filmnya yang kutonton, kalau tidak salah ingat, adalah Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho). Di film tersebut, aktris favoritku ini bermain cemerlang sebagai Asih.


    Ya, sungguh, satu-satunya alasanku menonton film karya sutradara Ratna Sarumpaet ini adalah kerinduanku pada Christine. Habis apalagi? Bintang utamanya, Atiqah Hasiholan, baru kudengar namanya. Kalau akting ibundanya sih sudah cukup sering kusaksikan, khususnya di atas pentas Satu Merah Panggung.


    Kiranya, film ini tak lepas dari kiprah Ratna di dunia teater. Naskah film ini sebelumnya pernah dipentaskan di bawah judul "Pelacur dan sang Presiden". Tak mengherankan jika kemudian yang tampil di layar lebar masih menyisakan bau-bau panggung teater. Umpamanya saja, akting Atiqah sebagai Jamila. Atau dialog-dialog yang sarat kritik dan protes, diucapkan dengan gaya main drama.


    Namun, tema yang diangkat cukup memikat: perdagangan anak dan perempuan (trafficking). Sebuah persoalan besar yang harus diselesaikan oleh negeri ini.


    Sentral kisahnya ada pada tokoh Jamila (Atiqah Hasiholan), seorang perempuamn berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur. Ia menyerahkan diri ke polisi menyusul ditemukannya jenazah Nurdin (Adjie Pangestu) di sebuah kamar hotel dengan sebuah lubang peluru di dadanya. Jamila mengaku dirinyalah yang telah menghabisi nyawa korban.


    Sontak negeri ini menjadi geger sebab yang terbunuh adalah seorang menteri. Beragam reaksi timbul di masyarakat. Yang terkeras adalah dari sekelompok pemuda Islam yang berunjuk rasa meminta agar Jamila dihukum mati.


    Cerita kemudian menuju kilas balik. Penonton (yang tadi hanya berjumlah 7 ekor di studio 2 Metopole pertunjukan matinee jam 12) diajak mengenal siapa Jamila sesungguhnya. Gadis cantik ini ternyata memiliki sejarah masa lalu yang kelam.


    Pada usia 6 tahun (tapi aku dengarnya kok Jamila mengucapkan 2 tahun, ya?), dengan dalih kemiskinan orang tuanya, ia dijual oleh ayahnya ke seorang perempuan yang ternyata mucikari. Tetapi, bertahun-tahun kemudian ia berhasil kabur dan kembali kepada ibunya yang telah melahirkan satu anak lagi, Fatima. Oleh ibunya, Jamila disuruh pergi ke Jakarta, dititipkan pada keluarga Wardiman. Namun, bagai sudah ditakdirkan, di rumah tsersebut lagi-lagi ia mengalami pelecehan. Sekali lagi ia minggat.


    Entah berapa kali gadis ini harus kabur dari satu tempat ke tempat lain. Hingga suatu kali dia terdampar di sebuah lokalisasi pelacuran dan bertemu Susi (Ria Irawan). Di tempat ini, karier PSK-nya dimulai.


    Agaknya, selain sebagai pelacur, Jamila diam-diam juga mempunyai kegiatan sebagai aktivis perempuan. Kegiatan ini lebih terdorong karena kepentingan pribadinya mencari tahu tentang nasib Fatima yang kabarnya telah pula dijual.


    Kembali kepada kasus utama terbunuhnya Nurdin. Jamila menolak didampingi pengacara dan tak hendak memohon grasi kepada presiden. Ia menerima hukuman itu sebagai bentuk tanggung jawabnya. Apalagi baginya hidup sudah tidak penting karena Fatima mungkin sudah mati.


    Hey..hey..lalu mana kupasan untuk Christine Hakim? Oh..oh...aktris luar biasa ini berperan sebagai Ria, kepala penjara Budi Luhur, tempat Jamila ditahan. Menurutku sih, kehadiran sipir ini agak dipaksakan. Aku merasa tidak pasa saja. Oh, bukan Christine yang tidak pas memerankannya, tetapi keberadaan tokoh ini. Jika pun ia tak ada, juga tidak memengaruhi kisah. Kalau sekadar sebagai jalan untuk masuk ke masa lalu Jamila, Jamila toh bisa curhat kepada salah satu tahanan di situ, misalnya.


    Tapi baiklah. Memerankan apa pun, Christine selalu oke. Juga saat menjelma Ria ini, sipir penjara yang galak dan tegas. Fisikli sudah sangat pas, ditambah akting yang natural. Jadilah ia seperti sipir sungguhan.


    Satu lagi yang aktingnya enak dilihat adalah Ria Irawan yang kebagian rol sebagai Susi. Kegenitannya yang liar dan murahan, benar-benar alami. Sayang, cuma kebagian porsi sedikit. Padahal, aku suka banget menonton aksinya itu.


    Jadi, begitulah. Film ini mengangkat potret suram perempuan kita yang masih sering menjadi korban perdagangan manusia (trafficking). Hulu masalah sebenarnya adalah kemiskinan, hingga orang tua pun tega menjual anak kandung mereka sendiri demi keluar dari kemelaratan. Sementara itu, pemerintah seperti macan ompong, tak berdaya menghadapi pelaku kejahatan perdagangan orang ini.


    Seharusnya, film ini bisa menjadi sebuah kisah yang menyentuh. Sayang, sang sutradara lebih mengedepankan cara protes dan kritik yang penuh kemarahan untuk menyampaikan gugatannya. Kurang lembut. Bahkan, Jamila susah banget meneteskan airmatanya.


    Ngomong-ngomong, kalau Manohara termasuk kasus trafficking bukan? :)

    Minggu 12 April 2009
    Lonely Hearts

    Sutradara: Todd Robinson
    Skenario: Todd Robinson
    Pemain: John Travolta, Salma Hayek, Jared Leto, Laura Dern, dll.
    Masa putar: 108 menit
    Tahun: 2006

    Film keren ini telat diputar di bioskop-bioskop kita.Tapi tak mengapa. Untuk film bagus seperti ini rasanya tidak ada kata terlambat untuk menyaksikannya.

    Ceritanya ditulis oleh Tood Robinson yang juga bertindak selaku sutradara. Cerita yang diangkat dari kisah nyata ini mengambil seting New York tahun 1940-an tentang kasus pembunuhan yang dilakukan oleh pasangan kekasih Raymon Fernandez (Jared Leto) dan Martha Beck (Salma Hayek). Mereka membunuh beberapa orang perempuan - konon sampai 20 jiwa melayang - untuk memperoleh harta. Umumnya, korban adalah para janda kaya yang meninggalkan warisan berlimpah.

    Awalnya, Ray beraksi sendiri. Bahkan, semula Martha adalah salah seorang targetnya. Modus yang dilancarkan Ray dalam setiap aksinya adalah dengan cara merayu calon korbannya, para wanita yang kesepian anggota the "Lonely Hearts Club". Misalnya, janda-janda perang. Ray lebih banyak memusatkan targetnya pada perempuan-perempuan usia separuh baya yang merasa tersanjung karena berhasil memikat hati seorang pria setampan Ray. Dengan rayuan mautnya Ray sukses menjerat para korbannya hingga suatu ketika berjumpa dengan Martha, cewek cantik jelita yang jatuh cinta setengah mati padanya. Tidak seperti korban-korban sebelumnya yang mudah sekali tertipu, Martha justru kemudian menjadi sekutunya dalam menjalankan aksi-aksi selanjutnya.

    Sebelum berduet dengan Martha, Ray tak pernah membunuh para korbannya. Lelaki licik itu hanya "sekadar" membawa lari uang perempuan-perempuan malang tersebut. Tetapi bersama Martha yang mencintainya secara sangat posesif itu, korban mulai berjatuhan. Martha yang tidak mampu menekan rasa cemburunya terhadap para korban, kerap kehilangan kesabaran dan memilih jalan singkat membunuh mereka secara sadis. Bikin aku mual menontonnya. Saat adegan eksekusi pembunuhan berlangsung, aku selalu menutup mata. Tidak tahan menyaksikan kekerasan dan kekejaman yang terjadi di layar. Hoooeeeeek...! Aku jadi ingat film-film Scorcese dan Tarrantino yang sering mengumbar darah.

    Salma Hayek patut mendapat acungan jempol dariku untuk perannya sebagai Martha yang psikopat, walaupun secara fisik sangat berbeda dengan Martha Beck aslinya. Dengan dingin ia menghabisi korban-korbannya. Bukan hanya wanita dewasa, tetapi juga seorang bocah. Akting Jared Leto juga lumayan. Yang tampil biasa-biasa saja justru pemaran utamanya : John Travolta yang kebagian rol sebagai detektif Elmer "Buster" Robinson. Tidak ada yang istimewa dari akting si jago dansa dalam Saturday Night Fever ini. Elmer Robinson adalah kakek dari Todd Robinson.

    Kekuatan film ini sepenuhnya ada pada ketegangan yang berhasil dihadirkan dalam adegan-adegan pembunuhannya. Misteri yang membuat penasaran bukanlah pada menebak siapa pelakunya, namun pada akan dibunuh dengan cara bagaimana. Ditembakkah? Ditusuk? Dipotong-potong? Diracun? Dicekik? Gilanya, aku menikmati setiap rasa tegang yang berdenyut di jantungku. Wuuaaaah.....apa diam-diam aku juga menyimpan bakat sadistis? Atau memang Todd Robinson sudah bekerja dengan baik menciptakan kengerian-kengerian itu dalam karya debutannya yang didedikasikan untuk kakeknya ini?

    Hal lain yang harus mendapat pujianku adalah desain kostumnya serta detail-detail tahun 40-an yang hadir nyaris tanpa cela, termasuk model rambut dan tata riasnya. Sejenak, dandanan Salma Hayek sebagai Martha mengingatkanku pada aktris legendaris Marylin Monroe. Aslinya, Martha Beck itu seorang wanita bertubuh gemuk yang tidak menarik. Ia memiliki riwayat masa kecil yang kelam. Saat usianya menginjak 13 tahun, ia diperkosa oleh abangnya. Setelah dewasa, Martha bekerja sebagai perawat dan menikahi Alfred Beck sebelum akhirnya bercerai.

    Mengapa ya Todd Robinson tidak memakai aktris yang lebih mirip dengan tokoh aslinya? Todd Robinson tidak cukup berani untuk mengikuti jejak pendahulunya, Leonard Kastle, sutradara yang pertama mengangkat kisah pasangan pembunuh ini dalam film berjudul The Honeymoon Killers (1970). Di film tersebut Martha Beck diperankan oleh Shirley Stoler, aktris bertubuh tambun, mirip Martha Beck asli. Mungkin, Salma Hayek ngeri juga ya kalau harus menggelembungkan tubuh eloknya menjadi sebesar itu.

    Tapi baiklah. Terlepas dari itu, Lonely Hearts merupakan film detektif yang cukup asyik diikuti. Pada 1951, pasangan pembunuh ini akhirnya harus menjalani hukuman mati di kursi listrik penjara Sing Sing.
    Minggu 01 Maret 2009
    Vicky Cristina Barcelona

    Sutradara: Woody Allen
    Skenario: Woody Allen
    Pemain: Scarlett Johansson, Rebecca Hall, Javier Bardem, Penelope Cruz
    Masa putar: 96 menit
    Tahun: 2008


    Woody Allen. Nama ini adalah magnet bagi para penggemar film. Sutradara gaek kelahiran 1935 itu sudah 3 kali menyabet Oscar di sepanjang karier perfilmannya. Dua di antaranya dalam film Annie Hall (1977) yang juga dibintanginya bersama Diane Keaton. Pada usianya yang sudah uzur ini, ia kembali berkiprah di Hollywood, membesut film komedi romantis Vicky Cristina Barcelona yang telah mengantarkan Penelope Cruz memenangi Oscar 2009 untuk kategori Pemeran Pembantu Wanita Terbaik.


    Bagi Penelope Cruz, ini adalah Oscar pertamanya setelah dua tahun lalu gagal (dinominasikan lewat film Volver). Berperan sebagai Maria Elena, seorang pelukis temperamental dengan jiwa yang labil, ia tampil, bukan cuma seksi, tetapi juga dengan akting yang memikat. Dialog-dialog yang diucapkannya dalam bahasa Spanyol, negeri kelahirannya, menambah seksi penampilannya. Empat bintang untuk permainannya.


    Cerita film yang ditulis juga oleh Woody Allen ini ringan-ringan saja, lazimnya sebuah drama komedi romantis ala Hollywood. Kisah cinta segitiga yang berpusat pada seorang seniman bajul, Juan Antonio Gonzalo (Javier Bardem). Oya, bajul itu kata dari bahasa Jawa yang artinya anak buaya. Itu sih sebutanku untuk cowok-cowok playboy yang suka tebar-tebar pesona dan kemudian mematahkan hati banyak perempuan. Yah, buaya darat, gitu loh.


    Nah, si Juan Antonio ini adalah sejenis bajul itu. Tampan, cerdas, pintar merayu. Dia baru saja bercerai dengan istrinya, Maria Elena, karena konon istrinya itu jika sedang kalap sering melakukan tindakan yang membahayakan dirinya. Pada sebuah pameran lukisan di Barcelona, ia berhasil mengajak kencan dua orang gadis Amerika yang tengah berlibur: Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson).


    Berbeda dengan Cristina yang jelas-jelas menunjukkan minatnya pada Antonio, awalnya Vicky yang konservatif dan sudah memiliki tunangan itu menolak mentah-mentah ajakan sang Bajul. Ia hanya mau bercinta dengan lelaki yang menjadi kekasihnya. Baginya, tak ada itu yang namanya cinta semalam. Namun, sebagai bedebah sejati Antonio memiliki banyak cara untuk menaklukkan mangsanya. Semakin sukar justru kian bergairah.


    Kisahnya sih tidak istimewa. Bukan sesuatu yang baru. Cerita disampaikan melalui narasi yang disuarakan oleh Christopher Evan Welch. Rasanya jadi seperti sedang membaca novel dengan plot yang bergulir linear. Pemandangan kota Barcelona yang cantik pada saat musim panas cukup menjadi tamasya yang memanjakan mata. Bangunan-bangunan yang artistik ditingkah suasana alam musim panas yang penuh warna-warni, benar-benar sedap dinikmati. Ilustrasi musik dengan sentuhan irama Flamenco kian menambah kental rasa Spanyol dalam film ini selain aura si jelita Penelope Cruz tentu. Cruz dengan aktingnya yang menawan tak bisa disangkal telah menjadi ruh film ini. Di tengah-tengah dua cewek blonda asal Amrik itu, Cruz dengan segala kespanyolannya jadi unik dan berbeda. Jika kamu penasaran dengan akting mantan kekasih Tom Cruise yang diganjar Oscar ini, silakan nonton. Filmnya cukup menghibur kok.***




    Selasa 17 Februari 2009
    Slumdog Millionaire

    Sutradara: Danny Boyle
    Co-Sutradara: Loveleen Tandan
    Skenario: Simon Beaufoy
    Pemain: Dev Patel, Anil Kapoor, Freida Pinto, dll
    Masa putar: 120 menit
    Tahun: 2008

    Akhirnya, aku nonton juga film keren ini. Film yang mendapat 10 nominasi Oscar 2009, termasuk untuk kategori film terbaik, gelar yang berhasil digondol di ajang Golden Globe. Aku sudah lama geregetan kepingin menyaksikan film garapan sutradara kelahiran Inggris ini, Danny Boyle yang dibantu oleh Loveleen Tandan, sutradara asal India. Naskahnya dibuat berdasarkan novel Q&A karya Vikas Swarup. Terjemahan Indonesianya sudah terbit juga. Tapi aku belum baca.

    Film ini memukau sejak adegan pertama hingga terakhir.Alhasil, masa putar yang panjang itu, 120 menit, sungguh tidak terasa buatku.

    Ini film India. Film tentang India. Tapi tolong, jangan buru-buru membayangkan sebuah sinema India ala Bollywood yang hanya menjual mimpi-mimpi layaknya sinetron produk Punjabi. Akan lebih tepat jika kamu mengingat kembali cerita City of Joy-nya Dominique Lapierre.

    Jika City of Joy memotret Calcutta, maka Slumdog Millionaire ini berseting di Mumbai, kota besar yang banyak menyimpan "borok" di tubuhnya. Setiap borok tak ada yang enak dipandang. Kalau bisa kita tutupi serapat mungkin dari penglihatan umum. Demikian pula "borok" di tubuh Mumbai, sama sekali tak sedap dilihat: orang-orang miskin yang hidup di gubuk-gubuk kardus.
    Danny Boyle mengajak penonton meneropong kehidupan di daerah slum itu lewat kisah Jamal (Dev Patel), seorang "chai- wallah" (pelayan yang bertugas menyiapkan teh di kantor-kantor), berumur 18 tahun, yang baru saja kaya mendadak lantaran berhasil memenangi uang sebesar 20 juta rupee, hadiah kuis "Who Wants to be A Millionaire" di televisi. Ia menang - berhasil menjawab seluruh pertanyaan kuis - bukan karena jenius, namun karena "takdir". Jawaban-jawaban pertanyaan itu ia peroleh bukan lewat bacaan tetapi dari pengalaman-pengalaman pahit yang mewarnai nyaris di sepanjang umurnya.

    Dengan cerdik, kisah Jamal dituturkan secara kilas balik melalui setiap pertanyaan yang diajukan. Misalnya ketika ia harus menjawab soal siapa bintang film India yang paling terkenal pada tahun 1973, penonton dilempar ke masa kecil Jamal, saat ia sebagai bocah menggilai-gilai Amitabh Bachchan. Selaku fans berat aktor ganteng itu, Jamal kecil rela nyemplung ke kubangan tinja demi bertemu sang idola. Adegan ini menjadi adegan paling jenaka.

    Jamal dan Salim lahir sebagai muslim. Dan seperti kita tahu, di India sering sekali terjadi huru-hara antara orang-orang Hindu dan Muslim. Ibu mereka pun tewas mengenaskan dalam sebuah kerusuhan antaragama itu. Praktis, setelah itu mereka menjadi anak jalanan yang terlempar-lempar dari satu kesulitan ke kesulitan yang lain. Pada bagian ini aku teringat film Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal, terutama adegan di atap kereta itu.

    Begitu seterusnya. Setiap jawaban pertanyaan akan membawa kita kepada masa lalu Jamal yang kelam, menjadi sebuah rangkaian cerita yang apik, menyentuh, mengharukan; yang sekaligus juga menjadi pembentuk karakter tokoh-tokohnya. Tak ada adegan yang terasa sia-sia. Semuanya menjadi sebab-akibat dalam membangun satu kisah yang utuh. Tidak ada bagian yang ujug-ujug. Semuanya tercipta melalui sebuah proses yang panjang. Sungguh sebuah film yang rapi. Nyaris tak ada celah untuk dinista-nista, kecuali mungkin bagian penutupnya yang agak Hollywood setelah melewati paparan kisah yang mengaduk-aduk emosi. Walau demikian, aku sih tidak keberatan, sebab masih dalam takaran wajar.

    Menyaksikan film ini rasanya seperti menyaksikan wajah Jakarta yang - seperti Mumbai - diam-diam juga banyak memiliki "borok dan bopeng". Pemandangan daerah kumuh pinggir rel, bantaran sungai, dan atau tempat pembuangan sampah, adalah gambar-gambar yang sangat akrab dan mudah kita saksikan di balik gemerlapnya Jakarta. Demikian juga halnya dengan anak-anak jalanan, pengemis, pekerja seks pinggir jalan, dapat dengan gampang kita temukan di Ibukota.

    Konon, film ini sempat diprotes oleh masyarakat India yang tinggal di luar India. Mereka keberatan dengan penggambaran India di film tersebut. Entahlah, barangkali kelompok yang protes ini adalah para India yang sukses di perantauan dan merasa malu menyaksikan sisi buruk wajah negeri mereka. Namun, apa boleh buat, memang demikianlah realitanya.

    Dan apa boleh buat, aku harus mengatakan, bahwa film ini sangat layak ditonton. Sayang deh kalau kamu melewatkannya.***