blog counter






  • Asongan Kebab : Suze Marie
  • Tukang Jagung Brondong : Ida
  • Juru Sobek Karcis : Yuli Bean
  • Centeng : Sitorus
  • Petugas Kebersihan : Mina





  • Bioskop Ferina
  • Bioskop Panas!
  • Bioskop Reygreena




  • Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay



  • Loket 1 : Antie
  • Loket 2 : Jody
  • Loket 3 : Kobo
  • Loket 4 : Perca
  • Loket 5 : Qyu
  • Loket 6 : Tanzil
  • Calo Tiket





  • Iam Not Scared

    Eternal Summer : Persahabatan, Cinta, dan (Seks)

    Blog Film Para Kutu Buku







    Senin, 18 Juni 2007
    Monsieur Ibrahim

    Sutradara Francois Dupeyron
    Skenario Francois Dupeyron, Eric-Emmanuel Schmitt
    Pemain Omar Sharif, Pierre Boulanger dll
    Tahun 2003












    Blue Road, Paris, suatu hari....

    Seorang remaja pria tampak menghampiri seorang pelacur negro bergaun hijau. Dia mengajak pelacur yang usianya jauh lebih tua darinya itu bertransaksi. Tak berhasil. Ia mencoba dengan pelacur lainnya. Tak direspons. Wajah bayinya membuat para wanita pekerja seks itu tak mau melayaninya. Barulah pada wanita ke empat ia berhasil. Pergilah mereka ke sebuah kamar sederhana......

    Hari itu Moses (Pierre Boulanger) tepat berusia 16 tahun. Ia ingin ada sesuatu yang istimewa untuk mengenangnya. Sepanjang enam belas tahun hidupnya, ia tinggal di sebuah daerah pinggiran kota Paris, bertetangga dengan para pelacur jalanan dan seorang pria tua bernama Ibrahim (Omar Sharif). Moses tak punya kawan sebaya. Dia tumbuh besar di bawah asuhan ayahnya yang selalu saja mencela dirinya. Moses selalu tampak murung. Dia hampir lupa caranya tersenyum. Hari itu, ia membuka celengan babinya untuk bersetubuh, pertama kali dalam hidupnya, dengan salah satu pelacur tadi.

    Moses yang kesepian itu diam-diam telah menarik perhatian Ibrahim, pemilik toko kelontong di seberang rumahnya. Orang-orang di sekitar situ mengenalnya sebagai Arab, sebutan untuk toko makanan yang buka dari jam 8 pagi hingga tengah malam, termasuk hari Minggu. Ibrahim tahu bahwa Momo (demikian ia memanggil Moses) setiap kali belanja di tokonya selalu mencuri sekaleng makanan yang disembunyikan di saku celananya. Ibrahim membiarkannya karena ia tahu kehidupan Momo yang muram dengan seorang ayah yang terlalu menekannya.

    Lamban laun terbangunlah sebuah relasi yang unik di antara mereka. Ibrahim yang muslim kerap mengutip ayat-ayat Al Qur'an untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Momo yang Yahudi. Mereka berdua sama-sama menemukan seorang sahabat, bahkan lebih dari itu. Bagi Momo, Ibrahim adalah sosok ayah ideal, teman bicara yang menyenangkan tempat ia bertanya tentang banyak hal. Dan bagi Ibrahim yang tidak dikaruniai anak, Momo mengisi kekurangan itu. Agama yang berbeda bukanlah sekat penghalang untuk saling memberi dan mengasihi.




    Hubungan dua karakter dari dua generasi yang terpaut jauh itulah menjadi inti cerita film Monsiuer Ibrahim. Film berbahasa Perancis ini bertempo lambat. Karakter murung Momo membuat keseluruhan film berkesan sedih. Ibrahim, meskipun berusaha tampak riang, sebenarnya adalah juga seorang yang kesepian. Istrinya berada jauh di sebuah desa di Turkey.

    Jadilah Monsiuer Ibrahim sebuah drama yang memikat. Siapa yang berani meragukan kemampuan akting Omar Sharif? Duetnya kali ini bersama Pierre Boulanger membuahkan penghargaan baginya sebagai aktor terbaik dalam Festival Film Venesia 2003. Film ini pun masuk nominasi Golden Globe untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

    Endah Sulwesi

    Label: ,

    0 Comments:

    Poskan Komentar

    << Home