blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • PRIME

    THE BRAVE ONE

    Brothers & Sisters (1st Season)

    War Photographer (2001)

    Lady and The Tramp (Disney, 1955)

    No Man's Land

    MAN ON THE TRAIN

    Freedom Writers

    Curious George (2006)

    SEABISCUIT







    Minggu, 02 Desember 2007
    THE MOTHER

    Judul: The Mother

    SutradarA: Roger Michell

    Pemain: Anne Reid, Peter Vaughan, Anna Wilson-Joh

    Tahun: 2004


    Dalam kehidupan ini, kita selalu mengharapkan sebuah karakter protagonis dari seorang ibu. Ibu adalah sesosok manusia dengan karakter mulia bagai malaikat. Ibu adalah juga pahlawan yang selalu siap berkorban jiwa raga bagi anak-anaknya. Seorang ibu tak boleh melakukan hal-hal tabu yang memalukan. Ibu haruslah sempurna seperti guci porselen, jika retak sedikit saja, ia tak lagi berharga.

    Kita sering lupa bahwa seorang ibu adalah juga manusia biasa yang memiliki kebutuhan yang sama seperti orang lain. Ia butuh cinta, kasih sayang, perhatian dan seks. Penilaian masyarakat kita sering tidak adil kepada perempuan.Apalagi jika perempuan itu berstatus janda. Pandangan orang segera saja menjadi negatif kepada janda tersebut. Tidak demikian kepada para lelaki yang berstatus duda. Para duda seolah-olah lebih pantas dan sah-sah saja kalau mencari lagi pasangan dan mereka tidak dianggap sebagai sebuah 'ancaman'. Beda jika itu dilakukan oleh perempuan-perempuan yang bergelar janda. Masyarakat sering mencibir sambil bergumam , "Oh..pantesan begitu, janda sih" Apakah setelah menjanda (baik karena perceraian ataupun karena kematian suami) dunia bagi para perempuan itu berarti berakhir? Apakah lalu menjadi sesuatu yang tabu bagi mereka jika mereka berpacaran dan menikah kembali? Mungkin juga ya bila yang dipacarinya adalah kekasih putrinya.

    May (Anne Reid) baru saja ditinggal mati suaminya, Toots, saat mereka sedang berkunjung ke rumah anak-anak mereka di London. Hidup bagi May lalu terasa amat sepi. Kedua anaknya, Bobby dan Paula, masing-masing telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Untuk kembali ke rumahnya, ia tak sanggup karena pasti akan tambah kesepian di sana. Maka ia lalu memutuskan untuk tinggal bersama anak-anaknya di London, bergiliran antara rumah Paula dan Bobby.

    Kehidupannya sebagai ibu dari dua orang anak yang telah dewasa dan nenek bagi tiga orang cucu tadinya normal-normal saja sampai kemudian ia berjumpa dan berkenalan dengan Darren, lelaki yang bekerja di rumah Bobby dan juga adalah pacar Paula. Darren sesungguhnya telah beristri dan punya satu orang putra yang mengidap autisme. Kepada Paula, Darren bercerita bahwa kehidupan rumah tangganya tidak lagi harmonis ( Modus operandi para bedebah yang sudah basi ya?? hehehe). Sekian lama berpacaran, Paula masih ragu akan kesungguhan Darren untuk meninggalkan istrinya dan segera menikah dengannya.

    Maka lalu ia curhat kepada May, ibunya. Ia minta tolong agar May bicara kepada Darren. Paula berharap jika May yang bicara Darren akan mendengarkan dan berakibat baik bagi hubungan mereka. May bersedia menjadi jembatan bagi mereka.

    Namun, yang terjadi tak seperti yang diharapkan Paula. May justru jatuh cinta pada kekasihnya itu. Darren, lelaki pecundang yang selalu tak punya uang, meladeni dan menikmati perhatian May kepadanya. Merela lalu sering berkencan dan bercinta ketika semua orang pergi bekerja. Kehadiran cinta yang panas di usia tuanya, membuat May yang pemurung menjadi ceria. Ia sering kedapatan tengah bersenandung sendiri saat memasak atau mengepel lantai.

    Sampai sebegitu jauh tak ada seorang anaknyapun yang curiga. May yang mereka kenal adalah seorang ibu rumah tangga yang setia dan selalu patuh pada suami. Mereka tak pernah berpikiran bahwa ibu mereka juga bisa jatuh cinta lagi dan memiliki gairah yang sama seperti anak-anak muda yang tengah kasmaran.

    Ketika akhirnya semua terbongkar, tak ada yang bisa dilakukan May selain ke luar dari rumah anak-anaknya dan kembali ke rumahnya sendiri. Ia harus merelakan Darren bagi putrinya, Paula.

    The Mother, bercerita tentang seorang ibu dengan perilaku yang 'tidak sempurna' sebagai ibu. May adalah seorang ibu yang baik, setia dan penuh perhatian sekaligus seorang perempuan penuh gelora dan sedikit posesif. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak macam-macam tetapi juga seorang perempuan dengan gairah dan nafsu liar wanita muda yang tengah jatuh cinta.

    Cerita The Mother ini menurut saya adalah sebuah kisah yang sangat manusiawi. May tidaklah ditampilkan sebagai seorang dengan sifat yang buruk (antagonis), walaupun dalam film ini ia berperan sebagai tokoh 'jahat' yang merebut kekasih putrinya sendiri. Demikian juga Darren dan Paula, adalah juga sosok-sosok yang tidak sempurna sebagai manusia. Saya tidak bisa berpihak pada siapapun. Tidak pada May, tidak juga pada Paula. Saya bisa memahami masalah yang terjadi. Tentulah amat menyakitkan bagi seseorang yang kehilangan kekasih, apalagi kekasih itu direbut oleh ibunya sendiri. Namun, saya juga bisa mengerti kesepian dan cinta yang dirasakan May. Dan bukankah kita menjadi sempurna sebagai manusia justru karena kita berada di wilayah abu-abu? ***ENDAH SULWESI***
    4 Comments:

    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    5/16/2015 08:16:00 AM  

    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    5/16/2015 08:17:00 AM  

    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    5/16/2015 08:17:00 AM  

    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    5/16/2015 08:17:00 AM  

    Posting Komentar

    << Home